NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17 - Malam Pertama yang Pelan

Rumah kecil itu menyambut mereka dengan sunyi.

Pak Harun membantu menurunkan beberapa kotak barang, lalu pamit setelah Raka berkali-kali memastikan ia sudah makan. Tante Mira mengirim pesan bahwa ia akan datang besok membawa beberapa perlengkapan dapur tambahan. Sari mengirim pesan panjang berisi doa, peringatan agar Nadia makan, dan pertanyaan apakah kasurnya cukup nyaman.

Nadia membalas singkat: Aku baik.

Lalu ia berdiri di ruang tamu, memegang buku nikah, buku tabungan, dan kunci rumah.

Tiga benda itu membuatnya merasa seperti orang yang baru kembali dari perang kecil.

Raka masuk dari dapur membawa dua gelas air putih.

"Rumahnya terlalu sepi?"

"Tidak."

"Terlalu kecil?"

"Tidak."

"Terlalu sederhana?"

Nadia menatapnya.

"Mas Raka akan terus bertanya sampai aku menemukan kekurangan?"

Raka tersenyum.

"Mungkin."

"Kalau begitu kekurangannya satu."

"Apa?"

"Belum ada makanan."

Raka terdiam, lalu tertawa pelan. Tawa itu membuatnya batuk, tapi batuknya tidak separah kemarin.

"Saya bisa beli."

"Tidak perlu. Aku lihat tadi ada telur dan mi di dapur."

"Kamu mau masak di hari akad?"

"Aku lapar di hari akad."

Raka mengangkat tangan menyerah.

Mereka masuk dapur bersama. Nadia membuka lemari, menemukan bawang merah, bawang putih, garam, kecap, dan beberapa cabai. Ia menggulung lengan kebaya, lalu berhenti.

"Aku harus ganti baju dulu."

Raka langsung memalingkan wajah.

"Oh. Iya. Kamar..."

Nadia melihat telinganya memerah.

Ia hampir tertawa.

Laki-laki ini menikah dengannya, tapi masih canggung seperti anak sekolah. Aneh, tapi menyenangkan.

"Mas Raka tidak perlu panik. Aku ganti di kamar."

"Saya tidak panik."

"Telingamu merah."

Raka menyentuh telinganya tanpa sadar, lalu sadar, lalu makin merah.

Nadia tertawa sungguhan.

Ia masuk kamar membawa pakaian rumah. Saat pintu tertutup, tawanya perlahan hilang. Ia duduk di tepi ranjang.

Malam pertama.

Dua kata itu dulu menakutkan.

Dengan Arman, malam pertama bukan miliknya. Arman merasa akad memberinya hak penuh atas tubuh Nadia tanpa bertanya apakah ia siap. Ketakutan Nadia dianggap malu-malu. Air matanya dianggap wajar.

Tubuh Nadia menegang mengingatnya.

Ia menarik napas dalam.

Ini bukan Arman.

Di luar, ia mendengar Raka membuka jendela dapur, menata piring, lalu batuk kecil. Tidak ada langkah mendekat. Tidak ada gagang pintu diputar.

Nadia mengganti pakaian pelan.

Ketika kembali ke dapur, Raka sedang mencuci beras.

Nadia terkejut.

"Mas Raka bisa cuci beras?"

"Saya tidak separah itu."

"Tadi katanya tidak pandai memasak."

"Mencuci beras belum bisa disebut memasak."

Nadia mengambil alih wajan. Mereka memasak nasi, telur kecap, dan mi goreng sederhana. Raka mengiris bawang terlalu tebal. Nadia mengomentari. Raka menerima. Beberapa kali tangan mereka bersentuhan saat mengambil sendok, dan setiap kali Raka mundur sedikit.

Akhirnya Nadia berkata, "Mas Raka, kita sudah sah."

Raka berhenti.

"Saya tahu."

"Lalu kenapa seperti takut menyentuhku?"

Ia meletakkan pisau.

"Saya bukan takut menyentuhmu."

"Lalu?"

"Saya takut membuatmu merasa tidak punya pilihan."

Nadia terdiam.

Minyak di wajan mendesis pelan.

Raka menatapnya, suaranya rendah.

"Nadia, saya tahu pernikahan ini terjadi karena keadaan yang kacau. Saya tidak ingin kamu merasa setelah akad, semua harus berubah malam ini juga. Kita bisa pelan-pelan."

Nadia menggenggam spatula.

Ada bagian dalam dirinya yang ingin menangis. Bukan sedih. Bukan juga bahagia sepenuhnya. Lebih seperti seseorang membuka pintu ruangan pengap dan berkata ia boleh keluar kapan saja.

"Kalau aku ingin pelan-pelan?" tanyanya.

"Kita pelan-pelan."

"Kalau aku tidak tahu ingin apa?"

"Kita cari tahu tanpa memaksa."

"Kalau suatu hari aku yang mendekat dulu?"

Raka menatapnya.

Kali ini telinganya tidak hanya merah. Lehernya juga.

"Saya akan berusaha tidak pingsan."

Nadia tertawa sampai hampir menjatuhkan spatula.

Ketegangan di dadanya pecah.

Mereka makan di meja kecil ruang tengah. Makanan sederhana itu terasa lebih enak daripada prasmanan syukuran. Mungkin karena tidak ada orang yang mengawasi. Mungkin karena untuk pertama kalinya, Nadia makan tanpa bersiap disalahkan.

Setelah makan, mereka mencuci piring bersama.

Raka memecahkan satu gelas.

Ia tampak bersalah sekali.

Nadia menatap pecahan itu.

"Mas Raka."

"Saya ganti besok."

"Aku tidak marah."

"Saya tahu, tapi..."

"Di rumah ini gelas boleh pecah tanpa ada yang diteriaki."

Raka menatapnya.

Nadia jongkok mengambil pecahan besar. Raka langsung ikut, tapi Nadia menahan.

"Hati-hati. Tangan Mas Raka."

"Tanganmu juga."

Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil.

Malam semakin turun.

Setelah mandi bergantian, Nadia masuk kamar dan menemukan Raka menggelar tikar di ruang tamu.

Ia berdiri di ambang pintu.

"Apa itu?"

Raka menoleh.

"Tempat tidur saya."

"Di ruang tamu?"

"Untuk sementara."

Nadia memeluk bantal.

"Mas Raka mau membuat tetangga berpikir aku mengusir suami sendiri di malam pertama?"

"Tidak ada yang tahu."

"Aku tahu."

Raka diam.

Nadia bersandar di pintu.

"Aku menghargai niat Mas Raka. Tapi kalau Mas tidur di ruang tamu, aku akan merasa seperti tamu di rumah sendiri."

"Saya tidak ingin kamu tidak nyaman."

"Aku lebih tidak nyaman kalau kita berpura-pura bukan suami istri."

Raka berdiri perlahan.

"Nadia..."

"Kita bisa tidur di ranjang yang sama. Tidak perlu melakukan apa pun. Kalau aku tidak nyaman, aku akan bilang."

Ia menatap Nadia lama.

"Janji?"

"Janji."

Raka melipat tikar kembali.

Di kamar, suasana canggung lagi. Ranjang tidak terlalu besar. Nadia berbaring di sisi dekat jendela, Raka di sisi luar. Di antara mereka ada jarak yang cukup untuk satu bantal kecil.

Lampu dimatikan.

Gelap tidak sepenuhnya gelap. Cahaya dari jalan masuk melalui celah tirai.

Nadia mendengar napas Raka. Terkadang ada batuk kecil yang ia tahan.

"Mas Raka."

"Ya?"

"Kalau ingin batuk, batuk saja. Jangan ditahan."

Raka diam sebentar, lalu batuk pelan.

"Maaf."

"Jangan minta maaf karena bernapas."

Keheningan turun.

Beberapa menit kemudian, Raka berkata, "Nadia."

"Ya?"

"Terima kasih sudah masuk ke rumah kecil ini."

Nadia menatap bayangan pohon di jendela.

"Terima kasih sudah memberiku kunci."

Raka tidak menjawab, tapi Nadia merasa ia tersenyum.

Malam itu tidak ada adegan menggebu. Tidak ada paksaan. Tidak ada air mata yang ditelan diam-diam.

Hanya dua orang berbaring di ranjang yang sama, belajar percaya pada sunyi.

Menjelang tidur, Nadia tanpa sadar bergeser sedikit. Bahunya menyentuh lengan Raka.

Raka tidak bergerak.

Ia hanya berkata sangat pelan, "Boleh saya pegang tanganmu?"

Nadia membuka mata.

Lalu di gelap, ia mencari tangan Raka lebih dulu.

"Boleh."

Jari mereka bertaut.

Nadia tidur dengan napas yang ringan.

Di luar rumah, malam tetap berjalan. Di rumah Pak Darto mungkin masih ada pertengkaran. Di rumah Wiratmaja mungkin Bu Lilis masih gelisah. Arman dan Bella mungkin sedang saling menyalahkan.

Tapi di rumah kecil itu, untuk beberapa jam, dunia tidak boleh masuk.

Nadia sempat terbangun sekali menjelang dini hari. Tangannya masih berada dalam genggaman Raka, longgar tapi tidak terlepas. Ia bisa saja menarik diri. Raka tidak akan menahan. Kesadaran itu membuat dadanya terasa penuh.

Dulu, setiap sentuhan adalah perintah yang tidak boleh ia bantah. Malam ini, sentuhan hanya menjadi pertanyaan yang sudah ia jawab boleh.

Ia memiringkan wajah. Dalam remang, Raka tidur dengan napas pelan. Garis wajahnya tampak lebih muda ketika tidak sedang menahan sakit atau menjaga perasaan orang lain.

"Aku akan menyembuhkanmu," bisik Nadia, nyaris tanpa suara.

Ia tidak tahu apakah itu janji yang terlalu besar. Ia hanya tahu, untuk pertama kalinya, ia ingin memakai kesempatan kedua bukan hanya untuk menghukum orang jahat, tapi juga menjaga orang yang benar.

Raka tidak bangun. Namun jari-jarinya bergerak sedikit, seolah mendengar.

Nadia menutup mata lagi.

Kali ini tidurnya lebih dalam.

Di luar jendela, daun mangga bergerak tertiup angin. Suaranya pelan, seperti bisikan yang tidak menuntut jawaban. Nadia membiarkan suara itu mengantarnya tidur, sambil menyadari satu hal kecil yang terasa besar: malam pertama tidak harus menjadi luka. Bisa juga menjadi awal dari percaya.

Dan ia memilih percaya pelan-pelan.

Tanpa rasa takut lagi.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!