SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Pagi hari di apartemen Gala tidak seindah biasanya. Gala bangun dengan kantung mata hitam karena semalaman tidak bisa tidur memikirkan "pemandangan" Aira di sofa. Sementara itu, Aira sudah duduk manis di meja makan dengan roti bakar di tangannya, tampak segar bugar seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
"Om, rapi banget? Mau ke mana?" tanya Aira sambil memperhatikan Gala yang sudah mengenakan kemeja linen hitam dan parfum yang wanginya sangat maskulin.
Gala berdeham, merapikan jam tangan mahalnya. "Ya... Om ada urusan penting di luar. Ada pertemuan soal proyek film baru. kamu jangan kemana-mana, kalau mau pesan makanan pakai aplikasi aja, kartunya udah Om kasih kan?"
"Ok, Om," jawab Aira santai, terlalu santai malah.
Gala menghela napas lega. "Bagus. Inget, jangan keluar apartemen tanpa seizin Om. Jakarta bahaya buat bocah kayak kamu."
Gala pun melenggang pergi. Namun, begitu pintu tertutup, Aira langsung meletakkan roti bakarnya. Senyum manisnya berubah jadi seringai licik. "Urusan penting? Wangi bener mau rapat doang? Jangan-jangan mau ketemu ulet keket!"
Aira segera masuk ke kamar, mengganti bajunya dengan hoodie kebesaran, topi, dan masker. Mode detektif: ON.
Restoran Mewah, Jakarta Pusat.
Aira mengendap-endap di balik pilar restoran VVIP yang sudah dipesan Gala. Matanya membulat saat melihat Gala duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik, tinggi, dan sangat anggun. Jesica. Artis lawan main Gala yang digosipkan sedang cinlok dengannya.
"Oh, jadi ini 'urusan penting' itu?" bisik Aira sambil meremas tali tasnya. "Siapa bilang Om Gala jomblo karatan? Dia cuma mau bebas aja kan biar bisa ganti-ganti cewek? Dasar artis!"
Aira melihat Gala tertawa kecil saat Jesica menyentuh lengan Gala. Hati Aira mendidih. Cemburu buta mulai menguasai pikirannya. Selama ini dia mengira Gala menutup hati karena trauma, ternyata Gala hanya sedang memilih bunga yang lebih "matang".
"Lihat aja nanti, Om. Yaya bakal bikin Om lupa caranya ketawa sama cewek lain," gumam Aira penuh dendam sebelum memutuskan pulang duluan.
Apartemen Gala, Pukul 21.00 WIB.
Gala pulang dengan wajah lelah. Pertemuannya dengan Jesica tadi sebenarnya murni urusan kontrak film, tapi tetap saja melelahkan karena harus menghindari kejaran paparazi. Suasana apartemen gelap, hanya lampu dapur yang menyala.
"Aira? Sudah tidur?" panggil Gala pelan.
Tidak ada jawaban. Namun, saat Gala melewati depan kamar Aira, tiba-tiba terdengar teriakan melengking yang memekakkan telinga.
"HUAAAA! KECOAK!!! BUNDA... TOLONG YAYA! TAKUTTT!!!"
Gala tersentak. Insting pelindungnya langsung bangkit. Tanpa pikir panjang, ia mendobrak pintu kamar Aira yang tidak terkunci. "Aira! kamu kenapa?!"
Pemandangan di dalam kamar membuat Gala seolah dihantam truk tangki. Aira berdiri di atas tempat tidur, hanya mengenakan handuk putih yang melilit tubuhnya—bahkan ikatannya terlihat sangat longgar seolah siap lepas kapan saja. Rambutnya basah, tetesan air mengalir di pundaknya yang polos, dan wajahnya tampak ketakutan yang dibuat-buat.
"Itu... itu Om! Di bawah kasur! Gede banget kecoaknya!" teriak Aira sambil jingkrak-jingkrak, yang tentu saja membuat handuknya bergoyang berbahaya.
Gala mendekat dengan polosnya, matanya sibuk mencari serangga di lantai. "Mana? Nggak ada apa-apa, Ya. Mana kecoak—"
HUP!
Aira langsung melompat dari kasur dan menubruk tubuh Gala. Tangannya melingkar erat di leher Gala, kaki jenjangnya melingkar di pinggang pria itu. Gala terhuyung, refleks memegang pinggul Aira agar gadis itu tidak jatuh.
Gala membeku. Kulit mereka bersentuhan langsung. Hangat, lembut, dan wangi stroberi. Mata Gala benar-benar tidak bisa dikontrol lagi. Ia bisa melihat segalanya dari jarak sedekat ini. Namun, sebagai aktor kelas kakap, ia sekuat tenaga menahan ekspresi wajahnya agar tetap datar, meski jantungnya sudah mau meledak.
"Aira... turun. Nggak ada kecoak di sini," ucap Gala dengan suara serak, berusaha mempertahankan harga dirinya.
"Nggak mau! Takut! Tadi terbang, Om!" Aira sengaja makin mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di leher Gala.
Lalu, dengan gerakan yang sangat rapi, Aira berpura-pura kehilangan keseimbangan. "Aduh!"
BRUK!
Keduanya jatuh ke atas kasur empuk dengan posisi Gala menindih Aira. Di detik itu, bayangan wajah seram Elang Adytama langsung melintas di pikiran Gala."mampus gua.. kalau bang elang.. tau bisa bisa gua di kirim planet mars"
batin Gala mengumpat habis-habisan.
Gala hendak beranjak bangun, tapi tangan Aira masih mengunci lehernya.
CUP!
Sebuah ciuman mendarat tepat di bibir Gala. Singkat, tapi dampaknya seperti ledakan nuklir. Gala melotot, matanya nyaris keluar. Ia menarik napas ingin memarahi Aira habis-habisan, tapi belum sempat ia membuka mulut, Aira sudah menyambar dengan suara rendah yang sangat menggoda.
"Gak kuat Om... Om terlalu sempurna untuk dilewatkan.?" ucap Aira genit sambil mengelus lembut rahang gala
Gala oleng. Kata-kata itu, tatapan itu, dan sentuhan Aira membuat akal sehatnya terbang entah kemana. Bayangan wajah Elang yang nakutin mendadak blur, kalah telak dengan kenyataan bahwa ada gadis secantik Aira yang sedang memujanya di bawah tubuhnya.
Gala yang awalnya ingin marah, malah terdiam. Hasrat yang ia tahan selama bertahun-tahun seolah menemukan pintu keluar. Ia menatap bibir merah Aira, lalu menatap matanya yang penuh tantangan.
"kamu... kamu bener-bener mau main api sama om, Aira?" bisik Gala, suaranya kini benar-benar berat dan penuh ancaman—ancaman yang diinginkan Aira.
"Bakar aja sekalian, Om. yaya nggak takut," jawab Aira menantang.
Gala tidak tahan lagi. Ia menundukkan kepalanya, membalas ciuman Aira dengan intensitas yang jauh lebih kuat, melupakan fakta bahwa gadis di bawahnya ini adalah anak sahabatnya sendiri. Malam itu, apartemen Gala menjadi saksi bisu bahwa pertahanan sang aktor papan atas akhirnya runtuh di tangan sang "Tuan Putri" Adytama.
Gala nggak cuma diem lagi. Begitu bibirnya ketemu bibir Aira, suasananya langsung berubah 180 derajat. Bukan ciuman biasa, tapi ciuman panas yang penuh tuntutan—khas pria dewasa yang udah lama nahan diri.
Mata Aira yang tadinya penuh tantangan, langsung melotot kaget. Tubuhnya mendadak kaku. Dia yang tadinya ngerasa paling jago menggoda, sekarang sadar kalau dia cuma anak amatir yang lagi main-main sama singa lapar.
"Mmph—" Aira mencoba narik napas, tapi Gala bener-bener menguasai keadaan.
Tangan Gala yang tadinya ragu, sekarang mencengkeram pinggang Aira kuat banget sampai Yaya ngerasa sesak. Gala membalikkan posisi, sekarang dia yang bener-bener mengunci tubuh Aira di bawahnya. Aroma maskulin parfum Gala dan hawa panas dari tubuh pria itu bikin Aira sadar kalau "permainan" ini udah jauh melampaui apa yang dia bayangin.
Gala ngelepas ciumannya bentar, tapi jarak wajah mereka cuma satu senti. Napas Gala kedengeran berat dan berantakan di telinga Aira.
"Kenapa diem, Ya? Tadi katanya nggak takut dibakar?" bisik Gala rendah, suaranya parau banget dan seksinya nggak masuk akal.
Aira gemeteran. Jantungnya bukan lagi deg-degan, tapi udah kayak mau copot. Dia cuma bisa ngeremes kemeja Gala dengan tangan yang berkeringat. "Om... Om Gala..."
"Apa? Takut?" Gala menatap mata Aira tajam, seolah mau menelanjangi semua keberanian palsu gadis itu. "Ini yang kamu mau, kan? Jadi jangan tarik kata-kata kamu sekarang."
Pas Gala mau nyerang leher Aira, Yaya reflek nutup matanya rapat-rapat. Dia beneran kaget dapet serangan dadakan yang se-agresif ini dari pria yang biasanya dia panggil "Om" itu. Ternyata, Gala kalau udah lepas kendali itu jauh lebih berbahaya daripada Ayah Elang kalau lagi marah.
Gala yang ngerasa tubuh Aira gemeteran hebat, tiba-tiba berhenti. Dia natap wajah Aira yang udah merah padam dan ketakutan. Gala tersenyum miring—senyum penuh kemenangan.
Gala menjauhkan wajahnya, lalu menghela napas panjang buat netralin jantungnya yang juga hampir meledak. Dia duduk di pinggir kasur, membelakangi Aira sambil ngacak-ngacak rambutnya frustrasi.
"Makanya... jangan main-main sama api kalau kamu sendiri masih takut kena panas, Yaya," ucap Gala dingin, berusaha balikin image cool-nya meskipun dalem hati dia juga lagi nahan diri setengah mati buat nggak lanjut.
Aira cuma bisa narik selimut buat nutupin handuknya yang hampir lepas, mukanya bener-bener syok. Ternyata, naklukin Galasky Ardayana nggak segampang yang dia tulis di skenarionya.
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘