NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

***

Sinar matahari sore yang mulai condong ke barat menyemburkan warna jingga kemerahan melalui celah jendela kamar. Larasati terduduk di pinggir ranjang dengan tubuh yang sudah jauh lebih segar, meski sisa-sisa lemas masih menggelayuti kedua kakinya. Namun, rasa lemas itu mendadak menguap digantikan oleh rasa tercengang saat pintu jati kamarnya terbuka lebar.

Mbok Sum masuk diikuti oleh tiga pelayan muda yang berjalan setengah membungkuk. Di atas lengan mereka, tertumpuk belasan gulungan kain mewah. Ada kain batik tulis premium bermotif wahyu tumurun dan sidomukti yang guratan malamnya begitu halus, serta lembaran kain sutra halus berwarna hijau zamrud dan merah manggis yang berkilau mewah saat diterpa cahaya sore.

"Gusti Nyai," ucap Mbok Sum lembut sambil menundukkan kepala takzim. "Ini kain-kain kiriman dari Raden Mas Baskoro yang baru tiba dari kota kabupaten. Beliau juga berpesan, besok pagi seorang guru adat akan datang ke joglo untuk memandu Gusti Nyai belajar ngadi busana—tata rias dan cara mengenakan pakaian selayaknya seorang permaisuri."

Larasati menatap tumpukan kemewahan itu dengan tatapan risih. Ia mengulurkan tangan, menyentuh permukaan kain sutra yang teramat halus di dekatnya. Alih-alih merasa senang, kulitnya yang terbiasa bersentuhan dengan kain katun kasar terasa asing dan menolak. Benda-benda ini terasa seperti lapisan baru dari dinding penjara yang dibangun suaminya.

"Mbok... ini terlalu banyak," bisik Larasati pelan, menarik kembali tangannya. "Dan motif-motif ini... ini motif para bangsawan. Aku hanya anak desa dari ujung bukit, Mbok. Rasanya tidak pantas tubuhku dibungkus kain semahal ini."

Mbok Sum tersenyum tipis, tatapannya penuh keibuan namun tetap menjaga batas hormat. "Gusti Larasati, sejak cincin emas itu melingkar di jari Anda, Anda bukan lagi gadis desa yang dulu. Anda adalah Nyai Larasati, belahan jiwa dari penguasa tanah ini. Pakaian ini bukan hanya untuk menghias tubuh Anda, melainkan kehormatan Raden Mas Baskoro yang sedang Anda sandang."

Larasati menghela napas panjang, meremas ujung kebaya katun lurik lawasnya. "Kehormatan..." gumamnya lirih. Kalimat Baskoro tadi pagi kembali terngiang. Kepatuhan demi kehormatan.

"Dan satu lagi, Gusti," Mbok Sum menjura pelan. "Raden Mas Baskoro menitipkan titah. Jika Gusti sudah merasa bertenaga, sore ini Anda diminta untuk turun ke selasar dalam. Hasil panen jagung dan ketela dari bulak selatan baru saja tiba. Para abdi dalem wanita membutuhkan bimbingan Gusti Nyai untuk memilah mana yang harus disimpan di lumbung utama dan mana yang akan dibawa ke pasar."

Jantung Larasati berdegup kencang. Ini adalah ujian pertamanya keluar dari kamar pasca badai malam itu. "Memimpin mereka, Mbok? Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara memerintah orang."

"Gusti tidak perlu memerintah dengan bengis," hibur Mbok Sum lembut. "Cukup hadir dan tunjukkan bahwa rumah ini kini memiliki seorang ibu."

Dengan langkah yang diatur sepelan mungkin agar terlihat anggun, Larasati melangkah keluar menuju selasar dalam rumah joglo. Selasar luas berbahan lantai tegel itu kini dipenuhi oleh karung-karung rami berisi hasil bumi yang melimpah. Belasan abdi dalem wanita paruh baya sedang sibuk memilah, namun begitu siluet Larasati muncul, suasana seketika senyap.

Mereka serentak menghentikan pekerjaan, menjatuhkan diri, dan melakukan laku dodok dengan kepala menunduk dalam-dalam ke lantai.

"Sembah nuwun, Gusti Nyai..." ucap mereka hampir bersamaan.

Kecanggungan itu kembali mencekik Larasati. Ia meremas jemarinya sendiri, memandang Mbok Sum yang memberi isyarat lewat anggukan halus agar Larasati mulai berbicara.

"B-berdirilah... maksudku, silakan dilanjutkan pekerjaannya," suara Larasati agak bergetar pada awalnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil kembali keberaniannya. Ia mendekati salah satu tumpukan ketela yang besar. "Untuk ketela yang ukurannya sebesar ini, sebaiknya dipisahkan untuk dibawa ke pasar kota besok pagi. Yang agak kecil dan mulus, kita simpan di lumbung untuk persediaan makanan seluruh abdi dalem di rumah ini."

Seorang pelayan tua mendongak sedikit, wajahnya tampak terkejut namun langsung digantikan oleh rasa hormat. "Inggih, Gusti Nyai. Dawuh Anda sangat bijaksana. Kami akan segera memisahkannya."

Melihat tanggapan itu, perlahan rasa canggung Larasati mulai mencair. Jiwa desa yang kental di dalam dirinya membuat ia tahu betul mana hasil bumi yang berkualitas baik. Selama dua jam berikutnya, Larasati memimpin dengan kelembutan yang tidak berjarak. Ia tidak berteriak, tidak pula memberi perintah yang angkuh. Gaya bicaranya yang polos namun tegas membuat para abdi dalem merasa dihargai, bukan sekadar diperintah. Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di rumah joglo ini, Larasati merasa dirinya memiliki fungsi, bukan sekadar pajangan kamar.

Malam kembali menggelayuti perbukitan. Angin pegunungan berembus tenang membawa aroma harum bunga sedap malam yang mekar di pekarangan. Di dalam kamar utama, Larasati duduk di dekat lampu teplok yang menyala temaram. Di pangkuannya, terdapat selembar kain perca sutra sisa yang ia coba jahit menggunakan jarum tangan untuk melatih jemarinya, seperti yang diperintahkan Baskoro.

Krieeek...

Pintu kamar terbuka perlahan. Raden Mas Baskoro melangkah masuk. Pria empat puluh tahun itu tampak lelah setelah seharian penuh menyelesaikan sengketa di balai desa, namun matanya yang tajam langsung tertuju pada Larasati yang refleks menghentikan jahitannya dan berdiri memberikan hormat.

"Raden Mas... Anda sudah pulang," ucap Larasati lembut. Suaranya tidak lagi ketakutan atau menantang seperti malam-malam sebelumnya. Ada ketenangan baru yang ia tunjukkan.

Baskoro tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati meja marmer, melepas kerisnya dengan suara dentang yang kini tidak lagi membuat Larasati berjengit ketakutan. Setelah melepas beskap luarnya, Baskoro berbalik menatap istrinya, lalu berjalan mendekati tempat Larasati berdiri.

"Mbok Sum melaporkan kegiatanmu sore ini," ucap Baskoro datar, suaranya berat menggema di keheningan kamar. "Dia bilang kamu mengurus pemilahan hasil bumi di selasar dalam dengan sangat baik."

Larasati menunduk sedikit, menyembunyikan rona tipis di pipinya. "Kulo hanya melakukan apa yang kulo ketahui, Raden Mas. Sebagai anak petani, kulo paham tentang hasil tanah."

Baskoro menyipitkan mata, tatapannya jatuh pada selembar kain perca di tangan Larasati. "Apa yang sedang kamu pegang itu?"

"Ini... kulo sedang mencoba melatih jari-jari kulo menjahit kain sutra kiriman Anda, Raden Mas. Namun..." Larasati menunjukkan hasil jahitannya yang agak tidak rapi di bagian sudut. "Jahitan kulo masih kasar. Sutra ini terlalu licin untuk tangan kulo yang biasa memegang cangkul."

Baskoro melangkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi kayu cendana dari tubuhnya tercium jelas oleh Larasati. Pria itu mengulurkan tangannya yang besar, mengambil kain perca tersebut dari genggaman Larasati. Dipandanginya guratan benang yang agak meliuk-liuk itu dengan saksama di bawah cahaya lampu minyak.

Larasati menahan napasnya, bersiap jika suaminya akan mencela hasil karyanya yang buruk.

"Jahitan ini memang berantakan," ucap Baskoro dingin. Namun, sedetik kemudian, ia menurunkan kain itu dan menatap lurus ke dalam manik mata Larasati. "Tetapi untuk ukuran seseorang yang baru pertama kali menyentuh sutra halus, ini sudah cukup membuktikan bahwa kamu tidak mengabaikan perintahku."

Larasati mendongak, tertegun. "Raden Mas... mboten bendu?" (Raden Mas tidak marah?)

Baskoro menghela napas pendek, ketegangan di bahunya perlahan luruh. Ia melangkah ke tepi ranjang dan duduk di sana, menatap istri kecilnya yang berdiri dengan keanggunan baru yang mulai tumbuh. "Sudah kubilang tadi pagi, badai semalam sudah selesai. Aku bukan pria yang akan marah pada hal-hal kecil seperti jahitan yang melenceng."

Suasana mendadak diselimuti keheningan yang berbeda. Tidak ada lagi kecanggungan yang mencekik atau atmosfer mistis yang menyeramkan. Jarak usia dua puluh tiga tahun di antara mereka malam itu terasa sedikit menyusut.

Larasati berjalan perlahan mendekati ranjang, lalu duduk di kursi kayu dekat suaminya. "Kain-kain sutra dan batik yang Anda kirimkan... harganya pasti teramat mahal, Raden Mas. Kulo... kulo merasa risih memakainya."

Baskoro menatap Larasati lekat-lekat. "Kain itu dibeli dengan hasil bumi dari tanah yang sekarang menjadi tugasmu untuk ikut menjaganya, Larasati. Pakaian itu adalah perlindunganku untukmu. Di luar sana, orang-orang harus tahu bahwa istri dari Baskoro tidak berjalan dengan pakaian yang compang-camping."

Larasati mengecap bibirnya yang mulai memerah alami setelah sembuh dari demam. Ia menatap jemari Baskoro yang bertumpu di atas lutut. "Raden Mas... kulo akan belajar mematuhi semua aturan di rumah ini. Kulo akan belajar menjadi Nyai yang Anda inginkan... demi ketenangan rumah ini, dan demi keselamatan keluarga kulo."

Baskoro tertegun mendengar kalimat pasrah yang sarat akan kedewasaan prematur dari bibir gadis tujuh belas tahun itu. Ada getaran halus di dadanya. Ia tahu, Larasati patuh bukan karena cinta, melainkan karena sebuah transaksi kehormatan yang ia paksakan. Namun bagi Baskoro, ketundukan ini adalah awal yang cukup.

Baskoro berdiri, berjalan menuju lemari untuk mengambil kain sarung tidurnya. Sebelum berbalik, ia berkata dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. "Tidurlah. Besok gurumu akan datang pagi-pagi sekali. Jangan buat aku kecewa di depan orang luar."

"Inggih, Raden Mas," sahut Larasati pelan.

Malam itu, saat Larasati merangkak naik ke atas ranjang di sisinya dan Baskoro berbaring di sisi yang lain dengan guling pembatas di antara mereka, dinding kecanggungan itu tidak lagi terasa sekokoh sebelumnya. Keheningan di dalam kamar joglo malam itu tidak lagi terasa pekat dan mengintimidasi, melainkan menjadi sebuah awal dari rasa asing yang perlahan-lahan mulai mencari bentuknya yang baru.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!