Sebagai anak sulung, aku sangat menyayangi ibuku. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan serta mendidik ku.
“Kalo kamu udah nikah! Prioritaskan ibu dan adik mu, Ratih! Istri mu belakangan, dia itu wanita terakhir yang kamu kenal. Sayangi dia 20 persen aja, ingat itu pesan ibu, Nang!” ujar Sari penuh harap.
Aku hanya bisa tersenyum tulus, “Iya, bu! Danang akan selalu berbakti, mendengarkan semua perkataan ibu! Danang gak akan pernah membantah mau ibu!”
“Tenang aja Gi! Hati abang cuma buat Anggi. Mau kan Anggi kalo abang ajak serius? Bukan lagi pacaran, tapi …” beo ku kala itu.
Dan akhirnya ku nikahi Anggi, tanpa peduli dirinya yang mencintai pria lain. Yang penting aku pemenangnya, aku yang menikahinya.
Kejanggalan demi kejanggalan akhirnya mencuat, membuka tabir kehancuran dalam keluarga ku.
Mulai dari Anggi, gadis polos. Hitam manis dengan tubuh mungil, adik dari teman ku. Meninggal usai melahirkan putra kedua kami. Sementara si sulung baru menginjak usia 7 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
...🌼🌼🌼🌼...
“Kalian ketemuan? Di mana?” timpal Danang, bak bensin ikut menyambar dalam pembicaraan Sari dan Ratih.
Ratih menelan saliva nya sulit, “Si- siapa juga yang ketemuan! Ratih gak ketemuan gitu, Ratih di ajak jalan jalan.”
“Ya tapi kan kalian pasti ketemuan dulu sebelum kamu di ajak jalan. Kamu di ajak jalan ke mana? Gak ke tempat sepi kan? Kalian gak melewati batas kan?” cecar Danang penuh selidik.
Ratih gelagapan harus menjawab pertanyaan Danang, dengan wajah pias, “A- apa sih bang! Mau tau bangat urusan Ratih! Ratih …”
Belum sempat Ratih melanjut kan perkataan nya, Sari sudah lebih dulu menendang lengan Danang. Membuat pemuda itu jatuh terjerembab di lantai. Sebelum akhir nya menabrak meja.
Brugh.
Dugh.
“Uuggghhh sakit bu! Ibu kok tendang Danang!” protes Danang dengan menahan sakit. Sementara tangannya mengelus lengannya yang membentur sudut meja.
“Kamu pijat aja kaki ibu! Gak usah ikut ngomong! Berisik!” bentak Sari.
Ratih menjulurkan lidahnya pada Danang, dengan nada mengejek, “Weeek! Sukurin! Tau rasa!”
“Kamu bilang tadi di ajak jalan jalan sama Rafa. Di ajak jalan kemana kamu sama Rafa?” tanya Sari penuh semangat.
Dengan tatapan berbinar senang, Ratih menceritakannya pada Sari. Mengabaikan tatapan tajam dari Danang yang hanya bisa diam mendengar, sembari memijat kaki sang ibu.
“Ratih di ajak keliling kota, bu! Terus ke rumah bang Rafa yang super gede. Rumah kita mah kalah bu!”
Sari mengerdik kan dagunya, “Si nenek tua gimana, baik gak dia sama kamu?”
“Ibu nya bang Rafa? Baik sih, dia mah sibuk kalo Ratih datang ke rumahnya. Ratih gak berani ajak ngomong, orang dianya sibuk. Kamar bang Rafa luas bangat bu, kamar mandinya aja ada bak yang lebar, muat kita tidur di bak mandi bu!” kekeh Ratih.
‘Ratih sampe tau sedetail itu! Masa iya, si Ratih yang polos bisa bikin anak duluan sama Rafa! Gak mungkin lah, Rafa kelihatan baik, pendiam, gak neko neko. Beda sama gua yang udah jelas nyingkirin Asep, buat dapetin Anggi. Gimana itu bocah ya! Masih berani nyamperin Anggi kaga ya!' pikir Danang.
Mau gelap atau pun siang gak ada beda bagi Dayat. Ia terjebak di dalam kamar nya sendiri. Usai hampir mencelakai tetangga nya yang ia pikir Sari. Sejak saat itu, Risan putuskan mengurung Dayat di dalam kamarnya sendiri.
Tanpa di beri kesempatan untuk keluar dari kamarnya. Bak ubahnya kandang kambing, itu lah gambaran kamar Dayat saat ini. Bau dari kotorannya sendiri yang gak terelakkan.
Suara gedoran pintu, di susul dengan teriakan marah dari Dayat terdengar di tengah sunyinya malam.
Bugh bugh bugh.
“Buka pintu nya! Jangan kurung gua! Dasar bang5at! Anjin9! Risan gila! Buka pintunya!” teriak Dayat.
Bugh bugh bugh.
“Heh para anjin9! Buka pintunya! Sari, sini lu! Jangan beraninya ngumpet! Dasar k4ncut lu!” teriak Dayat lagi.
“Risaaaan!” seru Sari dengan nada melengking.
Membuat Danang dan Ratih menjauhkan tubuhnya dari sang ibu. Sementara Risan langsung masuk ke dalam rumah. Menatap jengkel sang istri.
“Apa sih Sar! Gak usah teriak! Lu kecilin aja volume tivi!” Risan menunjuk televisi yang terabaikan oleh 3 kepala di hadapannya.
“Jangan lu salain tivi! Lu ora liat, gua lagi nonton tivi, ora dengar kalo suaranya kecil!” sangkal Sari gak mau kalah.
Risan menghembuskan nafas kasar, dengan hati menjerit, ‘Waras Risan! Adem!’
“Lu ngapa manggil gua?” tanya Risan pada akhirnya.
Sari melirik sekilas Danang dan Ratih bergantian. Sebelum netranya kembali fokus pada sang suami.
“Gua lagi ngumpul ama anak anak gua! Lu suruh diam dah anak kesayangan lu di kandang!” Sari menunjuk kamar Dayat dengan bibirnya yang monyong.
“Dayat juga anak lu!” kilah Risan.
“Itu dulu, sebelum Dayat bac0k tangan gua. Sekarang di mata gua, Dayat udah mati!” sentak Sari tanpa saringan.
“Sadar Sari! Dayat jadi begitu juga gara gara kelajuan lu! Gara gara sikap lu! Apa yang udah lu lakuin ke keluarga Yati, calon besan kita?” tanya Risan pada akhirnya.
Wajah Sari merah padam, belum sempat ia menjawab pertanyaan Risan. Dayat sudah kembali membuat gaduh, dengan teriakan dan gedorannya pada pintu.
“Sariiii! Anjin9 lu! Buka pintunya!” suara teriakan Dayat dari dalam kamarnya.
Bugh bugh.
“Buka pintunya! Gua mau keluar! Gua mau k4win! Sari, buka!” suara jeritan Dayat bak kesetanan.
“Suruh diem kaga tuh anak lu!” seru Sari dengan nada gak santai, menatap tajam Risan.
“Udah, bu! Cuekin aja! Namanya juga orang stres.” beo Danang, sembari memijat kaki sang ibu. Sementara dirinya duduk di tepian sofa memunggungi Risan.
Risan menggeleng gak percaya, “Dayat adik kamu, Nang! Kamu gak pantas hina dia stres!”
“Ibu bisa ketular stres, dengar suara adik kamu itu, Nang!” beo Sari, menuli kan perkataan Risan.
Danang tersenyum mengejek, melirik Risan dengan ekor matanya, “Sama, bu! Untung nya Danang ada kerjaan, jadi gak terkurung di dalam rumah dengar suara rombeng Dayat!”
Ratih asik sendiri menikmati bolunya, hingga pertanyaan terlontar dari Sari untuknya. Baru ia mengalihkan fokus dari bolu di tangannya.
“Apa begitu kelakuannya selama ibu di puskesmas, Tih?”
Ratih mengerdik kan bahunya, “Iya gitu.”
Nafas Risan memburu kesal, mengedarkan pandangannya dari Sari, Danang dan Ratih bergantian.
“Kalian manusia apa setan sih! Gak ada pedulinya sama Dayat! Keterlaluan kalian!”
Danang tersenyum sinis, “Bapak nganggur, urus sono si Dayat!”
Tanpa banyak bicara, Risan berlalu dari ketiganya.
“Kalo kamu gimana dengan Anggi, Nang?” tanya Sari, menatap penuh selidik Danang.
“Bang Danang jadi mau nikahin Anggi? Tuh anak orang kaga abang buntin9in kan?” serono Ratih tanpa saringan.
Bersambung …