Pelukan Rio membuat rasa traumatik dalam diri Diana Lorenza berangsur mereda. "Ri-rio?
"Iya, aku Rio ... apa kau masih mengingatku?Aku anak kecil gila yang pernah berjanji padamu 'I promise you that i never leaves you until my life ends, and i will always trying to prove to the whole world, that our love will come true in a marriege'. Dan percayalah, anak kecil gila itu pasti akan membuktikan janjinya." Rio semakin memperat pelukannya.
Diana terdiam, membiarkan dirinya hanyut dalam hangat dan nyamannya pelukan Rio.
Namun, bisakah Rio menepati janjinya itu?
Akankah Rio bisa membahagiakan Diana yang hidupnya terus dirudung kemalangan?
Sementara Rio sendiri sudah dijodohkan dengan sepupunya!
Mungkin saja ini hanya sebatas kebahagiaan semu untuk Diana!
Follow ig: @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Menjadi Egois
Gita mengerutkan dahi, dia turun dari mobil lantas menghampiri pemuda tersebut. "Sedang apa kau di sini?"
Pemuda ini adalah Galvin.
Sejak kejadian 2-tahun yang lalu di Paris, segala cara Gita lakukan untuk menjauhi Galvin. Dia bahkan memilih kampus yang berbeda, agar tidak terlalu sering bertemu dengan pria tersebut.
Padahal sebelumnya mereka selalu bersekolah di tempat yang sama, mulai dari taman kanak-kanak, hingga sekolah menengah atas.
Gita melakukan semua itu karena tidak ingin perasaan aneh yang mulai tumbuh di hatinya semakin membesar.
Sayangnya, semakin Gita berusaha membunuh perasaan itu, semakin pula ia tumbuh dan mengakar di dalam hati.
Hanya saja, Gita tahu batasan. Dia sadar sudah ada Rio yang dijodohkan dengan dirinya, dan Gita tidak ingin menyakiti pria yang menyayanginya setulus hati itu.
"Kita perlu bicara, Git." Galvin menarik Gita ke balik sebuah mobil.
Saat ini jarak Gita dan Galvin terlalu dekat, dan ini membuat napas Gita tercekat.
"Cepatlah, apa yang ingin kau bicarakan!" Gita berusaha mengkondisikan rasa gugup.
"Apa kau benar-benar akan meneruskan rencana pernikahan dengan Kakak Rio?" tanya Galvin tanpa basa-basi.
Semalam Galvin terus gelisah, hingga pagi ini ia nekad untuk menemui Gita ke kampus.
"Tentu saja, aku sangat mencintai Kak Rio, kau hanya menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah jelas," jawab Gita cepat dan berusaha menekan setiap katanya.
Galvin berdecih. "Jangan pikir aku bodoh Git, kau hanya berpura-pura mencintai Kak Rio. Aku tahu kau selalu menatap nanar setiap kali melihatku jalan bersama wanita lain, aku tahu kau memendam perasaanmu padaku Gita!" ujar Galvin setengah meraung.
"Kau terlalu percaya diri sialan!" sangkal Gita seraya mendorong Galvin menjauh.
Gita hendak pergi tapi Galvin segera meraih tangannya, lalu pemuda itu menangkup wajah Gita dan menatapnya begitu dalam.
"Tatap aku Gita, lalu katakan kau tidak pernah cemburu, katakan jika aku tidak pernah ada di hatimu!" raung Galvin dengan suara serak.
Gita tidak mampu membuka mulut, lalu air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Semua yang dikatakan Galvin itu benar, dia selalu cemburu dan merasakan sakit bila melihat Galvin bersama wanita lain.
Bahkan setelah itu dia akan mengurung diri di kamar, lalu menangis semalaman. Tapi Gita bisa apa? Dia hanyalah gadis penurut yang sangat menyayangi keluarganya.
Gita menepis tangan Galvin, dia tidak sanggup menatap mata pemuda itu. "Kalau iya kenapa, Vin? Kalau aku cemburu kenapa? Kalau aku mencintaimu kenapa?" isaknya.
"Apa kau ingin menyuruhku membatalkan rencana pernikahan dengan Kak Rio? Kau ingin membuat keluarga kita hancur? Kau ingin membuat Kak Rio sakit hati? Seperti itu Galvin?"
"Sejak kecil kita diajarkan untuk saling menyayangi, tidak boleh saling mengkhianati, itu yang diajarkan orang tua kita, itu yang selalu aku jaga!" raung Gita lalu terduduk lemas di atas paving blok.
Kali ini Galvin yang tidak bisa berkata-kata, dia mengusap kasar wajahnya.
"Kau enak Galvin, kau bisa bersenang-senang dengan wanitamu. Sedangkan aku apa? Aku hanya bisa menangis Galvin, menangis!" tambah Gita lagi.
Gita berusaha menghapus air matanya, lalu berdiri. "Simpan semua itu jika kau benar-benar mencintaiku, Vin. Simpan dan carilah pendampingmu yang baik. Biarkan aku berusaha melupakan cinta ini dengan bersama Kak Rio. Dan aku yakin, suatu saat nanti aku juga bisa menemukan kebahagiaan dengannya, karena aku tahu Kak Rio sangat menyayangiku."
"Sekali lagi aku katakan. Aku memang mencintaimu Galvin, aku mencintaimu ... tapi mengkhianati Kak Rio adalah hal yang tidak akan pernah aku lakukan. Dan aku berharap kau pun begitu, jangan pernah belajar untuk menjadi seorang pengkhianat di keluarga kita."
Setelah berkata seperti itu, Gita pun pergi meninggalkan Galvin.
Kini tinggallah Galvin yang bersandar pada sebuah mobil dengan perasaan kacau.
Semuanya yang dikatakan Gita hari ini membuatnya kembali sadar, dia tidak boleh menjadi seorang yang egois, di dalam keluarganya tidak boleh ada seorang pengkhianat.
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca, Kiss and Hug.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
tp klu tdk ada peran si ibu tiri pasti tdk seruu.