NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Rahasia yang Terurai

Malam berlanjut tanpa suara bising Jakarta yang melelahkan. Sesuai keputusan Arka, mereka tidak menghabiskan malam di hotel pusat kota yang terlalu terekspos. Setelah memastikan situasi di sekitar hotel Pasteur sepenuhnya bersih dan Kendra Pradipta resmi ditahan oleh kepolisian di Jakarta, Arka membawa Ayana menuju sebuah vila privat milik keluarga Pradipta yang tersembunyi di perbukitan Lembang.

Vila itu berdiri kokoh di atas tebing, dikelilingi oleh pohon-pohon pinus tinggi yang berdesau pelan ditiup angin malam. Kabut tebal khas pegunungan mulai turun, menyelimuti dinding-dinding kaca tebal bangunan tersebut, menciptakan ilusi seolah-olah tempat itu terisolasi dari seluruh dunia luar.

Ayana berdiri di dalam ruang keluarga dekat perapian batu alam yang menyala hangat. Ia telah mengganti blazer formalnya dengan sweater rajut longgar berwarna putih gading yang dipinjamkan oleh pengelola vila. Tangannya menggenggam secangkir cokelat panas dengan beberapa marshmallow kecil yang mengapung di atasnya.

"Modul dua puluh persen kita harus mengalami sedikit modifikasi setelah insiden sore tadi," suara Ayana memecah keheningan, matanya menatap pendar api yang menari-nari di perapian.

Arka berjalan mendekat dari arah dapur bersih, membawa dua piring kecil berisi roti panggang mentega. Pria itu kini tampak sangat rileks tanpa atribut kapitalisnya; hanya mengenakan celana jins hitam dan kaus lengan panjang berwarna abu-abu gelap.

"Dokter, saya baru saja memberi tahu Anda di hotel bahwa malam ini kita libur dari urusan medis," ujar Arka, meletakkan piring-piring itu di atas meja kayu di depan perapian, lalu mendudukkan dirinya di atas karpet rajut, tepat di samping kaki Ayana.

Ayana menunduk, menatap pria yang biasanya duduk di kursi kebesaran Pradipta Tower itu kini duduk dengan begitu bersahaja di lantai. Ayana perlahan ikut menurunkan tubuhnya, duduk bersila di samping Arka dengan jarak yang sangat dekat.

"Respons syaraf Anda sore tadi saat di balkon hotel... itu bukan lagi sekadar respons memori mekanis, Arka," ucap Ayana dengan nada suara yang melembut, beralih menggunakan nama asli pria itu tanpa embel-embel 'Pak Bos'. "Kecemasan Anda melompat ke tingkat yang berbeda karena ada elemen proteksi emosional. Otak Anda menghubungkan ancaman terhadap saya dengan trauma kehilangan orang tua Anda di masa lalu."

Arka terdiam sejenak. Tangannya yang besar bergerak memutar gelasnya, pandangan matanya menerawang ke dalam kobaran api. Keheningan malam Lembang seolah memberikan ruang bagi sang batu karang untuk mengurai retakan terdalam di jiwanya.

"Kamu benar, Ayana," bisik Arka, suaranya terdengar begitu berat dan sarat akan luka lama. "Saat saya melihat alat perekam itu diarahkan ke balkon tempatmu berdiri... memori malam kecelakaan itu mendadak berputar kembali di kepala saya. Tapi kali ini, wajah yang saya lihat di dalam mobil yang terbakar itu bukan lagi wajah ayah atau ibu saya... melainkan wajahmu."

Arka menoleh, menatap Ayana dengan sepasang mata elang yang kini tampak begitu rapuh namun dipenuhi oleh intensitas perasaan yang teramat kuat. "Selama sepuluh tahun ini, saya selalu mengurung diri di dalam ruang kedap suara karena saya takut pada dunia luar yang bising. Tapi sore ini, saya sadar... ketakutan terbesar saya bukan lagi suara sirine itu. Ketakutan terbesar saya adalah jika dunia yang bising ini merebutmu dari samping saya."

Jantung Ayana berdegup kencang. Kalimat itu bukan sekadar pengakuan medis dari seorang pasien; itu adalah sebuah deklarasi kepemilikan emosional yang teramat murni dari seorang Arkananta Pradipta. Seorang pria yang selama ini menutup rapat hatinya dari segala bentuk kedekatan manusia kini telah membuka pintu gerbangnya lebar-lebar untuk dirinya.

Ayana meletakkan cangkir cokelatnya di lantai, lalu perlahan mengulurkan tangan kanannya. Jemarinya yang kecil bergerak ragu sesaat sebelum akhirnya mendarat di atas punggung tangan Arka yang tegap. Ia memberikan remasan lembut yang konisten.

"Arka... memori masa lalu itu adalah bagian dari sejarahmu, tapi itu tidak menentukan masa depanmu," ujar Ayana, matanya bulatnya memancarkan kehangatan yang sanggup melelehkan gunung es mana pun. "Saya berada di sini bukan hanya karena kontrak tiga bulan dari Kakek Hermawan. Saya berada di sini karena saya memilih untuk tetap tinggal. Saya tidak akan pergi ke mana pun, dan saya tidak akan membiarkan faksi-faksi bodoh itu menyentuh garis pertahanan kita."

Arka membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman tangan Ayana dengan erat, menyatukan jemari mereka di antara kehangatan api perapian. Kedekatan mereka malam itu terasa begitu mutlak, melampaui batas profesionalitas dokter-pasien yang selama ini mereka agungkan.

Keesokan harinya, Kamis pagi pukul tujuh.

Udara Lembang masih berselimut kabut tipis saat sebuah mobil dinas kepolisian berpelat nomor khusus bergerak masuk ke pekarangan vila privat tersebut. Dua orang penyidik senior berpakaian batik rapi turun dari mobil, disambut oleh Karina yang sudah berdiri siaga di teras depan dengan berkas dokumen digitalnya.

Arka dan Ayana berjalan keluar dari dalam vila, menyambut kedatangan para penegak hukum tersebut.

"Selamat pagi, Pak Arkananta, Dokter Ayana," sapa penyidik utama dengan sikap hormat yang tinggi. "Kami datang untuk memberikan laporan perkembangan terkait penahanan saudara Kendra Pradipta yang dilakukan subuh tadi di Menteng."

Penyidik itu membuka sebuah map resmi. "Berdasarkan bukti forensik siber dan data aliran dana yang dikirimkan oleh tim Anda semalam, saudara Kendra terbukti secara sah melakukan tindakan spionase korporasi, percobaan pemerasan menggunakan perangkat pengacak sinyal militer ilegal, dan manipulasi pajak berlapis. Beliau saat ini sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka dan tidak diberikan hak jaminan penangguhan penahanan."

Arka mengangguk datar, wajah senyapnya yang penuh otoritas telah kembali sepenuhnya. "Pastikan seluruh proses hukum berjalan tanpa ada celah manipulasi, Pak. Saya tidak mau melihat ada intervensi dari pihak keluarga besar mana pun dalam kasus ini."

"Tentu, Pak Arkananta. Kasus ini menjadi prioritas utama kami karena menyangkut stabilitas aset strategis nasional yang dipegang oleh Pradipta Group," jawab penyidik tersebut sebelum berpamitan dan kembali ke mobilnya.

Begitu mobil kepolisian itu menjauh melewati gerbang pinus, Ayana menoleh ke arah Arka dengan seulas senyuman lega. "Dua faksi besar tumbang dalam waktu kurang dari satu minggu. Tante Elena dan Om Kendra... pergerakan Anda benar-benar seperti badai, Pak Bos."

Arka melirik Ayana, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menawan. "Itu karena saya memiliki dokter pribadi yang rewel yang selalu memastikan sistem syaraf saya berada di kapasitas seratus persen untuk mengeksekusi mereka, Ayana."

Karina yang berada di belakang mereka berdeham pelan, mencoba memecah momen romantis darurat tersebut. "Ehem... maaf mengganggu, Pak, Dokter. Tapi Kakek Hermawan baru saja mengirimkan pesan suara dari Singapura. Beliau meminta Anda berdua untuk segera kembali ke Jakarta siang ini."

Ayana menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa lagi? Apa ada saham yang turun?"

"Bukan, Dokter," Karina tersenyum misterius, matanya melirik ke arah tabletnya. "Kakek Hermawan mengatakan bahwa... karena ancaman internal sudah sepenuhnya dibersihkan, beliau ingin mempercepat agenda besar berikutnya. Beliau ingin mengadakan acara jamuan makan malam resmi keluarga besar Pradipta minggu depan... untuk mengumumkan perubahan status Dokter Ayana dari dokter pribadi kontrak menjadi tunangan resmi dari Arkananta Pradipta."

UHUK!

Ayana seketika tersedak air liurnya sendiri mendengar penuturan santai dari Karina. Wajah cantiknya langsung memerah padam dalam sekejap bagai kepiting rebus. Ia buru-buru menoleh ke arah Arka, mencari pembantahan atas kegilaan skenario Kakek Hermawan.

Namun, Arka justru tidak tampak terkejut sedikit pun. Pria itu hanya melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Ayana dengan pandangan mata elang yang dipenuhi oleh binar kepuasan yang mutlak dan kepemilikan yang mendalam.

"Kakek selalu tahu bagaimana cara mengambil keputusan bisnis... dan personal yang paling efisien, Ayana," ujar Arka dengan nada suara beratnya yang teramat santai namun sarat akan keseriusan.

"Arka! Anda jangan bercanda! Ini di luar kontrak medis tiga bulan kita!" protes Ayana dengan gaya rewelnya yang khas, mencoba menutupi debaran jantungnya yang kini sudah melompat melampaui batas desibel mana pun.

Arka melangkah maju satu kali, memperkecil jarak di antara mereka di teras vila, lalu berbisik tepat di samping wajah Ayana yang sedang salah tingkah, "Kontrak medis itu sudah selesai sejak kamu memeluk saya di balkon hotel kemarin, Dokter Ayana Sheenaz. Sekarang... bersiaplah untuk masuk ke dalam babak baru kehidupan saya sebagai bagian dari Pradipta Group yang sesungguhnya."

Di bawah langit Lembang yang mulai cerah dan saksi bisu pohon-pohon pinus yang kokoh, aliansi unik di antara sang bilioner dan dokter pribadinya kini telah resmi bergeser menuju takdir baru yang jauh lebih mengikat, siap menghadapi delapan puluh babak drama kehidupan metropolitan yang menanti mereka di Jakarta.

1
yeyen Hondro
Ceritanya bagus banget.....👍👍👍
neyrfly: makasi ya kakk😍
total 1 replies
Alissia
awas lo arka nanti kamu jatuh cinta sama doktet aya🤭🤭🤣🤣
Wardah Wilda
wuuiihh..Thor..kata2 nya bagus banget ..sangat presisi .akurat..tanpa membuat bingung...alur nya jelas..👍👍
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
Hennyy exo
wah makin banyak musuhnya ayana
Hennyy exo
wow arka aku padamu😍
Hennyy exo
ingin sekali ku tampar bibi elena 🤣
Hennyy exo
wow alurnya makin menarik

btw terima kasih thor upnya🤭
Susilawati Susilawati
up lagi thor
neyrfly: syiapp🫡
total 1 replies
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
neyrfly: siap kakk🫡
total 1 replies
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
neyrfly: siap kakk🫡
total 1 replies
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
neyrfly: makasih kakk😍🙏
total 1 replies
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!