Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DELAPANBELAS
"Ehmm, gue ada kelas pagi. Gue siap-siap dulu".
Arun langsung masuk ke dalam kamarnya. Enggan menjawab maupun menanggapi pertanyaan Ilham yang memang benar adanya. Akan kacau jika nanti Ilham tahu kebenarannya dan memberitahukan pada papanya.
"Gue? Lo berdua ngomong pake lo-gue?" Pertanyaan kembali terlontar dari mulur Ilham.
Bio yang sudah mulai terserang langsung bangun dari kursinya, "mending lo pergi deh bang, ke vila atau kemana kek!" usir Bio.
"Jawab gue dulu, baru gue mau pergi dari sini".
"Lo mau aduin sama bokap?" tanya Bio dengan wajah seriusnya.
"Tergantung".
Bio menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut. Bio percaya jika Ilham bukan tipe orang yang akan mengadu domba namun entah mengapa terasa sulit bagi Bio untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya.
"Gue sama Arun, belum bisa kalo harus sama-sama bang. Benar, kita berdua pisah kamar dan panggilan kita orang satu sama lain itu Lo-Gue" Bio memberiakan jawaban bahwa semua perkataan dan pertanyaan Ilham adalah benar itu yang terjadi.
Ilham tidak langsung menyalah mereka berdua atas apa yang terjadi saat ini. Bagaimanapun juga pasti akan berat, Ilham mengandaikan posisinya yang ada di Bio saat ini mungkin akan melakukan hal yang sama.
"Gue gak akan bilang sama papa soal ini, tapi satu hal gue minta sama lo" ujar Ilham sambil menjeda perkataannya.
Bio menatap dengan serius apa yang akan menjadi permintaan Ilham kali ini, "lo tetap harus punya tanggung jawab atas Arun, mau gimanapun lo tetap suaminya menurut status. Papa ngelakuin ini pasti ada tujuannya" ujar Ilham.
Bio menganggukan kepala, "ya jelas lah tujuannya buang gue dari keluarga!".
"Enggak lo salah, semenjak gak ada lo di rumah. Sekarang gue yang kena kultum papa" keluh Ilham dengan wajah lesu.
Bio tersenyum, akhirnya dia mendengar keluhan dari kakaknya. Memang selama ini kesalahan seolah nampak pada Bio apapun itu. Padahal jika dilihat lagi kesalahan Ilham lah yang sebenarnya yang harus tepat mendapatka ocehan dari Broto. Namun saat ada Bio, Ilham masih bisa menghindar namun sekarang terkuaklah semua sifat asli dari Ilham.
Ilham mengambil satu roti dari piring dan langsung melapnya, "gue ke Vila dulu" pamit Ilham sambil berjalan keluar dari rumah Bio.
"Okehh, hati-hati" balas Bio.
Setelah kepergian Ilham, Bio kembali menarik kursi untuk duduk sambil menikmati roti yang masih hangat tersebut.
Krek!
Pintu kamar Arun terbuka, anehnya hanya kepala Arun yang nongol dari celah pintu tersebut, "lo ngapain?" tanya Bio sambil mengunyah roti di dalam mulutnya.
"Bang Ilham .. udah pulang?" tanya Arun ragu-ragu.
"Udah, dia ke Vila. Lo mending pake baju dulu deh" ujar Bio.
"Heh! Sembarangan. Gue tu udah rapi tau. Nih!" Arun membuka seluruh pintu kamarnya dan menampilkan dirinya yang sudah siap untuk pergi ke kampus.
Arun menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju meja makan, "ya lo lagian pake acara celingak-celinguk, nutupin badan pake pintu ngapain coba." gerutu Bio.
"Ya kalo masih ada kan gue gak keluar dulu. Males gue jawab pertanyaannya takut salah ngomong" jelas Arun sambil mengambil roti yang belum sempat ia makan tadi.
"Tinggal diemin aja gak usah di tanggapin".
"Gak enak lah! Gila lo".
Arun dengan lahap dan pipi mengembung memakan roti tersebut. Bio yang melihat hanya menyunggingkan bibirnya, tersenyum namun sangat tipis.
"Lo ada kelas jam berapa?" tanya Bio.
Arun melihat jam ditangannya, "jam sembilanan lah".
Bio ikut mengecek jam di ponselnya, "ini baru jam delapan lewat dikit. Ya udah lo tungguin gue siap-siap" ujar Bio.
"Ihh, gak lah. Nanti gue telat, lo kira jarak dari sini ke kampus bentar, ya walaupun gue pake motor tetap aja gak secepat itu" oceh Arun.
Bio menatap Arun dengan dahi berkerut, "makanya dengerin gue sampe selesai dulu! Ngegas aja lo. Hari ini ke kampus gue yang nganterin" ujar Bio.
Arun terdiam dengan wajah cengo nya, "hah? Sakit lo?" tanya Arun.
"Lo yang sakit!".
Arun memutar bola matanya dengan malas, "gak usah gue udah nyaman bawa motor sendiri. Lo gak perlu repot-repot" tolak Arun.
"Sebenarnya sih gue ogah, tapi lo kan baru sembuh. Nah timbang nanti ngerepotin gue lebih banyak lagi, mending gue repot sedikit dengan nganter lo ke kampus. Cuma hari ini aja" ujar Bio penuh penekanan.
"Iya-iya udah sana cepetan, keburu jam sembilan" usir Arun agar Bio segera pergi bersiap-siap.
Setelah kepergian Bio, Arun langsung membuka ponselnya. Beberapa pesan masuk, yang pasti pesan grup angkatan yang sangat ramai, terkadang ingin rasanya Arun keluar namun tidak mungkin dia keluar begitu saja bisa-bisa akan semakin tambah masalah nantinya.
Ting!
Satu pesan masuk, Arun tidak berniat membukanya. Alhasil Arun hanya membaca pesan tersebut melalui notifikasi.
...Akbar ...
^^^Kosan kamu daerah mana?^^^
^^^Aku jemput ya, sekalian biar aku tahu.^^^
^^^Shareloc aja, Run.^^^
"Mampus!" Arun menepuk pelan dahinya. Arun langsung meletakan ponselnya di meja begitu saja karena tidak mungkin Arun akan memberikan lokasinya yang merupakan kediaman Bio pada Akbar.
Lama berpikir membuat Arun tidak sadar kalau Bio sudah berada di hadapannya dengan style santainya. Memang style seperti apa yang kalian harapkan? Dia di cafe cuy, masa iya mau pake jas.
"WOI!"
Bruk!
"Ihhh, lo ngagetin aja sih!" protes Arun pada Bio sambil mengelus-elus lututnya yang berada di bawah meja.
Bio terkejut saat melihat meja tersebut bergetar karena terkena kaki Arun langsung memeganginya, "eh, lo juga sih di panggil-panggil diem aja" ujar Bio berusaha membela diri.
"Ishh, ya tapikan bisa gak ngagetin".
Bio hanya bisa meringis saat Arun bangun dari duduknya dan mengecek keadaan lututnya, "berdarah gak?" tanya Bio merasa bersalah.
"Gak!".
"Sorry, iya gue salah" ujar Bio dengan pelan merasa kasihan melihat Arun yang meringis.
"Udah lah! Ayok cepetan. Telat gue nanti" ujar Arun sambil mengambil ponselnya dan di masukan kedalam tas lalu menyampirkannya di bahu sebelah kiri.
Bio menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berjalan mengikuti langkah kaki Arun.
"Dia yang salah tetap aja gue!" Batin Bio.
Namun, Bio hanya melihat sekilas ke arah lutut Arun. Tidak berdarah memang hanya merah akibat benturan tersebut terlihat jelas.
Setelah turun dari mobil Bio, Arun berjalan dengan cepat dengan sesekali melihat ke arah kanan dan Kiri. Pernikahan ini memang jatuhnya seperti beban, pernikahan yang tidak ingin diketahui oleh semua orang.
Namun saat ini, dalam pikiran Arun masih tentang bagaimana caranya untuk memberikan alasan jika nanti bertemu dengan Akbar.
"Arun?" panggil Akbar mampu membuat tubuh Arun menegang dan berhenti seketika.
Arun sampai tidak bisa melihat ke arah Akbar. Alasan yang coba dibuat diotaknya baru terkumpul beberapa kata. Namun suara derap langkah kaki Akbar makin mendekatinya, tangan Arun terkepal seolah menyalurkan rasa takunya akan sesuatu akan diketahui.
"Run?" panggil Akbar kembali tepat disampingnya.
Arun berbalik perlahan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Akbar, "oii, hay" sapa Arun yang dibalas dengan kerutan dahi oleh Akbar.
"Basa-basi banget Run".
Arun tersenyum canggung berharap masuk kelas saat ini namun masih ada sekitar sepuluh menit untuk itu, "ARUNNNNNNN?" teriak seseorang.
Arun langsung melihat kearah depan kembali dan terlihat Tia sedang berlari menghampirinya.
"Lo penyelamat gue!" jerit batin Arun.
Tbc.