Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 2
"Apa seorang ibu bisa kehilangan anaknya saat dia masih hidup?"
Kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada Nandin beberapa bulan sebelumnya, mungkin ia akan menjawab tidak.
Karena menurutnya, selama seorang ibu masih bernapas, selama jantungnya masih berdetak, selama cintanya masih ada, maka anak-anaknya akan selalu menjadi miliknya.
Namun hidup ternyata tidak sesederhana itu.
Kadang yang merampas anak dari seorang ibu bukan kematian.
Melainkan manusia.
Dan yang paling menyakitkan, manusia itu adalah orang yang pernah berjanji akan menjadi pelindungnya.
Pondok rehabilitasi itu terasa asing.
Hari pertama.
Hari kedua.
Hari ketiga.
Nandin lebih banyak diam.
Kadang menangis.
Kadang tertawa sendiri.
Kadang duduk berjam-jam di bawah pohon mangga tanpa bergerak.
Para pengurus mencoba mendekat.
Tetapi Nandin selalu menjauh.
Ketika ditanya namanya, kadang ia menjawab benar.
Kadang tidak.
Ketika ditanya umur, ia bingung.
Ketika ditanya siapa suaminya, ia menangis.
Lalu memukul kepalanya sendiri.
Sementara itu, jauh dari tempat itu, kehidupan terus berjalan.
Termasuk kehidupan Wisnu.
Tiga hari setelah meninggalkan Nandin.
Wisnu duduk di ruang tamu rumah Bu Sri.
Di depannya ada beberapa lembar dokumen.
Bu Sri sedang membuat teh.
"Apa semuanya sudah siap?"
Wisnu mengangguk.
"Besok aku ke pengadilan agama."
Bu Sri meletakkan cangkir di meja.
"Bagus."
Jawaban itu keluar begitu mudah.
Begitu ringan.
Seolah yang sedang dibicarakan bukan rumah tangga yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Bukan pernikahan yang menghasilkan dua anak perempuan.
Melainkan urusan biasa.
Wisnu mengusap wajahnya.
Entah kenapa dadanya terasa berat.
Mungkin karena jauh di dalam hatinya, masih ada rasa bersalah yang belum benar-benar mati.
Namun rasa itu kalah oleh keinginannya untuk segera memulai hidup baru.
Dengan Seline.
Dengan anak yang sedang dikandung perempuan itu.
Dengan masa depan yang menurutnya lebih mudah.
Seline datang sore hari.
Perutnya mulai terlihat.
Tidak terlalu besar.
Tetapi cukup untuk membuat orang yang melihat mengerti bahwa usia kehamilannya tidak muda lagi.
Begitu masuk rumah, ia langsung duduk.
Wajahnya terlihat lelah.
"Kapan selesai urusannya?"
tanyanya pelan.
Wisnu tahu maksud pertanyaan itu.
Perceraian.
Seline ingin semuanya cepat selesai.
Karena selama Nandin masih berstatus istri sah, ia akan selalu menjadi perempuan kedua di mata masyarakat.
"Secepatnya."
jawab Wisnu.
Seline mengangguk.
Namun wajahnya tidak terlihat lega.
Karena di luar sana, omongan warga sudah mulai terdengar.
Dan semakin hari semakin keras.
"Kasihan Nandin."
"Baru ditinggal orang tuanya meninggal."
"Suaminya malah nikah lagi."
"Iya."
"Dengar-dengar yang baru itu sudah hamil."
"Ckckck..."
"Kok tega ya?"
Bisik-bisik itu terdengar hampir di setiap warung.
Di setiap pos ronda.
Di setiap pengajian.
Nama Wisnu dan Seline menjadi topik yang tidak pernah habis dibahas.
Seminggu kemudian.
Sidang pertama berlangsung.
Nandin tidak hadir.
Bukan karena tidak mau.
Tetapi karena tidak mampu.
Kondisinya masih sangat buruk.
Bahkan untuk mengenali dirinya sendiri saja kadang kesulitan.
Bu Rini yang mendengar kabar itu langsung datang ke rumah Bu Sri.
Wajahnya merah karena marah.
"Kalian serius mau menceraikan Nandin sekarang?"
Bu Sri menyilangkan tangan.
"Memangnya kenapa?"
"Dia sedang sakit!"
"Justru karena sakit."
jawab Bu Sri dingin.
"Anak-anak butuh masa depan."
Bu Rini sampai tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Masa depan?"
"Atau kalian cuma mau menyingkirkan dia?"
Ruangan mendadak sunyi.
Wisnu menunduk.
Tidak berani menatap mata Bu Rini.
Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mengatakan kebenaran tepat di depan wajahnya.
Sidang demi sidang berjalan cepat.
Tidak ada perlawanan.
Tidak ada gugatan balasan.
Tidak ada pembelaan.
Karena Nandin bahkan tidak tahu dirinya sedang diceraikan.
Saat hakim mengetuk palu dan menyatakan pernikahan mereka berakhir, Nandin sedang duduk sendirian di teras pondok rehabilitasi.
Menatap sawah.
Memegang daun yang baru jatuh dari pohon.
Dan tidak tahu bahwa statusnya sebagai istri telah dihapus begitu saja.
Masalah berikutnya adalah hak asuh anak.
Bu Rini kembali berusaha melawan.
"Anak-anak itu butuh ibunya."
Wisnu menatap ke arah halaman.
Di sana Shella dan Sherly sedang bermain.
"Tapi Nandin gak bisa merawat mereka."
"Dia sedang sakit."
"Sakit bukan berarti berhenti jadi ibu!"
Suara Bu Rini bergetar.
Namun Wisnu tetap pada keputusannya.
Shella dan Sherly akan tinggal bersamanya.
Keputusan itu akhirnya disahkan.
Dan sekali lagi.
Nandin kehilangan sesuatu tanpa pernah diberi kesempatan mempertahankannya.
Hari-hari berikutnya terasa aneh bagi Shella dan Sherly.
Mereka terlalu kecil untuk memahami perceraian.
Terlalu kecil untuk mengerti hukum.
Namun mereka cukup besar untuk merasakan kehilangan.
"Mama ke mana?"
Pertanyaan itu muncul setiap hari.
Setiap pagi.
Setiap siang.
Setiap malam.
Awalnya Bu Sri menjawab sabar.
Namun lama-kelamaan ia mulai kesal.
"Mama lagi jauh."
"Jauh ke mana?"
Sherly bertanya.
Bu Sri terdiam.
Karena ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Sementara itu.
Persiapan pernikahan Wisnu dan Seline berjalan besar-besaran.
Tenda mulai dipasang.
Lampu mulai digantung.
Katering mulai datang.
Rumah Bu Sri mendadak ramai.
Tetangga berdatangan.
Namun bukan hanya untuk membantu.
Sebagian datang karena penasaran.
Mereka ingin melihat langsung perempuan yang berhasil membuat Wisnu meninggalkan istrinya.
Dan saat Seline muncul.
Semua mata langsung tertuju pada perutnya.
Tidak ada yang mengatakannya secara langsung.
Tetapi semua orang melihat hal yang sama.
Perut itu tidak terlihat seperti perut pengantin baru.
Dan itulah yang membuat gosip semakin liar.