Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Mereka tidak langsung pulang.
Rani memaksa semua orang pindah ke kedai kopi dua puluh empat jam yang lebih terang dan manusiawi. Menurutnya, setelah keluar dari ruangan penuh produser mabuk, orang butuh minuman yang tidak mengancam masa depan.
Salsa duduk di samping Naura, kedua tangan memegang cangkir cokelat panas.
Wajahnya masih pucat.
Rani duduk di seberang, menatapnya seperti kakak kedua yang siap menggigit siapa pun.
Arkan memilih kursi di ujung meja. Ia tidak banyak bicara. Jasnya sudah dilepas, kemejanya tetap rapi, wajahnya dingin. Tapi kehadirannya membuat Salsa terlihat lebih aman.
"Ceritakan dari awal," kata Naura.
Salsa menunduk.
"Habis reading, manajerku bilang ada makan malam kecil sama sutradara dan produser. Katanya wajib, buat bonding. Aku pikir normal."
Rani mendengus. "Bonding kok pakai maksa minum."
"Awalnya memang makan biasa. Terus Pak Tama mulai minum. Dia bilang aku terlalu pendiam, harus lebih luwes. Aku bilang aku nggak minum alkohol. Dia ketawa. Katanya aktris nggak boleh kaku."
Naura menggenggam tangan adiknya.
"Manajermu?"
Salsa menggigit bibir. "Dia takut. Dia cuma bilang, 'Sedikit saja, Sa, jangan bikin suasana nggak enak.'"
Rani langsung mengumpat pelan.
Naura menatap cangkir di depannya.
Ia tahu pola itu.
Jangan bikin suasana tidak enak.
Jangan bikin malu.
Jangan melawan orang yang lebih berkuasa.
Kalimat-kalimat itu membangun kandang yang sangat rapi untuk perempuan muda.
"Kamu tidak salah," kata Naura.
Salsa mengangguk, tapi air matanya jatuh.
"Aku takut peranku dicabut."
Naura menghapus air mata adiknya.
"Kalau dicabut karena kamu menolak dipaksa minum, berarti proyek itu tidak layak."
"Tapi ini kesempatan pertamaku yang lumayan besar."
Naura diam.
Ia mengerti.
Orang yang belum punya banyak kesempatan sering dipaksa membayar terlalu mahal untuk kesempatan pertama.
Arkan tiba-tiba bicara.
"Kontrakmu sudah ditandatangani?"
Salsa menoleh cepat. "Sudah, Pak."
"Ada klausul moral atau kewajiban promosi?"
"Saya tidak terlalu paham."
Arkan mengangguk pada Rani. "Bisa minta salinan kontrak?"
Rani menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Kamu teman Naura. Salsa mungkin lebih nyaman mengirim ke kamu."
Rani berkedip, lalu tersenyum. "Pak Arkan, Anda dingin tapi peka juga."
Naura menatap Rani.
Rani mengangkat tangan. "Maaf. Mulut refleks."
Arkan tidak marah. "Saya sering dengar komentar lebih buruk."
Salsa mengirim kontrak ke Rani, lalu Rani meneruskan ke Arkan.
Arkan membaca dari ponsel. Wajahnya tidak berubah, tetapi Naura melihat matanya bergerak cepat.
"Peran tidak bisa dicabut sepihak tanpa kompensasi, kecuali ada pelanggaran disiplin berat. Menolak minum bukan pelanggaran."
Salsa seperti baru bisa bernapas.
"Benarkah?"
"Ya."
"Tapi Pak Tama..."
"Produser bukan hukum."
Kalimat itu datar, tapi efeknya kuat.
Rani langsung mengangguk. "Tulis itu di dinding kamar."
Naura menatap Arkan.
"Terima kasih."
Arkan menatap balik. "Aku hanya membaca kontrak."
Kata `aku` keluar lagi. Kali ini di depan Rani dan Salsa.
Rani langsung melirik Naura.
Naura pura-pura tidak melihat.
Salsa masih terlalu terguncang untuk menangkap detail itu.
Setelah Salsa lebih tenang, Naura menghubungi orang tua angkat Salsa, Bu Lilis. Ia menjelaskan secukupnya tanpa membuat panik berlebihan. Bu Lilis di seberang menangis marah dan berkali-kali meminta Salsa pulang malam itu.
Salsa akhirnya setuju pulang ke rumah orang tua angkatnya di Bekasi.
Arkan menawarkan sopir.
Salsa awalnya menolak, tetapi Naura menerima.
"Kamu jangan pulang sendiri malam ini."
Salsa memeluk Naura lagi sebelum masuk mobil.
"Kak."
"Hm?"
"Kakak jangan pulang kampung Lebaran nanti kalau belum siap."
Naura terdiam.
Rani juga menoleh.
Salsa menatapnya dengan mata merah.
"Ibu Sulastri tadi siang telepon aku."
Naura merasa tubuhnya menegang.
"Dia bilang apa?"
"Nanya Kakak kerja di mana. Aku bilang nggak tahu."
"Lalu?"
"Dia marah. Katanya aku lupa diri karena sudah diangkat anak orang. Katanya kalau ketemu Kakak, suruh Kakak ingat bahwa darah nggak bisa diganti."
Naura tertawa kecil.
Kering.
Darah.
Mereka selalu memakai darah ketika butuh uang.
Salsa menggenggam tangannya. "Kak, mereka pasti cari cara lain."
"Aku tahu."
"Kalau pulang ke Kudus, jangan ke rumah itu."
"Aku memang tidak berniat."
Salsa tampak lega, tapi belum sepenuhnya.
"Pakde Darma dan Bude Sari tanya kapan Kakak pulang. Mereka kangen."
Nama itu membuat dada Naura melembut.
Pakde Darma, kakak ayahnya, dan Bude Sari adalah dua orang yang dulu diam-diam membayar uang sekolahnya ketika Harto dan Sulastri berkata tidak ada uang. Mereka tidak pernah punya anak kandung. Tetapi rumah mereka selalu punya sepiring nasi untuk Naura.
"Aku akan pulang ke rumah Pakde," kata Naura.
Salsa mengangguk.
Mobil yang disiapkan Arkan membawa Salsa pergi.
Rani pamit tidak lama setelah itu, tapi sebelum pergi ia menarik Naura ke samping.
"Kamu dan Pak Arkan..."
"Tidak ada."
"Aku belum selesai tanya."
"Aku tahu arah pertanyaanmu."
Rani menyipit. "Justru karena kamu tahu, berarti ada."
Naura memijat pelipis.
"Ran, aku kerja untuk keluarganya."
"Aku tidak bilang langsung nikah besok. Aku cuma bilang, hati-hati. Bukan karena dia buruk. Justru karena dia terlihat tidak main-main."
Naura menoleh.
Rani jarang seserius itu.
"Orang seperti dia kalau masuk hidupmu, dampaknya besar. Kamu harus yakin kamu tidak sedang bersembunyi di balik status kerja."
Naura tidak menjawab.
Rani memeluknya singkat.
"Aku pulang. Kalau produser itu macam-macam lagi, kabari. Aku sudah lama tidak ribut, tangan gatal."
Setelah Rani pergi, hanya Naura dan Arkan tersisa di parkiran kedai kopi.
Malam sudah lewat pukul sebelas.
"Saya antar pulang," kata Arkan.
Naura kali ini tidak menolak.
Di mobil, ia memandang jalanan Jakarta yang mulai lengang.
"Pak Arkan."
"Ya?"
"Maaf karena urusan saya terus merepotkan Bapak."
Arkan tidak langsung menjawab.
"Salsa bukan urusanmu saja."
Naura menoleh.
"Dia adikmu. Dan malam ini dia berada dalam situasi kerja yang tidak aman. Itu bukan kerepotan. Itu masalah yang harus dihentikan."
"Bapak selalu membuat semuanya terdengar sederhana."
"Tidak sederhana. Tapi jelas."
Naura tersenyum lemah.
"Saya dulu tidak punya banyak hal yang jelas."
"Sekarang buat satu per satu."
Mobil berhenti di depan rumah Bu Marini.
Naura melepas sabuk pengaman.
Sebelum turun, Arkan berkata, "Kamu akan pulang ke Kudus?"
"Sepertinya. Menjelang Lebaran."
"Sendiri?"
"Mungkin dengan Salsa kalau jadwalnya bisa."
Arkan mengangguk, tetapi rahangnya sedikit menegang.
Naura melihatnya.
"Pak Arkan tidak perlu khawatir."
"Aku tetap khawatir."
Kata itu keluar terlalu jujur.
Mereka sama-sama diam.
Arkan memperbaiki, "Sebagai klien. Kalau pekerja saya pulang ke situasi berisiko, saya perlu tahu."
Naura menatapnya.
"Sebagai klien?"
Arkan tidak menjawab.
Telinganya merah.
Naura turun dari mobil sebelum senyumnya terlalu terlihat.
Malam itu, saat ia masuk rumah, Bu Marini sudah menunggu di ruang keluarga.
"Salsa aman?"
"Aman, Bu."
"Kamu?"
Naura berhenti.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi setelah hari yang panjang, pertanyaan itu hampir membuatnya menangis.
"Saya juga aman."
Bu Marini membuka tangan.
Naura ragu sebentar, lalu mendekat.
Pelukan perempuan tua itu hangat.
Seperti rumah yang tidak pernah ia dapatkan dari ibunya sendiri.
jgn setengah 2 ya