Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Menikahi siapa, honeymoon dengan siapa?
"Tapi aku hanya mau menurut dan menyerah padamu, Sayangku."
Mereka tertawa kecil lalu segera masuk ke mobil sport itu. Kenzo memasukkan koper Vinda ke bagasi dulu sebelum naik. Entah siapa yang sebenarnya sedang diculik—apakah dia yang membawa kabur gadis itu, atau malah sebaliknya, masa bodoh dengan pendapat orang di luar sana, bagi Kenzo yang paling penting adalah Vinda, dia takkan peduli perasaan Larasati seperti apa yang setelah akad nikah malah di tinggalin kabur.
"Kamu kabur dari resepsi pernikahanmu mas?!" seru Vinda kaget saat mereka sudah di jalan.
Kenzo tetap fokus menyetir sambil menjawab santai. "Bukan kabur sih… aku cuma malas berlama‑lama di pesta resepsi yang begitu menjijikkan. Lebih baik pergi mencarimu. Lihat muka perempuan itu bikin aku muak"
"Astaga, mas… apa tak apa‑apa kan nanti?"
"Tenang saja, Kak Soran tahu aku pergi. Tadi aku pamit bilang balik ke apartemen duluan karena kurang enak badan. Kakakku juga tahu Pernikahan itu sama sekali bukan kemauan ku. Biar saja wanita itu sendiri yang menyambut tamu di resepsi, aku malas."
Vinda menggeleng gelisah. Mendengar Kenzo menyebut istrinya sendiri dengan sebutan 'wanita itu' membuatnya makin bingung.
"Ayo kita makan dulu ya. Sejak siang aku tak ada selera makan, terus‑terusan memikirkanmu. Ah lapar banget sayang" Vinda tersenyum dan merapatkan jaketnya, udara malam terasa makin dingin.
Kenzo menggandengnya masuk ke sebuah restoran yang cukup besar. Dia sudah memakai masker, topi dan jaket hitam agar tak mudah dikenali, mengingat berita pernikahannya masih disiarkan di semua stasiun TV di berita infotainment. Tentu saja berita itu masih heboh, apalagi Kenzo menikahi wanita yang sebenarnya tidak boleh dia jadikan istri.
"Mas, aku jadi khawatir kalau kamu terus menyetir. Ini sudah larut malam dan kamu pasti lelah sekali." Saat makan malam di ruang khusus VIP restoran itu, Kenzo sudah melepas maskernya, lalu Vinda mengutarakan kekhawatirannya.
Jujur saja, dia sebenarnya ragu berangkat ke Malang bersama Kenzo. Bagaimana nanti kalau orang tahu dia pergi membawa suami orang? Pasti mulut orang akan pedas sekali.
"Baiklah, kalau begitu malam ini kita menginap dulu saja. Besok pagi kita baru lanjut perjalanan lagi ke sana." Vinda mengangguk meski rasa cemas masih membayangi. Duduk sedekat ini dengan Kenzo membuatnya seperti gadis yang sedang jatuh cinta gila, diam-diam ingin sekali bibirnya yang merah ranum itu dicium lagi.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Kenzo sambil menyipitkan mata, curiga melihat wajah Vinda yang tiba‑tiba gugup dan buru‑buru menghabiskan makanannya.
"Aku tampan ya? Hahaha… kamu sampai terpaku begitu melihatku." Canda Kenzo dengan membelai pipi Vinda yang merah.
"Cih, siapa yang bilang tampan? Aku cuma mau ambilkan daun kering yang nyangkut di rambutmu ini."
Kenzo tertawa renyah saat Vinda benar‑benar mengambil daun kering dari rambutnya.
"Lihatlah sepuas hatimu, aku milikmu seutuhnya kok, Sayangku Vinda."
"Sialan kamu… eh—" Vinda tersentak kaget lalu memukul pelan bahu Kenzo yang tiba‑tiba saja mencium bibirnya dengan berani.
"Kalau mau dicium, katakan saja tak perlu malu begitu." Vinda menunduk dalam, wajahnya memerah padam saat Kenzo tertawa puas setelah melepas ciuman itu.
***
"Saya pesan dua kamar untuk satu malam saja." Vinda menyerahkan kartu identitasnya di sebuah penginapan pinggir jalan Pantura, tak jauh dari batas kota.
"Maaf, Nona… kamar yang tersisa sekarang cuma satu. Bagaimana, mau ambil saja?"
"Aduh, cuma satu saja, Pak?" Gadis itu kaget karena penginapan di sini sudah jarang dan selalu penuh, maklum saja karena orang yang berpergian jauh pasti akan lelah dan menginap di sini.
Pemilik penginapan paruh baya itu tersenyum dan mengangguk. Vinda kembali ke mobil tempat Kenzo menunggu.
"Ada apa, Sayang? Wajahmu sepertinya kesal."
"Pak penjaga bilang cuma ada satu kamar kosong. Bagaimana ini? Sudah jam mau jam duabelas malam, susah kalau harus cari tempat lain lagi."
"Ya sudah, kita ambil saja. Aku malas menyetir lagi, capek banget, mataku udah merah, kita sudah cukup jauh keluar kota dan penginapan jarang ada di sini." Meski masih ragu, Vinda akhirnya setuju. Mereka berdua turun dan mengeluarkan barang bawaan dari bagasi.
Dunia rasanya makin terbalik saja. Sore tadi Kenzo sah menikah dengan Larasati, tapi malam ini dia justru ada di samping Vinda, berdua di kamar penginapan, Seperti benar‑benar lari meninggalkan pengantin barunya demi gadis yang dia cintai.
***
Sementara itu di kamar mewah pengantin, Larasati menenggak gelas anggur entah yang keberapa kalinya. Perutnya terasa perih, dia berjalan sempoyongan menuju ranjang besar bersprei putih krem yang tadinya indah penuh kelopak bunga mawar merah, kini ranjang itu sudah berantakan tak beraturan.
"Hahaha… suami macam apa yang malam pertamanya tak mau menampakkan diri di kamar sendiri? Kenzo sialan!"
Larasati menangis tersedu lalu merosot jatuh ke lantai. Dia memukul‑mukul perutnya seolah makin membenci janin yang tumbuh di sana.
"Kenzo brengsek! Argh!!!!" Dia menjambak rambut sendiri sambil menangis tak karuan, lalu menunjuk tajam foto Kenzo yang ada di meja samping tempat tidur.
"Cih… kenapa kamu tak mati saja hah?! Hahaha… kenapa kita berdua tak mati saja sekalian, Kenzo?! Bagaimana? Mau mati bersamaku? Kalau mati bersama tak akan ada yang bisa merebutmu dariku, hahaha!"
Wanita mabuk itu mengoceh sendiri, tampak sangat menyedihkan. Dia menyambar ponselnya.
"Halo… ini saya, Larasati… eh… bisakah besok pagi rapat pemegang saham segera diadakan? Ya… saya mau rapat darurat secepatnya."
"…"
"Terima kasih, Pak Haris… selamat malam."
Larasati tersenyum puas setelah menelepon sektretaris dari mendiang Hardi Armanta, lalu melempar ponselnya ke kasur.
"Takkan ada yang bisa memilikimu selain aku… kamu milikku sepenuhnya, Kenzo… hahaha… hanya milikku."
Di kamar penginapan, Kenzo masih berbaring santai sambil sibuk membalas pesan di grup obrolan bersama Dimas dan Kenan. Isinya penuh pertanyaan, suara berisik, dan keributan karena para sahabatnya penasaran ke mana dia pergi, padahal resepsi pernikahannya sendiri masih berlangsung ramai.
Dimas86: "KENZOOO!! Loe di mana?! Astaga mau kabur ke Malang? Jangan gila loe teri!!"
Kenan88: "Kalau Larasati menelponku lagi bagaimana, ah! Dasar wanita gila dan menyebalkan! Aku malah yang repot"
Dimas dan Kenan sibuk mengamuk di obrolan grup, belum lagi Rangga yang langsung heboh karena Kenzo dengan sengaja menulis pesan:
Rangga24: "Njir loe bulan madu sama sapa, sotoy bener!"
Kenzo44: "Gue, lagi berbulan madu sama Vinda, hehe… jangan ganggu, awas saja kalian!"
Serentak teman‑temannya makin ramai berkomentar macam‑macam di obrolan itu. Kenzo sendiri cuma terkekeh geli. Dia sekarang ada di kamar penginapan berdua dengan Vinda, dan gadis itu masih betah di kamar mandi sejak beberapa menit lalu.