Alih-alih melawan takdir dan hasrat untuk meninggalkan sang mantan, Rinjani menelan cinta dari dua lelaki keturunan bangsawan Jawa dengan cara “anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli” sampai di usia senja.
Sementara itu, sudah lama Kaysan membuat surat wasiat untuk Rinjani dan adiknya hingga kedamaian di rumah utama dan pelangi tidak lagi warna-warni seperti sedia kala.
Lantas bagaimana akhir dari prahara cinta segitiga trah Adiguna Pangarep yang tak pernah usai? Apakah wasiat dan warisan itu menjadikan hubungan Rinjani dan Nanang kian semrawut ataukah cinta sejati yang digadang-gadang sebagai cikal bakal wasiat itu terus terjalin hingga mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KINASIH 34
Tiba di rumah semi tradisional Sadewa yang memiliki pagar piket putih selutut orang dewasa tampak bunga Azalea dan Camelia sedang cantik-cantiknya bermekaran menghiasi tamannya yang asri.
“Budhe... budhe jadi datang?” Arkananta melompati tiga anak tangga dari teras rumah lalu menyambut kedatanganku dengan langkah gegas dan senyum cemerlangnya.
“Jadi dong, masak tidak.” Arkananta mencium punggung tanganku sembari membungkuk. Baru setelah aku mengagumi paras Arkananta, kembarnya muncul.
“Aku baru selesai beres-beres kamar yang mau di tempati budhe.” jawab Mahardika setelah kutanya darimana dia.
“Baik banget kamu. Terima kasih cah bagus.” Aku menyentuh pipi Mahardika yang jarang datang ke Jawa untuk bertemu saudara-saudaranya.
“Sudah masak kamu? Dalilah ngomong kalian pintar masak.”
“Sudah budhe.” Mahardhika mengangguk. “Masuk dulu, istirahat. Papa bilang tadi budhe sudah sakit punggung.”
Aku melirik ke arah Sadewa yang baru menurunkan koper-koper dan kardus-kardus berisi oleh-oleh. Dia meringis sambil menutup bagasi taksi daring.
“Mental budhe juga sudah tak sekuat dulu. Sedikit-sedikit pingin tantrum sekarang.”
“Ya tidak apa-apa Budhe, yang penting lega to?”
Aku tertawa sambil menggandeng Mahardika sementara Arkananta membantu orang tuanya mengangkat barang-barang dari mobil.
Mahardika mendorong pintu utama lebih lebar. Aku menyaksikan rumah Sadewa tidak memiliki sentuhan feminim sambil menghirup aroma kuah bakso.
“Jauh-jauh ke Melbourne kamu masakan bakso juga?”
“Sup bakso budhe.”
“Walah? Nggak bikin spaghetti saja? Steak? Jauh-jauh ke sini kok sup lagi.”
“Memangnya budhe masih kuat ngunyah daging?” Mahardika menuangkan teh hangat ke cangkir lalu mengangsurkan padaku.
Aku menghidu uap hangat teh melati lalu tersenyum lebar. “Alot pasti, seperti pakdemu.”
“Ya jangan begitu. Pakde walau sudah alot tetap enak di lihat. Iya kan budhe?” Kedua alis Mahardika terangkat.
Aku tersenyum sembari menyentuh lengannya sambil mendongak. “Pulang to le ke tanah kelahiran bapakmu. Lihat sana sekali-kali.”
“Pasti budhe.” Mahardhika mengangguk takzim. “Maha siapkan air hangat dulu buat mandi budhe.”
“Wes nggak usah repot-repot. Duduk saja, kita makan sama-sama.” kataku mencegahnya berdiri.
“Budhemu walau sudah tua tetap rock and roll itu, Ma. Sudah bosan di layani jadi nggak perlu di manja-manja.” ucap Sadewa sambil menarik kursi di sampingku.
“Dengar papamu ngomong.” kataku mengingatkan Mahardika, dia tersenyum sambil mengangguk. “Tapi kalo budhe butuh bantuan ngomong saja, Maha siap!”
“Pasti itu.” Aku mengangguk seraya tersenyum.
Kami terlibat makan malam dengan suasana yang tak jauh berbeda dengan di rumah. Senyap seperti suasana pemakaman. Dalilah pernah protes begitu, tapi protesnya tetap tidak menemukan jalan keluar sampai dua mengerti sendiri kenapa.
“Sudah budhe duduk-duduk saja, cuci piring serahkan sama Arka. Calon mantu budhe yang gagal berjuang.” ucap Arkananta sambil menumpuk piring dan mangkok kotor sebelum aku melakukannya.
Aku menatapnya lalu menatap ayahnya. “Terakhir ke Jogja dia ribut sama Jati dan Lilah. Terus di marahi mas Kaysan. Ngadu sama kamu tidak, Wa?”
“Ngadu iya, terus kapok. Kabarnya sampai sekarang nomernya Dalilah dia blokir.”
“Ealah, le, le... Jangan meneruskan benang rumit di keluarga kita. Cukup pakde mu saja.”
“Pakde Nanang budhe?”
“Sampai di Melbourne kok masih di bahas-bahas terus. Susah budhe ini, mau nasihati tapi kena sendiri.”
Arkananta menoleh sambil tersenyum. “Di bawa santai aja budhe, pasti tentram pada waktunya.” ucapnya sambil menyabuni piring di bawah kucuran air.
Aku menghela napas sambil melihat kesibukan di keluarga ini.
Sejak muda sampai setua ini aku masih merepotkan mereka sampai ke anak-anaknya.
Aku tersenyum saat Irene menyentuh kedua bahuku dari belakang. “Sudah jauh-jauh dari rumah jangan banyak pikiran. Enjoy...”
Aku menekuk lengan kiriku dan menyentuh punggung tangannya. “Tidak bisa, besok pagi aku harus segera ke rumah bapak.”
“Mandi dan tidurlah jika begitu. Kamar putrimu masih nyaman di gunakan.”
Aku mendesah lalu mengangguk. Sangat betul sekali hari ini aku butuh istirahat, tetapi ada rindu yang mengganjal di benak. Mas Kaysan.
“Budhe ke kamar dulu.” kataku sambil berdiri.
“Mau telepon anak-anak.”
“Ikut Budhe, mau lihat Mbak Lilah sekarang.” ucap Arkananta sembari mengeringkan tangannya di handuk tangan.
“Lilah jam sekarang sudah tidur, adanya mas Uya, atau mas Pandu.”
Mahardika tertawa sembari membuka kardus oleh-oleh saat Arkananta berdecak sebal lalu nimbrung dengan membongkar isi oleh-olehnya.
Aku beranjak seraya mengangkat koperku. “Terima kasih keluarga Sadewa. Sampai jumpa besok pagi. Selamat beristirahat.” ucapku sebelum masuk ke kamar.
Sadewa dan Irene sempat mengingatkan aku untuk benar-benar tidur bukannya over thinking.
Kendati nasihati itu cukup bagus, aku mengambil ponselku di kantong jaket dan menghidupkannya. Butuh beberapa saat untuk beroperasi normal sebelum aku menghubungi Pandu dengan video call.
Pandu memanyunkan bibirnya sambil mengusap wajah, dari seprai dan dekorasi kamar bocah itu tidur di kamar Jalu Aji.
“Ke rumah utama sekarang, bunda mau lihat wajah ayahanda.”
“Ya ampun bunda. Ayahanda sama mas Uya. Telepon mas Uya saja.”
“Sudah buruan keluar, hp Bunda sudah lowbat!”
“Ampun.” Pandu mengusap-usap rambutnya seraya keluar kamar, ia membiarkan layar hpnya merekam situasi yang dia lewati sampai di ruang keluarga, terdengar dia menjawab pertanyaan sang empunya rumah dengan berkata bunda telepon mau lihat Ayahanda.
“Biar om saja, kamu tidur besok kuliah.”
“Mantap.” Hp Pandu berpindah tangan. Aku menatap layar ponselku yang berubah tampilan. Si tua dan menyebalkan.
Nanang menyunggingkan senyum sambil berjalan keluar rumah, dia melewati taman tanpa memindahkan ponselnya dari depan wajah sampai aku perlu menarik napas dan membayangkan betapa pentingnya tidak tergila-gila dengan cinta pertama.
“Buruan, aku mau lihat bojoku sing ganteng dewe.” kataku mengingatkan saat ia mendorong pintu kamar mas Kaysan dengan hati-hati.
“Katamu dulu aku juga ganteng to?”
Aku memutar mata seraya memutus sambungan telepon. Lepas semenit kemudian, beberapa pesan video dan foto masuk ke aplikasi chating. Aku menontonnya sambil menarik napas dalam-dalam. Bukannya senang, foto mas Kaysan dan Nanang yang tidur berdampingan membuatku menarik kedua sudut bibir.
Selamanya dia akan menjadi pria yang menyusup di relung hatiku dalam bentuk apapun.
...----------------...
tapi.... kita sebagai orang terdekat yang mengharap kesembuhan tentu kecewa dan sedih dengan kepasrahan itu
mas kay, sini tak puk puk, aku juga pengen peluk kamu lho mas
aah part ini makin bikin mewek, mas kaysan aku paham rasa hatimu.
terkadang betapapun tulus dan rasa sayang kepada pasangan, tapi entah disadari atau tidak, jauh disanubari ada rasa lain yang tersimpan rapi untuk seseorang di masa lalu dan mas kaysan mungkin menyadari itu