Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Badai Setelah Kotak Terbuka
Pagi setelah video Meira viral, ada tiga orang asing berdiri di depan lobi apartemen.
"Bu Nathania, boleh wawancara sebentar?"
"Meira benar belajar sendiri?"
"Apakah keluarga Ibu ada hubungan dengan Reihan Wijaya?"
Nathania mengangkat Meira ke pelukannya dan menundukkan wajah anak itu ke bahunya.
"Tidak ada wawancara. Anak saya masih kecil."
Salah satu reporter memaksa mendekat. Han langsung berdiri di depan mereka.
"Minggir," kata Nathania.
Reporter itu menatap Han. "Anda ayahnya?"
Han diam.
Meira mengangkat kepala. "Iya. Ini Papa."
Kamera menyala lagi.
Nathania menutup wajah Meira dengan tangan. "Denny, sekarang."
Denny yang baru tiba bersama satpam apartemen langsung menghalau wartawan. "Semua keluar dari area penghuni. Kalau tidak, kami lapor pengelola dan polisi."
Di dalam lift, Meira cemberut. "Kenapa orang-orang tanya terus?"
"Karena kemarin Mei masuk berita," jawab Nathania.
"Mei salah?"
"Tidak. Tapi orang dewasa suka terlalu berisik."
Han menatap angka lantai yang naik. "Bahaya."
Nathania menoleh. "Apa yang bahaya?"
"Kamera."
Denny ikut memandangnya. "Kali ini saya setuju."
Di apartemen, ponsel Nathania tidak berhenti bergetar. Grup WhatsApp keluarga mengirim potongan video. Ada yang bangga, ada yang menyindir, ada yang tiba-tiba mengaku dekat.
Tante arisan menulis: Nia, anakmu hebat. Nanti ajak ke rumah Tante, ya.
Nathania melempar ponsel ke sofa. "Kemarin anak tanpa bapak. Hari ini anak hebat."
Denny duduk di meja makan. "Bu, saya sarankan Meira tidak sekolah dulu dua hari."
"Aku sudah kirim izin ke TK."
"Astera?"
"Aku kerja dari rumah."
Meira mengangkat tangan. "Kalau Mei di rumah, Papa main balok?"
Han mengangguk. "Main."
Denny menatap Han lama. "Pak Han, kemarin Anda yang mengajari angka itu?"
Nathania langsung menoleh.
Han mengambil balok merah. "Lagu."
"Lagu yang kebetulan membuka brankas?"
"Denny," tegur Nathania.
"Maaf, Bu. Tapi saya perlu tahu risiko yang saya bantu kelola."
Han menyusun balok satu per satu. "Mei tidak salah."
Jawaban itu tidak menjawab pertanyaan. Tetapi cukup menunjukkan prioritasnya.
Denny menarik napas. "Baik. Untuk sekarang, kita lindungi Meira dulu."
Sepanjang hari, Han kembali menjadi pria rumah tangga yang lambat. Ia membukakan pintu hanya setelah melihat interkom. Ia mengajak Meira bermain jauh dari jendela. Ia pura-pura bingung saat Nathania memintanya mematikan televisi yang terus menyiarkan wajah anak mereka.
Namun begitu malam turun dan apartemen sunyi, wajah itu hilang.
Han berdiri di balkon kecil, memegang ponsel lama yang sudah ia sembunyikan sejak keluar dari rumah sakit. Nomor yang ia tekan tersimpan di ingatannya, bukan di kontak.
Panggilan tersambung pada dering kedua.
"Halo?" suara di seberang terdengar waspada.
Han menatap lampu kota. "Bram."
Sunyi.
Lalu suara itu pecah. "Siapa ini?"
"Aku masih hidup."
Di seberang sana, sesuatu jatuh. Mungkin gelas. Mungkin ponsel hampir lepas.
"Bos?"
"Dengar baik-baik. Jangan sebut namaku."
Napas Bram terdengar berat. "Saya kira... semua orang kira..."
"Biarkan mereka tetap kira begitu."
"Bos, di mana Anda? Saya jemput sekarang."
"Tidak. Kamu tetap di sisi Vincent."
"Dia menghancurkan semuanya."
"Belum semuanya." Suara Han dingin. "Karena itu kamu tetap di sana."
Bram terdiam, lalu menjawab dengan suara serak, "Perintah?"
"Mulai bergerak. Audit internal, brankas, Nirwana Bay. Catat siapa yang panik setelah kemarin."
"Vincent?"
"Terutama Vincent."
"Dan anak kecil itu? Video viral..."
Suara Han turun. "Jangan sentuh nama Meira dalam jalur mana pun."
"Baik."
"Bram."
"Ya, Bos."
"Untuk dunia, kamu tetap orang Vincent."
"Saya sudah lima tahun menjadi pengkhianat di mata mereka."
"Tahan sedikit lagi."
Bram tertawa pelan, tetapi suaranya basah. "Kalau Bos hidup, lima tahun itu tidak sia-sia."
Han menutup mata.
Di dalam apartemen, Nathania muncul di balik pintu balkon. "Han?"
Ia langsung mematikan ponsel dan menyembunyikannya.
"Kamu bicara dengan siapa?"
Han berbalik dengan wajah kosong. "Angin."
Nathania menatapnya. "Angin sekarang punya nama Bram?"
Untuk satu detik, udara berhenti.
Han mengerjap.
Nathania melipat tangan. "Aku tidak akan bertanya malam ini. Tapi jangan kira aku tidak dengar."
"Nia..."
"Meira sedang tidur. Wartawan di bawah. Vincent mungkin mulai mencari tahu. Dan kamu masih bermain rahasia."
Han diam.
"Kalau rahasia itu membahayakan anakku, aku tidak peduli siapa kamu. Aku akan melawanmu."
Han menatapnya lama. Lalu mengangguk.
"Baik."
Jawaban itu terlalu tenang.
Nathania masuk kembali, meninggalkan pintu balkon sedikit terbuka.
Han menatap ponsel di tangannya.
Di seberang kota, Bram duduk di lantai ruang arsip Grup Wijaya, tangan masih gemetar.
Orang yang dikubur oleh seluruh dunia baru saja memberi perintah.
Bram mengusap matanya, lalu membuka laptop.
"Selamat pulang, Bos," bisiknya. "Sekarang kita buat mereka gemetar."
Di balkon BSD, Han masih berdiri ketika Nathania kembali membuka pintu.
"Aku lupa bilang," katanya.
Han menyimpan ponsel.
"Besok Denny akan pasang orang di bawah. Bukan untuk memata-matai kamu. Untuk Meira."
"Bagus."
"Kamu tidak bertanya kenapa aku memberi tahu?"
"Karena Nia ingin aku tahu batas."
Nathania terdiam. "Kadang kamu menjawab terlalu tepat."
"Maaf."
"Aku mulai benci kata maafmu."
Han menatapnya. "Lalu harus bilang apa?"
"Kebenaran."
Angin malam lewat di antara mereka.
Han hampir mengatakan satu bagian kecil saja. Bahwa Bram bukan bahaya. Bahwa Vincent akan bergerak. Bahwa Meira harus dijauhkan dari semua kamera.
Namun kebenaran setengah bisa lebih kejam daripada kebohongan utuh.
"Besok," kata Han akhirnya, "jangan biarkan Mei jauh."
"Itu bukan jawaban."
"Itu yang paling penting."
Nathania menatapnya lama, lalu mengangguk kaku. "Baik. Untuk Meira, aku dengar."
Setelah pintu tertutup, Han menyalakan ponsel lagi. Pesan dari Bram masuk.
Saya masih tercatat sebagai orang Vincent. Mereka percaya saya cukup untuk masuk ruang arsip.
Han mengetik balasan.
Tetap begitu. Jangan bersihkan namamu dulu.
Bram membalas hampir langsung.
Kalau harus jadi pengkhianat sedikit lebih lama, saya bisa.
Han menatap kalimat itu. Loyalitas seperti itu tidak boleh disia-siakan.
Ia membalas pendek.
Lindungi data Nirwana Bay. Dan awasi siapa pun yang menyebut Meira.
Di seberang kota, Bram membaca pesan itu, lalu menutup laptop ketika langkah orang mendekat.
Seorang staf Vincent masuk. "Pak Bram, Pak Vincent cari Anda."
Bram mengangkat wajah, ekspresinya kembali datar.
"Bilang saya segera ke ruangan beliau."
Ketika staf itu pergi, Bram memasukkan ponsel ke saku dalam.
Permainan lama dimulai lagi.
Bedanya, kali ini raja yang mereka kira mati sudah membuka mata.
Di BSD, Han mematikan ponsel dan kembali ke ruang tengah.
Meira tidur meringkuk di sofa, kelelahan setelah sehari diburu kamera. Nathania duduk di sampingnya, tidak benar-benar tidur.
"Semua aman?" tanyanya tanpa membuka mata.
Han menatap pintu, jendela, lalu anaknya.
"Belum."
Nathania membuka mata.
"Tapi akan aman," lanjut Han.
"Itu janji atau rencana?"
Han menatapnya lama.
"Dua-duanya."