Setelah menerima donor mata dari kakak nya, Kanaya terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi kakak ipar nya sendiri, karena sang kakak meningal akibat kecelakaan yang di sebabkan oleh nya.
Kanaya adalah seorang gadis buta yang berusia dua puluh dua tahun, sejak kecil dia hanya tinggal dengan ibu dan kakak nya, "Aurel" sementara ayah nya sudah meninggal sejak Kanaya masih kecil.
Aurel yang seminggu lagi hendak melangsungkan pernikahan malah meningal karena menyelamatkan Kanaya adik nya yang hampir tertabrak mobil saat hendak menyebrang jalan.
Samuel yang kecewa terpaksa menikahi Kanaya atas permintaan terakhir Aurel, meskipun dia cukup membenci Kanaya karena Kanaya adalah penyebab meningal nya Aurel.
Bagaimana kisah Kanaya dan Samuel yang menikah karena unsur keterpaksaan? Bagaimana perlakuan Samuel kepada Kanaya wanita yang sangat dia benci ini? Ayo baca kisah mereka di sini bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Karena menurut Naya, Mala lah satu-satunya orang yang bisa membantu. Tentu nya usaha ini akan sangat sulit namun dia juga sangat iba dengan keadaan Mala yang sekali pandang saja orang sudah bisa melihat betapa menderitanya dia di kelaurga itu.
Anggapan Samuel tentang Naya yang bodoh ternyata salah, istri nya itu bahkan jauh lebih pintar dari nya, cara Naya menangani masalah cukup terlihat lembut dan halus dia bahkan biasa mencongkel banyak informasi dari Mala.
"Aku selalu di pukul karena aku menentang mama Ruby untuk melahirkan anak kedua dan aku tidak boleh berhenti hamil sampai mendapat kan anak laki-laki, karena mereka ingin menguasai lebih banyak harta papa, kak Naya aku mohon jangan katakan ini kepada siapapun,aku hanya mengatakan kepada mu saja,aku menikah dengan nya bukan karena aku mencintai nya," Mala mengehentikan kalimat nya setelah dia mengatakan bahwa dia menikah dengan Morgan juga karena sebuah keterpaksaan. Naya yang mendengar itu sontak kebingungan dan di buat semakin penasaran kepada Mala.
"Lalu?"
"Aku menikah dengan nya karena aku ingin dia membiayai pengobatan ayah ku yang selama setahun ini sudah di rawat di rumah sakit karena kecelakaan, aku mengorbankan masa muda untuk mengabdi kepada mama Ruby dan Morgan demi kesembuhan ayah ku,"
Mala terus menceritakan nya secara detail kepada Naya, bagaimana dia bisa jadi seperti ini dan bagaimana dia jadi tunduk dengan Morgan dan mama Ruby.
"Astaga, mengapa kau bisa menjerumuskan diri mu sendiri ke lubang neraka ini? Kau benar-benar anak yang berbakti, tapi mengapa kau tidak mencoba untuk mencari pinjaman uang kepada saudara, mengapa malah jadi budak mereka berdua?" Ucap Naya merasa terlalu naif dengan keputusan Mala.
Berbagai pertanyaan di lontarkan oleh Naya, dia sangat iba dengan keadaan ipar nya itu yang di perlakukan seperti budak oleh mama mertua dan juga suami sendiri.
"Aku tidak bisa meminta bantuan saudara, karena aku dan ayah ku tidak memiliki saudara, aku mohon jangan ceritakan ini kepada siapapun, jika tidak nyawa ayah ku dalam bahaya," ucap Mala memegang kedua tangan Naya sambil memohon agar Naya tidak menceritakan apa yang sudah dia ceritakan barusan.
Dia menceritakan hal tersebut kepada Naya hanya untuk membuat dirinya merasa lebih lega karena menemukan pendengar yang baik.
"Baik lah aku mengerti, kau jangan menangis lagi, tenang saja, cepat atau lambat kau akan keluar dari situasi menyedihkan ini, aku akan membantu mu, tapi kau juga sebaliknya, kau harus membantu ku," ujar Naya.
Mala yang mendengar tentang kebebasan tentu saja sangat bahagia, dia juga tidak akan mau tinggal dalam rumah yang seperti neraka itu terlalu lama.
"Benar kah? Kau akan membebaskan aku dari sini? Kau benar-benar akan membebaskan aku?"
Mala terlihat sangat berharap banyak kepada Naya. Naya mengganguk kan kepala nya dan kemudian memeluk Mala.
"Kau harus tetap tenang dan jaga dirimu baik-baik, semua ini pasti butuh proses, jadi aku mohon kau juga bisa membantu ku untuk mengumpulkan bukti kejahatan mereka berdua, meskipun proses ini mungkin akan memakan waktu beberapa bulan, karena mereka berdua tentu bukan orang yang bisa kita sepelekan,aku di sini juga posisi ku hanya lah penganti saja, meskipun begitu tugas ku akan lebih besar dari mu," ucap Naya dengan suara kecil.
Mala pun mengangguk paham, setelah selesai mengobrol panjang lebar di dalam toilet, mereka pun akhirnya memutuskan untuk keluar dan kembali bergabung di keramaian.
"Dari mana saja kau ini? Lihat lah betapa berisik nya anak mu, dia ingin susu sebaiknya kau bawa dia ke kamar," lirih mama Ruby menghampiri Mala dan kemudian menyerahkan Stefanie kecil kepada Mala.
"Baik ma," jawab Mala singkat dan kemudian berjalan menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar sambil membawa Stefanie.
"Maaf bibi, apa kau tidak bisa sedikit menghargai menantu mu? Dia terlihat sangat kelelahan, mengapa kau tidak membantu nya lebih lama agar dia bisa beristirahat?" ucap Naya.
"Siapa dirimu? Begitu berani menegur ku? Ingat ya, jangan coba-coba bicara dengan Mala lagi, aku khawatir kau akan membuat dia melawan karena seperti nya kau ini adalah perempuan yang hobi menghasut seseorang," ucap mama Ruby sambil separuh berbisik ke telinga Naya.
"Aku atau bibi yang punya sifat buruk seperti itu? Upss, maaf bibi aku mungkin salah bicara," ucap Naya tersenyum sambil menutup mulut nya.
"Kau!"
Mama Ruby yang emosi sontak saja hendak menampar Naya karena dia rasa Naya sudah keterlaluan. Namun baru saja tangan nya hampir menyentuh pipi Naya, seseorang datang dari belakang Naya dan menahan tangan Ruby dengan kuat orang itu memegang pergelangan tangan mama Ruby.
"Apa yang akan kau lakukan? Apa kau tidak melihat orang-orang di sana? Kau sudah tidak mau menjaga kehormatan mu ya?" ucap laki-laki tersebut.
Ruby berusaha melepaskan tangan nya, namun tidak bisa karena tenaga laki-laki itu tentu jauh lebih kuat dari dirinya.
"Samuel, lepas kan aku!" ucap mama Ruby sambil menatap tajam.
Samuel pun melepaskan tangan mama tiri nya itu dengan sangat kasar.
"Kurang hajar, aku akan mengadukan ini kepada papa mu!" ucap nya dengan mata memerah.
Namun tepat di saat itu, Naya melihat dari arah depan, papa Robi berjalan menuju ke arah mereka, ia pun merasa memiliki kesempatan bagus untuk menjalankan aksinya.
Plak ...
"Aw, sakit bibi, mengapa kau menampar ku?!"
Seketika mama Ruby dan Samuel tercengang melihat tingkah laku Naya, kali ini sepertinya Ruby menemukan lawan antagonis yang tepat dan juga memiliki kelicikan sepadan dengan nya.
"Ruby, apa yang kau lakukan?" ucap papa Robi tampak telah masuk ke dalam permainan Naya.
Robi terlihat marah kepada mama Ruby. Sementara itu Samuel yang melihat akting istri nya benar-benar tercengang, tak menyangka jika wanita yang dia anggap polos itu ternyata jago bersandiwara.
"Mas, aku tidak melakukan apapun, dia menampar dirinya sendiri," jawab mama Ruby yang tentunya juga sangat terkejut dengan perbuatan Naya barusan.
"Aku melihat nya sendiri, pipi Naya merah, bagaimana mungkin kau tidak menamparnya?Tolong jaga nama baik diri mu sendiri dan juga diriku, masih banyak orang di sini," ucap papa Robi marah.
"Mas, aku salah paham, aku benar-benar tidak ..."
"Sudah cukup, kau ingin bilang kalau Naya menampar dirinya sendiri? Dia tidak mungkin melakukan nya, orang waras mana yang akan membuat dirinya sakit," potong papa Robi lagi.
Bersambung ....
benci nya loe sama Bina ya ada lah kata kata bijak bisa buat panutan jangan sableng tiap kata mengandung racun dunia haduuuhhh jadi bini loe rugi bandar Coyyyu suweerrr,,,salam waras muel,,
💪💪✌️
ga sekalian peluk nay si Aska 🤭
lama lagi pasti bisikin Naya pokonya kepedean loe ,,muel
ingat muel untuk menggeser kedudukan molen loe harus punya Anak dari wanita itu loe tau Nayla itu gadis baik,,,cuma saja sejak kecil tidak di perlakukan baik oleh orang tua nya apa mungkin Naya Anak tertukar ketika melahirkan atau Anak Adopsi,,, kenapa perbedaan nya jauh banget,,,Anak pertama di Anak mas kan tetapi Allah lebih paham keliatan nya maka cepat di ambil. tinggal lah Anak yang selalu di sisihkan sekarang punya suami rada sableng semoga muel berubah jadi satria baja hitam 😂😂😄😄gemes abis,,