NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Hari Kiamat
Popularitas:79.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu keluarga : 14

Kanti menggeleng, sukar menjelaskan tentang perasaan mengganjal dalam hati. “Aku ngantuk.”

“Lebih baik kita tidur disini saja. Biar saling menjaga,” usul Aji, dia bergegas keluar. Entah mau apa.

“Aya, tidurlah. Kamu kelihatan sangat lelah.” Kanti pun merasa iba melihat gadis yang biasanya berpenampilan menarik, pakaian branded, melek fashion, sekarang seperti … entahlah, sulit dijelaskan.

“Aku takut tidur sendirian,” aku Ahwaya pelan.

Bertepatan dengan itu, Aji masuk ke dalam kamar dengan memanggul dua buah tilam tanpa sprei yang diambil dari kamarnya dan Kanti.

“Kalian tidurlah diatas kasur ini. Biar aku, Abeer, Sambara yang bergantian jaga malam.” Ia merapikan tilam agar berdempetan.

Kanti tersenyum tulus. Aji memang bisa diandalkan.

Ahwaya dan Candra Kanti sudah berbaring, mereka kesulitan tertidur, hanya pura-pura memejamkan mata.

“Kanti, gimana kalau seandainya kita gak bisa keluar dari sini? Terjebak untuk selamanya?” bisik Aya, suaranya parau.

Kanti memiringkan badan, memandang sudut mata basah Aya, dia sedang menangis seraya melihat atap tidak di plafon.

“Semoga ada jalan keluar, belum sampai bulan suro habis kita sudah kembali bersama keluarga,” hiburnya tidak begitu yakin.

Aya memejamkan mata. “Aku kangen mama, papa.”

Ahwaya juga anak tunggal sama seperti Aji Sardi. Keluarganya terpandang, memiliki bisnis restoran, ada cabangnya tersebar di beberapa provinsi.

“Kita semua merasakan hal sama, Aya. Maka dari itu harus optimis. Aku yakin, keluarga kita gak tinggal diam, pasti sedang mencari cara,” kalimat hiburannya terkesan biasa saja, karena dia tidak pintar dalam berkata-kata, lebih suka menunjukkan lewat tindakan.

Aji menatap kasihan kedua gadis berusaha menghibur diri. ‘Apa benar kami bisa keluar hidup-hidup dari tempat asing ini?’

Di luar, Abeer dan Sambara pun merasakan hal sama. Mereka menutupi kecemasan dengan menghisap tembakau.

Ditemukannya Mayang, bukan membuat hati lega, malah menambah rasa takut.

.

.

“Kanti, bangun Kanti! Ayo ikut aku!”

Seseorang memanggil lirih gadis yang mulai mengerjapkan mata. Kanti masih dalam keadaan setengah sadar, betapa terkejutnya ia mendapati sosok yang tadi kehilangan kemampuan bicara, tengah berdiri tepat disampingnya.

“Mayang? Kamu sudah sembuh?” tanyanya masih sukar percaya pada apa yang dilihatnya.

Seperti ada yang aneh dengan sosok Mayang – wajahnya berseri-seri, senyum manis tersungging pada bibir, rambut sepinggang terurai, dan dia mengenakan pakaian serba putih bukan baju Candra Kanti.

“Ayo ikut aku! Kita gak punya waktu lagi!” suaranya sedikit memaksa, tapi tidak berusaha menyentuh lengan Kanti.

“Kemana?” Ia beranjak, masih menahan sedikit kantuk. Dilihatnya Aji, Abeer, Sambara tidur beralaskan tikar dekat tilam Aya.

“Nanti kamu juga tahu! Ayo Kanti!” Mayang sungguh tidak sabaran.

Meskipun bingung, Candra Kanti mengikuti langkah kaki Mayang yang tertutup jubahnya.

Pintu kamar itu sudah terbuka sebelum mereka keluar. Perasaan Kanti mulai tidak nyaman, dia melangkah penuh perhitungan.

“Kenapa kesini?” Kanti protes kala berhenti di bagian luar dinding kamar mandi.

Mayang tidak menjawab. Dia menyeringai, lalu mendekatkan mata pada lubang kecil seolah tengah mengintip.

Rasa penasaran Kanti muncul dengan sendirinya, dia mencari lubang kecil agar bisa mengintip ke dalam kamar mandi.

Sepasang bola mata yang tadi masih menahan kantuk, kini membulat. Sesuatu menahan badan Kanti agar tidak pergi dari sana.

“Saksikan lah!” ternyata Mayang memeluk kuat dari arah belakang.

“Ini, ini ….” suaranya terputus, dia tidak sanggup mengatakan apa yang dilihatnya.

“Ayo ikuti mereka!” Ia menyentak lengan Kanti, menyeret tubuh menggigil hebat.

“Jangan Mayang! Bahaya! Kita harus kembali ke kamar. Bersembunyi atau melarikan diri!” sekuat apapun dirinya berusaha, tetap kalah tenaga.

Mayang terus menarik Kanti, seakan tuli pada rintihan kesakitan.

Candra Kanti berteriak kencang. “Aji! Aji tolong aku!”

Dia dipaksa berlari, cekalan tangan Mayang sungguh kuat, seakan memiliki tenaga luar biasa.

“Mayang berhenti! Aku gak sanggup lagi! Kita harusnya pulang, bukan mengikuti bahaya!” napasnya tersengal-sengal, ia berusaha menyadarkan sang teman.

Namun, langkah kaki tetap tidak berhenti. Terus berlari seolah berlomba dengan sang waktu.

Candra Kanti sempat memperhatikan sekitar, langit merah menjadi penunjuk arah, memudahkan mengingat.

Setelah melewati hutan, menginjak ranting dan tumbuhan belukar – mereka sampai di sebuah gubuk terlihat bangunan tua besar.

“Masuklah!” Mayang mendorong punggung Kanti sampai terjerembab menghantam tanah becek, berlumpur.

Seketika pakaian Kanti menjadi kotor, berbau apak.

“Buruan masuk!” suara Mayang terdengar menusuk, memberi rasa takut pada gadis berbaju kotor, wajah cemong.

“Kamu gak ikut?” tanya Kanti, ia tatap lama muka yang tiba-tiba berekspresi sendu, air mata menetes deras.

"Tempatku disini, gak bisa lagi kemana-mana,” nada Mayang menggambarkan sesuatu menyayat hati Kanti.

“Masuklah!" Cuma kamu harapan mereka, Kanti! Jangan buang-buang waktu!”

Candra Kanti tersentak, baru saja dia dibentak.

Entah keberanian dari mana, Kanti berjalan memasuki halaman yang mana ada sebuah gubuk beratap ijuk – bangunan itu sepenuhnya terbuat dari bambu, tidak ada penerangan, hanya mengandalkan cahaya langit.

Diamatinya gubuk bagian pondasi ditahan batang kayu besar, lalu Candra Kanti berjalan ke belakang, membuka sebuah pintu yang sepertinya bagian dapur. Ia masuk lebih jauh lagi.

'Pintu apa ini?’ Kanti menaruh curiga pada sebuah pintu kotak besar terbaring di tanah.

'Masuklah!’ suara Mayang terbawa angin, membuat Kanti bergegas menarik kuat tali tambang terhubung pada lubang pintu.

“Tangga? Ruang bawah tanah kah?” Dia nekat menuruni undakan semakin menukik tajam, pintu pun tidak ditutup lagi, takut kalau sewaktu-waktu dirinya terperangkap di sana.

Tangga itu berbentuk leter L, dan berjumlah ratusan. Sejenak Kanti berhenti, gamang mau maju atau berlari naik dan keluar.

Namun, suara jeritan mengoyak hatinya, membuat langkah kaki berlari menuruni anak tangga tersisa.

“Ampun! Ampun! Argh!”

'MAYANG!’ batinnya menjerit mengenali suara memohon penuh rasa putus asa itu.

“Tolong jangan! Hentikan! Akhhh!”

‘Mayang, dimana kamu?!’ Kanti sudah menyusuri lorong gelap tidak tembus cahaya kemerahan, hanya ada lampu teplok pada dinding tanah.

“Mama! Papa! Tolong!”

Suara Mayang tidak selantang tadi, terdengar putus-putus.

Kanti terus berlari di bawah cahaya temaram. Kepalanya terantuk atap tanah semakin pendek.

Tak habis akal, dia berjalan merunduk, menahan badan menggunakan siku dan lutut.

“Abeer, Sambara, Aji, Aya, Kanti! Larilah sejauh mungkin!” suaranya disertai tangisan tergugu.

Acuh … jari telunjuk tangan kirinya terjepit perangkap Tikus berkarat, Kanti meringis kala mencoba melepaskannya.

Gadis pendiam itu terus merangkak maju, dia yakin sekali suara Mayang bersumber dari lorong sempit ini.

“Tempat apa ini?” Kanti shock, pada ujung lorong ternyata beratap tinggi sama seperti dibagian depan tadi.

Tanpa mengelap debu menempel di telapak tangan, Kanti langsung menyusuri lorong bagian kiri.

Suara Mayang sudah tidak lagi terdengar, dan hal tersebut membuat Kanti meremang, aura mistis disini sangat pekat, ia nyaris sesak napas.

Krak!

Badannya panas dingin, dengan keberanian tersisa Kanti mendekati bunyi seperti batu dipukul palu.

Sebuah kepala menggelinding, terlepas dari batang lehernya.

Seseorang memanggul kapak, posisinya membelakangi Kanti.

“Mayang!”

.

.

Bersambung.

1
FiaNasa
hayo Lo..apaan yg dilihat aji tuh
Fri5
hati2 jebakan loh 😰
Gadis misterius
Laila ngatemi cs blom smpai iya pdahal kt nidasah pling 2 hari sampai kekampung siluman itu ....semoga kau melihatnya dan percaya dngn kanti supaya omonganmu dijaga
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑨𝒋𝒊𝒃 𝒍𝒊𝒂𝒕 𝒂𝒑𝒂 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒌𝒂𝒈𝒆𝒕 𝒈𝒊𝒕𝒖 😏
neni nuraeni
aduuh deg.. deg... ser ini
myPuspa
ji...aji...ojo sui2 le njawab, readere podo kepo iki...🤣🤣🤣
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽᴛ⑅⃝ˢ🐈
nahh ketemu ga yaA

kira2 bakal tau g klo mereka hnya mngu wktu saja
Eli Rahma
ada apa ji...??
Eli Rahma
lilis kah yg jd srigala?
Muhammad Arifin
AQ baca nahan napas,takut ketahuan 😆😆😆
Ayudya
sampai sekarang Kanti dan teman teman nya belum juga menemukan jalan keluar
Siti Umaroh
semangat thorrrrr Thor jangan serius serius ya BKIN ada nuansa romance nya hihii aku suka semangat thorrr suka bgt sma Sambara SMA aya
Al Fatih
apa yang kau lihat aji 😱 ???
mamaqe
jiii...spil doongggg
Shee_👚
apa yang di liat aji, manusia kah?? atau apa🤔🤔
Shee_👚
ampun deh ngebayangin mereka mengamati itu dapur aku ko ya merinding takut ada penampakan🤣🤣🤣
Shee_👚
aduh deg deg an aku
Shee_👚
ko ya serem banget di kasih makan banyak biar gemuk, terus di potong dah kaya ayam🤭
Mudahlia Fitha
aji Sakha jgn macam macam satu macam aja udah BKIN haredang
Shee_👚
bisa jadi hanya sandiwara agar kalian terkecoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!