"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.
Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.
Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.
Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Bener, Nay?
Malam sudah menunjukkan pukul sebelas ketika Kanaya akhirnya menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang empuk milikknya. Kamar yang biasanya terasa begitu nyaman mendadak terasa asing malam itu.
Kepalanya di penuhi terlalu banyak hal untuk di pikirkan, mulai dari pernikahan yang akan di langsungkan dua minggu lagi hingga sosok pria yang baru beberapa jam lalu duduk dihadapannya dan dengan tenang mengatakan bahwa pernikahan mereka hanya akan bertahan selama satu tahun.
Kanaya menghembuskan napas panjang sebelum membalikkan tubuhnya, memandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Ganteng sih..." gumamnya pelan.
Beberapa detik kemudian, ia menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya.
"Tapi kayaknya galak banget, deh."
Entah sudah berapa kali malam ini ia mengingat wajah Dirga. Tatapan tajamnya, nada bicaranya yang datar, dan caranya mengatakan sesuatu seolah semua hal didunia ini hanyalah urusan bisnis yang harus segera di selesaikan.
Bahkan saat mengatakan bahwa ia akan menceraikannya setelah satu tahun, pria itu sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.
Kanaya memejamkan matanya rapat-rapat.
"Mana ada orang menikah pakai syarat begitu..." keluhnya pelan. "Pernikahan satu tahun, tidak boleh berharap, tidak boleh ikut campur urusan masing-masing."
Ia lalu memutar tubuhnya lagi hingga kini menghadap ke arah nakas disamping tempat tidur.
"Kalau dipikir-pikir, aku ini calon istrinya atau calon karyawannya?"
Tanpa sadar, ia terkekeh kecil mengingat percakapan mereka di balkon restoran beberapa jam lalu. Namun, dibalik semua itu, ada satu hal yang terus mengganggunya sejak tadi.
"Pilih yang kamu suka."
Kanaya mengerutkan dahinya. Padahal pria itu terlihat sangat tidak menginginkan pernikahan ini. Akan tetapi, setiap kali pembicaraan menyangkut dirinya, Dirga justru selalu menyerahkan keputusan kepadanya.
Aneh. Benar-benar aneh.
"Kasihan deh kayaknya perempuan yang lagi sama dia," gumamnya pelan sebelum memeluk bantal di sampingnya. "Pasti capek kalau harus menghadapi orang sedingin itu setiap hari."
Kanaya langsung menutup wajahnya menggunakan bantal.
"Ya ampun..." erangnya pelan. "Belum jadi suami aja udah bilang terang-terangan kalau punya perempuan lain."
Memikirkan hal itu terlalu lama hanya akan membuat kepalanya semakin pusing. Pada akhirnya, Kanaya memilih memejamkan matanya dan membiarkan rasa lelah mengambil alih pikirannya.
Bagaimanapun juga, dua minggu lagi ia tetap akan menikahi Dirga. Dan cepat atau lambat, ia harus mulai menerima kenyataan tersebut.
...****************...
Keesokan harinya, Kanaya memilih menghabiskan waktunya bersama Dinda. Sudah hampir beberapa hari mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Setelah kejadian semalam, terlalu banyak hal yang ingin ia ceritakan, meskipun entah harus memulainya dari bagian yang mana.
Siang itu, keduanya memilih untuk makan siang di sebuah restoran Jepang yang berada di dalam salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota.
Aroma kaldu ramen yang hangat memenuhi ruangan, berpadu dengan alunan musik instrumental yang mengalun pelan dari sudut restoran. Beberapa pengunjung tampak sibuk menikmati makanan mereka, sementara Kanaya dan Dinda tengah menghabiskan semangkuk ramen favorit masing-masing.
Dinda yang sedari tadi tampak sibuk menggulung mi dengan sumpitnya tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatap Kanaya penuh selidik.
"Jadi gimana, Din? Kamu jadi berangkat, kan?" tanya Kanaya setelah menyesap sedikit kuah ramen miliknya.
Dinda langsung menggeleng mantap. "Kalau kamu nggak berangkat, aku juga nggak berangkat, Nay. Yang bener aja, masa aku di New York sendirian?"
Kanaya terkekeh pelan mendengar jawaban sahabatnya.
"Kok gitu? Kamu ambil S2 disana tanpa aku juga gapapa, Dinda. Aku ambil disini aja."
"Ya udah, kalau gitu aku juga ambil disini." Dinda mengangkat bahunya santai. "Kita udah janji, ya, Nay. Apapun yang terjadi, kita harus tetap sama-sama."
Ucapan itu membuat senyum di wajah Kanaya perlahan memudar. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sekaligus rasa bersalah yang sulit dijelaskan.
"Kalau kamu gitu, aku malah ngerasa jadi penghalang keinginan kamu buat kuliah disana."
Dinda spontan meletakkan sumpitnya diatas mangkuk.
"Nggak ada, ya. Penghalang apaan sih?" protesnya cepat. "Mau kuliah dimana aja, tujuannya tetap sama. Yang penting niatnya. Kalau kita udah niat dan yakin, pasti cita-cita kita bakal terwujud kok walaupun gak kuliah di luar negeri."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih lembut.
"Jadi, kalau kamu nggak jadi ambil S2 di New York, aku juga nggak. Kita bakal sama-sama ambil S2 disini. Dan aku nggak masalah sama sekali."
Kanaya hanya bisa menatap sahabatnya itu dalam diam. Untuk sesaat, ia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.
"Dinda..."
"Apa?" Dinda menyipitkan matanya curiga. "Nggak usah nangis, ya."
"Ck."
"Mau nangis, kan?"
"Tadinya iya." Sudut bibir Kanaya terangkat tipis. "Tapi nggak jadi."
"Dih, dasar." Dinda kembali mengambil sumpitnya. "Terus, soal klinik yang kita rencanain gimana?"
"Tetap jalan, dong." Kali ini, mata Kanaya tampak sedikit berbinar. "Itu harus."
"Sip, lah." Dinda mengangguk puas. "Terus cari ahlinya buat bangun-bangun gitu dimana, Nay?"
Kanaya berpikir sejenak sebelum menggeleng pelan.
"Gampang. Itu kita bahas nanti dulu."
"Loh, kenapa?"
"Ada yang lebih penting yang harus aku bahas."
Mendengar nada suara Kanaya yang tiba-tiba berubah serius, Dinda refleks menghentikan aktifitas makannya. Sementara itu, Kanaya meletakkan sumpitnya diatas mangkuk, lalu mengambil tisu dan mengusap sudut bibirnya perlahan.
Tatapannya kemudian beralih lurus ke arah sahabatnya.
"Apa sih, Nay?" Dinda ikut menegakkan tubuhnya. "Serius banget gitu mukamu."
Kanaya menarik napas pelan. "Gini, Din..." ucapnya pelan. "Dua minggu lagi aku mau nikah."
Deg.
Untuk sesaat, Dinda hanya menatap Kanaya tanpa berkedip, seolah memastikan bahwa pendengarannya tidak sedang bermasalah.
"APAAA?!"
Suara Dinda yang menggelegar seketika menarik perhatian hampir setengah isi restoran. Kanaya buru-buru mengangkat tangannya.
"Hih, Dinda! Pelan-pelan, dong."
"Nikah?!" ulang Dinda, kali ini dengan suara yang sedikit lebih pelan meski masih terdengar sangat terkejut. "Sama siapa, Kanaya? Sama laki-laki yang di jodohin sama kamu itu?"
Kanaya mengangguk kecil.
"Iya. Semalam kita pertemuan keluarga."
Dinda masih tampak belum bisa memproses informasi yang baru saja diterimanya. "Kamu udah ketemu laki-laki itu?"
"Udah, Din." Kanaya mengembuskan napas pelan. "Dan benar... laki-laki itu Dirga Atmajaya."
"HAAAH?!"
Kali ini, Dinda langsung menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya membulat sempurna hingga hampir membuat Kanaya khawatir bola matanya akan jatuh ke dalam mangkuk ramen.
"Yang bener, Nay?" tanyanya tidak percaya. "Dirga Atmajaya yang terkenal itu?"
"Iya, itu."
"Ya Tuhan..."