Auristella Leesham, mahasiswi tingkat akhir di Universitas Swasta di Kota A. Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi Auris, di sela-sela kesibukannya menyiapkan segala sesuatu untuk Tugas Akhirnya, dia harus bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri. Hal itu dia lakukan setelah perusahaan Audi milik keluarga Leesham mengalami kebangkrutan.
Auris yang baru saja pulang dari bekerja paruh waktu menemukan keluarganya terbunuh di rumahnya sendiri.
Auris memeriksa keluarganya dan mendapati ayah serta ibunya nya telah tiada. Hanya adiknya yang masih bernafas. Auris segera membawa adiknya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Di rumah sakit, Auris bertemu dengan Aziel. Sosok asing yang baru pertama kali ditemui Auris. Auris yang tidak memiliki cukup uang dibantu oleh Aziel, namun dengan syarat.
“Aku akan membantumu membayar biaya rumah sakit adikmu, tapi dengan syarat,” Aziel.
“Apa syaratnya?” Auris.
Akankah Auris menerima bantuan Aziel dan syarat yang diajukan Aziel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rastiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
“Sayang, jadinya kita kemana?”
“Anterin aku ke apartemennya Kak Dava aja. Desi masih di apartemen. Nanti biar aku berangkat pakai mobilnya Desi.”
“Oke aku antar ke sana.”
Di pengadilan, Grizelle dipaksa masuk ke dalam sel oleh seorang petugas. Sedikit memberontak membuat petugas tersebut juga kesulitan membawanya.
“Kalian jangan hanya menangkapku!!”
“Diamlah!!”
“Aku tidak akan diam sebelum kalian menangkap Evan!”
Felix yang kebetulan memerhatikan Grizelle langsung mendekat mendengar Grize emnyebut nama Evan.
“Siapa Evan?” tanya Felix.
Grizelle tersenyum miring dengan menatap pad Felix.
“Dia Evan, sepupu ku yang membantuku selama ini. Aku yakin saat ini dia sedang merencanakan sesuatu yang besar untukku.”
“Sial!” umpat Felix sambil mengayunkan kepalan tangan kanannya.
“Kenapa kamu tidak mengatakan kemarin di ruang interogasi?!”
“Aku sudah mengatakannya hari ini. Awalnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi aku fikir kalau aku dipenjara, maka Evan juga harus dipenjara,” jawab Grizelle dengan santainya.
“Apa yang Evan rencanakan?”
“Mana aku tau, aku ada di sini bersama kalian. Aku tidak tau apa yang direncanakan Evan.”
“Sial!!. Kalian awasi terus wanita ini. Kalau ada yang mencurigakan segera laporkan ke saya,” kata Felix pada bawhaannya.
Felix mengambil langkah lebar untuk segera keluar dari ruangan itu. Dia bermaksud untuk menghubungi Aziel yang saat ini sedang menuju ke apartemen Dava untuk mengantarkan Auris.
“Aku harus segera memberitahu Aziel kalau masih ada satu pelaku yang berkeliaran,” ucap Felix sambil merogoh ponselnya dari saku celana bahannya.
Felix masuk ke dalam mobil miliknya untuk menghubungi Aziel.
...----------------...
Aziel dan Auris sampai di basemen gedung mewah apartemen tempat tinggal Dava dan Desi. Mereka turun dari mobil dan naik ke lantai 32 dengan lift khusus.
“Sayang, nanti tetaplah bersama Desi. Kalian jangan berpisah dan usahakan terus menghubungiku.”
“Iya-iya my hubby. Kamu tenang saja. Aku dan anak kita akan baik-baik saja. “
Aziel mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Auris selama mereka dalam perjalanan menuju ke unit mewah Dava.
Lift berbunyi menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai 32. Aziel memencet bel yang ada di depan unit tersebut sampai seorang perempuan muda seumuran istrinya membukakan pintu.
“Eh kak Aziel sama Auris. Masuk dulu yuk,” sapa Desi.
“Eh enggak perlu Des, aku buru-buru soalnya mau ke kantor. Kalian hati-hati ya, kalau udah selesai langsung aja ke sini lagi biar nanti aku jemput Auris di sini.”
“Oh gitu ya kak, oke nanti aku ajakin Auris ke sini kalau udah selesai.”
Aziel beralih pada Auris.
“Jaja diri kamu dan jaga anak kita baik-baik ya sayang. Ingat! Kalau udah selesai belanjanya langsung pulang. Nggak boleh mampir-mampir dulu, nggak boleh lebih dari jam 4 sore, harus bareng tersu sama Desi walaupun cuma ke kamar mandi harus minta anter Desi.”
“Iya-iya my hubby, aku ngerti. Posesif banget sih,” balas Auris sambil mencium punggung tangan suaminya.
“Bukan posesif sayang, aku hanya ingin memastikan kalian aman,” jawab Aziel dan dia mencium kening Auris singkat.
“Yaudah, berangkat ke kantor sana gih. Aku masuk ke dalem.”
“Iya.”
Di sisi lain, tepatnya pada Felix. Berkali-kali dia menghubungi Aziel, namun tidak ada jawaban.
“Sial! Di mana sih ini orang. Gue telfon udah 11 kali nggak ada yang di jawab.”
Dia menepikan mobilnya yang sebelumnya sudah dia jalankan untuk sekedar membuang nafas. Netranya menangkap seorang gadis yang dia cintai sedang keluar dari gedung yang tampaknya seperti klinik kesehatan bersama seorang perempuan paruh baya.
“Coba aja gue punya perusahaan besar kayak Aziel sama Dava, pasti gue nggak akan minder buat lamar elo. Tapi, gue cuma abdi negara yang nggak punya perusahaan besar sebesar perusahaan keluarga elo,” gumam Felix dalam hati.
“Gue ini mikir apaan, sekarang lo fokus dulu sama Aziel yang nggak bisa dihubungi ini. bentar-bentar keknya gue coba telfon Auris aja deh.”
Felix mencari nama Auris di ponselnya. Setelah ketemu, dia lalu menyentuh tombol berwarna hijau dan tersambunglah dia dengan seseorang di seberang sana. Tidak menunggu lama, Auris menjawab panggilan Felix.
“Iya kak Felix?”
“Ris, lo lagi sama Aziel nggak?”
“Yahh! Enggak kak. Kak Aziel udah turun ke parkiran kayaknya. Tadi sih dia bareng sama aku nganter aku ke unit nya kak Dava.”
“Oh gitu ya, yaudah gue coba telfon Aziel lagi.”
“Iya kak, kenapa sih kak?” tanya Auris penasaran.
“Nggak apa-apa, Ris. Gue cuma mau tanya sedikit tentang Grizelle.”
“Oh gitu, yaudah kakak coba langsung telfon kak Aziel aja.”
Tutt! Sambungan terputus.
Di mobilnya, Aziel membuka ponselnya dan ada panggilan tak terjawab sebanyak 11 panggilan dari nomor Felix.
“Kenapa Felix telfon gue sampe 11 kali? Ah bodo, kalo penting juga telfon lagi.”
Aziel menjalankan mobilnya keluar dari parkiran apartemen Dava menuju ke arah perusahaannya berada.
Felix masih pada tempatnya tadi dan berusaha kembali menghubungi Aziel. Panggilan pertamanya langsung di jawab oleh Aziel.
“Sialan lo!!! Gue kira lo mati beneran,” umpat Felix.
“B******* lo, nyumpahin gue mati.”
“Elo aja yang ditelfon sampe 11 panggilan nggak di jawab.”
“Sorry, hp gue, gue tinggal di mobil. Gue nganter Auris naik ke lantai 32 unitnya Dava. Ada apa?”
“Lo tau atau kenal sama Evan?”
Mendengar nama Evan membuat Aziel memilih untuk menepikan mobilnya di depan minimarket berlogo lebah.
“Evan?”
“Iya, Evan.”
“Gue tau satu orang yang namanya Evan karena dia dulu satu angkatan sama Auris. Tapi, sekarang dia kemana gue juga nggak tau. Kenapa?”
“Nih ya gue kasih tau, tadi Grizelle nyebut-nyebut nama Evan kalau dia juga terlibat dalam kejahatannya.”
“Lo serius?”
“Iyalah, ngapain gue boong sampe gue telfon-telfon lo 11 kali gitu.”
“Kalo gitu berarti Auris masih belum aman?”
“Kemungkinan iya, lo kira-kira tau nggak Evan sekarang ada di mana? Relasi elo kan banyak.”
“Gue udah bilang di awal bego kalo gue nggak tau Evan ada di mana.”
“Oh gitu ya? Emang lo ada bilang?”
“Enggak ada, udah lupain itu. Sekarang kita susun rencana buat nangkep Evan.”
“Menurut elo, Evan bakal targetin istri elo gitu?”
“Kalau dari awal fokus Grizelle Cuma Auris berarti kemungkinan besar Auris sekarang juga jadi targetnya Evan.”
“Lo yakin Ziel?”
“Kalo bukan Auris siapa lagi?”
“Bisa aja elo?”
“Kalo gue nggak mungkin. Gue yakin banget.”
“Yaudah, sekarang lo kasih keamanan buat istri elo. Dia kan lagi nggak bareng sama elo. Terus kita bahas ini di perusahaan elo. Gimana? Biar gue hubungi Dava sama Gio.”
“Oke, gue setuju. Gue kirim orang-orang gue buat awasin Auris sama Desi.”
Panggilan terputus dan Aziel beralih menghubungi anak buah nya untuk mengawasi istri dan sahabat istrinya. Lalu, dia menjalankan mobilnya ke perusahaan miliknya sesuai arahan Felix tadi.
Bersambung..
jangan lupa tekan tombol like ya, isi kolom komentar dan rate juga karya ini. see youu
MAKANYA,,DLM RMH TANGGA ITU SETIAP MASALH BICARAKN SAMA PASANGAN KITA, BKN DIPENDAM SENDIRI, DN COBA UNTUK MNGATASINYA SENDIRI..
EVAN ITU SAMA DGN ANTON YG JUGA NAKSIR AURIS..
jangan sampai dia jadi pelakor