NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Bab 34: Mencari di Tengah Kegelapan

Suasana di kediaman keluarga Wijaya seketika berubah menjadi sunyi dan mencekam.

"Lindungi Nyonya muda dimanapun dia berada, Tuhan" Bi Mari berdoa dengan sepenuh hati, air matanya tak henti hentinya mengalir deras,

Kabar hilangnya Diana menyebar dengan cepat, membuat seluruh penghuni rumah diliputi rasa cemas yang mendalam.

Arga tiba di rumah hanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit, mengemudikan mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi, wajahnya memerah menahan amarah sekaligus rasa takut yang menghantui dadanya.

Begitu menginjakkan kaki di ruang tamu, ia melihat Nyonya Amara duduk dengan wajah pucat, sementara Pak Broto berlutut di lantai dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

“Maafkan saya, Tuan… Saya sudah lalai. Saya lalai dalam menjalankan tugas,” ujar Pak Broto dengan suara parau, suaranya terputus-putus menahan tangis dan rasa bersalah yang luar biasa.

Arga melangkah mendekat, matanya menyala penuh amarah,

Daan ....

BUGH... BUGH...BUGH.. BRAAK.

Pak Broto mendapatkan beberapa pukulan di wajah dan tubuhnya, tetapi dia tetap diam dan tidak melawan sedikitpun,

Dia sadar, itu salahnya.

"Itu, hukuman untukmu!" Ujar Arga serak, dia sedikit melampiaskan amarahnya

Tetapi Broto beruntung, dia masih di beri pengampunan, karena biasanya, Arga bisa lebih kejam dari itu.

Sebenarnya, Arga ingin sekali menghukum Broto lebih dari itu, tapi saat melihat ketulusan penyesalan di wajah pengawalnya itu, ia tahu meluapkan emosi tidak akan mengembalikan istrinya.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar bisa berpikir jernih.

“Bangun, Broto. Menyesal saja tidak cukup. Sekarang ceritakan semuanya dari awal, tanpa ada yang terlewat sedikit pun,” perintah Arga dengan nada tegas.

"Terimakasih, Tuan!"

Pak Broto pun menceritakan kejadian di pusat perbelanjaan secara rinci, mulai dari saat Diana masuk ke toilet, keinginannya yang tak tertahankan untuk buang air kecil, hingga saat ia kembali dan mendapati sang nyonya sudah menghilang begitu saja.

Setelah mendengar semuanya, Arga mengerutkan keningnya.

“Jadi hanya selang waktu dua menit saja dia hilang? Itu bukan kebetulan. Ini sudah direncanakan dengan sangat matang. Mereka tahu kapan harus bertindak,”

Nyonya Amara yang sedari tadi diam, kini berbicara dengan suara bergetar.

“Arga… Ibu yang mengajaknya keluar. Andai saja Ibu tidak mengusulkan pergi belanja, pasti dia masih aman di rumah. Ini salah Ibu…”

Arga segera mendekap bahu ibunya, mencoba menenangkan wanita tua itu.

“Jangan bicara begitu, Bu. Ini bukan kesalahan Ibu, Semua ini adalah ulah orang yang sudah berniat jahat sejak awal. Dia hanya menunggu kesempatan yang tepat. Dan aku tahu pasti siapa pelakunya.”

“Wulan?” tanya Nyonya Amara dengan suara lirih, matanya terbelalak menyadari kenyataan pahit itu.

Arga mengangguk mantap. “Tidak ada orang lain yang memiliki alasan untuk melakukan hal sekejam ini selain dia. Dia sudah kehabisan akal untuk memisahkan kami dengan cara halus, jadi sekarang dia memilih jalan pintas.”

Tak lama kemudian, Radit, asisten pribadi Arga, tiba bersama tim penyelidik dan tenaga keamanan tambahan. Wajahnya juga terlihat serius, membawa laporan awal yang sudah dikumpulkan.

“Tuan, kami sudah memeriksa rekaman kamera pengawas di pusat perbelanjaan itu. Seperti yang diduga, ada dua orang pria yang mencurigakan mengikuti Nyonya Diana.

Mereka masuk ke dalam toilet wanita, dan beberapa menit kemudian keluar membawa seseorang yang terbungkus rapat dengan selimut, Mereka turun ke parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil berwarna hitam.”

“Apakah bisa dilacak ke mana mobil itu pergi?” tanya Arga segera.

“Kami sudah melacak jalur keluar kota lewat kamera lalu lintas. Mobil itu terlihat menuju arah selatan, melewati jalan yang menuju ke daerah perbukitan dan hutan.

Tetapi, setelah melewati satu titik di pinggiran hutan, jejaknya hilang. Sepertinya mereka mematikan lampu dan masuk ke jalan setapak yang tidak terjangkau kamera jalan raya,” jawab Radit dengan nada penuh kekhawatiran.

Mendengar laporan itu, jantung Arga terasa seperti dicengkeram kuat.

Daerah perbukitan dan hutan di selatan kota sangat luas, terpencil, dan banyak terdapat bangunan tua yang sudah ditinggalkan puluhan tahun lalu. Mencari seseorang di tempat seluas itu ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.

“Kerahkan semua orang yang kita miliki. Minta bantuan kepolisian juga, tapi pastikan operasi ini berjalan diam-diam dulu. Kita tidak boleh membuat Wulan menjadi panik dan melakukan hal yang lebih buruk pada Diana.

Juga, lacak keberadaan Wulan sekarang. Cari tahu di mana dia tinggal, siapa saja orang yang sering berhubungan dengannya. Jangan biarkan dia menghilang juga,” perintah Arga dengan tegas, matanya penuh tekad untuk menemukan istrinya dengan cara apa pun.

......................

Sementara di tempat lain, di puncak bukit yang sunyi itu, Diana perlahan mulai sadar sepenuhnya. Sakit di kepalanya masih terasa, rasa takut perlahan menguasai perasaannya.

Ia menggerakkan tangan dan kakinya, mencoba melepaskan ikatan yang sangat kuat dan kasar hingga membuat kulit pergelangan tangannya terasa perih dan panas.

"Awwhh..." Diana meringis

Ruangan tempat ia dikurung itu sangat gelap, hanya diterangi oleh cahaya remang-remang yang masuk lewat celah-celah jendela yang sudah tertutup debu dan papan kayu.

Udara di dalamnya terasa lembap, dingin, dan berbau apek serta tanah basah. Suara angin yang berhembus kencang melewati celah dinding terdengar seperti bisikan yang menakutkan,

ditambah sesekali suara burung hantu atau hewan hutan yang membuat suasana semakin mencekam.

"Dimana aku" Lirihnya pilu

Belum sempat Diana memeriksa keadaan sekitarnya, pintu kayu tua itu terbuka dengan bunyi berderit yang memekakkan telinga.

"Siapa itu?" Tubuh Diana menegang dan jantungnya berdegup kencang

Wulan masuk sambil membawa sebuah lampu minyak yang menerangi wajahnya dengan bayangan yang terlihat lebih seram dan kejam dari sebelumnya.

Di belakangnya, dua orang pria bertubuh besar berdiri mengawasi, lalu pergi menutup pintu kembali dan menguncinya dari luar.

"Kaget ? Aku yang datang, dan bukannya suami tercinta mu itu?" Seringai licik terukir di bibir Wulan

Dia mendekat, meletakkan lampu minyak di atas meja kayu yang sudah lapuk, lalu duduk di hadapan Diana sambil menyilangkan kaki dan menatapnya dengan tatapan penuh penghinaan.

“Bagaimana rasanya, Diana? Nyaman dengan tempat tinggal mu yang baru ?” tanya Wulan dengan nada mengejek, senyumnya mengerikan

Diana menatapnya tajam, berusaha menahan rasa takutnya agar tidak terlihat.

“Kamu gila, Wulan! Apa yang kamu dapatkan dari menyekapku di sini? Pikirkan akibatnya! Kalau Mas Arga menemukanku, dia tidak akan memaafkanmu, dan hukum pun tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja!”

"Astaga Diana... Diana..."

Wulan tertawa terbahak-bahak, suaranya bergema dan terasa mengerikan di ruangan kosong itu.

Ia berdiri dan berjalan mengelilingi kursi tempat Diana terikat, seolah sedang memeriksa barang miliknya sendiri.

“Akibat? Hukum? Kau pikir aku takut dengan semua itu? Selama bertahun-tahun aku menunggu Arga. Aku melihatnya merawat Kak Sarah dengan penuh kasih sayang, dan aku hanya bisa diam, menyimpan perasaanku sendiri.

Aku yakin, suatu saat nanti giliran aku yang akan mendampinginya. Tapi apa yang terjadi? Kak Sarah meninggal, dan bukannya melirikku, dia malah menikahimu! Wanita muda yang tidak punya apa-apa selain wajah ini!” bentak Wulan, suaranya meninggi dan penuh amarah yang terpendam bertahun-tahun.

Ia berhenti tepat di depan Diana, lalu menunjuk dada Diana dengan jari telunjuknya yang kaku.

“Kau datang seperti angin yang membawa badai, lalu merebut semua perhatian, cinta, dan tempat yang seharusnya menjadi milikku!

Aku sudah mencoba dengan cara halus, membuat dia meragukanmu, tapi kalian malah makin lengket! Jadi aku sadar, satu-satunya cara agar dia kembali ke sisiku adalah membuatmu menghilang selamanya.”

Obsesi nya sudah mendarah daging...

Diana menggeleng tidak percaya, matanya berkaca-kaca bukan karena takut, tapi karena kasihan melihat wanita di depannya itu sudah terperosok ke dalam kegilaan.

“Kamu salah, Wulan! Cinta tidak bisa dipaksa dan tidak bisa diambil dengan cara seperti ini. Meskipun aku tidak ada, Arga tidak akan pernah bisa mencintaimu.

Dia hanya menganggapmu sebagai adik iparnya, itu saja. Semua yang kamu lakukan ini hanya akan membuat dia semakin membencimu!” ujar Diana dengan suara lantang, berusaha menyadarkan Wulan meski tahu kemungkinannya sangat kecil.

Mendengar kata-kata itu, wajah Wulan berubah menjadi merah padam karena marah.

Ia mengangkat tangannya dan menampar pipi Diana dengan keras, membuat kepala Diana terlempar ke samping dan rasa perih menyelimuti pipinya.

“Diam! Kau tidak tahu apa-apa! Cinta itu bisa tumbuh jika kesempatan itu ada. Selama kau tidak ada di sisinya, dia akan merasa kesepian,

dia akan merindukan kehadiran wanita, dan lambat laun dia akan sadar bahwa hanya aku yang bisa mengerti dia, hanya aku yang setia menunggunya selama ini!” teriak Wulan, napasnya memburu karena emosi yang meluap.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin.

“Untuk sementara waktu, kau akan tinggal di sini. Tidak ada makanan mewah, tidak ada tempat tidur empuk, tidak ada pakaian bagus, dan tidak ada Arga yang bisa melindungimu.

Kau akan merasakan bagaimana rasanya hidup dalam kesepian dan kegelapan. Jika kau beruntung, mungkin aku akan membiarkanmu hidup. Tapi jika kau terus menghalangi rencanaku… maka tempat ini akan menjadi kuburanmu yang abadi.”

Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Wulan berbalik dan berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia menoleh kembali dan berkata,

“Jangan berharap ada orang yang akan menemukanmu. Tempat ini sudah lama ditinggalkan, jauh dari jalan raya, dan tidak ada penduduk yang berani mendekatinya karena dianggap angker. Nikmati waktumu sendirian, Diana.”

Pintu ditutup kembali dan dikunci rapat, meninggalkan Diana sendirian dalam kegelapan yang semakin pekat. Suara langkah kaki Wulan perlahan menjauh.

Diana menahan rasa sakit di pipinya, lalu menundukkan kepalanya.

Air matanya akhirnya jatuh juga, bukan karena menyerah, tapi karena rasa rindu yang mendalam pada Arga.

Ia membayangkan kekhawatiran suaminya, membayangkan betapa paniknya Arga saat menyadari dia hilang.

Dalam hatinya, ia terus berdoa dan berharap agar Arga bisa menemukan jejaknya, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap bertahan, tidak akan menyerah pada keadaan.

“Mas Arga, Aku akan menunggu di sini. Aku tidak akan menyerah sebelum kau datang,” bisiknya pelan di dalam hati,

......................

 

Sementara itu, Arga dan timnya bekerja tanpa mengenal waktu.

Siang telah berganti malam, namun rumahnya tetap terang benderang.

Berbagai laporan masuk, peta wilayah dipajang di dinding, dan puluhan orang dikerahkan untuk memeriksa setiap sudut daerah perbukitan.

Arga duduk di depan meja, matanya merah dan kantung matanya terlihat jelas, tanda ia belum tidur sejak menerima kabar buruk itu.

Tangannya terus memegang ponsel, berharap ada kabar baik yang masuk.

Radit masuk ke ruangan dengan wajah yang sedikit lebih lega dibandingkan sebelumnya.

“Tuan, ada perkembangan baru. Kami berhasil melacak keberadaan Wulan. Dia tidak kembali ke rumahnya, tapi tadi sore terlihat menuju arah selatan, persis sama dengan jalur yang diambil mobil yang membawa Nyonya Diana.

Selain itu, kami juga menemukan bahwa dia menyewa sekelompok orang . Salah satu dari mereka berhasil kami temukan dan mulai kami interogasi.”

Arga segera berdiri, matanya kembali bersinar penuh harapan.

“Bagus! Dapatkan informasi apa pun darinya, berapa pun harganya. Dan periksa peta daerah selatan itu. Tandai semua bangunan tua, rumah kosong, atau lokasi yang terisolasi. Kita harus mempersempit wilayah pencarian.”

Beberapa jam kemudian, orang yang disewa Wulan itu akhirnya mau berbicara setelah diberi tekanan dan jaminan keamanan.

Ia mengaku hanya dibayar untuk mengantarkan wanita itu ke sebuah rumah tua di puncak bukit, bernama Bukit Seruni, lalu pergi begitu saja. Ia tidak tahu rencana lebih lanjut dari Wulan.

Begitu mendengar nama tempat itu, Arga langsung mengambil peta dan menandai lokasinya.

“Bukit Seruni… Ya, tempat itu sangat terpencil dan sudah lama tidak dihuni. Itu pasti tempatnya!”

“Tuan, jalannya sangat sulit dilalui dengan mobil biasa. Kita butuh kendaraan khusus dan pasukan yang siap siaga. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar tiga jam dari kota, dan kita harus bergerak sebelum matahari terbit agar bisa menjangkau tempat itu saat siang hari,” lapor Radit.

“Siapkan semuanya sekarang juga. Tidak ada waktu untuk menunggu lagi. Aku akan ikut serta,” perintah Arga dengan tegas.

“Tapi Tuan, itu berbahaya. Kita tidak tahu berapa banyak orang yang menjaga di sana,” cegah Radit.

“Aku tidak akan tinggal diam di sini hanya menunggu kabar. Istriku ada di tangan wanita gila itu. Jika terjadi apa-apa padanya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Siapkan semuanya, kita berangkat sekarang juga!”

"AKU IKUT !"

Arga menoleh pada seseorang yang berteriak sambil berlari itu.

"Gilang !"

"Aku ikut, ayah! Aku tidak bermaksud apapun, aku hanya peduli pada keluarga ku!" Ujarnya pelan, dia mendapatkan kabar dari neneknya dan langsung bergegas ke sini.

Tidak ada waktu lagi untuk berdebat,

"Baiklah!" Ujar Arga

Semua orang segera bergerak cepat.

Dalam waktu singkat, sekelompok kendaraan yang dilengkapi dengan peralatan dan keamanan berangkat meninggalkan kota menuju arah selatan.

Di dalam mobil terdepan, Arga duduk dengan wajah yang kaku, tangannya mengepal erat, matanya menatap lurus ke depan seolah bisa melihat ke mana mereka akan pergi.

Di dalam hatinya, ia terus berdoa, memohon agar Diana tetap kuat dan aman. Rasa bersalah menyelimuti dirinya, merasa ia telah gagal melindungi wanita yang paling dicintainya.

Namun di balik rasa bersalah itu, ada tekad yang membara — ia akan melakukan apa saja untuk membawa Diana pulang dengan selamat, dan memastikan Wulan menerima balasan setimpal atas perbuatannya.

Sementara itu, di puncak Bukit Seruni, malam semakin larut.

Angin berhembus semakin kencang, membuat dinding rumah tua itu berderit seolah ingin roboh.

Diana masih terikat di kursinya, tubuhnya terasa kedinginan dan lelah, namun ia tetap membuka matanya lebar-lebar, mendengarkan setiap suara yang ada, berharap mendengar suara kendaraan atau langkah kaki yang menandakan kedatangan suaminya.

Ia tidak tahu berapa lama ia harus bertahan, namun satu hal yang ia yakini: Arga pasti akan datang.

 

1
Arum Dyah
msh lanjut gk nih??
dyah EkaPratiwi
ayo berobat tuan arga
sunaryati jarum
Baru mampir
Dunia_halusinasi: Hai Kakak, terimakasih karena sudah berkenan untuk membaca karyaku🙏 semoga suka😊
total 1 replies
Arum Dyah
gk akan ada rencana ganti panggilan kah kak?? 🤣🤣🙏🙏
Dunia_halusinasi: hai kakak, maaf nih 🙏ganti panggilan yang mana kak, bisa kasih tau aku 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!