Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU AKAN JUJUR
Wesley dan Brox sampai di OR Trade pagi itu. Namun, meja sekretaris tampak masih kosong padahal jam kerja sudah lewat 5 menit.
"Di mana dia?" tanya Wesley.
"Saya akan memeriksanya, Tuan," jawab Brox.
Setelah Wesley masuk ke dalam ruangannya, Brox pun ikut masuk setelah ia selesai memeriksa sesuatu.
"Ia memang belum datang, Tuan," ucap Brox.
"Baru bekerja 2 hari saja dia sudah terlambat. Beri peringatan padanya, Brox," perintah Wesley.
"Baik, Tuan."
Biasanya, saat ia datang, Freya sudah ada di mejanya. Kemudian wanita itu akan langsung ikut masuk ke dalam ruang kerja Wesley untuk memberitahukan jadwal kerjanya.
Ishhh, kenapa aku malah jadi memikirkan wanita itu? - batin Wesley kesal.
Selang 30 menit, Barbara datang ke OR Trade. Ia berjalan dengan lenggak lenggok layaknya seorang model yang sedang berjalan di atas catwalk. Semua pegawai yang berpapasan dengannya, melihat ke arah dirinya, membuatnya semakin merasa percaya diri.
Namun, kini bukan pujian yang ia dapatkan, melainkan sebuah tatapan tajam dari seorang Wesley Bold.
"Di sini tempat bekerja, bukan tempat untuk memamerkan tubuhmu. Kamu bahkan datang terlambat, apa kamu sudah bosan bekerja di sini?" tanya Wesley.
"Tuan, mana mungkin saya bosan, baru 2 hari saya bekerja di sini. Lagi pula siapa yang akan bosan jika berada di posisi saya, ini pekerjaan yang sangat menyenangkan," jawab Barbara.
"Lalu, apa jadwalku hari ini?"
"Jadwal? Sebentar," Barbara kembali berjalan ke luar ruangan dan mengambil tablet yang kemarin diberikan oleh Freya.
Brox sebenarnya sudah mengatakan padanya jadwal penting apa saja yang ia miliki. Namun, ia ingin melihat bagaimana kinerja sekretaris barunya ini.
"Tidak ada jadwal apapun, Tuan. Anda bisa bersantai hari ini. Apa anda ingin saya pijat untuk mengisi waktu?" ucap Barbara.
Tanpa rasa canggung, Barbara langsung berjalan ke arah Wesley dan ingin memegang bahu pria itu. Dengan cepat Wesley menggeser kursinya dan menatap tajam wanita yang kini ada tepat di hadapannya.
"Jangan menyentuhku!" ucap Wesley tegas.
"Tapi, Tuan ... Pijitanku benar benar enak. Lagi pula tidak ada yang anda kerjakan hari ini, jadi akan lebih baik jika anda menikmati pelayanan yang kuberikan. Aku juga tidak ada pekerjaan kok," ucap Barbara.
"Tidak ada pekerjaan? Mana laporan harian yang harus kamu kerjakan kemarin?" tanya Wesley.
"Laporan harian? Aku akan membuatnya nanti, Tuan. Biar sekalian dengan laporan hari ini."
"Brox!" panggil Wesley melalui telepon di atas mejanya.
Brox yang berada di ruangan sebelah pun langsung datang memasuki ruangan atasannya itu.
"Kita pergi sekarang! Dan pecat dia!" perintah Wesley yang langsung bangkit dari duduk.
Brox tak banyak bertanya, tapi saat ia melihat Barbara tengah mengerlingkan mata pada dirinya, kini ia tahu mengapa atasannya itu ingin segera pergi dari sana.
*****
"Anne ...," panggil Zero saat mereka hanya berdua di dalam mobil.
"Iya, Tuan."
"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan, aku bukan atasanmu. Panggil aku Zero saja."
Baru kali ini Vianne mendengar suara Zero yang lebih lembut dari biasanya. Ya, suara itu terdengar begitu nyaman di telinganya.
"Terima kasih atas sarapan yang anda buatkan," ucap Vianne.
"Aku akan membuatkannya lagi untukmu. Kamu bisa meminta apapun padaku. Dan selama aku bisa melakukannya, maka aku akan mengabulkannya. Aku bersungguh sungguh dengan semua yang kukatakan. Mungkin kamu tak ingat apa yang terjadi sebelumnya di antara kita, tapi aku benar benar minta maaf atas semuanya."
Vianne tahunapa maksud perkataan Zero. Ia menoleh ke arah pria itu seakan mencari tahu lebih dalam apakah ia sungguh sungguh mengatakan itu.
"Aku akan jujur padamu. Sebenarnya sebelum ini, aku pernah memintamu menjadi kekasihku dan kamu menerimanya. Saat itu ... Aku membutuhkan seseorang untuk membantuku melupakan seorang wanita. Ya, kuanggap aku akan bisa move on jika aku berhubungan dengan wanita lain. Tapi nyatanya saat itu, aku kembali bertemu dan merasa bahwa hanya wanita itulah tambatan hatiku, meskipun ia sudah menikah."
Vianne tetap berada di dalam mobil mendengarkan perkataan Zero, meskipun mereka kini telah sampai pelataran parkir universitas. Ada suatu rasa keingintahuan apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
"Aku merasa egois padamu jika aku tetap mempertahankan hubungan itu. Aku tak ingin kamu terluka karena aku menyimpan rasa pada wanita lain. Saat aku memutus semuanya ... Aku merasa kehilanganmu. Namun saat kamu menghubungiku, aku masih berusaha menyangkal sebuah rasa yang muncul."
Zero melepas seatbelt nya kemudian memiringkan tubuhnya untuk melihat ke arah Vianne, "Tapi kali ini aku sudah yakin, bahkan sangat yakin. Aku memilihmu, hati ini memilihmu untuk menempati dan memenuhinya. Maukah kamu memberikan satu kesempatan lagi untukku?"
🧡 🧡 🧡