NovelToon NovelToon
Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa Modern
Popularitas:419.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Daffo Azhar

Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.

Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.

Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Nisa terperanjat kaget melihat jam di dinding jarumnya sudah menunjukan ke angka 7. Cahaya kuning keemasan mentari pagi menyusup masuk lewat jendela dan minumbulkan hawa hangat ke seantero kamar. Semalam dia dan suaminya pergi ke sebuah dimensi lain yang kata orang bernama surga dunia hingga tengah malam. Nisa melirik Seno sebal yang masih terlelap. “Dasar cowok! Kenapa kalian gak bosen-bosennya melakukannya setiap hari? Aargggh!” batin Nisa gemas sambil menyibakkan selimut.

Nisa bergegas ke kamar mandi. Dia harus cepat-cepat, karena jam 8 pagi ini akan ada penyambutan pemimpin barunya di kantor. Dari desas-desus yang Nisa dengar, pemimpin barunya itu masih lumayan muda, sekitar 40 tahunan, dan tahun lalu dia baru saja menyandang status duda. Istrinya meninggal karena sakit kanker payudara dan meninggalkan seorang putri.

Karyawati yang masih single di kantor menyambut dengan antusias pimpinan baru tersebut.

“Gue bakal betah nih di kantor sekarang,” ucap salah satu karyawati single bagian HRD yang tidak sengaja Nisa dengar waktu di toilet.

“Yang gue denger dari salah satu karyawan cabang Surabaya tempat beliau berdinas sebelumnya, Pak Harir itu sepintas mirip Joe Taslim, tauk. Gila gak tuh, haha.”

“Huuuaaa Ahjusi rasa Oppa, dong. Gila, besok kita punya pimpinan duda keren.”

“Gak sabar gue.”

Itulah desas-desus yang Nisa dengar di toilet. Belum di dapur, di parkiran, di divisinya juga. Semua orang di kantor heboh sama pimpinan baru. Nisa jadi penasaran sekeren apa sih dia?

Saat Nisa akan berangkat ke kantor, Seno baru bangun. “Sayang, kok enggak bangunin aku, sih?”

“Aku juga kesiangan nih, maaf ya. Kamu mau ke kantor jam berapa?”

Seno duduk di bibir tempat tidur, melirik jam dinding. “Jam sepuluhan kayaknya.”

“Aku berangkat dulu ya,” ucap Nisa berjalan ke arah pintu.

“Nis,” seru Seno sambil membentangkan tangannya minta dipeluk.

Nisa menoleh, berlari, lalu memeluk dan mengecup bibir suaminya. “Sana mandi lalu sarapan.”

Seno mengangguk, melepas istrinya pergi dengan senyum. “Hati-hati, Sayang.”

***

Saat Nisa datang ke kantor, semua orang sudah bersiap di ruang rapat, mungkin dia satu-satunya yang datang terlambat.

“Mampus gue ******!” Cepat-cepat dia mengganti sepatu tepleknya dengan sepatu hak lalu pergi ke ruang rapat untuk menyambut pimpinan baru.

Dengan hati-hati Nisa membuka pintu. Setelah pintu terbuka, semua orang di dalam menoleh padanya. Nisa meringis antara malu, takut, dan canggung. Benar saja, dirinya sudah sangat terlambat.

Seseorang yang menjadi center di ruangan itu menoleh, menatap karyawati yang terlambat itu dengan jantung berdebar. Dia bersumpah, baru kali ini melihat perempuan secantik dia. Pergerakannya tidak luput sedikit pun dari netranya. Udara seolah membeku dan waktu terhenti. Siapa dia? Siapa perempuan itu?

Perlahan sosok yang dia perhatikan itu duduk di kursi di belakang kertas bertuliskan “Ketua Tim Marketing.” Sekarang dia tahu siapa dia. Apakah dia yang bernama Danisa? Namanya selalu didengar di kantornya yang dulu, tapi dia tidak menyangka ternyata sosok itu sangat cantik. Dirinya sampai kehilangan kata-kata untuk menjabarkannya.

“Danisa Alia. Ketua Tim Marketing Vreeset Shoes,” lirihnya dalam hati. Setelah itu seulas senyum terbit di bibir tipisnya.

“Nis, elu gila apa! Masa di hari penting gini telat, sih!” bisik Nadya musuh bebuyutannya yang sekarang mulai akrab selepas dari London.

“Alarm gue gak bunyi, Nad.”

“Alesan aja lu!”

Nisa tersenyum kaku. Perhatiannya segera dia alihkan pada sosok baru di kantornya yang tengah mendengarkan sambutan dari pimpinan sebelumnya. Sebenarnya Nisa sudah sangat cocok dengan pimpinan lama, tapi apa boleh buat, rotasi mutasi dalam dunia kerja itu biasa terjadi. Nisa bersyukur dia ditempatkan di kantor pusat, Paris. Itu artinya kinerja dia bagus.

Sekarang saatnya pimpinan baru menyuarakan pidatonya. Dia berdiri dengan tegap, dan benar apa yang Nisa dengar dari desas-desus itu, Pak Harir memang benar-benar keren.

Seantero ruangan seperti tersirap oleh pancaran auranya. Semua orang tersenyum kagum pada sang pimpinan baru. Selain mempunyai tampang yang good looking, suara dia juga enak didengar. Paket komplit rasanya. Udah ganteng, kaya, bersahaja, duda pula. Pasti cewek-cewek di luaran sana antri ingin jadi istrinya, batin Nisa.

“Kenapa dia enggak jadi model aja, ya? Cocok tuh,” bisik Albert, manager dari divisi keuangan. Nisa Cuma menanggapi dengan senyum ucapan pria berkacamata itu.

Setelah dua jam, acara tersebut baru selesai. Orang-orang keluar dari ruang rapat dan kembali ke habitatnya masing-masing.

Nisa merenggangkan badannya yang pegal di kursi kebesarannya. Ah, pagi ini beneran lelah. Nisa heran sama Seno, kenapa setiap hari dia selalu minta itu? Apa dia enggak bosen, ya?

Nisa menjatukan kepalanya ke atas meja. Dia sungguh lelah, rasanya ingin istirahat sebentar saja.

“Mbak ....” Lena masuk ke ruangan Nisa sambil membawa laporan. Nisa mengangkat kepalanya.

“Ya, Len?”

“Ini laporan yang kemarin.”

“Oh.” Nisa menerima berkas-berkas dari asistennya itu.

Mata Lena mengernyit melihat wajah atasannya yang sedikit pucat. “Kenapa, Mbak? Kok, kayak yang enggak enak badan gitu?”

“Enggak, aku lagi kecapean aja.”

“Kecapean?”

“Iya.”

Lena tersenyum simpul. Rasanya dia mengerti, sebagai pengantin baru, pastinya waktu tidur malam akan sedikit tersita oleh kegiatan lain. Nisa melirik Lena dengan curiga melihat gadis hitam manis itu senyum-senyum.

“Kenapa kamu?”

Lena mengerjap. “Eh, enggak, Mbak. Ya udah, aku permisi dulu. Lena cepat-cepat pergi, tapi ketika dia di ambang pintu, Nisa memanggilnya.

“Lena ....”

“Iya, Mbak?”

“Entar sore kamu kerja luar sama Deni ya, jangan lupa minta data reture sama Mas Riki.”

“Siap.”

Selepas Lena pergi, ponsel Nisa di tas berbunyi. Dua pesan WA dari suaminya yang berisikan foto tiket pesawat ke Manchester sudah dibeli. Senyum lebar langsung mengembang di bibir Nisa.

[Sudah dapet tiketnya, Sen?]

[Sudah. Tar siang makan siang sama aku, yuk?]

[Oke. Kamu jemput aku ke sini, ya?]

[Siap laksanakan. Love you Danisa Alia binti Dodi Heryawan.]

Nisa terkikik-kikik geli membaca balasan Seno. ‘Nduuut, elo beneran udah bikin gue jatuh cinta sampe rasanya hati ini mau meledak! Dasar playboy cap paus gila!’

***

“Dasar pengantin baru! Ke mana-mana berdua mulu.” Suara bar-bar yang sangat dikenal Nisa dan Seno terdengar dari kejauhan. Sebagian pengunjung kedai sate itu menoleh ke arah suara.

Terlihat di pintu masuk, si pemilik suara bar-bar itu berdiri sambil melipatkan tangan di dada.

“Laaaa ....” Nisa berseru. Lala menghampiri Nisa dan Seno setelah pesan makanan.

“Kalian makan siang di sini? Jauh amat.” Lala duduk di depan Nisa.

“Tauk, nih, temen lo tuh, tiba-tiba pengen makan sate di sini,” tutur Seno.

“Hihihi, ini rekomendasi anak-anak kantor. Penasaran gue. Dan ternyata enggak mengecewakan.”

Lala mengernyitkan dahi. “Lo jangan-jangan ngidam, Nis.”

Nisa melotot. “Kagak! Ngaco, belum juga sebulan nikah.”

“Eh, bisa aja tauk!”

“Enggak, ah. Gue belum siap jadi ibu sekarang.”

Seno langsung melirik Nisa, tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Nisa belum siap jadi ibu? Sedangkan dia sendiri sangat mendamba hadirnya buah hati. Selain itu ibunya pun menginginkan anak darinya.

“Seru tau jadi ibu,” cetus Lala.

“Oh, iya, apa kabar ponakan gue?” tanya Nisa.

“Dia lagi belajar ngoceh, ngomongnya masih pake bahasa planet Mars. Kalau gue atau Brian enggak ngerti dia ngamuk-ngamuk,” terang Lala sambil terkekeh.

“Seru banget kayaknya,” cetus Seno.

“Setelah punya anak, pandangan kita tentang kehidupan ini pasti berubah. Setiap yang lo lakuin pasti berpikir apa yang terbaik buat anak. Dan saat di kantor pun pasti pengen cepet-cepet pulang. Kayak gue sekarang. Jujur aja, kebersamaan gue sama anak dikit banget. Dia lebih sering sama Brian dan neneknya, tapi mau gimana lagi. Mungkin kalau gue hamil lagi, gue mau mutusin resign aja, gue mau fokus sama anak.”

Nisa tercenung. Ucapan Lala adalah masalah klasik untuk seorang ibu yang bekerja. Sepertinya lambat laun Nisa pun akan mengalami hal yang sama.

“Kalau elo gimana, Nis?”

“Gimana apanya?”

“Ya, kalau udah punya anak. Lo mau terus kerja apa cabut?”

“Mmm.” Nisa memainkan sendok sambil berpikir. Sementara Seno menunggu jawaban dengan tegang, sampai-sampai dia menahan napas.

“Kayaknya gue juga bakal sama kayak lo, La.”

“Resign?”

“Iya. Gue enggak mau entar anak gue malah lengket sama pengasuhnya. Sedih banget gak, sih? Kita yang udah capek-capek hamil, sakit juga waktu lahirin dia, eh pas udah berojol dia malah maunya ama pengasuh.”

Diam-diam Seno menghela napas lega. Itulah yang dia harapkan.

“Eh, La. Gue tuh mau ngomong sesuatu sama lo dari kemarin tapi lupa mulu, beruntung sekarang gue ketemu elo di sini.” tutur Seno.

“Ngomong apaan? Ah, gue curiga nih, pasti lo lagi ada maunya.”

“Tau aje.” Seno terkekeh.

“Hadeuh.”

“Gini, La, dua target cast buat iklan gue ternyata enggak bisa, lo punya kenalan artis yang kira-kira bisa gue ajak kerja sama gak?”

“Lo berdua tuh, ya, apa jadinya kalau kalian gak punya temen kek gue gini. Dulu bininya sekarang lakinya yang minta artis.”

Nisa dan Seno tertawa. “I love you, Syahla,” seru Nisa dan Seno kompak.

“Diem!”

“Gimana, La? Ada kagak?”

“Tunggu dulu, buat iklan apaan, nih?”

“Minyak kayu putih yang varian baru.”

“Oh, yang ada wangi-wanginya gitu, ya?”

“Pinter. Gue butuh cast cewek yang__seumuran kita ginilah, yang cocok jadi ibu muda. Cast anaknya juga gue belum dapet, nih. Bos North Oil itu ngeburu-buru mulu.”

“Gue mau cariin lo artis, tapi dengan satu syarat.”

“Apaan?”

“Cast anaknya, Liana aja gimana?”

“Ide bagus! Liana cocok banget.”

Nisa mengernyit. “La, jangan sampe lo mengeksploitasi anak lo ya!”

“Kagak! Ih, elo mah gitu ngomongnya. Gue Cuma ngambil kesempatan di depan mata aja. Hehe.”

“Deal ya, La. Anak lo yang jadi castnya. Tapi ngomong-ngomong entar Brian setuju gak?”

“Setuju aja dia mah. Malah mertua gue pernah bilang gini, Liana kalau udah besar nanti jadi artis aja, biar Mama yang jadi Produsernya, gitu coba. Hahaha. Dikata gue mau jadi Produser selamanya.”

“Terus siapa artis yang mau jadi ibunya Liana?”

“Babe Cabita, hehe.”

“Hah?” Nisa dan Seno melohok bersamaan.

“Canda, hehe. Syahnaz Sadiqah, cocok tuh, dia kan baru lahiran juga. Dan kemarin managernya ngehubungin gue, dia enggak mau ngambil job sinetron dulu, tapi kalau iklan, mau dia.”

Wajah Seno langsung semringah. “Thanks banget, La. Ah, lega sekarang gue. Tapi elo kontak dulu managernya, ya. Entar terusin ke gue.”

“Siap.” Lala menengok ke depan. “Eh, pesenan gue udah kayaknya, gue cabut dulu ya. Entar lo ke rumah deh, biar bisa ngobrol sama Brian juga.”

“Oke, nanti gue ke rumah besok-besoklah, minggu depan gue mau ke Manchester dulu, habis itu ke Swiss empat atau lima harianlah,” tutur Seno.

Nisa menoleh pada Seno tidak percaya. Dia tidak percaya Seno mengatakan soal ke Swiss juga sama Lala.

“Widih. Kalau ke Manchester gue tau elo mau wisuda, tapi kalau ke Swiss ngapain?”

“Honney moon lah, ngapain lagi,” cetus Seno. Nisa melototi Seno, tapi dengan bibir mengulum senyum malu-malu.

“Cieeee, kerenlah, kalian itu emang udah jalannya mengahancurkan satu sama lain. Haha.”

“Sialan!”

“Gue seneng, dua sahabat gue bisa jalan bareng sejauh ini. Gue jadi inget masa-masa miskin kita waktu di Singapore, haha. Have fun, guys. Kapan-kapan ajak gue ke Manchester dong.” Lala mengedip-ngedipkan mata.

“Siap. Sediain aja budget yang banyak. Hahaha.”

“Gue maunya gratis,” seloroh Lala.

“Jiwa miskin lo gak ilang-ilang juga.”

“Biarin, we! Ya udah deh, gue cabut dulu. Pokoknya kalian gue tunggu di rumah. Daaah.”

***

1
Sherly Nafik
kalau ceritanya makk daffoo jann gak pernah gagal tp paling gk bisa move on dari hapdag
Mion Ming
baru kali ini baca novel seru abis, bikin nyesek sampe aku dikira tetangga lagi brantem ma paksu karena tiba2 keluar rumah dengan mata bengkak gitu😭
Efvi Ulyaniek
jgn"Andi yg kepo dg mengabaikan lwt hp..calon pebinor nih
Efvi Ulyaniek
waduh knp ga jujur sihbaang seeno....bs runyam nih...
Efvi Ulyaniek
Andi ada rasa sama U nis ga peka"
Efvi Ulyaniek
wkwkwkkwkw...apes no..Seno...harus puasa seminggu 😀😀😀
Efvi Ulyaniek
mbok ya ga usah nikah ko Viko..buat anak orang jd janda aja 😀😀maksa lho KD penghalang cinta Nisa sama Seno aja..ujung"nya meninggong
Efvi Ulyaniek
Viko egois sdh tau si Nisa suka Seno msh aja mau dinikahi
Daffo Azhar
hai, apa kabar pembaca Senopati, masih ada kah yang stay?
tyas: ga bisa di buka ya?
total 2 replies
Rena
keren banget
sumpah
lanjutt thorr
Dewi Suherman
tengkyuuu thor
Dewi Suherman
tak ada persahabatan antara ce dan co, pasti ujung2nya ada cemburuuuuuu. pasti jadi cinta
Yetty widya
critanya ngegantung thor.. blm selesai
Daffodil Koltim
bru baca,siap2 marathon,,,,
augst
maaf ini penulisnya msh sehat kan ya?...crtnya bgs2 tp g ad yg slesai dn itu udh lma bgt?
augst
keren
augst
sran asih tor dr bbrpa nvelnya ni kok upny lma knapa sbnrnya bgus crtanya bg pmbca ngsih hdiah vite akan smkn malas klo upnya ad lama bgt
augst
beh
augst
egois g sih viko...
augst
yg parut disalahkan smua ini adalah gita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!