NovelToon NovelToon
AZKA&ANNA

AZKA&ANNA

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Kembar / Teen School/College / Persahabatan / Tamat
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫

.
.
Season 3 :

Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:

" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "

Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :

"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"

Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34.

Pukul 12:45 siang. Aulia, Azka, dan Anna, mengantar Azzuri ke Bandara Kualanamu. Air mata Anna terus memenuhi kedua bola mata indahnya, bibirnya terus mengeluarkan suara tangis manja menatap kepergian Azzuri.

“Hiks..hiks, Papi…kenapa Papi halus (harus) pelgi (pergi). Adek belum puas belmain dengan Papi,” rengek Anna sembari mengusap kasar air mata terus mengalir di kedua pipi tembem nya.

Azzuri jongkok, tangannya dengan lembut mengusap air mata di kedua pipi putri kecilnya itu dan berkata, “Papi akan pulang secepatnya. Maaf ya, baru datang sudah pergi lagi.”

“Ck. Sebaiknya Papi langsung pergi aja sana, kalau Papi terus di sini, adek Anna pasti akan terus menangis seperti ini!” ketus Azka menutupi kesedihannya.

Azzuri memahami perasaan Azka, Azzuri mendekati Azka sedang berdiri di depan Aulia. Azzuri sedikit membungkuk, menatap wajah tegar Azka berselimut kesedihan.

“Papi titip adek Anna, dan Mami, ya. Sekarang Papi pergi dulu,” pamit Azzuri lembut.

“Kamu hati-hati. Sampaikan salam ku pada Venus,” ucap Aulia.

Azzuri perlahan bediri tegak, pandangannya terus menatap wajah tenang Aulia. Tubuhnya ingin sekali memeluk Aulia, tapi hatinya terus menolak keras agar tidak terlalu memaksakan diri sebelum Aulia memberinya izin. Azzuri hanya bisa membelai puncak kepala Aulia, memberi senyum manis dengan tulus, detik selanjutnya Azzuri balik badan, tangannya melambai ke Azka dan Anna.

Azzuri pun melangkah pergi turun menggunakan eskalator.

“Papi pergi dulu, daaa!” teriak Azzuri, tangannya melambai ke Azka dan Anna.

“Hati-hati Papi, adek akan telus (terus ) menunggu kedatangan Papi,” teriak Anna menatap kepergian Azzuri sudah perlahan turun.

“Iya…semangat buat belajar nya. Daaa…” pamit Azzuri sebelum ia jalan menuju landasan pesawat, dimana pesawat miliknya sudah menunggu.

5 menit setelah kepergian Azzuri, Aulia hendak mengajak Azka dan Anna pulang. Namun Azka sama sekali tidak bergerak dari tempat ia berdiri. Azka masih terus memandang ke arah landasan pesawat dari balik dinding kaca. Aulia merasa heran mendekat.

“Abang Azka, sayang…mari kita pu…”

Ucapan Aulia terhenti saat wajahnya menatap wajah Azka. Wajah diam seperti patung, namun sudah berlinang air mata di kedua bola matanya. Bibirnya terkunci, tapi terus bergerak menahan tangis.

“Ih…abang nanis (nangis)?” tanya Anna polos.

Sudah susah payah menahan air mata dan tangis agar tidak pecah di tengah ramainya orang di Bandara. Setelah mendapat pertanyaan Anna, bibir Azka terbuka, dan terdengar suara tangisan manja.

“Hua…Papi..Papi jahat..jahat…jahat!” omel Azka di sela tangisnya.

Semua orang mendengar tangisan Azka spontan menoleh ke Azka. Namun, ada salah seorang wanita sedikit tua, memiliki aksesoris banyak di leher, kedua pergelangan tangan, dan rambutnya terlihat gimbal. Wanita tua itu mendekati Aulia, saat Aulia berusaha menenangkan tangisan Azka.

“Hai…pria yang tangguh,” sapa wanita tua itu, jongkok di hadapan Azka.

“Hai..nenek siapa?” Azka kembali menyapa di sela tangisannya.

“Sebut saja nenek pelangi,” sahut wanita tua menyebutnya nenek pelangi karena aksesoris warna-warni hampir memenuhi leher, dan kedua pergelangan tangannya.

Tangisan Azka pun berhenti.

“Oh…apa kalena (karena) nenek pakek banyak kalung, sama gelang walna (warna), ya?” sambung Anna penasaran.

“Iya, kamu gadis yang baik, pintar juga!” puji wanita tua itu untuk Anna.

“Telimakasih (terimakasih),” sahut Aulia, dan Anna serentak.

Saat melihat wajah Aulia, wanita tua itu perlahan berdiri, menatap Aulia dengan tatapan aneh, membuat Aulia merasa tidak nyaman.

“Ke-kenapa nenek pelangi menatap ku dengan tatapan….”

“Sssttt!!” wanita tua itu meletakkan jari telunjuknya ke bibir Aulia, kepala menggeleng.

Aulia pun terdiam, Azka dan Anna melihat itu ikut ketakutan, Azka dan Anna bersembunyi di balik baju Aulia, kedua tangan menggenggam erat baju dress Aulia.

Wanita tua itu melihat sekilas ke Azka dan Anna, lalu kembali ke wajah Aulia, “Apa suami kamu baru saja pergi?” tanya wanita tua itu dengan suara seraknya.

“Iya, kenapa nek?” sahut Aulia kembali bertanya.

“Musuh lama sudah kembali, hati hitam berselimut dendam, bara api terus menyala di hati mereka. Akan banyak orang tersayang kamu yang akan hilang, karena rasa iri dan dengki sudah terlalu besar di simpan di dalam hati. Bersiaplah menerima badai besar yang akan mengguncang hati dan pikiran mu!”

Azka dan Anna semakin ketakutan melihat eskpresi wajah, dan suara serak dari wanita itu. Aulia sendiri membawa dirinya, Azka dan Anna, mundur 2 langkah ke belakang, tatapan terus memandang wajah serius wanita tua itu.

“A-apa maksud nenek?” tanya Aulia gugup.

“Keputusan bagus atas pilihan tempat tinggal kamu yang sekarang. Terus bersembunyi lah dari musuh-musuh lama, dan keluarlah jika anak-anak kamu sudah tumbuh menjadi anak yang tangguh,” sahut wanita tua itu sembari perlahan melangkah. Namun, bibir masih terus berbicara, “Engkau juga akan kehilangan salah satu orang tua kamu. Sekuat apa pun kalian menghindarinya, wanita itu pasti akan kembali. Dan musuh-musuh lama akan terus muncul. Bersiaplah…bersiaplah..ha ha ha!” sambung wanita tua itu di kalimat terakhir terus tertawa.

Aulia terus memandang wanita tua itu memasuki kerumunan orang. Namun wanita tua itu tiba-tiba menghilang. Rasa takut Aulia semakin menjadi. Aulia langsung menggenggam tangan Azka dan Anna.

“Nak, mari kita pulang,” ajak Aulia.

Aulia menggendong Anna, sedangkan Azka berjalan di sampingnya, menggenggam tangan Aulia. Aulia terus berjalan, sesekali ia melirik ke belakang, memastikan apakah wanita tua itu mengikutinya atau tidak.

10 menit kemudian, akhirnya Aulia, Azka, dan Anna sampai di parkiran mobil. Dengan tangan gemetar ketakutan membuka pintu penumpang belakang.

“Abang, adek…cepat masuk sayang.”

Azka dan Anna pun segera masuk. Aulia memasang seatbelt milik Azka dan Anna. Menit selanjutnya Aulia berjalan cepat menuju pintu kemudi, masuk, memakai seatbelt. Detik selanjutnya Aulia memutar stir kemudinya meninggalkan parkiran Bandara.

Aulia pun terus melajukan mobilnya melalui jalan belakang, melewati jalan Pasar sore.

“Mami, nenek pelangi tadi kenapa serem banget?” tanya Azka.

“Ti-tidak serem sayang, mungkin perasaan abang saja,” sahut Aulia menepis pikiran Azka. Padahal Aulia sendiri sangat takut saat ini.

“Mami, kenapa tadi nenek pelangi itu bilang kalau akan ada banyak olang (orang) kesayangan Mami meninggal?” tanya Anna mengingat ucapan wanita tua itu.

“Nenek pelangi pasti bercanda sayang. Jika memang ada yang mau meninggal, mungkin itu memang sudah ajal mereka,” sahut Aulia berusaha menipis pikiran Anna. Aulia menatap Azka dan Anna dari kaca spion tengah, segaris senyum paksa terukir di wajahnya, “Apa kalian mau main ke timezone?” sambung Aulia berusaha menghibur Azka dan Anna dengan mengajaknya bermain ke pusat permainan berada di mall kecil di kota lubuk Pakam.

“Mau…adek mau,” sahut Anna semangat.

“Kalau abang?” tanya Aulia.

“Mau,” sahut Azka singkat.

“Kalau gitu kita bermainnya di mall kecil di lubuk pakam aja ya?” tanya Aulia memastikan.

“Iya Mami,” sahut Azka dan Anna serentak.

Mobil Aulia pun terus melaju menuju pusat perbelanjaan di kota lubuk pakam. Meski hati berusaha tenang dan tak memikirkan ucapan wanita tua tadi. Tapi hati Aulia merasa ada kecemasan mendalam.

1
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂
kebayang lucunya Anna kalau pas nyerocos kaya gitu.. 🤗🤗🤗
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂: iya 😊😊
total 2 replies
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂
mungkinkah Aulia akan memberikan kesempatan buat seorang ayah untuk kedua anak kembarnya? 🤔
sari. trg: Mungkin kak.

Terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rini Antika
Semangat terus dalam berkarya Kak 💪💪
Shandy
Dali... abang Azka ndak boyeh ya. 😂
sari. trg: ha ha ha....😅
total 3 replies
Denry Deny
gemes
Denry Deny
Semangat
Denry Deny
Om jeyek.
Shandy
masuk dia.... aku penasaran nanti kakak ini pereman
Shandy
Mami... mami cini
Shandy
benar...
Shandy
keren
Denry_Den Den
bocah zaman now
sari. trg: hehehe
total 1 replies
Denry_Den Den
mulut tetangga
Denry_Den Den
cemburu
Denry_Den Den
aku yakin besar nanti Azka pasti jadi pria dewasa yang sopan
Denry_Den Den
,keren
Denry_Den Den
Jangan menyerah
Denry_Den Den
orang Medan ya thor?
Denry_Den Den
Gemes
~~N..M~~~
khas logat medan ya.
sari. trg: Iya kak, main-main dulu ke Medan. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!