NovelToon NovelToon
My Sweet Love

My Sweet Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Romansa-Tata susila / Tamat
Popularitas:15.1M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Membaca novel ini bisa menyebabkan baper akut, kesel, geregetan, emosi tingkat tinggi, juga sedih karena mengandung banyak bawang yang juga bikin nyesek. Yang lemah hati lebih baik menyingkir. Takutnya nggak akan kuat. Tapi semua akan edan pada waktunya, eh salah, maksudnya akan manis pada waktunya. Jadi, bijaklah dalam memilih bacaan.

Ini adalah season kedua dari novel 'SUGAR'. Kini cerita beralih pada keturunan mereka, Dygta Hanindiita.

Dygta berusaha keras meredam perasaannya kepada Arfan, asisten dari ayah, sambungnya, sekaligus sahabat ibunya.

Usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat segalanya terasa semakin sulit. Terlebih lagi, status Arfan yang sudah beristri dan memiliki satu anak balita.

Namun tugas Arfan yang diberi tanggung jawab penuh oleh Satria untuk menjaga Dygta hingga gadis itu beranjak dewasa, membuat mereka berdua semakin dekat.
Keadaan istrinya yang koma pun menambah segalanya menjadi semakin rumit.

"Jangan gila Arfan! dia sudah seperti anakmu sendiri!"

follow author di
ig @tiyanapratama
fb FitTri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Dimitri

*

*

Dygta tengah menuruni tangga ketika Dimitri, dengan tergesanya berlari dari lantai atas melewatinya. Tanpa sengaja menyenggol kakak perempuannya itu yang masih dalam keadaan pincang karena cedera di kaki akibat terbentur saat terbawa arus sungai beberapa hari yang lalu.

"Dim!" Dygta berteriak, dia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, lalu limbung. Dygta hampir saja terguling di tangga saat sepasang tangan menangkapnya dengan sigap.

"Hati-hati Dim! jangan berlari di tangga, berbahaya!" Arfan berujar. Dia baru saja masuk kedalam rumah Satria saat melihat dua anak atasannya tersebut berada di tangga. Lalu berlari kala melihat Dygta yang hampir terjatuh.

"Maaf, aku udah telat sarapan om. Nanti mama ngomel." jawab Dimitri, dengan santai lalu kembali berlari menuju ruang makan.

Lalu dia beralih pada gadis yang ada dalam pelukannya.

Mereka tertegun dengan pandangan saling beradu untuk beberapa saat. Hingga kegaduhan yang berasal dari dua anak kembar Satria yang berebut mainan sambil berlarian menyadarkan keduanya.

Dygta menarik diri, berusaha melepaskan tubuhnnya dari dekapan Arfan. Mereka saling menjauh. Dan seketika keadaan menjadi canggung.

"Kamu belum mulai sekolah lagi!?" Arfan memecah keheningan, menatap gadis itu yang belum berseragam sepergi biasanya.

Dygta menggeleng pelan.

"Masih sakit?" tanya Arfan.

"Sedikit." jawab Dygta, pelan.

Lalu mereka kembali terdiam.

"Ah, kamu sudah datang? Dimitri bangun kesiangan, sementara Dygta sepertinya belum bisa pergi sekolah. Setidaknya sampai akhir pekan ini. Aku sudah mengabari wali kelasnya tadi." Sofia yang muncul dari ruang makan untuk memeriksa keadaan anak gadisnya yang tak kunjung datang untuk sarapan.

Arfan hanya mengangguk.

"Kamu mau ikut sarapan juga?" Sofia menawarkan.

"Tidak, terimakasih. Aku sudah sarapan dirumah dengan Ara." tolak Arfan.

"Baiklah. Ayo kak, cepat kita sarapan." ajak Sofia kepada Dygta.

"Iya, ma." jawab Dygta.

Sofia mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berjalan. Namun suara dua putra kembarnya yang memanggil membuat dia mengurungkan niatnya.

"Ish, ...Arfan, bisakah kamu membantu Dygta mengantarkannya kesini?" pinta Sofia, yang langsung dijawab pria di depannya dengan anggukan.

"Ayo, ..." Arfan mengulurkan tangannya.

Dygta membatu, dia menatap tangan pria itu untuk beberapa saat, lalu beralih menyusuri wajah tegasnya yang dihiasi sedikit senyuman.

Oh, om Arfan! jangan membuatku jadi semakin gila! Tidak tahukah kamu sekarang ini aku sedang tersiksa setengah mati? jangan menambahnya menjadi lebih parah lagi. Batin Dygta.

Dan kegilaan itu memang benar adanya. Ketika hatinya yang mengatakan tidak, dan otaknya menolak, namun tubuhnya bertindak diluar perintah otak dan hatinya. Dygta meraih tangan itu, yang kemudian menuntunnya dengan perlahan menuju ruang makan. Menggenggam jemarinya dengan begitu erat seolah dia adalah benda paling berharga di dunia.

Arfan menarik kursi, lalu membiarkan gadis itu untuk duduk disana, dengan tangan kecilnya yang masih dia genggam erat.

"Ikutlah sarapan." suara Satria membuyarkan lamunan mereka berdua.

"Terimakasih, pak. Saya sudah sarapan dirumah." tolak Arfan, seraya melepaskan genggaman tangannya.

"Aku udah, ...ayo om kita berangkat!" Dimitri yang telah selesai dengan sarapannya, lalu bangkit dan meraih tas di kursi lainnya.

Bocah tampan itu berhenti ketika melewati kakak perempuannya yang baru saja akan memulai sarapannya.

"Kak, kapan kita beli sepatunya? minggu depan aku ada pertandingan lagi lho." katanya, kepada Dygta.

"Sepatu apa? bukannya udah mama beliin ya waktu itu?" jawab Dygta, dengan kedua alis yng bertautan.

"Itu sih beda. Kan kakak yang janji mau beliin aku sepatu." Dimitri melirik sekilas ke arah Arfan yang berada diambang pintu.

"Ish, ...masih inget aja?" Dygta menggerutu.

"Inget dong, foto di hape kakak aja aku masih ingat." Dimitri berbisik.

Dygta terbatuk, dan dia hampir menyemburkan makanan yang tengah dikunyahnya.

Dimitri menyeringai.

"Ayo Dim, kita hampir kesiangan." Arfan kembali kedalam rumah.

"Oke om, ..." bocah itu mengangkat kedua alisnya secara bersamaan sambil mengulum senyum, namun terlihat bagai sebuah ancaman bagi Dygta.

"Iya iya, nanti kalau kakak sudah sembuh kita beli." akhirnya gadis itu menyerah demi mengamankan rahasianya.

"Siap kak. Aku tagih lagi nanti." Dimitri mengacungkan kedua jempolnya ke arah Dygta.

Gadis itu hanya menggelengkan kepala sambil memutar bola matanya, sebal.

"Dim?" Sofia memanggil ketika anak laki-lakinya itu hampir meninggalkan ruang makan.

"Ya ma?" Dimitri berhenti, lalu menoleh.

"Belum salam." Sofia mengingatkan.

"Astaga! Dim lupa." bocah itu menepuk keningnya, lalu segera berlari menghampiri kedua orang tuanya, kemudian menciumi tangan keduanya secara bergantian.

"Papi nanti pulang cepet nggak?" tanya Dimitri kepada Satria.

"Belum tahu, kenapa?" Satria menghentikan kegiatannya.

"Nggak ada apa-apa. Cuma mau ngobrol." Dimitri seraya melirik ke arah Dygta yang menyimak percakapan mereka dengan serius. Kemudian wajahnya memucat seketika.

"Ngobrol apa?" Satria menjengit.

"Ng... nanti deh kalau papi udah pulang. Sekarang aku berangkat dulu." Dimitri kembali berlari ke arah luar, mengikuti Arfan yang sudah menghampiri mobilnya dihalaman rumah.

***

Arfan memacu kendaraannya dalam kecepatan sedang. Lalu lintas pagi itu sudah cukup ramai. Sesekali mereka berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah.

Dan seperti biasa, pejalanan pagi itu terasa ramai. Dimitri selalu membicarakan banyak hal. Bocah itu selalu punya banyak topik untuk dibicarakan, yang selalu ditanggapi oleh Arfan dengan antusias.

"Kamu tahu Dim, tidak baik selalu mengancam san melakukan pemerasan kepada kakakmu." Arfan tiba-tiba ingat percakapan antara Dimitri dan kakaknya yang dia simak beberapa saat yang lalu.

"Aku nggak pernah mengancam, apalagi memeras kakak." Dimitri menjawab.

"Apa kamu pikir yang kamu lakukan tadi itu bukan pemerasan?" Arfan mengingatkan kejadian dirumah tadi.

"Yang mana?"

"Waktu kamu meminta kakakmu membelikan sepatu."

"Ih, om salah denger. Itu kan kakak sendiri yang janji. Aku cuma ngingetin. Soalnya, kayaknya kakak lupa kalau dia udah janji mau beliin aku sepatu bola." Dimitri menjelaskan.

"Memangnya kapan kakakmu janji?" tanya Arfan, yang membelokkan mobilnya memasuki area sekolah.

"Waktu itu, kakak janji mau beliin aku sepatu kalau aku nggak bilang sama om soal..." Dimitri langsung menutup mulut demgan tangannya.

"Apa?" Arfan menghentikan laju mobilnya tepat di depan sekolah."

Dimitri menggelengkan kepala.

"Kenapa Dim?"

"Aku udah janji sama kakak nggak akan bilang sama om. Tapi om bikin aku hampir melanggar janji." ucap anak itu dengan ekspresi terkejut sekaligus menyesal.

"Janji apa?" tanya Arfan lagi, dia penasaran.

Dimitri kembali menggelengkan kepala.

"Ayolah, katakan." Arfan mulai penasaran.

"Nggak mau. Nanti kakak nggak jadi beliin aku sepatu."

"Kakakmu tidak akan tahu. Katakan lah!"

"Ng... " Dimitri tertegun, dia berpikir keras.

"Ayo katakan soal apa?"

"Tapi aku udah janji sama kakak nggak akan bilang sama om." jelas bocah itu.

"Iya soal apa?" Arfan mengulang pertanyaan.

"Soal ...

"Apa?"

"Soal itu... Mmm.... soal... foto di hape kakak."

Arfan menahan napas.

"ish, om mau bikin aku ingkar janji ya sama kakak! nggak ah, aku nggak akan bilang sama om. Kakak udah kasih peringatan."

"Dim ...

"Om tanya aja sama papi. Aku udah bilang kok sama papi."

"Lho, kenapa kamu katakan kepada papi tapi tidak mau mengatakannya kepada om?"

"Kan kakak cuma bilangnya nggak boleh bilang sama Om Arfan. berarti kalau sama papi boleh." jawab Dimitri denga lugu.

"Hmmm... jadi papimu sudah tahu?" Arfan menggumam.

"Udah. Kan aku udah bilang."

Tubuh Arfan menegang.

Bukankan dia sendiri yang menyuruh aku mencari tahu? ternyata dia sendiri sudah mengetahuinya? apa maksudnya ini? batin Arfan.

"Yah... udah masuk!" Dimtri seraya membuka pintu mobil. Kemudian berlari memasuki sekolahnya saat bel tanda masuk sudah berbunyi nyaring.

*

*

*

Bersambung...

ish, kata-kata dede Dim bikin om Arfan galau lagi deh?

oia buat kalian yang ada di top 10 podium hadiah ini tolong jam 9 malam nanti kita ngumpul di gc ya. Tapi kalau misal ada yang nggak ikut gc tolong Pc aku soalnya ada sedikit hadiah buat kalian sebagai tanda terimakasih.

podium Angga

podium Om Arfan

1
Adeeva Haboo
aku lupa alurnya angga nanti deh mampir lagi
Borahe 🍉🧡
wahh sang Panglima kembali. 😍😘😘
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Borahe 🍉🧡
pasti di peeusahaan lg heboh dan semua pemehamh saham panik mau narik sahamnya kembali
Borahe 🍉🧡
😂😂😂Bayinya membencimu Lex seperti Papahnya😂
Borahe 🍉🧡
gas terus 🙊🙈🙈mentang" pengantin baru🤣😋
Borahe 🍉🧡
Bener banget
Borahe 🍉🧡
Kasian banget om Arfan/Sob/. Kek pelampiasan aja
Borahe 🍉🧡
Sebenaenya Mita masih dendam/marah sm Dygta namun dipendam krn dia anak Satria
Borahe 🍉🧡
Labil🙄
Borahe 🍉🧡
Si Om yg korban banyak. udah cere sm bininya jauh dari anaknya. dan skrg hanya dijadiin tempat Persinggahan sementara oleh Dygta labil
Borahe 🍉🧡
sebenarnya kasian banget posisi Arfan. seolah dijadikan pelampiasan aja sm Dygta yg labil
Borahe 🍉🧡
Om Arfan act of Srvice banget. Gimana Dygta gak baper coba🙄
Borahe 🍉🧡
di sini lah kelabilan Dygta dimulai🙈
Borahe 🍉🧡
Iya Dygta agak berlebihan menurut aku. bikin org smua susah. Dan Arfan jg harusnya lebih bisa nahan perasaannya krn udah dewasa🙄
Borahe 🍉🧡
aku agak kasian posisi Arfan di sini. kek berusaha utk dijauhkan dri smua yg berhubungan dgn Satria dan keluarga nya.
Borahe 🍉🧡
Peluk jauh utk Om Arfan. /Sob/
Borahe 🍉🧡
Definisi dicintai dari ujung kaki sampai ujung rambut😂. Sipapi
Borahe 🍉🧡
Hahah lucu🤣🤣🤣.Anntara penasaran dan dosa 😂😂😂
Borahe 🍉🧡
terkabul keinginan si papi nambah anak 3 😂
Midha Zhazha Caem
lg kgn sm om arfan dan digtha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!