Kekuatan besar merupakan berkah sekaligus tanggung jawab yang begitu besar, namun apakah dengan membantu mereka kau akan mendapatkan kembali kebaikan yang telah kau berikan? "Hahaha, naif sekali." Kalau kau masih berfikir demikian maka kematian yang akan menantimu di depan sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fisher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpanggil
Hari ini aku akan berkunjung ke rumah Alex, karena ia hanya tinggal sendiri di sini aku dengan mudah masuk kedalam rumah ini melalui Jendela.
Kulihat dari dekat wajah lucu Alex yang sedang tertidur, entah sudah jam berapa aku masih tetap memandanginya sampai tiba tiba matanya terbuka.
"Slamat pagi Alex." Ucapku ramah.
"M-Mizuru kenapa kau disini." Ucapnya.
"Aku hanya menginap saja." Ucapku.
Setelah ia bangun aku memasak beberapa sarapan pagi untuknya, ya ini seperti aku telah menjadi istrinya, sejak saat itu kami mulai berpacaran.
Tapi sampai suatu hari ia berbohong padaku, ia diam-diam berbicara empat mata dengan wanita lain di atap sekolah.
Aku yang melihat hal tersebut dari sela sela pintu merasa tak terima dengan wanita itu, setelah Alex meninggalkannya sendirian disini aku mengajaknya untuk datang ke rumah sewaan ku.
Kali ini aku memotong salah satu jari miliknya dan menyimpannya disapu tangan miliku, ya meskipun ia sempat berteriak memohon ampun aku tetap melakukan itu tanpa bekas kasih.
Aku kembali ke rumah Alex dan memberikan jari ini padanya, namun ia sepertinya tidak menyukainya dan mengunciku di dalam rumahnya dan berlari pergi.
Seperti biasa aku lewat jendela untuk keluar masuk rumah ini, dan mengejar, meskipun aku kalah cepat dan ia telah pergi menggunakan taksi, tapi aku yakin pasti aku akan mendapatkannya kembali.
Bertahun-tahun aku mencarinya disetiap kota di negara ini, hingga suatu hari aku melihatnya dijalan dan sepertinya baru diputuskan oleh kekasihnya.
Bagus Alex, kau berani berselingkuh di belakangku, akan ku bunuh wanitamu itu.
Aku diam-diam mengikuti mantannya tersebut yang sedang berjalan sendirian setelah bermain bersama seorang pria.
Saat dia lengah aku dengan cepat menyerapnya dan membungkam mulutnya dengan saputangan yang sudah kuberi obat tidur.
Aku membawanya kesalahan satu gang kecil dan mulai memutilasi tubuhnya, aku menyisakan bagian tangannya untuk kuberikan pada Alex nantinya, dan untuk sisanya biarkan orang sewaan ku untuk membersihkannya.
sorenya aku pergi menemui Alex sehabis ia kerja, namun tiba tiba hujan turun dengan lebat, aku pergi mencari tempat untuk berteduh.
Aku berteduh pada satu wahana permainan yang berada di taman ini, dan saat aku sedang menghangatkan tubuhku, datang seorang pria ikut berteduh disini.
Bajunya terlihat basah kuyup dan saat aku melihatnya lebih jelas lagi itu adalah Alex, aku lantas menawarkan jaketku namun aku saat ia menyadari bahwa itu aku.
Ia tampak tercengang, aku kemudian memberikannya potongan tangan wanita itu padanya, dan saat dia melihat aku memegang pisau dan tangan ini dia dengan cepat berlari.
Aku mengejarnya dan tanpa sadar masih memegang pisau ku, entah kenapa saat ia berlari ia sempat berhenti seperti melihat sesuatu.
Dia lekas berlari menuju ke arahku aku dengan antusias menyambut kedatangannya tersebut, sampai ia berteriak. "Awas!!" diiringi dengan suara klakson dari mobil.
Bruk..
"Argh, kepalaku sakit, sebenarnya ada apa." Ucapku.
"Syukurlah kau baik-baik saja." Ucap Alex.
Aku merasakan tanganku terasa basah dan melihat itu berasal dari pisau yang kupegang menancap pada dadanya.
Aku lalu mencabut pisau tersebut dan mencoba menghentikan pendarahannya, namu itu semua terlambat, dengan sisa tenaga yang ia miliki tangannya memegang pipiku dengan lembut, dan setelah mengucapkan beberapa kata tangannya tergeletak ketanah.
Aku mencoba memanggil-mangil namanya, namu tak ada respon sama sekali darinya.
Setelah beberapa hari sejak kejadian itu, aku sempat menghadiri persidangan tentang kecelakaan yang terjadi saat itu.
Namun dengan bantuan dari ayahku, aku dinyatakan tidak bersalah dan kejadian tersebut murni kecelakaan.
Aku diantar oleh ayahku pergi menuju makam Alex, disana aku menangis sejadinya dan terus berkata "Aku minta maaf."
Ayahku terus menenangkan ku dan membujukku untuk ikut pulang bersamanya, namun sebelum kami pulang aku meminta ayah untuk mengantarku ke apartemen kecil milik Alex.
Ayah menuruti perkataan ku dan mengantarku ketempat yang kumaksud, aku menyuruh ayah untuk menunggu didalam mobil dan ia menyetujui nya.
Didalam apartemen Alex yang masih tertata rapi dengan barang barang miliknya, aku sebentar berbaring di kasur tempatnya bisa istirahat.
Tak terasa air mataku kembali keluar, aku merindukannya, tapi kali ini ia sudah pergi jauh dari hidupku aku sudah tak bisa menemuinya lagi.
Saat masih dirundung dengan duka yang begitu mendalam aku
melihat buku diary miliknya tergeletak di atas meja.
Lembar demi lembar perlahan kubaca goresan pena miliknya yang ditujukan untukku.
Semua berisi harapan tentang diriku yang ingin ia rubah menjadi lebih baik salah satu tulisan terakhir miliknya tertulis.
Dear Mizuru bila kau membaca tulisan ini itu menandakan bahwa aku masih mencintaimu, meskipun aku tau sifat aslimu mungkin tak dapat kurubah, aku masih tetap ingin menemuimu sekali lagi, mungkin aku telah menjadi sebuah kupu kupu yang merindukan bunga mawar miliknya, meskipun ia berduri dan tampak menyakitkan tapi aku akan tetap hinggap di kelopak bunganya, dear Mizuru kuharap kau dapat menghilangkan duri kebencian dalam dirimu kuharap kau dapat membaca tulisan ini salam Alex.Dear Mizuru bila kau membaca tulisan ini itu menandakan bahwa aku masih mencintaimu, meskipun aku tau sifat aslimu mungkin tak dapat kurubah, aku masih tetap ingin menemuimu sekali lagi, mungkin aku telah menjadi sebuah kupu kupu yang merindukan bunga mawar miliknya, meskipun ia berduri dan tampak menyakitkan tapi aku akan tetap hinggap di kelopak bunganya, dear Mizuru kuharap kau dapat menghilangkan duri kebencian dalam dirimu, kuharap kau dapat membaca tulisan ini salam Alex.
Setelah membaca beberapa tulisan lain miliknya aku seperti orang bodoh yang terlalu terobsesi untuk melindunginya, perbuatan ku selama ini hanyalah menambah beban pada hidupnya.
"Aku menyesal telah melakukan ini padamu Alex, Hiks hiks." Tersedu.
Dengan tak ada dirinya mendampingi hidupku, maka tak ada lagi gunanya bagiku untuk terus hidup di dunia ini.
"Tunggu sebentar lagi Alex aku akan segera menyusulmu." Ucapku sambil menusuk jantung menggunakan cutter.
Sekarang aku tau apa yang dirasakan Alex saat itu, perasaan ini tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Aku terbangun pada sebuah ruangan berwarna putih dan hanya terdapat seorang wanita disini.
"Selamat datang." Sambutnya.
"Dimana ini, apa kau melihat pria sebelum aku datang kesini, dia berambut hitam dan memiliki wajah yang cukup?" Ucapku.
"Ya aku melihatnya beberapa hari yang lalu, dia adalah masterku didunia barunya." Ucapnya.
Aku langsung mengunci lehernya dan memaksanya mengatakannya dengan jelas.
"Gehek, bisa kau lepaskan aku!!" Ucapnya meronta.
"Jawab siapa Namanya." Paksaku.
"Alex, beberapa hari lalu aku telah mereinkarnasinya, give up, give up." Ucapnya.
"Kau bilang telah mereinkarnasinya,
jadi bisa kau lakukan itu juga padaku dan mengirimku kedunia yang sama miliknya." Ucapku.
"I-iya tapi dengan dosa yang saat ini kau tanggung, aku hanya bisa mereinkarnasimu sebagai ras Demon, apa kau masih mau?" Ucapnya.
"Aku tak masalah asalkan bisa bersama dengannya." Ucapku.
"Tapi sebelum itu aku akan memberimu job acak kepada mu." Ucapnya.
"Aku tak peduli dengan hal itu, lebih baik kau cepat mereinkarnasiku." Ucapku.
"Baik kali begitu, aku akan mengirimkan job setelah kau terlahir di dunia itu, namun aku beritahu satu hal padamu, kau akan terlahir 3 tahun lebih awal dari master, apa kau setuju dengan itu?" Ucapnya.
"Tentu." Jawabku singkat.
"Kalau begitu aku akan mereinkarnasimu saat ini juga." Ucapnya.
Kemudian ia merapalkan mantra aneh dan mulai mengirimku pergi, yah dan saat itulah aku terlahir menjadi seorang putri dari raja iblis.
*Bersambung*