Sebuah kisah pencarian jati diri seorang badan intelijen yang berbahaya.Bagaimana putusannya di dalam menghadapi permainan takdir.
Kenyataan yang ada,membuatnya hilang arah.Menjelma menjadi sosok baru yang begitu mengerikan. Kasar,emosional,dan tak pernah segan membunuh demi tugas yang diembannya.
Diantara huru hara itu,ia menemukan setangkai bunga mawar yang menarik perhatiannya,mawar yang mampu membuat hatinya berdesir.Sampai ia menyadari bahwa mawar itu terlalu suci untuk ia pandang.Aroma manis dan lembut tutur katanya selalu mengingatkannya pada hal-hal baik yang susah payah ia lupakan.
Apakah segenggam perasaan cinta yang tak pernah utuh bisa mengembalikannya pada cahaya?
Khoirul Azam melalui dirinya,ia ingin menunjukkan bahwasanya tak ada satupun manusia yang sempurna.
"Kamu bukanlah orang jahat,kamu hanya orang baik yang tersesat pada hal buruk. Dunia tidak hanya terbagi atas orang baik dan jahat.Semua manusia terlahir dalam keadaan suci,melalui proses yang akan menuntun sisi mana yang akan kita pilih"
Asha Azzaliyah Zahra pada Khoirul Azam.
Ini adalah skuel dari karyaku yang sebelumnya berjudul "KAKAK IPARKU,SUAMIKU"
Memang karya ku dulu di akun IDAH RIYAH,namun satu hal membuat akun ku rusak dan aku berganti akun ku ini yang baru.
Simak terus ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Om Shi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Bismillahirrahmaanirrahim
Allahummashalli 'Alaaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa'aalihi Sayyidina Muhammad
Fahmi sengaja memilih jalan tikus sebagai Alternatif, sepi dan juga lancar pastinya. Fahmi memang jago kalau berhubungam dengan Alternatif.
"Apa kamu senang tinggal dan mengajar di sana? Hati - hati tuh ada yang tertinggal sesuatu?"
Celetuk Fahmi untuk Asha yang terlihat sangat tidak bersemangat.
"Aku sudah chek semua kok, sudah tersusun rapi dalam koper!"
Fahmi terkekeh, antara getir dan keinginan untuk mengguncang tubuh Asha dari khayalan apa pun itu.
"Kamu pikir sesuatu itu hanya barang saja? Hati juga sebuah benda hidup. Dengar, detakannya begitu keras bukan?"
"Hmm...bagus dong, berarti yanh duduk di sebelahku ini masih bernyawa...!"
"Wah baru seminggu berada di kediaman kiyai Lathif sudah mengubah bangak gaya bicaramu! Memang anaknya itu pandai mengajari orang dengan cepar...!"
"Tidak ada hubungannya dengan dia!"
Asha memotong membelanya namun melanjutkan lagi.
"Allah, aku masih tidak percaya kalau dia putra dari Kiyai Lathif...!"
Gadis itu menerawang, entah manik madunya memandang nirwana bagian mana.
"Tidak banyak tau Asha, hanya devisi 03 dan Sam sebagai bos besar kita, kamu adalah orang lain yang mengetahuinya.Aku sendiri bingung, mengapa hidupnya amat bertolak belakang di setiap lingkungan. Azam seperti bunglon!"
"Orang bilang sepotong kejujuran adalah perhiasan paling mahal dan bercahaya dibandingkan berlian. Tapi mengapa aku sulit sekali menemukan cahaya itu dalam dirinya?"
Bisikan halus Asha seperti aliran listrik yang menyengat hatinya, luka yang bertabur garam membuatnya semakit kesakitan atas hatinya yang sudah retak parah.
"Kamu begitu peduli padanya?"
Sempurnah sudah, hati Fahmi tak berbentuk lagi. Menertawakan dirinya sendiri yang mencoba tersenyum penuh pura - pura ikhlas.
"Apa yang kamu bilang tadi?"
Fahmi mengusap hijab yang menutupi kepala Asha sembari bergumam tidak jelas.
"Ckkk...pikiranmu itu melayang kemana - mana ya?"
...****************...
Fahmi melirik ke kaca spion bagian atas, lalu beralih pada kaca bagian samping kiri dan kanan untuk memudahkan penglihatannya pada dua mobil sedan hitam yang membututinya di jalan sepi itu. Sepertinya mereka tidak berniat menyalip mereka dan menjaga jarak supaya tidak terpaut terlalu jauh darinya.
"Mi...sepertinya mereka sedang membuntuti kita?"
"Mungkin mereka pengemudi yang menghindari kemacetan di jalan raya besar seperti kita Sha"
Fahmi mencoba tenang, karena adalah unsur paling penting dalam pertahanan hidup dan kesehatan jantung.
"Aku pikir begitu karena mereka mengikuti kita sejak dari Askhabul Kahfi!"
Fahmi melirik sekali lagi ke spion luar mobil Toyota Camrynya.
"Kencangkan sabuk pengamanmu!"
Fahmi menancapkan gasnya setelah memberi peringatan pada Asha, mengemudi dengan gila - gilaan dijalan beraspal itu. Kedua mobil metalik dibelakangnya latah mengikut cara meluncur Fahmi. Fahmi terus berusa focus dengan mobil ugal - ugalannya. Kalau ada orang yang melihat, pasti di kira sedang ada balapan liar.
Fahmi menikung tajam ke belokan kiri dan membuat Asha ikut terpental pada kaca sisi kirinya. Fahmi meringis.
"Owwh...maafkan aku Cousin...pasti sakit sekali...!"
Fahmi berusaha meraih kepala Asha untuk mengusap dan melindungi. Kecepatan mobilnya masih di luar akal sehat dengan hanya satu tangan menyetir.
"Ya salam...siapa sih begundal - begundal ini?"
Fahmi memukul setirnya saat menatap Asha yang sudah panik bukan main.
"Mimi...kita harus cepat keluar dari sini!"
Kata Gadis itu dengan keras, takut setengah mati kalau mobil itu tiba - tiba menabrakkan diri pada mobilnya.
"Ya...tapi jalan ini seperti jalan Tamiya, kamu lihat kan?"
Fahmi ikut - ikutan panik, dia melihat kilau logam keluar daru jendela mereka yang berusaha memepet mobil Fahmi. Sial, mereka memang berniat menyelakakan atau membunuh.
Membunuh?!
Satu peluru menggelegar ke udara.
"Allahuakbar...!"
Asha menjerit tak terkendali. Gadis itu tak mau lagi mendengar apa pun lagi yang berhubungan dengan letusan atau teriakan, cukup satu kali saja. Kejadian beberapa bulan lalu masih hangat dalam ingatannya, tubuhnya mulai bergetar hingga jari - jarinya saling mengepal.
Suara tembakan kembali terdengar, Fahmi mengira jika mereka sedang mengincar ban mobilnya. Fahmi berkelit ke kanan, namun sayangnya puluru itu malah nyasar ke arah kaca belakang. Angin terasa berhembus seketika dari situ.
Fahmi memaksa Asha untuk merunduk, takut kalau - kalau ada peluru nyasar karena serangan membabi buta menyerang mereka. Ledakan keras mengiringi laju mobilnya yang sudah tak terkendali, timah panas itu tepat mengenai ban mobul bagian depan. Suara decit aneh terdengar saat ban mobil melaju dengan tersendat - sendat.
Sebongkah batu besar ditukungan membuat Fahmi mengeliak kaget, tak ada cara lain selain membanting stir ke sembarang arah. Selamat dari kandang harimau dan memasuli mulut buaya sesaat kala mereka menerima pohon besar sebagai objek penglihatan mereka.
Tanpa pikir panjang, Fahmi menarik Asha ke dalam pelukannya di detik krusial itu. Tepat sebelum terjadi benturan hebat yang terasa meremukkan tulang belulang tangan kirinya kerena terjepit kaca jendela yang remuk dan berserakan dimana - mana. Samar - samar ia dapat melihat darah mengotori kemejanya, namun kakinya sulit digerakkan karena terjepit pengemudi. Kepala mungkin akan pecah sebentar lagi, aliran darah memasuki bola matanya. Kala itu hanya satu yang ingin Fahmi kenang jika masanya telah usai.
Yaitu suara Asha yang terus memanggil - manggil dengan cemas bercampur isakan tangis menjadi memori terakhirnya. Andai saja Asha memiliki sedikit ruang kosong dalam hatinya untuk Fahmi, mungkin ia akan lebih bahagia dalam menyongsong pengorbanannya. Tapi begini pun tak apa, sebab ia mencintai Asha dengan tulus. Selalu.
"Mimi...Mimi...Mimi...Ya Allah!"
Asha tidak bisa bergerak, sebab pelukan Fahmi terlalu kuat.
"Uhibbu jiddan, aku mencintaimu. Selalu...!"
...****************...
Asha tergeletak dilantai beralaskan karung, kedua tangannya ditelikuk ke belakang dengan ikatan kain kotor bercampur bekas darah yang mengering. Asha seperti janin besar yang meringkuk. Hanya nafas teraturnya yang menandakan jika gadis itu masih bernyawa.
"Cantik...menarik...dan bertubuh bagus. Bagaimana jika kamu aku selundupkan ke rumah bordil saja. Kamu pasti mempunyai banyak pelanggan dari semua kalangan. Tempat yang cocok bagi salah satu anggota keluarga yang di benci bos ku..."
Steven berucap sangat menjijikkan. Sementara Asha terlihat pucat dan lemah dengan bibirnya yang pecah - pecah akibat dehidrasi. Dia lebih baik mati dari pada minum pada gelas yang berisikan air kencing manusia.
Kedua matanya tampak memerah karena terisi air hangat yang seolah memproduksi tiada henti. Terlebih jika memikirkan kondisi Fahmi membuatnya merana.
"Sebelum misi melenyapakan keluargamu terlaksana, maukah kamu melayaniku sekali saja. Hanya aku seorang, cantik!"
Sisi jilbabnya di sentuh tanpa izin.
Kelopak matanya sontak terbuka, cukup sudah membiarkan pria bajingan itu menghinanya.
"Singkirkan tangan kotormu itu...!!!"
Asha menepisnya sambil merangsek mundur, matanya berkilat - kilat penuh kebencian.
"Kamu pikir semua wanita sama seperti yang ada dalam otakmu! Kalau kamu tak bisa menahan nafsu binatangmu, pergi keluar sana. Banyak wanita sampah yang setia menantikanmu!!!!"
Steven membatu, kedua matanya seolah siap menusuk - nusuk siapa saja yang memandangnya. Tangan kirinya terangkat keudara dan siap melayang di pipi Asah. Tamparan itu terlalu keras hingga kepala gadis itu berhasil membentur tembok belakangnya.
Siapkan jempol untuk like atau komen ya😘