Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukungan Papah
Dimas masih enggan bangun dari tidurnya, tetapi Ia sadar saat ini sedang berada dirumah orang tuanya. Niatnya bermalam disini juga karena ingin melihat kondisi Papah. Bergegas mandi lalu turun keruang makan yang sudah berkumpul anggota keluarga lainnya. Raka melihatnya dari kursi tempat Ia sedang menyantap sarapan pagi.
"Pagi semua." Sapa Dimas yang masih mengenakan baju santai dirumah.
"Pagi sayang, lelah banget ya perjalanan Mu?" Tanya Lestari.
"Sedikit Mah, Papah sudah baik-baik saja?" Tanya Dimas.
Lestari menjadi bingung dengan pertanyaan Dimas, seperti yang sudah mengetahui kondisi suaminya. Ia berusaha terlihat tenang sambil tersenyum.
"Papah baik nak, Kamu enggak ke kantor hari ini?" Tanya Lestari mengalihkan pembicaraan Dimas.
"Tidak Mah, Saya ingin bekerja dari rumah saja." Ucapnya lalu duduk dikursi sebelah Raka.
Tatapan Raka masih dingin seperti belakangan ini kepada Kakaknya, sedangkan Dimas berusaha santai menanggapi perubahan sikap Adiknya.
"Raka bagaimana persiapan besok?" Tanya Subadiyo.
"Sudah semua diurus, tinggal keberangkatan saja besok. Hari ini Raka mau ke kampus pengurusan cuti. Pamit Mah, Pah, Kak Dim." Ucap Raka sambil berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan.
Dimas kembali menyelesaikan sarapan pagi, kedua orangtuanya beranjak menuju halaman belakang. Subadiyo harus banyak melakukan olahraga ringan untuk memulihkan kembali kesehatannya. Pola makan dijaga ketat, tidur yang cukup, tidak banyak melakukan aktifitas padat juga mendapat perhatian khusus dari sang istri tercinta.
Didalam ruang meja kerja Dimas membuka laptopnya untuk mulai bekerja, Ia mengabaikan info Nico yang semalam sudah memberitahukannya ada pertemuan siang nanti. Ia sudah mengirimkan pesan whatsapp kepada Nico untuk menggantikan posisinya lalu mengirimkan dokumen yang harus Ia tanda tangani kerumah. Ketika sedang membuka email masuk, teringat calon istrinya sedang apa Ia segera mengambil ponsel disamping laptop, tidak bisa fokus kerja sebelum mendengar kabar darinya.
📱Dimas
Assalamualaikum calon istri, sudah bangun kah dari dunia mimpimu?
Ting !!
Pesan dibalas, dengan cepat Dimas membuka kembali Layar ponsel yang menggunakan sandi tanggal dimana hari mereka dijodohkan.
📱Alya
Waalaikumsalam, sudah bangun dari subuh tadi Kak. Badanku masih pegel - pegel semua. Aku mau bantu Bunda masak, semangat kerjanya Kak Dim."
Dimas membaca pesan balasan dari Alya sambil senyum - senyum bahagia, penyemangat kerjanya. Segera Ia melanjutkan kembali membuka email membalas kolega dan mengecek hasil kerja lainnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Tiba di kampus Raka bertemu Harun saat berjalan menuju kelas. Mereka mengobrol sampai sepanjang jalan. Siang ini Ia akan menemui bagian admin kampus untuk segera mengurus dokumen cuti.
"Ka banyak yang patah hati ini." Ucap Harun asal.
"Siapa yang patah hati?" Tanya Raka penasaran.
"Cewek di kampus Kita lah. Apalagi tu si cewek modis Kimberly yang mepet Lo terus. Bentar lagi dia bakalan nangis bombay deh." Jelas Harun.
"Ah terserah Mereka, Gue enggak pernah ngusik urusan cewek disini." Ucap Raka.
"Serius Lo berapa lama disana? Libur kuliah Gue main kesana ya?" Tanya Harun.
"Liat nanti ya Run, enggak tau berapa lama disana." Jawab Raka.
"Jam berapa pesawat Lo besok?" Tanyanya kembali.
"8 pagi, Gue pergi dulu ya. Jangan kangen Lo. Hehehe." Ucap Raka.
"Oke Bro, hati - hati disana. Kalau kepincut cewek suku dayak disana sisain satu Ka." Canda Harun lalu memeluk teman satu kelasnya itu.
Kemudian Raka menuju ruangan admin kampus, setelah itu Ia sudah janjian bertemu Siska ditaman. Menunggu beberapa menit disana, akhirnya Siskapun datang dengan cantiknya mengenakan dres peach selutut lalu rambut panjangnya ia biarkan tergerai begitu saja.
"Maaf lama ya Ka?" Sapa Siska lalu duduk disampingnya.
"Enggak kok, baru beberapa menit lalu Aku juga baru sampai." Ucap Raka yang memandang lurus kedepan.
Siska berharap Raka akan memperhatikannya dengan tampilan Ia seperti ini, Ia mendengus kesal. Padahal Ia jarang sekali mengenakan dress, spesial dilakukannya untuk menarik perhatian Raka.
"Sis udah makan?" Tanya Raka memecah lamunannya.
"Belum, Kamu udah?" Siska balik bertanya.
"Kita makan diluar sambil Aku antarkan Kamu pulang." Jawab Raka.
Siska ikut berdiri, berjalan mengikuti langkah Raka menuju parkiran. Rasanya Ia ingin berlama-lama seperti ini. Esok Ia tak akan bisa mengulang waktu seperti ini bersamanya.
Raka membukakan pintu untuk Siska, lalu mengitari mobil depan dan masuk pintu kemudi. Menghidupkan mesin mobil, dan berjalan menuju cafe. Perlakuan Raka ini semakin membuat Siska untuk melupakannya. Sepanjang perjalanan Dimas memutarkan lagu koleksinya. ketika lagu dari grup musik 'RAN' diputar keduanya tanpa sengaja bersenandung bersama.
Pandangan Pertama - RAN
Lamaku memendam rasa di dada
Mengagumi indahmu wahai jelita
Tak dapat lagi kuucap kata
Bisuku diam terpesona
Dan andai suatu hari kau jadi miliki
Tak akan kulepas dirimu kasih
Dan bila waktu mengijinkanku
untuk menunggu dirimu
Lamaku memendam rasa di dada
Mengagumi indahmu wahai jelita
Tak dapat lagi kuucap kata
Bisuku diam terpesona
Dan andai suatu hari kau jadi miliki
Tak akan kulepas dirimu kasih
Dan bila waktu mengijinkanku untuk menunggu dirimu
Kurasa ku t'lah jatuh cinta
Pada pandangan yang pertama
Sulit bagiku untuk bisa
Berhenti mengagumi dirinya
Seiring dengan berjalannya waktu
Akhirnya kita berdua bertemu
Oh diriku tersipu malu
melihat sikapmu yang lucu
Dan andai suatu hari kau jadi miliki
Tak akan kulepas dirimu kasih
Dan bila waktu mengijinkanku untuk menunggu dirimu
Kurasa ku t'lah jatuh cinta
Pada pandangan yang pertama
Sulit bagiku untuk bisa
Berhenti mengagumi dirinya
Oh tuhan tolonglah diriku
'tuk membuatnya menjadi milikku
Sayangku
Kasihku
Oh cintaku
She's all that I need
Dan bila kita bersama
Kan kujaga dirimu untuk selamanya
Oh terima cintaku
ye ye ye
Keduanya saling memandang, kemudian tertawa lepas. Seakan saling mengartikan perasaan satu sama lain. Raka kembali fokus menyetir lurus kedepan. Siska mengalihkan pandangan keluar jendela kiri mobil. Bersama Rakalah tak ada rasa malu, Ia sudah merasa nyaman didekatnya. Ia tidak bisa bayangkan esok dan sampai kapan Raka akan kembali ke Jakarta.
Siska berencana akan mengantar Raka kebandara esok pagi. Mereka janjian bertemu di Bandara SoeTa. Setelah selesai makan lalu mengantar Siska pulang, Dimas mengarah pulang menuju rumahnya. Hari ini sangatlah lelah, Ia ingin istirahat lebih awal karena esok akan berangkat pagi.
Tiba dirumah, Raka langsung menuju lantai dua. Ketika berjalan melewati ruang kerja Papahnya, tak sengaja Ia mendengar pembicaraan Dimas bersama kedua orangtuanya.
"Saya ingin melangsungkan acara pernikahan dalam waktu dekat ini, Alyapun setuju. Bagaimana menurut Papah dan Mamah?" Ucap Dimas dengan tegas.
"Papah juga inginnya seperti itu, Papah dan Mamah pasti setuju. Lalu bagaimana dengan orangtua Alya apakah sudah mengetahui?" Tanya Subadiyo.
"Rencananya lusa Dimas akan menemui kedua orangtuanya untuk menyampaikan ini." Jelas Dimas.
"Baiklah nak, Kami mendukung apa yang lakukan." Jawab Subadiyo.
Hati Raka sakit mendengar penuturan Dimas, lalu Papah langsung mengiyakan, bahkan dengan jelas berbicara 'mendukung apa yang Kakak lakukan'. Sedangkan dirinya tidak mendapatkan kesempatan itu. Raka segera masuk kedalam kamar, Ia langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan fikirannya.
.
.
.
Renata nya Thor