Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.
Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.
Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diam
Sekeliling mereka masih terlihat sangat kacau. Serena kemudian berdiri.
Kaki telanjangnya menginjak lantai. Pecahan kaca. Genangan air yang tumpah. semua dia lewati.
Krek.
Ada rasa perih. Tapi ia tidak peduli. Darah mulai menetes. Membasahi pecahan kaca di bawahnya.
Ia menatap Revan. Lurus. Tidak berkedip.
"Kalau kamu nggak bukain pintu itu sekarang... aku teriak. Sampai satpam datang. Sampai satu apartemen ini denger."
Suaranya tidak bergetar. Tenang. Tapi terasa sangat tajam.
Revan terdiam. Rahangnya mengeras.
Lalu, perlahan, ia berdiri juga.
Ia mendekat. Langkahnya pelan. Hatinya hati. Agar Serena tidak berteriak. Seperti sedang mendekati binatang liar yang bisa menggigit kapan saja.
"Rena... sayang... tenang ya," bisiknya. Tangannya terangkat, mencoba setenang mungkin. "Kita ngobrol di dalam aja. Di sini dingin."
Serena mundur selangkah. Pecahan kaca berderak di bawah kakinya.
Tapi terlambat.
Dalam sekali gerak, Revan menariknya. Mengangkat.
Aah!
Serena meronta. Memukul. Mencakar.
"LEPAS! LEPASIN AKU!"
Tapi gendongan Revan kuat. Terlalu kuat.
Ia membawa Serena masuk ke kamar. Menendang pintunya sampai tertutup.
Klik.
Terkunci. Dari luar.
Kamar itu kedap suara. Tebal. Dulu Revan yang meminta pasang peredam. Sengaja agar tidak berisik saat mereka bertengkar
Ironis.
Di luar, Revan menyandarkan punggungnya di pintu. Napasnya berat. Tangannya gemetar.
Di dalam, suara Serena pecah.
BUK! BUK! BUK!
"KELUARIN AKU! REVAN BUKA PINTUNYA!"
Ia menggedor sekuat tenaga. Bahunya membentur kayu. Telapak tangannya sakit.
Tapi tidak ada yang mendengar.
Tidak ada yang akan mendengar.
Hanya ada Serena. Dan empat dinding. Dan napasnya sendiri yang semakin sesak.
BUK! BUK! BUK!
Sampai tenaganya habis. Sampai ia terduduk lagi. Di lantai kamar. Menangis tanpa suara.
Tengah malam Jam 01.23
Klik.
Suara kunci berputar pelan.
Serena langsung siaga. Punggungnya menempel ke dinding. Napasnya masih tersengal. Mata bengkak.
Pintu terbuka sedikit.
Cahaya lorong masuk. Membelah gelapnya kamar.
Revan berdiri di ambang pintu. Jasnya sudah ia ganti menjadi kaos. Wajahnya lelah. Di tangannya ada nampan.
Ada semangkuk bubur. Air putih. Dan kotak P3K.
Ia tidak masuk. Hanya berjongkok di luar, sejajar dengan ambang pintu. Seolah takut Serena akan lari.
"Rena," panggilnya pelan. "Aku bawain makan."
Tidak ada jawaban.
Serena menatapnya. Tajam. Diam.
Revan menghela napas. Ia meletakkan nampan itu di lantai. Mendorongnya pelan ke dalam kamar.
"Kaki kamu berdarah," katanya lagi. Matanya lirik ke bawah. Ke kaki Serena yang masih menetes. "Biar aku obatin ya?"
Serena tetap diam. Tapi tangannya mengepal di atas lutut.
Revan tersenyum kecil. Pahit.
"Aku nggak ngurung kamu karena benci, sayang. Aku takut. Takut kamu kenapa-kenapa kalau keluar. Takut ada orang jahat. Takut..."
Suaranya tercekat.
Ia mengambil perban dari kotak P3K. Menjulurkan tangannya. Hati-hati.
"Boleh aku pegang kaki kamu? Sebentar aja."
Sunyi.
Hanya suara jam. Dan napas Serena yang berat.
Revan menunggu. Dengan nampan bubur di tengah mereka. Dengan perban di tangan.
Ia membuka kotak P3K. Mengambil tisu basah. Perlahan tangannya mendekat ke kaki Serena.
Begitu tisu itu menyentuh luka, Serena spontan menahan napas.
Sstt...
"Perih." Tanya Revan yang sedang fokus membersihkan lukanya.
Tisu yang dingin bertemu luka yang terbuka rasanya seperti disayat berulang kali.
Jari-jari Serena langsung mencengkram ujung kaosnya sendiri. Kuat. Sampai buku-buku jarinya putih.
Tetapi ia tidak bersuara. Tidak ada kata "sakit". Wajahnya datar. Matanya menatap lurus ke dinding di belakang Revan. Kosong.
Revan mengusap pelan. Membersihkan pecahan kecil dan debu.
Lalu ia ambil perban. Melilitkannya hati-hati di telapak kaki Serena. Mengikatnya.
Selama itu, Serena cuma diem.
Cengkraman di ujung bajunya makin kuat tiap Revan nyentuh bagian yang paling perih.
"Udah," kata Revan pelan. Suaranya serak. "Maaf ya kalau sakit."
Serena tidak menoleh.
Revan mendorong nampan bubur itu. Uapnya masih naik.
"Makan ya. Biar anget. Kamu belum makan dari pagi."
Hening selama tiga detik.
Lalu...
BRAKKK!
Mangkuk itu terlempar. Bubur panas tumpah ke lantai. Mangkuknya pecah. Berserakan di samping pecahan kaca yang tadi.
Tangan Serena kembali ke pangkuannya. Wajahnya datar. Tanpa ekspresi.
Revan terdiam.
Ia menatap bubur yang mengotori lantai. Menatap tangannya sendiri yang masih menggantung di udara.
Lalu ia menghela napas. Panjang. Lelah.
"Kalau kamu terus melawan, Rena..."
Suara Revan rendah. Pelan. Tapi menusuk.
"Kamu nggak akan bisa keluar dari sini."
Ia berdiri.
Tanpa menoleh lagi. Tanpa membersihkan.
Klik.
Pintu dikunci lagi dari luar.
Gelap.
Di dalam kamar, Serena masih duduk di tempatnya.
Di antara bau bubur, pecahan mangkuk, dan darah di perbannya.
Ia tidak menangis.
Ia hanya menatap ke depan.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut.
Ia merasa... mati rasa.