Jourrel Alvaro, pembunuh bayaran yang selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat bersih tanpa kendala berarti. Banyak para pejabat atau pengusaha yang menyewanya untuk menghabisi musuh-musuh mereka.
Cheryl Anastasia, gadis 24 tahun yang berbakat menjadi seorang arsitek. Darah seni mengalir dari ibunya, sedang jiwa kepemimpinan merupakan turunan dari sang ayah.
Suatu hari, Jourrel dibayar untuk menghabisi nyawa Cheryl. Namun seolah memiliki nyawa seribu, gadis cantik itu selalu lolos dari kematian.
Hingga akhirnya, kekaguman Jourrel meluluhkan hatinya. Ia kalah dan justru jatuh cinta dengan Cheryl karena gadis itu ternyata bukan gadis lemah. Memiliki banyak talenta luar biasa.
Akankah Cheryl membalas cintanya? Lalu bagaimana jika ayah Cheryl yang seorang ketua mafia dapat mengendus pria bayaran itu mengincar putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : JAMINANNYA NYAWA SAYA!
"Kamu bukannya yang berantem sama Cheryl di cafe dulu?" tembak Rainer membuka kembali kilasan ingatan tersebut. Rain beralih menatap Cheryl, "Kamu diapain sama dia, hah? Kamu nggak apa-apa 'kan?"
Seketika pria itu panik dan ketakutan. Rain membungkuk sembari memegang kedua bahu Cheryl dan menatapnya lekat.
"Iih udah dibilang aku nggak apa-apa Rainer!" elak Cheryl menepis kedua lengan sang assisten.
"Hah! Syukurlah. Kalau kamu kenapa-napa habislah aku!" gerutunya menghela napas lega.
Rain kembali menegakkan tubuhnya. Menjulurkan satu lengannya di hadapan Cheryl. "Yaudah ayo pulang!" ajaknya.
Cheryl menggeleng pelan, masih mendongak menatap Rainer. Tetapi tidak membalas uluran tangannya. "Enggak, nungguin motornya," tolak gadis itu.
"Kenapa milih naik motor sih? Panas, debu, asep kendaraan, kamu nggak takut?" Rainer berkacak pinggang.
"Enggak, takut apaan?" sahut gadis bermata bulat itu.
"Kecantikanmu memudar, meleleh terus kabur kebawa angin," canda Rainer.
"Enggak! Udah cantik dari lahir!" celetuk Cheryl memamerkan deretan gigi putihnya.
Rainer memutar bola matanya malas. Lalu kembali menatap Jourrel yang tidak banyak bicara dan hanya memperhatikan gurauannya bersama Cheryl. Dua pria itu saling menatap kuat. Seolah tidak ada yang mau mengalah.
"Kamu ngapain di sini? Awas ya macem-macem sama bossku!" ancam Rainer menatap serius.
Jourrel hanya mengangguk tipis, bibirnya masih terkatup rapat dan tatapan matanya tidak melemah sedikitpun. Seolah menyiratkan bahwa ia tidak takut dengan ancaman tersebut.
Ketiga manusia itu kembali terdiam, tidak ada perbincangan lagi. Cheryl sendiri sebenarnya masih sangat lelah. Namun hanya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, tak berapa lama satu unit motor sesuai keinginan Cheryl mendarat di loby. Rainer segera menyelesaikan administrasi, sedangkan Cheryl hanya menatapnya saja, menyimpan tenaganya hingga sampai di rumah.
"Nih surat-suratnya!" Rain menyerahkan semua surat kepemilikan dan surat pembelian pada Cheryl.
"Makasih ya, Rain. Kamu selalu melakukan yang terbaik. Bangga banget punya kamu!" puji Cheryl menepuk-nepuk lengan Rainer.
Pria itu justru menautkan kedua alisnya. Bibirnya tampak mencebik heran. Kemudian meletakkan punggung tangannya pada kening Cheryl. "Oh, pantesan. Agak demam ternyata," ucap Rainer. Heran saja bossnya itu berbicara lembut disertai ucapan terima kasih, bahkan menyanjungnya.
"Ck! Sialan!" decak Cheryl tertawa dan mengayunkan kakinya pada Rainer.
"Habisnya tumben bilang makasih, biasanya sumpah serapah yang keluar!" sahut Rainer mundur yang juga tertawa.
"Udah aku transfer bonusnya. Tinggalin aja nggak apa-apa!" ucap Cheryl menunjukkan bukti transaksi dari mobile banking-nya.
Rain mengerjap, senyumnya bertambah lebar. "Weeh, boss terbaik! Mayan buat malmingan entar malem. Kalau nggak takut bapak ibu boss, gue cium nih!" guraunya menangkup kedua pipi Cheryl.
"Cium, cium palamu! Nih sepatu cium!" geram Cheryl melebarkan kedua matanya sembari melepas tangan Rainer.
Rainer tertawa terbahak-bahak. Kebersamaan mereka sejak berusia dini, memang membuatnya mengenal satu sama lain. Tanpa ada yang baper atau pun sakit hati dengan setiap candaan yang terlontar. Apalagi kedua orang tua Cheryl sudah mengenal dan percaya sepenuhnya pada Rainer.
"Eh la terus pulangmu gimana?" Seakan baru tersadar dari euforia mendapat bonus, Rain pun bertanya.
"Biar sama aku pulangnya," serobot Jourrel yang kali ini menjawab.
Cheryl dan Rainer serentak menoleh padanya. Rain berjalan hingga mengikis jarak di antara mereka. Ia berhadapan dengan Jourrel, tanpa melepas tautan mata mereka.
"Bisa dipercaya nggak kamu? Apa jaminannya?" tanya Rain serius.
"Jaminannya nyawa saya!" tegas Jourrel dengan serius pula. Sama sekali tidak ada raut bercanda yang terpancar dari wajah tampannya.
Bersambung~