Di saat perbedaan usia menjadi halangan dalam mencinta, maka waktu yang akan menjawab segalanya.
Di saat cinta pertama tak bisa digapai dengan mudah, maka waktu yang akan menjarah.
Di saat pernikahan menjadi benteng perunggu, maka jandamu yang akan kutunggu.
Hey, kamu!
Berbahagialah dengan kehidupanmu saat ini. Namun jika suatu saat hatimu tersakiti, maka lihatlah ke sini, ada aku yang selalu menanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Jelata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Pagi ini, janur kuning Anis dan Abdi melambai indah dan mengejekku dengan congkak. Pengucapan janji suci pernikahan di antara keduanya pun telah selesai digelar berbalut sorak. Gegap-gempita sanak saudara semakin memenuhi telingaku bersamaan dengan tercetusnya kata 'SAH' dari semua saksi yang terdengar serentak.
Ya, Lord!
Gugur sudah harapanku. Gugur sudah kesempatan itu. Hari ini sudah mutlak bahwa Anis tak bisa lagi bersamaku.
Oh, takdir!
Setelah ini, kemanakah engkau akan membawaku?
Sore harinya dilanjutkan dengan acara resepsi. Aku ... dengan segenap kekuatan hati, mengusahakan hadir ditemani oleh Didi. Mau bagaimanapun aku tak mungkin bisa lari dari kenyataan pahit ini. Barangkali bisa menjadi sejarah hidup yang mungkin akan aku kisahkan kepada anak-anakku nanti.
Apa?
Anak-anak?
Anak dengan siapa?
Haha!
Aku mulai lagi ...!
Setelah bersalaman dengan kedua mempelai itu, mereka mengajakku berfoto bersama. Ditemani oleh Didi dan mamanya Anis, kupaksakan diri untuk tetap memainkan drama. Drama sok kuat yang sudah pasti membuat hatiku terbakar bara.
Itulah kali pertamanya aku berkomunikasi dengan Abdi. Walaupun hanya sekedar mengucapkan kalimat, "Selamat, semoga pernikahan kalian diberkahi."
Abdi tersenyum lebar, lalu merespon, "Terima kasih." Ia menoleh sekilas ke arah Anis, mungkin ingin bertanya kepada istrinya itu, siapakah aku sebenarnya?
Apa?
Istri?
Oh, ya, sepertinya aku kembali lupa bahwa mereka sudah sah menjadi pasangan halal, mulai hari ini. Membayangkan apa yang akan terjadi pada Anis malam ini, membuatku begitu frustrasi.
Aku tak rela!
Sungguh, aku tak rela hati. Tetapi, mau bagaimana lagi, mereka berdua sudah sah menjadi suami-istri. Jadi, tentu saja mereka berhak melakukan apa pun tanpa perlu izin dariku lagi.
Oh, tidak!
Aku sontak menuruni pelaminan, lalu bergegas menuju panggung mini di pojok kiri. Kuminta salah satu penyanyinya untuk melantunkan sebuah lagu yang mewakili isi hati. Lagu yang dipopulerkan oleh seorang penyanyi yang bernama Ridho, yang merupakan putra dari Bang Haji.
Ketika musik mulai mengalun, aku sengaja melintas di depan pelaminan. Sesuai harapanku, sepertinya pandangan Anis sedang mengekoriku dan mengerti akan tembang yang sedang dinyanyikan.
...🎶🎶🎶...
...HARUSKAH BERAKHIR...
Putik yang sedang berbunga
Harum yang sedang mewangi
Haruskah gugur ke bumi?
Hati yang sedang bahagia
Cinta yang sedang bersemi
Haruskah berakhir kini?
Baru saja kureguk, manis madu cinta
Kini harus kutelan, pahitnya juada
Oh-oh
Kalau harus berpisah mengapa berjumpa?
Awal bahagia berakhir merana
Bukan karena salahmu
Bukan karena salahku
Tetapi kita tiada berdaya
Putik yang sedang berbunga
Harum yang sedang mewangi
Haruskah gugur ke bumi?
Hati yang sedang bahagia
Cinta yang sedang bersemi
Haruskah berakhir kini?
Baru saja kureguk, manis madu cinta
Kini harus kutelan, pahitnya juada
...🎶🎶🎶...
Bersamaan dengan terkonyaknya hatiku, bait demi bait syair lagu itu juga terasa menghujam sanubari. Terlihat kuat di luar belum tentu kuat juga di dalam sini. Aku masih berusaha untuk terlihat baik-baik saja, walaupun sebenarnya aku tak tahan lagi.
...💞💞💞...
Berkumpul dengan teman-teman di lahan parkiran membuatku lebih baik dari sebelumnya.
Kalian tahu apa yang membuatku lebih baik?
Ya, minuman keras!
Tanpa berpikir lagi, kutenggak sebotol air haram itu hingga tandas. Didi yang datang terlambat, sudah tak bisa lagi menghalangiku, yang saat ini dalam mode tertindas. Tertindas oleh perasaan dan harapanku sendiri yang tak kunjung berbalas.
Dimana letaknya iman?
Sekali lagi, aku telah berbuat dosa!
Satu jam kemudian, acara resepsi pernikahan Anis dan Abdi pun selesai. Tiba-tiba, terdengar suara gaduh tidak jauh dari posisiku saat ini. Didi yang penasaran dan mendengar suara yang tidak asing lagi, lalu menghampiri mereka yang tampak sudah dikerumuni.
Dan ternyata, keributan itu terjadi antara Melly dan Dini. Entah apa penyebabnya, dua kerabat Anis itu, malah tampak beradu mulut dan salingg tuding, mencari pembenaran diri. Tak ada yang ingin mengalah di sini. Hingga akhirnya Didi membawa Dini menjauh dari Melly. Sementara aku membawa Melly untuk tetap berada di sisi. Jika dibiarkan begitu saja, aku khawatir keduanya akan cekcok kembali.
mampir juga ya/Coffee//Coffee/
. kasian deluh
GK MUNAFIK, TTP SAKIT BAYANGKN SI LKI2 YG DI KENAL MNIKMATI TUBUH WANITA YG DICINTAI, SESEK TDK JDI YG PRTAMA YG BUKA SEGEL,
MSH MNDING DGN JANDA YG GK DI KENAL,, GK KNAL JUGA DGN MNTAN SUAMINYA, INI SI HERU, DRI SMP MNCINTAI ANIS, UJUNG2 NYA DPT BEKAS, DN UDH PNY ANAK..