Entah suatu kemalangan atau permainan takdir untuk Faranisha Gayatri, menjelang hitungan jam pelaksanaan akad nikah dengan sang kekasih yang telah menjalin kasih selama 3 tahun dengannya, pihak mempelai pria malah membatalkan pernikahan tanpa alasan. Sebagai gantinya, hadirlah sesosok pria yang bersedia menjadi pengganti mempelai pria.
Ialah Naufal Kenan, sosok pria yang sangat sensasional. Seorang dokter spesialis bedah dan penyakit dalam dengan segudang prestasi dan pencapaian. Berparas tampan, kaya raya nan dermawan. Dan ternyata, ialah sosok pria yang menjadi cinta pertama Fara. Cinta yang dulu hanya bisa dipendamnya dalam diam tanpa dapat tersampaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Like Father, Like Son (In Law)
"Gimana keadaan Fara?" Farzan yang baru tiba di dalam ruang rawat Fara langsung menghampiri Kenan yang duduk di tepi brankar pembaringan Fara. Saking paniknya, ia sampai lupa mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, Yah." Kenan berdiri menyambut dan menyalami Farzan "Fara udah baikan. Cuman belom sadar aja, paling sebentar lagi."
"Waalaikumsalam." Farzan memaksakan senyum di wajah paniknya "Maaf, Ayah lupa. Syukurlah. Ngomong-ngomong, kok bisa tiba-tiba asma Fara kambuh?"
Kenan terdiam sesaat sembari menunduk tidak berani bertemu tatap dengan Farzan "Ini salah Kenan, Yah. Maaf." ucapnya cicit terdengar penuh penyesalan.
"Salahmu? Maksudnya?" kedua alis Farzan saling bertaut, ia bingung.
"Kenan tadi ngebentak Fara. Sepertinya Fara shock berat, dia kena kompilasi."
Bagi Farzan yang sejatinya mantan dokter, meskipun bukan bidangnya, ia dapat langsung mengetahui kondisi Fara secara menyeluruh hanya dengan penjelasan singkat Kenan tersebut. Namun, alih-alih marah, ia malah menepuk pundak Kenan seraya dengan bijak berkata "Ayah gak tau, kamu sama Fara lagi ada masalah apa. Tapi, Ayah yakin, kamu pasti punya alasan sampai ngebentak Fara. Saran Ayah, lain kali, cobalah nyelesaiin maslah dengan baik-baik dan kepala dingin, seberat apapun masalahnya. Karena begitulah seharusnya dalam berumah tangga."
Sejenak Kenan terhenyak. Ia sangat salut terhadap kebijakan mertuanya itu. Jika mertua lain, mungkin mereka akan langsung menyalahkan dan menghakimi Kenan karena telah menyakiti putrinya. Inilah salah satu kepribadian Farzan yang sangat dikagumi Kenan sejak dulu, hingga ia ingin menjadi anak angkat Farzan.
"Akan selalu Kenan ingat, Yah. Kenan bakal jadiin ini sebagai pelajaran. Terima kasih atas petuahnya, Yah." ucap Kenan bersungguh-sungguh sembari memberanikan diri kembali bertemu tatap dengan Farzan.
"Hm, memang begitulah seharusnya." Farzan tersenyum hangat dan sekali lagi menepuk pundak menantunya itu.
"Engh..." hampir bersamaan dengan itu, Fara tiba-tiba melenguh pertanda akan segera sadar.
Benar saja, beberapa saat kemudian mata Fara terbuka sayup. Perlahan wanita itu mengumpulkan kesadarannya seraya mencoba mengamati sekelilingnya masih dalam keadaan lemah.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, sayang. Maaf, maafin Kakak udah ngebentak kamu tadi." Dengan sigap Kenan langsung meraih tangan bebas Fara yang tidak terpasang jarum infus, lantas menghujani punggung tangan itu dengan kecupan sayang mengharukan. Ia berucap dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah.
Fara yang kesadarannya belum terkumpul penuh, hanya bisa menerima dan membiarkan perlakuan Kenan. Ia dapat merasakan dengan sangat jelas curahan kasih sayang dari perlakuan Kenan.
"Ehem..." Farzan berdehem demi menyadarkan kedua sejoli yang terlampau terbawa suasana itu hingga melupakan keberadaannya.
Benar saja, sontak Kenan dan Fara secara bersamaan memandang Farzan dan tersenyum kikuk.
"Ma-maaf, Yah, Kenan hampir lupa, lagi ada Ayah." ucap Kenan sedikit salah tingkah, namun tak melepaskan tangan Fara dari genggamannya. Sedang Fara hanya tersipu malu.
"Heleh..." Farzan mencebik "Hampir, apa udah?"
Kenan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal dengan tangan bebasnya, segan menjawab pertanyaan sang mertua. Benar kata Farzan, ia memang benar-benar lupa, bukan lagi 'hampir'. "Maaf." akhirnya hanya kata itu yang dapat terucap cicit dari bibirnya sembari sedikit menunduk.
"Udahlah, gak apa-apa." Farzan geleng-geleng kepala tak habis pikir, kemudian beralih pada Fara "Gimana keadaanmu sekarang, Nak?" tanyanya lembut penuh perhatian jiwa kebapakan.
"Fara udah baikan kok, Yah." jawab Fara lirih dengan suara berserak khas baru bangun tidur.
"Syukurlah." Farzan tersenyum lega, ia tahu betul putrinya berkata jujur "Ya udah, kalo gitu Ayah balik ke kantor, ya. Kayaknya sejak awal Ayah salah udah datang kesini. Ayah juga gak dibutuhkan, udah ada si suami siaga yang jagain putri Ayah." ujarnya berpamitan sembari terkekeh kemudian.
Wajah Kenan dan Fara yang sudah memerah karena salah tingkah sejak tadi, semakin memerah bak kepiting rebus. Keduanya sadar bahwa perkataan Farzan itu ditujukan untuk menggoda mereka, terutama Kenan.
"Hehe... Ayah bisa aja." sekali lagi Kenan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal karena salah tingkah.
"Bisa apa?" Farzan sok polos.
Kenan menggigit bibir bawahnya gemas, kalau bukan mertuanya, pasti sudah ditaboknya wajah Farzan. Sebenarnya bisa saja ia mengalihkan sasaran godaan pada Fara, seperti terakhir kali. Hanya saja keadaan istrinya itu sedang tidak mendukung untuk dibuat meradang. Jadilah ia tidak bisa berkutik kali ini. "Ya, bisa godain Kenan." jawabnya kemudian.
"Godain?" Farzan masih bersikap sok polos "Siapa yang godain kamu? Ayah cuman ngomong apa adanya sesuai yang Ayah liat, kok. Emang Ayah salah?"
'Oh Tuhan, dosa kah menabaok mertua?' Kenan menjerit gemas dalam hati. Sepertinya ini cara Farzan menghukumnya karena telah menyakiti Fara, pikirnya. Ternyata mertuanya itu diam-diam menghanyutkan juga, seperti dirinya. Diluar bijak, didalam mendendam. Mungkin ini yang dinamakan, like Father In Law, Like Son In Law.
"Emang benar sih." jawab Kenan lagi sembari menyengir dengan wajah kian memerah.
"Pfft..." dengan sigap Farzan membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya demi menahan tawa yang hampir saja pecah. Ia sangat terhibur dan merasa lucu melihat Kenan yang tak berkutik digoda olehnya. Kenan yang dikenalnya sangat berwibawa dan cool selama ini, sekarang terlihat sangat menggelikan di matanya.
Sementara Fara, ia tak jauh berbeda dengan Farzan. Dipalingkannya pandangannya dari wajah Kenan sembari tersenyum menahan tawa. Jika Kenan bertanya 'Dosa kah menabok mertua?', maka ia bertanya 'Dosa kah mendukung sang ayah mengerjai suaminya?'. Namun ia juga sedikit iba pada Kenan, ia tak sampai hati melihat suaminya itu dikerjai.
"Yah, udah ah. Jangan godain Kak Ken terus!" ucap Fara pada akhirnya memutuskan membela Kenan sekaligus agar terhindar dari dosa karena menertawakan suaminya, jika tidak dapat menahan diri.
"Hufh..." Farzan menghembuskan nafas berat yang memuat serta gejolak tawa yang telah dikonversikan menyatu dengan nafas itu "Baiklah, maaf, maaf."
Kenan memandang Fara dengan tatapan penuh terima kasih, lalu kembali menatap Farzan dengan sorot mata yang seolah mengatakan 'Tunggu pembalasanku'. "Hehe... Gak apa-apa, Yah." ucapnya kemudian sembari tersenyum palsu.
"Hm, kamu memang menantu yang sangat murah hati, mudah memaafkan. Ayah memang gak salah milih kamu." balas Farzan tersenyum simpul serta menyanjung dengan nada mengejek.
"Oh, tentu dong, Yah. Kenan gitu loh!"
"Ya, ya, ya, kamu memang menantu terbaik." Farzan mencibir Kenan yang sok lugu membanggakan dirinya sendiri "Udahlah, Ayah pamit dulu, Assalamulaikum."
"Waalaikumslaam." sahut Kenan dan Fara serempak sebelum Farzan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Bruk...
"Ck..." Kenan mencebik ketika sosok Farzan hilang di balik pintu ruangan yang baru saja tertutup.
Fara hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum lucu melihat gelagat suaminya yang tengah kesal.
Hening...
Selang sekian waktu berlalu selepas kepergian Farzan, baik Kenan dan Fara belum ada yang membuka suara untuk memulai pembicaraan. Rasa bersalah kepada Fara yang sempat ia lupakan saat Farzan menggodanya, kini kembali menyelimuti Kenan. Sedangkan Fara, ia tengah kebingungan memikirkan bagaimana cara menanyakan apa kesalahannya, hingga membuat Kenan membentak dirinya. Fara sudah memikirkan itu sejak berhasil mengumpulkan kesadaran penuh beberapa saat yang lalu, namun ia masih belum juga menemukan jawaban apapun hingga detik ini.
"Maaf." ucap Kenan dan Fara tiba-tiba hampir di waktu yang sama.
"Eh?" Kenan mengernyit bingung menatap Fara. Bukan karena kesamaan kata, bukan pula kesamaan waktu keduanya berucap, melainkan bingung karena benar-benar tidak tahu untuk apa Fara meminta maaf. "Maaf? Maaf untuk apa, sayang?"
"Maaf, kalo Fara udah ngelakuin kesalahan, Fara benar-benar gak sadar." jawab Fara lirih.
"Hufh..." Kenan mend*sah berat "Kamu gak salah apapun kok, Sayang. Kakak aja yang berpikiran sempit." kembali ditangkupnya tangan Fara yang sejak tadi tak lepas digenggamnya.
"Berpikiran sempit? Emangnya apa yang Kakak pikirin?" balik Fara yang bertanya dengan keingintahuan yang besar.
Sejenak Kenan terdiam sembari menatap kompleks wajah Fara "Kakak akan katakan, tapi Kakak mohon kamu jangan marah kalo Kakak salah, ya!" pintanya harap-harap cemas kemudian.
Fara terdiam sesaat, ia juga menjadi harap-harap cemas ingin mendengar apa yang Kenan pikirkan tentang dirinya, hingga membuat suaminya itu marah. Namun sesaat kemudian dengan penuh keyakinan ia mengangguk "Iya, Fara gak akan marah."
"Janji?"
"Iya, Fara janji." lagi Fara mengangguk penuh keyakinan.
ini kog ketus...
batal
pernikahan barat
why
apa sdh selesai ceritanya 😊