Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Sudut yang Asing
...
Malam kembali turun membungkus rumah megah itu, namun kali ini tanpa kehangatan yang biasanya menyambut dari balik pintu dapur. Setelah pertengkaran hebat di lantai bawah, Zidan memilih mengunci diri di kamar utama. Kamar yang selama tujuh tahun ini selalu menjadi tempat di mana dia mendiktekan keangkuhannya kepada Pamela, tempat di mana dia merasa menjadi raja yang paling berhak atas segala kepatuhan perempuan itu.
Namun malam ini, ranjang berukuran king size itu terasa terlalu luas. Zidan membalikkan tubuhnya ke sisi kiri, tempat di mana biasanya Pamela tidur meringkuk dalam diam, menahan napas agar tidak mengganggu istirahat suaminya setelah pulang bersenang-senang di luar.
Zidan mengulurkan tangannya secara refleks, meraba permukaan sprei sutra yang dingin. Kosong. Tidak ada kehangatan tubuh yang biasanya tertinggal di sana. Matanya beralih menatap meja nakas di samping tempat tidur. Biasanya, di atas meja kayu itu selalu tersedia segelas air hangat bertutup rapat dan selembar tisu kecil jaga-jaga jika Zidan terbangun tengah malam dengan tenggorokan kering akibat efek alkohol. Malam ini, meja itu bersih, sekering tenggorokannya yang mulai terasa perih.
Dia mendengus kasar, lalu bangkit duduk sambil memijat tengkuknya yang terasa kaku. Rasa narsis di dalam dadanya berontak. Dia adalah Zidan. Pria tampan, kaya raya, dan dipuja banyak wanita di luar sana. Bagaimana bisa dia merasa terusik hanya karena seorang perempuan miskin bertangan kasar seperti Pamela memilih angkat kaki?
"Cuma satu hari. Dia pasti cuma mau menguji kesabaranku," gumam Zidan pada kesunyian kamar. Suaranya terdengar dingin, mencoba meyakinkan ego jiwanya yang perlahan mulai terkikis oleh rasa hampa.
Dia memutuskan untuk mandi, berharap kucuran air dingin bisa mengusir rasa tidak nyaman yang terus menggelitik hatinya. Zidan melangkah ke dalam kamar mandi dalam yang mewah, menyalakan lampu kristal yang benderang. Namun, begitu dia membuka lemari kaca tempat penyimpanan perlengkapan mandinya, langkahnya terhenti.
Di rak paling bawah, berjajar rapi botol-botol sabun cair, sampo, dan minyak rambut miliknya. Semua diletakkan sesuai urutan pemakaian yang biasa dia gunakan. Di sebelahnya, ada sebuah sikat gigi baru berwarna biru yang masih terbungkus rapi, lengkap dengan sebungkus kecil benang gigi. Di dekat benda-benda itu, terdapat secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang sangat dia kenali tulisan tangan Pamela yang rapi dan miring ke kanan.
‘Stok sampo anti-ketombe Zidan buat dua bulan ke depan sudah dibeli. Sikat gigi harus diganti tanggal 5 bulan ini. Jangan lupa pakai minyak rambut yang botol hijau kalau ada rapat penting, Zidan kelihatan lebih rapi kalau pakai itu.’
Zidan terpaku menatap kertas kecil yang mulai agak lecek terkena uap air kamar mandi. Jarinya menyentuh tulisan itu. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah pasokan oksigen di dalam kamar mandi mewah ini tiba-tiba menipis. Selama ini, dia tidak pernah tahu kapan samponya habis, dia tidak pernah tahu kapan sikat giginya diganti, dan dia tidak pernah peduli bagaimana semua barang pribadinya selalu tersedia tepat waktu tanpa dia perlu meminta.
Dengan gerakan kasar, Zidan meremas kertas catatan itu dan melemparnya ke tempat sampah. "Gak usah sok peduli kalau akhirnya milih pergi," desisnya kejam, menutupi rasa bergetar samar yang mulai menjalar di ujung jemarinya.
...
Sementara itu, di lantai bawah, ruang tengah masih terasa mencekam. Papa zidan memilih mengurung diri di ruang kerjanya setelah menolak makan malam masakan katering yang dipesan Keysha melalui aplikasi ojek daring. Pria tua itu menganggap makanan luar terlalu berminyak dan bisa memicu tekanan darah tingginya naik.
Mama zidan duduk di sofa ruang tengah dengan wajah ditekuk, memegangi mangkuk kecil berisi es batu untuk mengompres dahinya yang terasa pening. Di sampingnya, Karina duduk sambil sibuk memoles kuku-kukunya dengan cat kuku merah menyala, tampak acuh tak acuh dengan ketegangan yang terjadi di rumah tersebut.
"Rin, kamu beneran gak bisa masak sedikit pun?" tanya Mama Zidan akhirnya, suaranya terdengar agak memelas, kontras dengan sifat angkuhnya yang biasa. "Sedikit saja... sup bening atau bubur buat Papa. Dia dari siang belum makan apa-apa, Tante takut kesehatannya drop."
Karina menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Mama Zidan dengan dahi berkerut tidak suka. "Aduh, Tante... sejak kecil aku kan gak pernah masuk dapur. Tangan aku ini dirawat di salon mahal setiap minggu, mana bisa dipakai buat megang pisau sama ulekan batu. Lagian, kan ada pembantu? Suruh saja mereka yang mikir."
"Pembantu di rumah ini bodoh semua, gak ada yang beralih bumbu dengan benar kayak Pamela," keluh Mama tanpa sadar, menyebut nama menantu yang biasanya dia maki-maki sebagai perempuan kampung yang tidak berguna.
Karina mendengus sinis mendengarnya. "Ya kalau Tante kangen sama pelayanan perempuan miskin itu, telepon saja suruh balik. Tapi jangan salahin aku kalau nanti aku milih tinggal di apartemen sendiri daripada harus satu rumah sama mantan istri Zidan yang bau bawang itu."
Mendengar ancaman Karina yang memegang kartu as berupa janin di rahimnya, Calon Mama mertua langsung bungkam. Dia tidak berani melepaskan peluang untuk mendapatkan cucu laki-laki dari keluarga terpandang seperti Karina, meskipun taruhannya adalah kenyamanan perut suaminya sendiri.
Keysha berjalan turun dari lantai dua dengan langkah gontai, wajahnya tampak kusut setelah mencoba menenangkan si kembar yang tidak mau berhenti merengek di dalam kamar. "Ma... si kembar gak mau makan mi instan lagi. Mereka nyariin sup ayam jahe buatan si Pamela. Kamar mereka juga berantakan banget, mainannya berhamburan gak ada yang beresin."
"Biarkan saja mereka menangis! Nanti juga kalau lapar banget bakal dimakan itu mi instan!" sahut Mama ketus, melampiaskan rasa pusingnya pada sang anak. "Kamu itu sudah besar, Keysha! Masa ngurusin ponakan kecil begitu saja gak becus!"
"Kok jadi Keysha yang disalahin sih, Ma?!" balas Keysha tidak terima, suaranya mulai meninggi memicu emosi. "Kan yang bikin si Pamela pergi itu Kak Zidan sama Mama yang bawa perempuan ini ke rumah! Kenapa sekarang Keysha yang harus jadi pembantu dadakan?!"
"Keysha! Jaga ucapan kamu!" bentak Mama, matanya melotot tajam.
Keributan kecil itu terhenti saat terdengar suara langkah kaki yang berat dari arah tangga. Zidan berjalan turun dengan pakaian santai kaos hitam polos dan celana pendek namun tatapan matanya begitu tajam dan dingin, membuat Keysha dan Mama mertua seketika menghentikan adu mulut mereka.
Zidan tidak memandang ke arah ibunya ataupun Karina. Langkah kakinya berjalan lurus menuju area dapur utama. Dia merasa haus dan ingin mengambil air dingin di lemari es besar yang ada di sana.
Namun, begitu dia melangkah masuk ke dalam area dapur, pemandangan di depannya membuat langkahnya kembali melambat. Dapur megah bernuansa skandinavia itu tampak begitu berantakan. Piring-piring kotor bekas masakan Bi Sumi tadi siang masih menumpuk di wastafel, menimbulkan aroma tidak sedap yang mulai menguar tipis. Beberapa bumbu dapur berserakan di atas meja konter granit yang biasanya selalu mengkilap bersih tanpa setitik pun noda minyak.
Di sudut konter, sebuah celemek kain berwarna biru pudar dengan motif bunga-bunga kecil tergantung lemas di gantungan paku. Itu celemek yang selalu dipakai Pamela setiap hari. Celemek murah yang warnanya sudah hampir habis akibat terlalu sering dicuci.
Zidan mendekati lemari es, membuka pintunya yang dingin. Di bagian pintu dalam, berderet beberapa botol kaca berisi jus sayuran hijau yang sudah dikemas rapi dengan label tempelan kertas kecil di setiap botolnya.
‘Jus brokoli-apel buat Papa mertua, diminum setiap jam 10 pagi.’
'Jus wortel-tomat buat Keysha, biar kulitnya gak gampang jerawatan.’
‘Air madu-lemon buat Zidan, diminum kalau bangun tidur biar badannya gak gampang capek.’
Zidan menatap botol-botol itu dengan rahang yang mengatup rapat. Jemarinya mencengkeram pinggiran pintu lemari es hingga terasa ngilu. Selama tujuh tahun, setiap sudut rumah ini, setiap detak kehidupan di dalamnya, ternyata digerakkan oleh tangan kurus seorang wanita yang tidak pernah dia anggap keberadaannya. Pamela tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta pengakuan, dia hanya melakukan semuanya dalam sunyi seolah itu adalah udara yang memang harus dia tiupkan agar keluarga ini tetap bernapas.
Dan sekarang, setelah udara itu memilih pergi, rumah ini perlahan-lahan mulai terasa mencekik leher mereka semua.
Zidan mengambil botol air putih biasa dengan gerakan kasar, menutup pintu lemari es hingga menimbulkan bunyi dentuman keras yang mengejutkan para pelayan di area belakang. Pria narsis itu meneguk air dingin itu dengan terburu-buru, mencoba mengusir rasa panas yang membakar tenggorokannya, namun rasa hampa yang sedari tadi bersarang di dadanya justru semakin meluas, menggerogoti sisa-sisa keangkuhan dingin yang dia agungkan selama ini.
...
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
saling support sabi kali ya😉