Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Pengakuan
"Jadi, apa yang mau lo jelasin, Kak?" Tanya Willy.
"Gue emang udah curiga sih! Gue yang nganterin Kak Ryu ketemu sama pacarnya ini." Kata Brian.
"Kenapa pada kumpul gini sih? Di Markas ada siapa?" Tanya Ryu yang mengalihkan pembicaraan.
Willy dan Adit yang memang berada di sana, sengaja menghubungi Bryan dan Davi yang sedang stand by di Markas. Dua orang Junior Ryu itu pun menyusul ke Cafe tempat biasa mereka berkumpul.
"Udah, jangan ngalihin pembicaraan, Kak. Kita udah izin sama Sir El dan di kasih waktu satu jam." Kata Davi.
"Emang gak bisa kita bicarain besok, kasian dia." Bujuk Ryu sambil melihat ke arah Gladys yang duduk di sebelahnya.
"Kak, lo gak apa - apa, kan?" Tanya Bryan pada Gladys untuk mengonfirmasi.
"Aman." Jawab Gladys sambil tersenyum. Hal itu tentu saja membuat wajah Ryu sedikit jengah karena Gladys justru ikut memojokkannya saat ini.
"Tuh, pacar lo aja santai kok, Kak." Kata Willy.
"Yaudah, tanya aja apa yang mau kalian tanya." Kata Ryu pada akhirnya.
"Dia siapa?" Tanya Bryan yang sudah penasaran setengah mati.
"Gladys, calon istri gue." Jawab Ryu yang langsung membuat rekan - rekannya terperangah.
"Buset! Baru pertanyaan pertama, tapi udah menohok gini. Gak nyangka gue, kalo lo nyembunyiin semua ini dari kita, Kak. Sumpah, tega banget lo, Kak." Kata Willy.
"Lo gak usah kebanyakan drama ya, Wil. Tanya aja, udah, gak usah kebanyakan cuap!" Sahut Ryu.
"Kapan kalian jadian?" Tanya Adit.
"Kita gak jadian. Kita di jodohin." Jawab Ryu. Ia bicara jujur, namun tetap menjaga privasi dari misinya.
"Sumpah! Lo terima gitu aja, di jodohin? Why?" Tanya Willy.
"Dia perempuan." Jawab Ryu yang membuat Gladys memijat pelipisnya karena menahan tawa.
"Serius, Yu!" Protes Adit.
"Apa alasan gue buat nolak dia? Dia cantik, baik dan dari keluarga baik - baik. Dia juga pintar." Jawab Ryu.
"Kak, Lo tau pekerjaan calon suami lo?" Tanya Willy pada Gladys.
"Tanya ke gue aja, gak usah tanya calon bini gue." Kata Ryu sambil menghadapkan wajah Willy ke arahnya.
"Posesif banget sih, Kak! Emang kita gak boleh ngobrol sama calon Kakak Ipar?" Protes Willy..
"Gak!" Jawab Ryu yang membuat Willy mencebik.
"Kalo Kak Gladys di sini dan kumpul sama kita, berarti dia tau dong, siapa kita?" Kata Davi yang membuat ruangan itu tiba - tiba menjadi sunyi.
Keempat orang yang berada di depan Ryu itu terdiam sembari mengawasi ruangan tempat mereka berada. Wajah mereka terlihat panik seolah nyawa mereka sedang berada di ujung tanduk.
"Kak, lo gak lagi jebak kita berempat, kan?" Tanya Bryan.
"Heh, Kunyuk! Ngapain gue jebak sodara gue sendiri?" Jawab Ryu sambil menyentil dahi Bryan.
"Kita serius, Kak. Gak liat, kita udah panik gini." Cicit Willy.
"Gue kasih tau kalian satu fakta. Tapi, pertanyaan kalian cukup sampe di sini aja. Kalian gak boleh tanya apapun lagi ke gue ataupun ke Ryu." Kata Gladys yang akhirnya angkat bicara.
"Kok jadi panggil nama, sekarang?" Protes Ryu dengan wajah sedikit kesal.
"Ck! Iya, Abang Ryu." Jawab Gladys.
"Ciyeee... Abang!"
"Gak terima cuma di panggil nama."
"Hihiw!"
"Abang apa Ayang tuh!"
Seru keempat rekan Ryu yang menggoda Kapten mereka dan calon istrinya. Sementara Ryu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena tanpa sadar protes mengenai panggilan pada Gladys.
"Ssst! Berisik." Kata Ryu yang kemudian menghentikan seruan rekan - rekannya yang menggodanya.
"Jadi..." Gladys mulai mengalihkan perhatian rekan - rekan Ryu.
"Deal!" Jawab keempat pria yang duduk berhadapan dengannya.
"Intinya gue tau, siapa calon suami gue dan siapa kalian. Identitas kalian udah pasti aman sama gue. Dan gak usah khawatir, karena gue berada di satu komando yang sama dengan kalian." Kata Gladys.
"Njir! Berarti kerjaan lo sama kayak kita dong, Kak?" Tanya Willy.
"Gak ada sesuatu di balik pernikahan kalian, kan?" Tanya Adit.
"Gak ada pertanyaan lagi." Sahut Gladys.
"Yes, Ma'am!" Sahut keempat rekan Ryu bersamaan.
"Ih, sumpah! Gue jadi ngerasain aura Ma'am Fey di Kak Gladys." Kata Davi.
"Bener lagi, kayak reinkarnasi Ma'am Fey, deh." Timpal Bryan.
"Ati - ati mulut lo, Bryan! Reinkarnasi - reinkarnasi. Bunda gue masih idup, masih segar - bugar!" Kata Ryu sambil memelototi Bryan.
"Sorry, Kapt!" Ucap Bryan sambil hormat pada Ryu.
"Lo bukan anggota baru kan?" Tanya Adit. Tentu saja mereka semua masih penasaran dengan sosok Gladys.
"Anggota baru gimana? Udah di bilang dia calon bini gue." Sahut Ryu.
"Udah, deh! Lama - lama gue mati penasaran kalo bahas ini terus." Kata Willy yang akhirnya menyerah pada pasangan yang seperti sedang mengajak bermain puzzle ini.
"Sekarang gue mau tanya di luar masalah identitas. Kapan kalian berdua mau married?" Imbuh Willy.
"Minggu depan." Jawab Ryu yang membuat Adit langsung menyemburkan minuman yang baru masuk ke mulutnya.
"Astaga, Kak Adit! Gue udah mandi, Kak!" Omel Bryan yang duduk di sebelah Adit dan menjadi orang yang terkena semburannya. Melihat itu, tentu membuat mereka semua tertawa, kecuali Bryan pastinya.
"Sorry... Sorry..." Ucap Adit yang kemudian membantu membersihkan wajah Bryan sambil tertawa.
"Kok mendadak banget?" Tanya Adit.
"Udah di rencanain dari lama." Jawab Ryu.
"Ah, ngeselin banget, Kak Ryu! Rasanya gue kayak terhianati banget, tau gak." Kata Willy.
"Yang penting sekarang kalian semua udah tau. Gue sebenernya mau ngasih tau kalian, tapi bukan sekarang. Eh, malah ke tangkap basah duluan." Kata Ryu.
"Kalo gak gini, mungkin setelah lo nikah, kita baru tau." Sahut Adit.
"Gak lah, gue gak mungkin gak ngundang kalian di pernikahan gue." Jawab Ryu.
"Pernikahan putra sulung keluarga Aditama, gak mungkin sesimpel itu, kan? Pasti bakal heboh dan megah." Kata Willy.
"Gue malah gak mau bikin acara kayak gitu. Kayaknya lebih hangat kalo cuma makan malam keluarga inti dan sahabat - sahabat aja." Jawab Ryu yang membuat Gladys menoleh ke arahnya.
"Bener sih! Seenggaknya biar energi lo full waktu unboxing kan, Kak?" Cicit Davi yang kembali membuat rekan lainnya heboh.
Mendengar itu, Gladys hanya bisa geleng - geleng kepala.
"Andai aja mereka tau mengenai fakta yang sebenarnya, sudah pasti mereka gak akan seheboh ini. Atau, bisa jadi malah mereka yang akan menggagalkan pernikahan kami. Karena gak rela Kapten mereka menjadi mainan." Bati Gladys.
Dering ponsel Ryu, membuat mereka semua tiba - tiba terdiam. Ryu pun mengangkat panggilan dari Pimpinannya yang tiba - tiba menelepon.
"Yes, Sir!"
Mendengar itu, langsung membuat hawa di dalam ruangan tiba - tiba berubah menjadi tegang. Keempat anggota Agen Rahasia lainnya pun memeriksa ponsel mereka. Barangkali sebentar lagi Pimpinan mereka akan menghubungi mereka.
Ryu tampak serius ketika mendengarkan arahan dari Elno. Karena melihat wajah serius Ryu, keempat rekannya pun mendadak jadi merasa was - was.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author