kisah ini bercerita tentang Nindy Nugraha Pale, seorang dosen muda nan cantik jelita yang terpaksa menikahi pelajar SMA dari kelas homogen.
Awalnya mereka berdua sangat menolak, namun pernikahan itu tetap saja berlangsung karena desakan keluarga dan orang-orang sekitar yang main hakim sendiri.
Bagaimana kehidupan mereka setelah menikah? Akankah pernikahan mereka bertahan? Yuk simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azya Tanre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dress Merah Jambu
“Aku sakit perut, mari kita pulang,”
“Dasar bodoh, kenapa tidak pernah jujur dengan perasaan sendiri,”
Darco menjitak kening Nindy yang menurutnya seperti gadis menyedihkan, lalu menyerahkan paper bag ke tangannya. Nindy terkejut saat membukanya, sehelai Dress merah jambu dihiasi pita di bagian depan.
Nindy mengangkat kepalanya menatap Darco heran sambil terus menyentuh dahinya yang sedikit sakit.
“Ganti pakaian Ibu sekarang, aku tunggu dalam waktu 10 menit, jika tidak aku akan masuk menyusul ibu,”
Nindy tersenyum menatap wajah laki-laki dihadapannya, laki-laki yang berbicara seakan-akan dirinya lebih tua.
“Terimakasih sudah menyelamatkanku,” kata Nindy terus tersenyum kemudian dengan cepat memeluk Darco, lalu berbalik badan masuk kembali ke toilet.
Darco yang mendapat perlakuan itu diam seperti patung, Ia beranjak pergi ketika seorang kakek tua memarahinya karena berdiri terlalu dekat dengan toilet wanita.
“Sepertinya aku harus sering memberikan hadiah mulai saat ini,”
Tepat 10 menit setelah itu, Nindy keluar dari toilet menyusul Darco yang berdiri sedikit membungkuk memandang ke lantai 2 dengan Kedua tangannya memegang pagar pembatas.
“Apa kita akan seharian di sini?” tanya Nindy melihat Darco melamun.
“Ya,”
Darco tidak melanjutkan kalimatnya, ia tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. Dress merah jambu itu berhasil membuat wanitanya terlihat lebih ayu dan sangat cocok untuk Nindy yang berkulit putih. Ia terlihat seperti gadis belasan tahun, rambut terurai dengan bandana warna hitam membuat penampilannya semakin sempurna.
“Hallo, kamu kenapa?” tanya Nindy heran karena Darco tidak berhenti memperhatikannya.
“Oh, aku merasa didatangi Bidadari, ibu sangat cantik memakai dress ini,”
kali ini Darco benar-benar memuji Nindy dari hatinya. Pandangan mereka baradu, entah kenapa kata-kata itu membuat Nindy tenggelam di bola mata Darco.
“Terima kasih,” kata Nindy dalam hati.
“Kamu mulai lupa kalau aku memang sudah Cantik dari lahir,” Nindy mengalihkan wajahnya dari incaran Darco.
“Ayo kita pergi dari sini,”
Darco meraih tangan Nindy, namun istri yang dia anggap pacar itu berusaha menghindar. Darco yang tidak terima menatap tajam Nindy.
“Kenapa Ibu menolak? Apa setelah berpakaian seperti ini ibu jadi malu berdampingan denganku?” ketus Darco.
“Bu-bukan, Aku tidak mau jika ada yang melihat kita, apalagi Anjas dan Reta juga sedang di sini,” Nindy mencoba meyakinkan Darco.
“Aku tidak peduli,"
Darco kembali meraih tangan Nindy dan menggenggamnya dengan erat. Ia tidak menghiraukan Nindy yang terus berusaha melepaskannya, bahkan saat di eskalator pun Darco tidak membiarkan tangan Nindy bebas.
“Lebih baik mengalah dari pada ribut di tengah keramaian ini, toh aku tidak bisa berontak karena tangannya seperti baja mengunci jari-jariku,” Nindy membalas genggaman tangan suaminya. Darco menatapnya dengan senyuman.
“Tunggu, bukankah kamu ingin menonton?” Nindy tiba-tiba ingat film baru yang dengan semangatnya diceritakan Darco sebelum mereka berangkat.
“Tidak, karena kita adalah pemeran utamanya sekarang,” balas Darco.
Kata-kata Darco kembali membuat Nindy terdiam beberapa saat.
“Anak nakal,”
Darco membawa Nindy ke sebuah wahana permainan yang berada tidak jauh dari pusat Kota, ia senang karena Nindy mulai menikmati perjalanannya dan tidak lagi memasang wajah cemberut dihadapannya.
Kemudian ia menatap sekilas dress yang dipakai Nindy.
“Kamu berhasil merubah suasana hatinya,”
Nindy menjadi salah tingkah karena terus diperhatikan oleh Darco.
“Aku dengan terpaksa memakai dress anak remaja ini,”
“Berhenti menatapku, Aku tidak mau kita berakhir di rumah sakit,” Kata Nindy menatap Darco yang tidak fokus mengendarai mobilnya.
“Aku hanya memuji diriku sendiri karena berhasil memilih pakaian yang pas untuk ibu,”
“Lebih cocok dipakai adikku, eh, kenapa kamu berhenti? Kita mau ke mana?”
“Ayo turun,”
Nindy keluar dari mobil, ia tidak menyangka Darco membawanya ke wahana permainan. Ia tersenyum bahagia karena sudah lama sekali tidak meluangkan waktu untuk mengunjungi tempat favoritnya.
Darco tidak menyangka Nindy begitu senang mengunjungi wahana itu,
“Ibu seperti anak desa yang baru pertama kali ke kota,”
“Aku sering mengunjungi tempat seperti ini bersama ayah dan ibu,”
“Oh ya, kalau begitu ayo kita menikmatinya,”
“Ok,”
Nindy bergegas menuju permainan kesukaannya, kali ini ia yang menarik tangan Darco. Nindy memilih naik Rolling coaster. Ia tidak menghiraukan Darco yang melarangnya, dan beberapa orang memperhatikan mereka yang terus berdebat.
“Jika kamu tidak mau, akan naik sendiri,” Nindy berjalan cepat menuju permainan itu, membuat Darco dengan terpaksa mengikuti kemauan istrinya.
Saat Rolling coaster mulai berputar, Darco mengencangkan pegangan tangannya, kepanikan terlihat jelas di wajahnya. Ia berusaha menenangkan diri dengan menggerak-gerakkan kakinya. Berbeda dengan Nindy, ia sangat menikmatinya, bahkan berteriak sekencang-kencangnya seakan tidak ada beban. Nindy membentangkan kedua tangannya, semakin lama ia semakin mengencangkan suaranya.
Nindy mulai berhenti berteriak ketika Rolling coaster-nya sudah berhenti berputar, ia merasa belum puas, kerinduannya belum terobati. Nindy mengajak Darco untuk bermain kembali, namun Darco dengan tegas menolak, Ia punya rencana lain yang hendak ditunjukkan kepada Nindy.
“Tidak, ini sudah cukup, ayo kita turun,” Darco meraih tangan Nindy.
“Ya sudah, malas berdebat denganmu,”
Nindy merasa tidak bisa membantah jika Darco sudah memegang erat tangannya, percuma saja.
“Ayo kita kearah sana,” Darco menunjuk sebuah kursi kosong yang sedikit jauh dari kerumunan.
Darco melepaskan tangan Nindy lalu duduk di kursi kayu itu, ia mengambil handphone nya dan mengirim pesan ke seseorang.
“Lakukan sekarang sesuai perintahku, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku,”
Nindy kemudian duduk di samping Darco,
“Apa yang akan kita lakukan disini,” tanya Nindy heran karena tidak ada hal menarik di sekitarnya.
“Tunggu sebentar dong sayang, lihatlah, aku jadi mual mengikuti permainannya,”
“Sayang? Kamu memanggilku sayang? Dasar anak nakal!” Nindy mencubit telinga Darco yang masih sibuk dengan telepon genggamnya.
“Panggil aku sayang dari sekarang, itulah yang dilakukan oleh orang yang berpacaran,” goda Darco.
Ia meras tidak nyaman lagi memanggil Nindy dengan kata ‘Ibu’.
“Aku tidak mau, sudah terlalu banyak drama di antara kita,”
Tidak lama kemudian ponsel Nindy berdering, ia terdiam menatap layar handphone-nya, merasa tidak percaya dengan nama yang tertulis di layar itu. Nama yang sudah berbulan-bulan tidak menghubunginya, orang yang namanya terus ia sebut dalam doa dan telah membuatnya sering menangis.
“Kenapa tidak di angkat?” kata Darco singkat. Didalam hatinya ia bersyukur karena bu Jeni menuruti kemauannya.
“Ibu menghubungiku, apa ini benar-benar ibu?” tanpa disadari Nindy meneteskan air mata, namun sambungan terputus ketika tombol terima panggilan hendak di tekan Nindy.
Seketika Handphone Nindy kembali berdering, ia sedikit gugup menerimanya. ia merasa sedang mimpi melihat wajah ibunya lewat video Call.
"I-ibu," Kata Nindy dengan suara bergetar.
BAGI YANG MAU BACA, MENDING JANGAN NOVELNYA GAK ADA LANJUTANNYA.
Makin penasaran...
Nungguin NindyDarco bucin..😍
Semangat Up-nya Kak...
duuhh mkin ruwet...