Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Bus berangkat pukul tujuh pagi.
Rio membeli tiga tiket — dua untuk manusia, satu untuk kursi ekstra yang secara resmi kosong tapi secara praktis ditempati seekor serigala yang berbaring di bawah kursi dengan sangat diam dan sangat tidak mencurigakan selama penumpang lain tidak melihat ke bawah kursi mereka.
Adrian duduk di sebelah jendela.
Rio di sampingnya.
Wukong di pundak kanan Rio dalam mode kamuflase penuh. Abyssal Goddess Weaver di lekukan bahu kiri, tidak bergerak. Serigala di bawah kursi, sudah tertidur sejak bus belum jalan.
Raymond mengambil kendaraan sendiri — SUV hitam yang diparkir semalam di luar kota dengan sopir yang dipercayanya, karena tiga orang dewasa, satu kera, satu serigala, dan satu laba-laba kosmik naik bus yang sama dengan Hunter Legend peringkat tujuh nasional terasa seperti terlalu banyak variabel di satu tempat.
---
Sepuluh menit pertama Adrian tidak bicara.
Hanya menatap jendela dengan cara yang berbeda dari cara orang menatap jendela bus pada umumnya — bukan tatapan kosong yang melewati pemandangan tanpa benar-benar melihat, melainkan tatapan yang melihat semuanya, terlalu banyak sekaligus, dengan mata yang sudah tiga belas tahun tidak disuguhi hal-hal yang bergerak lebih cepat dari langkah kaki manusia.
Warung yang lewat. Motor yang menyalip. Anak kecil di pinggir jalan yang melambaikan tangan ke bus tanpa alasan yang jelas. Billboard iklan produk yang belum ada tiga belas tahun lalu. Jalan yang sudah diaspal ulang. Bangunan baru di tempat yang Adrian mungkin ingat sebagai lapangan kosong.
Dunia yang terus berjalan sementara ia diam.
Rio menatap ke depan dan membiarkan Adrian menatap ke samping.
---
Tigapuluh menit kemudian Adrian berbicara.
"Ponsel sekarang lebih tipis."
Rio melirik ponselnya. "Iya."
"Layarnya lebih besar juga."
"Iya."
Adrian diam sebentar. "Aplikasi peta yang kamu pakai kemarin — itu akurat sampai gang kecil yang tidak punya nama."
"Hampir semua tempat sudah terpetakan sekarang."
"Hampir."
"Hampir," Rio mengulang. "Lembah tujuh batu tidak ada di dalamnya."
Adrian menoleh dari jendela, menatap Rio sebentar, kemudian kembali ke jendela. "Bagus."
---
Satu jam berlalu.
Bus berhenti di terminal kecil, mengambil dua penumpang, melanjutkan perjalanan. Jalan provinsi yang tadi berlubang berganti dengan jalan yang lebih mulus saat mereka memasuki wilayah yang lebih dekat ke kota besar.
Adrian mengamati pergantian itu.
"Masih ingat pertama kali kamu naik bus?" tanya Adrian tiba-tiba.
Rio berpikir sebentar. "Umur tujuh tahun. Ke rumah sakit."
"Kenapa ke rumah sakit?"
"Jatuh dari pohon. Lengan kanan retak."
Adrian menatapnya. "Pohon apa?"
"Pohon mangga di belakang rumah Bu Sari. Tetangga lama." Rio mengangkat bahu. "Mangganya kelihatan matang dari bawah. Ternyata tidak."
Adrian mengamati ekspresi Rio yang tidak berubah sama sekali saat menceritakan itu — datar, faktual, tanpa drama.
"Kamu nangis?"
"Tidak."
"Bohong."
Rio melirik Adrian. "Sedikit."
Adrian mengangguk dengan ekspresi seseorang yang menerima koreksi itu sebagai hal yang memuaskan. "Wajar. Lengan retak sakit."
"Iya."
---
Keheningan yang berbeda dari sebelumnya muncul di antara mereka — bukan keheningan yang butuh diisi, bukan juga keheningan yang nyaman sepenuhnya. Keheningan dua orang yang sedang belajar ritme percakapan masing-masing dari nol, menemukan bahwa beberapa hal mengalir lebih mudah dari yang diperkirakan dan beberapa hal lain masih butuh waktu yang tidak bisa dipercepat oleh kemauan siapapun.
Rio menatap jendela sekarang.
Kota sudah mulai terlihat di kejauhan — gedung-gedung yang lebih tinggi dari pohon-pohon, jalanan yang lebih ramai, udara yang sudah mulai berbau berbeda dari udara kota kecil tadi.
"Kontrakan kamu," kata Adrian. "Pintunya miring?"
Rio menoleh. "Bagaimana Bapak tahu?"
"Fragment memori sistem. Kamu sempat menyebutnya." Adrian menatap ke depan. "Sudah dilaporkan ke pemiliknya?"
"Belum."
"Kenapa?"
Rio berpikir sebentar tentang jawaban yang jujur. "Karena saya tidak yakin akan tinggal cukup lama untuk repot melaporkannya."
Adrian tidak merespons itu langsung.
"Sekarang?" tanyanya setelah beberapa detik.
Rio menatap jendela — kota yang semakin dekat, gedung-gedung yang semakin tinggi, jalanan yang semakin ramai.
"Mungkin laporkan dulu," jawab Rio.
---
Di pundak kanannya Wukong mencicit dengan nada yang Rio terjemahkan sebagai persetujuan yang tidak diminta tapi diberikan dengan sangat yakin.
Adrian melirik Wukong.
Wukong melirik balik.
Dua makhluk yang sudah saling kenal jauh lebih lama dari yang bisa Rio hitung — bertukar tatapan selama satu detik dengan cara yang tidak butuh kata-kata karena sudah melewati fase di mana kata-kata diperlukan jauh sebelum Rio lahir.
Kemudian keduanya sama-sama memalingkan pandangan ke arah yang berbeda dengan sangat kasual.
Rio mengamati pertukaran satu detik itu dari sudut matanya dan memutuskan bahwa ia tidak perlu tahu apa isinya.
---
Pukul dua siang bus masuk terminal kota.
Penumpang bergerak, tas diambil, orang-orang mengalir keluar dengan cara yang selalu sama di terminal manapun di kota manapun.
Rio dan Adrian turun paling terakhir — kebiasaan Rio yang Adrian ikuti tanpa ditanya, dengan cara seseorang yang sudah cukup lama hidup dalam situasi yang mengajarkan bahwa tidak ada ruginya menjadi yang terakhir keluar dari ruang sempit berisi banyak orang.
Di luar terminal Raymond sudah menunggu di samping SUV hitamnya, kemeja yang berbeda dari tadi pagi tapi sama rapinya, dengan ekspresi yang sudah kembali ke ekspresi kerjanya — terkontrol, terfokus, siap.
Hanya satu detail yang berbeda dari Raymond yang biasa Rio lihat.
Matanya, saat menatap Adrian yang berjalan keluar dari pintu terminal — satu detik sebelum ekspresi kerjanya kembali sepenuhnya — mengandung sesuatu yang tidak masuk dalam kategori ekspresi kerja manapun.
Lega.
Jenis lega yang hanya dimiliki seseorang yang sudah menyimpan kekhawatiran terlalu lama dan baru saja diizinkan untuk melepaskannya.
---
"Mobilnya lebih besar dari yang dulu kamu pakai," komentar Adrian saat mendekati SUV.
"Kebutuhan lapangan," jawab Raymond singkat.
"Atau selera."
"Dua-duanya."
Rio melempar tasnya ke bagasi, masuk ke kursi belakang. Serigala melompat masuk sebelum pintu ditutup. Wukong sudah di pundak Rio sebelum pintu tertutup sepenuhnya.
Adrian duduk di kursi depan di samping Raymond.
Raymond menghidupkan mesin.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit pertama — kota bergerak di luar jendela, familiar bagi Rio, mungkin familiar tapi berbeda bagi Adrian yang terakhir melihatnya tiga belas tahun lalu.
Kemudian ponsel Raymond bergetar.
Ia melirik layarnya sekali — satu detik — kemudian meletakkannya kembali tanpa menjawab.
Rio memperhatikan itu dari kursi belakang. "Siapa?"
"Kantor." Raymond tidak menjelaskan lebih lanjut. Tapi cara tangannya di setir sedikit lebih kencang dari sebelumnya sudah cukup sebagai penjelasan tambahan.
Hana.
Atau orang-orang Hana. Yang artinya waktu yang Raymond bilang *cukup untuk kembali sebelum radius menyempit* mungkin sudah mulai menyempit lebih cepat dari proyeksi.
---
Rio menatap kota yang bergerak di luar jendela.
Gang sempit kontrakannya masih dua puluh menit dari sini. Pintunya yang miring sudah menunggu sejak tiga hari lalu. Serigala butuh makan. Wukong butuh pisang. Dan di lekukan bahu kirinya Abyssal Goddess Weaver berdenyut dengan ritme yang sudah sangat Rio kenali — stabil, ada, tidak kemana-mana.
Tiga slot squad masih kosong.
Kirin dan Phoenix yang belum ditemukan. Dan satu slot terakhir yang bahkan outline sistem belum pernah menjelaskan siapa yang akan mengisinya.
Tapi itu semua ada di depan.
Yang ada sekarang adalah SUV yang bergerak di jalanan kota, empat makhluk dan dua manusia yang masing-masing membawa beratnya sendiri menuju tempat yang belum sepenuhnya siap untuk mereka tapi harus siap karena tidak ada waktu untuk menunggu sampai siap.
---
Ponsel Rio bergetar.
Pesan masuk. Nomor yang tidak tersimpan tapi formatnya Rio kenali — nomor internal Asosiasi Hunter Regional.
Satu kalimat.
*"Kita perlu bicara. Sendirian. — A.K."*
A.K.
Arinda Kusuma.
Rio menatap pesan itu selama tiga detik, kemudian memasukkan ponselnya ke saku tanpa membalas.
Menatap punggung kepala Adrian yang duduk di depan — rambut hitam bercampur abu-abu yang dalam tiga belas tahun tidak pernah dipotong oleh siapapun yang benar-benar peduli pada hasilnya.
Kemudian menatap jendela.
Kota menyambut mereka dengan cara yang tidak peduli bahwa tiga hari lalu dunia berubah di dalam sebuah ruangan batu di bawah lembah yang tidak ada di peta manapun.
Kota selalu seperti itu.
Bergerak terus tanpa menunggu siapapun selesai dengan apapun yang perlu mereka selesaikan.
Rio sudah sangat terbiasa dengan itu.
Yang berbeda hari ini hanya satu hal kecil — untuk pertama kalinya dalam perjalanan kembali ke tempat yang selama ini ia sebut rumah karena tidak ada kata lain yang tersedia, ada seseorang yang duduk dua kursi di depannya yang membuat kata itu punya definisi yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
Tidak banyak berbeda.
Tapi berbeda.
Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.
Rio menemui Arinda Kusuma sendirian. Investigator senior yang sudah tiga minggu mengikuti jejaknya akhirnya meletakkan kartunya di atas meja — bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai tawaran. Karena Arinda Kusuma, ternyata, sudah lama curiga pada Hana Soekarno jauh sebelum Rio Albert muncul di radar investigasinya.*
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣