"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngunduh Mantu
Akbar dan Sekar sekarang duduk di pelaminan. Sudah dari Subuh tadi, perias mendandani Sekar dengan adat Palembang-nya.
Kedua orang tua Akbar, Pak Suryo dan Ibu Suryo, sudah sepakat untuk memberikan resepsi mewah (ala Keluarga Suryo) kepada Akbar. Sebelum pulang ke rumah, Akbar meminta untuk diadakan acara pengajian sebelum dan sesudah akad nikah di rumah Kakeknya. Tetapi kedua orang tuanya, tetap kekeh untuk mengadakan resespsi, 'anak pertama' kata beliau begitu.
Tentu saja, setelah tiga hari di rumah Sekar, sekarang Akbar sudah kembali ke kediaman orangtuanya. Resepsi diadakan lusa, seminggu setelah Akbar mengucapkan janji suci dihadapan orang tua Sekar.
"Neng, cantik sekali, sudah cantik dari sananya ya, mau diapa-apain wajahnya tetap cantik. Makin glowing ya, Neng, setelah menikah."
Begitu yang dikatakan oleh perias, saat mempercantik dan melukis wajah ayu Sekar.
"Ibu, bisa saja. Doakan kami jadi keluarga yang selalu bersyukur dan bahagia ya, Bu."
"Iya, Neng. Sekarang Neng lagi masuk ibadah yang paling lama, yaitu menikah. Tetap terbuka dan sabar, lembut sama suami ya, Neng. Kuncinya kalau kita, sebagai istri ingin masuk surga, taat sama suami, Neng. Ibu sendiri masih banyak salah sama Bapak. Teori memang mudah mudah daripada praktik, Neng. Tapi, jalani dan syukuri, kalau suami ada salah, tegur beliau tapi dengan suara yang lembut, Neng."
"Insya Allah, Bu. Terima kasih banyak nasihatnya. Sehat-sehat ya, Bu."
"Iya, Neng. Doakan Ibu juga, cepat punya momongan, Neng. Kami sudah menunggu sampai lima tahun. Doakan yaa, Neng."
Sekar terkejut, lalu dengan cepat menjawab, "Iya, Ibu. Lekas dikaruniai momongan yang sholeh dah sholehah. Aamiin."
Setelah selesai memakai pakaian adat, Sekar keluar dari kamar menuju pelaminan. Akbar, sang suami sudah menanti di dekat pintu.
Senada dengan Sekar, Akbar mengenakan pakaian adat juga, kali ini, mereka memakai berwarna merah marun dengan kain songket berwarna merah bercorak emas.
Keduanya duduk di pelaminan. Fokus mendengarkan pengajian dari Ustadz Ridwan Nawi, yang merupakan guru mereka waktu SMA dulu.
Sesekali mereka menggenggam tangan, kemudian saling sikut, tapi pelan. Setelah itu tertawa renyah bersama.
Kenapa mereka saling sikut dan tertawa?
Ustadz Ridwan, menceritakan kisah mereka dengan apik dan lucu.
Dengan gaya khas beliau, tangan kiri diletakan dipinggang, beliau berkata, "Saya masih tidak percaya, kalau yang duduk di pelaminan ini, Sekar, murid saya waktu sekolah dulu. Kamu Sekar, Nak?".
Gelak tawa terdengar riuh dibawah tenda biru laut itu. Syukurnya, semesta alam mendukung mereka, angin dengan manja berjalan di antara para undangan yang hadir, sehingga rasa panas tidak terlalu terasa.
Sekar tertawa lalu menggangguk.
"Kamu sudah besar, Nak. Bagaimana, suami jago dalam menjebol gawang? Dulu, suamimu itu, salah satu pemain bola di sekolah kita, Sekar."
Sekali lagi suara tawa bergema.
Sekar dan Akbar tertawa, Sekar menutup muka menggunakan kipas berwarna merah. Wajahnya sudah merah padam. Apalagi, Akbar membisikan sesuatu di telinganya.
"Aku sangat ahli dalam hal yang satu itu, sayang. Nanti malam kita main lagi, ya."
Sekar memukul suaminya pelan.
"Abi, bersyukur kalian berdua menikah. Akbar, kamu tahu, istrimu itu sangat pemalu. Sopannya luar biasa. Abi masih ingat, ketika Sekar mau setor hapalan. Ia mengatakan, maaf, Bi, mengganggu, saya mau setor hapalan."
Akbar menengok pelan ke arah istrinya.
"Istrimu itu, sangat lembut. Bersyukur kamu mendapatkannya, Bar. Jaga dia, jangan disakiti hatinya. Berikan dia nafkah lahir dan batin. Jika istrimu bahagia, insya Allah rezekimu mengalir dengan baik, Nak. Ingat ya, Nak. Akbar dan Sekar. Jaga diri, hati. Shalat jamaah jangan dilupakan, Qur'an selalu dibaca, walaupun satu-dua ayat. Orang tua dihormati, kalian juga akan menjadi orang tua. Perlakukan baik mereka, niscaya engkau akan diperlakukan baik pula oleh anakmu nanti."
Kedua pengantin baru itu tersenyum, "Terima kasih banyak, sudah mau menerima Mas yang banyak akan kekurangan. I love you, sayangku."
"I love you too, sayang."
---
Terima kasih sudah membaca, tolong apresiasinya ya, terima kasih telah meluangkan waktunya. Maaf lahir batin. Sehat selalu semua.