NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35• Masalah Dalam Satu Hari

Perjalanan Bara ke Surabaya bukan perjalanan biasa. Jalanan padat sejak ia keluar dari gerbang tol Porong. Mobil merayap, klakson bersahutan, udara di dalam kabin mulai pengap. Jam dua pagi berubah jadi jam empat, dan Bara masih terjebak di antrian kendaraan yang tidak bergerak.

Matanya perih. Beberapa kali kepalanya mengangguk, lalu tersentak. Ia sempat tertidur sebentar, dagunya hampir menghantam setir. Kopi hitam di cup holder sudah dingin sejak tadi.

Baru menjelang subuh, arus mulai lancar. Ketika azan berkumandang, Bara baru masuk kawasan Perumahan Aurora. Angka di dashboard menunjukkan pukul enam pagi.

Ia memarkir mobil di depan rumah nomor 23. Lampu teras sudah mati. Ia turun, mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengintip lewat celah jendela. Rumah itu rapi, tapi kosong. Di meja makan masih ada piring dan gelas yang belum dicuci.

Seorang ibu yang lewat mendorong sepeda anaknya berhenti. “Cari siapa, Mas?”

“Naya,” jawab Bara.

“Oh, Mbak Naya sudah berangkat kerja. Tiap hari jam lima lewat dia sudah keluar. Katanya takut telat.”

Bara mengangguk. Napasnya tertahan. Ia sudah sejauh ini, tapi tetap terlambat.

Ia kembali ke mobil, menyalakan mesin. Dewi pernah menyebut nama kantor Naya waktu membisikinya di taman. Alamat itu masih melekat di kepalanya. Ia tidak punya waktu untuk menunggu.

Bara membelokkan mobil keluar dari perumahan. Tujuannya sekarang bukan lagi rumah itu, tapi tempat Naya bekerja.

Sampai di tempat kerja Naya, hasilnya tidak sesuai harapan. Gedung itu sederhana, kaca depannya buram oleh debu. Bara masuk ke lobi, menyebut nama Naya ke resepsionis. Jawabannya datar, Naya belum masuk.

Bara tidak pergi. Ia duduk di kursi tunggu, menatap pintu kaca yang sesekali terbuka. Satu jam ia habiskan di sana. Kopinya sudah habis, kakinya pegal, tapi ia tetap menunggu.

Yang datang bukan Naya. Yang muncul adalah seorang perempuan muda membawa map cokelat. Rina.

“Mas cari siapa?” sapa Rina pelan.

Bara berdiri. “Naya ada?”

Rina menggeleng. “Mbak Naya lagi nggak di tempat. Ada urusan di luar.”

Itu bohong. Dari balik pintu kaca ruang administrasi, Naya mengintip. Jantungnya berdetak keras. Ia melihat Bara berdiri dengan kemeja kusut, kantung mata menghitam, tubuh yang dulu tegap kini tampak lebih kurus. Wajahnya lelah, seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.

Naya menutup mulut dengan tangan. Ia ingin keluar. Ingin berlari dan menanyai Bara kenapa ia ada di sana. Tapi ia menahan diri.

Dalam kepalanya, Bara sudah jadi suami orang. Ia tidak tahu kalau pertunangan itu batal. Ia hanya tahu, dari berita yang sampai padanya, Bara sudah menikah. Bertemu sekarang hanya akan membuat luka itu terbuka lagi.

Air matanya menggenang. Naya menunduk, mundur perlahan, menjauh dari celah pintu. Di luar, Bara masih berdiri, menatap kosong ke arah dalam gedung, tidak tahu kalau orang yang ia cari sedang menangis beberapa meter darinya.

Bara akhirnya memutuskan pulang. Telepon dari atasannya sudah masuk berkali-kali, menanyakan kenapa ia tidak masuk kerja. Dengan berat hati ia berbalik meninggalkan gedung itu. Matanya tidak bisa lepas dari pintu kaca. Perasaannya terus berkata kalau Naya ada di dalam. Tapi ia bingung, kenapa Naya tidak mau menemuinya.

Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan pergi tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, di kota yang berbeda, Dewi dan Arkan duduk berhadapan di sebuah kafe kecil. Mereka sarapan bersama sebelum berangkat kerja. Sejak perceraian Arkan dengan Naya, sikap Arkan berubah. Ia lebih banyak diam. Ia menolak ajakan bertemu Dewi, kecuali kalau Ibu Desy yang memaksa.

Pagi itu Arkan datang bukan karena mau. Ia duduk kaku di depan Dewi.

Dewi mencoba membuka pembicaraan. “Kerjaan Mas Arkan gimana? Ibu Desy sehat, kan?”

Jawaban Arkan dingin. “Lancar.”

“Kesehatan Ibu baik.”

Nadanya datar. Tidak ada semangat di matanya. Jauh berbeda dari Arkan yang dulu, yang kalau bicara soal kerja atau soal Naya, selalu ada nyala di wajahnya.

Dewi meraih tangan Arkan, "Mas, kapan rencana mau nikahin aku"

Arkan langsung menarik tangannya, "Dew, aku gak pernah bilang mau nikahin kamu. Aku..."

"Terus kenapa kamu seolah memberi harapan Mas" potong Dewi, cepat.

Arkan menghela nafas berat, ia membenarkan tasnya sebelum akhirnya bangkit dari duduk. "Sudah hampir jam delapan, nanti telat" ujar Arkan, ia berjalan lebih dulu meninggalkan Dewi.

"Mas.." pekik Dewi, namun tak dihiraukan oleh Arkan.

......................

Sore harinya, di kota lain, Naya berjalan pulang tanpa semangat. Sepanjang hari ia bekerja setengah hati. Tangannya bergerak, tapi pikirannya entah di mana.

Sampai di rumah, ia memutar kunci pintu. Begitu masuk, tasnya terlempar begitu saja ke lantai.

Sudah lebih dari dua bulan ia tidak merasakan rindu sedalam ini. Tapi kedatangan Bara pagi tadi tidak menyembuhkan. Justru membuat dadanya semakin sesak. Apalagi setahu Naya, Bara sudah punya istri.

Ia jatuh duduk di sofa. Tubuhnya bersandar, kepalanya mendongak ke atas. Matanya terpejam beberapa detik, lalu air matanya jatuh juga.

“Bar… Jangan temuin aku lagi. Aku ingin melupakan semuanya di sini,” gumamnya pelan di sela sesak.

Jam berputar lebih cepat dari dugaan. Naya terbangun tengah malam. Ia bangkit, masuk kamar mandi, lalu berganti pakaian. Setelah selesai, ia berbaring di tempat tidur.

Tapi tidur tidak datang. Tangannya meraih ponsel. Jarinya menggulir layar tanpa arah, sampai berhenti di satu foto.

Itu akun media sosial Bara. Foto seorang laki-laki berdiri sendirian di atas jembatan di Surabaya. Cahaya lampu kota memantul di air bawahnya.

Caption-nya membuat napas Naya tertahan.

“Aku akan kembali kepadamu, memulai semuanya dari awal, menjemput takdirku.”

Naya langsung mematikan ponsel. Dadanya berdebar. Ia menatap plafon kamar.

“Caption itu… untukku?” gumamnya.

Tidak ada jawaban. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar pelan di tengah gelap.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!