Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
CAPTER 33
LEMBARAN BARU
Pak Malik tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia terus memikirkan hubungan kedua anaknya. Dia mengira telah terjadi pertengkaran pada keduanya, yang membuat Naura mengurung diri dan juga mogok makan.
“Ya Allah Na masak cuma gara-gara lagu kamu udah marah.” Guman pak Malik yang duduk termenung diruang
kerja.
Melihat tuannya pagi-pagi sudah berada diruang kerja, bik Siti berinisiatif mengantarkannya teh hangat. Dan mencoba membantunya mengurangi beban pikiran yang memberatkannya.
“Tuan ini teh hijau...tolong diminum.” Ucap bik Siti sambil meletakkan segelas teh hijau dimeja.
“Makasih Bik!.” Kata pak Malik.
“Tuan jangan sedih terus...jangan banyak pikiran takut sakit.” Mengingatkan pak Malik.
“Gimana nggak jadi kepikiran Bik...anak-anakku hubungannya tambah sulit...saya sudah memutuskan buat ngasih
kebebasan tapi nak Hasan kayaknya nggak setuju.” Tutur pak Malik.
“Tuan mungkin Aden ngggak mau menerimanya karena dia yakin akan bisa membuat mba Naura menerimanya. Den Hasan orang yang cukup sabar ngadepin Non, saya yakin keduanya pasti bakal saling membutuhkan nantinya.”
“Bik apa Nana sudah turun?.” tanya pak Malik mengalihkan pembicaraan.
“Belum Tuan habis ini saya akan coba bujuk Non biar mau keluar dari kamar.”
“Gimana Nana itu...suaminya sakit kok malah ngambek, saya ini khawatir sama nak Hasan bik.” Ungkap pak
Malik.
“Iya tuan..saya akan coba bujuk Non dan lihat keadaan mas Hasan.” Seru bik Siti.
Setelah keluar dari ruang kerja pak Malik, bik Siti langsung bergegas keatas. Bik Siti yang mengira Naura marah besar, berniat membujuknya untuk keluar dari kamar. Lalu akan membantunya untuk mengusir kemarahan itu, tentunya dengan cara mendekatkan kembali mereka berdua.
Sementara itu didalam kamar, keduanya tengah berada dalam kamar mandi. Bik Siti dengan polosnya mengetok pintu kamar berulang-ulang tapi juga tidak ada tanda-tanda akan dibuka.
“Aneh masak mas Hasan nggak dengar...tapi mas Hasan kan lagi sakit.” Gumannya dan kembali turun.
Setelah memandikan Naura, Hasan membungkus tubuh istrinya dengan jubah mandi dan mengangkatnya keluar lalu meletakkan dikursi rias. Memanjakan Naura dengan merawatnya, tangan Hasan mengambil minyak zaitun lalu dia menirukan Naura menerapkannya keseluruh lapisan kulit. Mula-mula dia menerapkannya dibagian lengan, lalu berlanjut dibagian kaki dan merangkak naik menelusuri paha. Naura menggeliat karena sentuhan tangan Hasan membuatnya geli. Hasan tersenyum lembut mendapati respon tubuh istrinya, tangannya dengan semangat mengoleskan minyak zaitun kebagian atas tubuh Naura.
“Emmm...geli!.” Naura berguman.
Rupanya suara yang keluar dari mulut Naura, membuat hasrat suaminya kembali menyala. Nafasnya mulai berubah ketika tangannya menelusuri tubuh Naura dan berhenti diperbukitan. Naura mengerang ketika tangan
itu terus mondar mandir disana. Nafasnya mulai terengah-engah dan matanya tertutup rapat seolah menghayati setiap sentuhan yang dibuat. Hasan yang dalam posisi berlutut, perlahan mendekatkan tubuhnya. Tangannya dengan pelan bergerak kebahu Naura, menyusup kedalam panggakal leher dan menggeser jubah mandi itu
kesamping sampai bahu ramping istrinya terlihat. Kepalanya bergerak kesana dengan cepat dan membenamkannya dipundak Naura, bergeser kedalam sampai lekukan antara bahu dan leher.
“Emmm....” Erangan Naura semakin inten.
Cukup lama bercumbu dimeja rias, sampai akhirnya Hasan mengangkat tubuh Naura dan membaringkannya diranjang. Kembali dua anak adam itu terbuai dengan kenikmatan surga dunia. Seolah tidak ada bosannya, kenikmatan itu terus menghipnotis dan memberi candu yang tak berkesudahan. Bahkan candu itu seolah memberi kekuatan pada Hasan untuk menghisap sisa-sisa energi yang masih tersimpan didalam tubuh istrinya.
Naura terkulai lemas tak berotot diatas ranjang. Jangankan untuk berjalan berdiripun dia tidak sanggup. Tapi Hasan justru sebaliknya, dia seolah-olah tak terpengaruh.
“Mas buatin susu dulu ya Dek!." seru Hasan sambil mengusap rambut Naura.
“Hmmm....” Jawab Naura yang masih terlilit selimut.
“Tunggu!." Panggil Naura tiba-tiba.
Langkah Hasan terhenti, dia menoleh ke Naura yang berada ditempat tidur.
“Iya Dek!.” jawabnya.
“Ka-kamu nggak ke kampus kan?.” tanya Naura ragu.
“Nggak mas nemenin Adek aja...kenapa?!.” jawab Hasan dan balik bertanya.
“Aku pikir aku bakal ditinggal ke kampus.” Seru Naura sedikit manja.
Hasan tersenyum sebelum kembali melangkah dan turun untuk mengambilkan Naura sarapan dan membuatkannya susu coklat. Terlihat pak Malik sudah berada dimeja makan, dan bik Siti sedang mengurusnya.
“Loh Aden...sudah sembuh Den?.” tanya bik Siti begitu melihat Hasan.
Hasan tidak menjawab dia hanya tersenyum pada bik Siti dan juga pada pak Malik. Tidak mendapati Naura turun bersama dengan suaminya, pak Malik langsung mengajukan pertanyaan pada Hasan.
“Istrimu mana Nak kok nggak ikutan turun?.”
“Deg”
“Ya Allah mesti jawab apa aku ini.” Gumannya didalam hati.
Jantung Hasan kaget menerima pertanyaan itu, dia bingung harus menjawab apa. Otaknya terus berpikir alasan apa yang akan dia keluarkan, tidak mungkin dia mengatakan istrinya sedang tidur. Pak Malik pasti akan berpikir mereka berdua bertengkar lagi. Dan itu hanya akan membuat beliau semakin sedih dan kepikiran.
“Iya Den mana Non Naura?.” Tambah bik Siti.
Kepala Hasan semakin mumet, dia terdiam sejenak sebelum menjawabnya asal.
“Adek diatas...kayaknya kurang enak badan.” Jawaban asal dari Hasan.
“Maksudnya Non sakit?.” bik Siti memastikan.
Hasan mengangguk pelan sementara pak Malik mulai mencemaskan putrinya.
“Non itu kalau sakit rewel banget, nggak mau makan, sama dokter juga nggak mau soalnya takut disuntik.” Tutur bik Siti yang mencemaskan Naura.
“Ya sudah Nak ayo sarapan dulu biar bik Siti buatin Nana bubur.” Ucap pak Malik.
“Iya Den bibik buatin Non bubur.” Sambung bik Siti dan kembali ke dapur.
Hasan tersenyum tipis, dengan pelan dia menarik kursi dan duduk didekat pak Malik untuk sarapan berdua dengannya. Wajah pak Malik terlihat tidak cerah, kecemasan jelas terlihat mendominasi wajahnya. Hasan
merasa bersalah karena telah berbohong dan membuat mertuanya terbebani.
“Habis ini papa telfon dokter Fahmi kesini...” Tiba-tiba pak Malik bersuara.
“Mati aku!.” Batin Hasan.
Hasan tertunduk, pikirannya bergelantungan mencari alasan yang tepat agar pak Malik tidak memanggil dokter untuk memeriksa istrinya. Bahkan selera makannya jadi hilang karena memikirkan hal itu.
Selesai makan dia langsung menemui bik Siti didapur, dia meminta bik Siti untuk menyiapkan sarapa buat Naura.
“Loh Den katanya sakit...ini buburnya udah mau matang.” Ucap bik Siti.
“Adek cuma kurang enak badan bik.”
“Ya kan artinya sakit Den...ini bibik buatin bubur.”
“Saya coba aja dulu siapa tahu mau sarapan.” Kata Hasan.
Setelah menuangkan bubur kedalam mangkok, bik Siti mengambil piring dan kembali kemeja makan untuk mengambilkan sarapan buat Naura.
“Bik ada susu sama coklat nggak disini?” tanya Hasan begitu bik Siti kembali.
“Ada Den....” Jawab bik Siti.
Setelah menaruh piring dinampa, bik Siti segera mengambil susu dan coklat yang diminta Hasan.
“Buat apa Den?.”
“Mau bikin susu coklat buat Adek.” Jawab Hasan santai.
“Ohhh...biar bibik yang buat Den.” Ucap bik Siti menawarkan diri.
Namun Hasan menolaknya, dia bersikukuh untuk membuatkan Naura minuman susu coklat dari tangannya sendiri. Bik Siti pun menyerah, dia membiarkan Hasan membuatnya sendiri. Sementara dia hanya melihat dan mengawasinya.
Diruang kerja, pak Malik yang mencemaskan putrinya menelfon dokter Fahmi dan meminta dokter itu untuk segera datang. Naura adalah anak semata wayangnya, tiap kali mendapati putri cantiknya itu sakit dia akan kehilangan separuh semangat dalam dirinya. Bahkan pak Malik menunda rapat pagi ini, dan memilih tidak pergi ke kantor sebelum mendapati putrinya kembali sehat.
“Bik saya keatas dulu ya!.” Ujar Hasan sambil membawa nampan yang berisi susu coklat, bubur dan sepiring nasi untuk sarapan Naura.
Bik Siti mencium gelagat keanehan tapi dia masih tidak bisa menerka keanehan apa yang ada pada Hasan pagi ini. Dia terus berpikir untuk menemukan jawabannya.
Didalam kamar Naura masih terbaring diranjang, Hasan masuk kedalam dan menaruh nampan dimeja dekat sofa. Setelah membantu Naura memakai baju, dia membopong tubuh istrinya ke sofa.
“Loh kok ada bubur?.” tanya Naura heran.
“Maafin mas ya Dek.” Jawab Hasan lemah.
“Kenapa?!.” tanya Naura mulai cemas.
“Itu...mas tadi terpaksa bilang Adek lagi sakit.” Jawab Hasan.
“Kok dibilang sakit!.” Protes Naura.
“Terus mas bilang apa sayang...nggak mungkin mas bilang Adek tidur entar Papa bisa marah sama Adek.” Tutur Hasan menjelaskan.
“Iya juga sih.” Guman Naura lemah.
“Sekarang Adek makan dulu.” Pinta Hasan.
Hasan berinisiatif untuk menyuapinya dan Naura dengan suka cita menerima perhatian yang diberikan. Tidak hanya itu dia juga bersikap manja pada Hasan, membuat wajah Hasan dipenuhi senyuman.
“Tok Tok Tok”
Bik Siti mengetok pintu kamar Naura, pak Malik dan dokter Fahmi berdiri disampingnya. Mendengar suara ketokan pintu, Hasan segera bangkit dan berjalan ke pintu untuk membukanya. Begitu pintu terbuka, Hasan
kaget mendapati tiga orang berdiri didepan pintu. Tiga orang itu tak lain adalah pak Malik mertuanya, seorang dokter yang bernama dokter Fahmi dan juga bik Siti.
“Ya Allah!.” Batinnya menjerit frustasi.
“Den ini ada dokter Fahmi mau periksa Non.” Ujar bik Siti dengan wajah tak berdosa.
“Adek kayaknya cuma kurang enak badan aja...mungkin habis istirahat bakal mendingan.” Hasan mencari alasan.
“Nak Nana itu kalau udah bilang kurang enak badan pasti jatuhnya ke sakit...papa hafal betul.” Pak Malik mendesak.
Naura mendengar percakapan antara suami dan papanya diluar, bingung tidak tahu harus berbuat apa dia dengan penuh perjuangan kembali ketempat tidur dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Tak lupa dia
juga menyelipkan jubah mandinya dibawah selimut.
“Duhhh ini semua gara-gara si Wadimor itu.” Gumannya.
Hasan tidak bisa berdebat dengan mertuanya sendiri, ototnya tiba-tiba terasa lemas ketika pak Malik masuk bersama dokter Fahmi dan juga bik Siti yang mengintil dibelakang.
Bik Siti melirik Hasan sebentar sebelum dia melangkah masuk, pikirannya mengenai keanehan Hasan semakin kuat. Sambil berjalan dia terus berpikir, namun jawaban belum juga ditemukan.
Wajah Hasan memerah karena panik dan bingung, tidak mungkin baginya membuat pengakuan dihadapan mereka bertiga.
“Na ini dokter Fahmi mau cek bentar...ayo bangun dulu.” Pinta pak Malik.
“Nggak usah Pa.” Jawab Naura dengan suara pelan.
“ayo Sayang...setidaknya biarkan dokter Fahmi periksa suhu tubuhnya Nana.” Rayu pak Malik.
“Dokter mungkin istri saya hanya kecapek an dan butuh vitamin.” Hasan bersuara.
Dokter Fahmi tersenyum ramah padanya, dia mengambil posisi duduk didekat Naura dan mencoba membujuk Naura. Dokter Fahmi belum sepenuhnya menyadari kehadiran Hasan sebelum Hasan
kembali bersuara.
“Dokter kalau istri saya belum bersedia tolong jangan dipaksa...biar saya bujuk dulu inshaallah nanti saya akan bawa istri saya periksa ke dokter.” Tutur Hasan berusaha menghalangi.
“Loh pak Malik mba Naura sudah menikah?.” tanya dokter Fahmi.
“Iya Dok baru dapet satu bulan yang menikah...inshaallah acara resepsinya menyusul.” Tutur pak Malik.
“Ohhh...jadi masih pengantin baru.” Ujar dokter Fahmi sambil tersenyum.
Dia juga menoleh ke Hasan dengan tatapan mata yang ambigu, Hasan pun tersenyum ambigu sebelum menundukkan wajahnya. Untungnya dokter Fahmi langsung bisa membaca situasi yang terjadi diantara pasangan pengantin baru, dia langsung bangkit dan menuliskan resep vitamin untuk Naura.
“Mas ini resep vitamin buat istrinya ya.” Ucap dokter Fahmi.
Segera Hasan mendekat dan mengambil resep yang ditulis dikertas dari tangan dokter Fahmi. Dengan usil dokter Fahmi menepuk pundak Hasan dan tersenyum padanya. Hasan tertunduk karena malu dan merasa konyol dibuatnya.
Dokter Fahmi langsung pamit, pak Malik dan Hasan mengantarnya sampai ke mobil. Sebelum masuk mobil dokter Fahmi berkata pada Hasan,
“Mas yoghurt itu baik buat menjaga kebugaran.” Ucapnya sambil tersenyum.
Hasan tidak menjawab dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sekali.
Sementara itu bik Siti yang masih dikamar Naura berusaha membujuknya untuk bangun, namun Naura sama sekali tidak bersuara. Dia pun tidak memaksakan diri, namun sebelum keluar mata bik Siti tak sengaja melihat ke sofa dan mendapati susu coklat yang dibuat oleh Hasan hampir kosong. Sementara sarapan dipiringnya tinggal separuh.
“Non kan kalau sakit nggak mau makan.” gumannya dihati.
----
Sudah dua hari Naura mengurung diri dikamar, pak Malik mulai mendesak Hasan untuk segera membawanya kerumah sakit. Namun Hasan terus berkilah kalau Naura hanya kurang mood saja. Pak Malik yang bijaksana menerima pengaturan yang dibuat Hasan, beliau sadar bahwa tanggungjawabnya sudah berganti estafet pada Hasan.
“Dek mas punya solusi tapi kalau Adek mau nerimanya.” Ucap Hasan yang sedang memeluk Naura di sofa.
“Apa?!.” tanya Naura.
“Yang bikin Adek nggak keluaran dari kamar kan merah-merah ini...gimana kalau Adek nutupinnya pakek hijab!.” Tutur Hasan menyampaikan idenya.
“Maksudnya aku harus ganti jadi wanita muslimah...terus pas udah ilang merah-merahnya lepas lagi gitu?!." Ujar
Naura.
“Ya kalau bisa jangan dilepas takutnya merah-merah terus!." Goda Hasan.
Naura langsung mencubit perut Hasan namun tidak melepaskan pelukannya.
“Awww...sakit Dek!.” Rintih Hasan.
“Siapa suruh punya niatan nggak bener.” Protes Naura.
“Bukan niatan nggak bener Dek...takutnya hilaf terus.” Membela diri.
“Nggak aku nggak mau pakek hijab so nggak ada merah-merah lagi.” Tolak Naura.
“Loh emangnya kenapa...toh sekarang orang berhijab tetep kelihatan modis...hijab kan udah ngikuti tren Sayang.”
“Aku belum tua.”
“Masak harus nunggu tua.”
“Pokoknya aku nggak mau...terus kamu juga nggak boleh bikin tato merah lagi.”
Hasan tersenyum dan semakin mempererat pelukannya.
“Aku pengen makan eskrim.” Guman Naura spontan.
“Eskrim?!.” Hasan mengulangi.
Naura mengangguk pelan, Hasan pun dengan suka rela bersedia membelikannya.
“Mas beli dulu ya." Ucapnya sebelum keluar dari kamar.
Bik Siti yang melihat Hasan tergesa-gesa menuruni tangga, langsung berlari menghampirinya.
“Mau Kemana Den kok buru-buru?.” tanya bik Siti cemas.
“Mau beli eskrim buat Adek.” Jawab Hasan sambil terus berjalan dengan cepat.
Jawaban Hasan tak pelak membuat bik Siti terkaget, dia mulai menaruh kecurigaan pada dua anak muda tersebut.
“Eskrim?!."
Untuk memuaskan hati dan pikirannya, bik Siti segera naik keatas. Dia mengetok pintu kamar Naura. Naura yang mengira itu adalah Hasan yang kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal, langsung berjalan
kepintu dan membukanya.
Matanya terkaget begitu yang berdiri adalah bik Siti bukan suaminya. Naura langsung membalikkan badan, berharap bik Siti belum sempat melihatnya.
“Duhhh bodoh mana mungkin dia ngetok pintu dulu.” Omelnya dalam hati.
“Non sudah sembuh?.” tanya bik Siti.
“Iya...udah sana!” ucap Naura tanpa melihat ke bik Siti.
“Kalau gitu ayo turun Non...biar tuan nggak murung.”
“Ihhh bibik...udah sana!." Pinta Naura, berbalik badan dan langsung menutup pintu.
Mata bik Siti yang jeli tak sengaja menangkap tinta merah dileher Naura, bukan hanya satu tapi lumayan. Senyumnya langsung memuncah, dia berjalan kebawah dan memikirkan kebodohannya dan kepolosan pak Malik yang memanggil dokter.
“Bibik dari atas?.”
Suara pak Malik mengagetkan bik Siti yang sedang berjalan dan masih terhanyut dengan pikirannya sendiri.
“Ehh..iya Tuan.” Jawabnya.
“Dari kamar Nana...gimana dia Bik saya kepikiran terus?.”
Bik Siti hanya tersenyum merespon curhatan pak Malik padanya, lalu mendekatkan diri kearah pak Malik sebelum bersuara.
“Tuan nggak usah kepikiran sama Non.” Ucap bik Siti pelan.
Pak Malik kaget mendengar perkataan bik Siti, dia hendak bersuara tapi bik Siti memotongnya.
“Tuan cukup berdo’a saja semoga rumah ini lekas ramai sama tangisan bayi.” Tutur bik Siti pelan.
“Maksudnya Bik?.”
“Ihhh Tuan ini emang kurang peka...kayaknya dokter Fahmi kemaren langsung peka deh Tuan.”
Pak Malik mencoba menelaah perkataan bik Siti dan juga kembali mengingat dokter Fahmi kemarin dikamar Naura yang mengatakan pengantin baru. Senyumnya mengembang begitu mencerna semuanya dengan baik, dia bahkan langsung meninggalkan bik Siti yang masih berdiri.
Pak Malik tengah duduk santai sambil menonton televisi ketika Hasan kembali dari luar dan menenteng sesuatu ditangannya.
“Darimana Nak?.” Tanya pak Malik menghentikan Hasan.
Hasan yang hendak menaiki tangga terpaksa berhenti dan membalikkan badan.
“Dari luar Pa.” Jawab Hasan.
“Ohhh...apa itu yang ditangan?.” Tanya pak Malik sekali lagi.
“Ini eskrim Pa.” Jawab Hasan ragu.
“Ya sudah cepetan keburu cair entar eskrimnya.” Ucap pak Malik.
Begitu Hasan menaiki tangga dan tak terlihat lagi, pak Malik langsung memanggil bik Siti.
“Iya Tuan!”
“Bik tolong buatkan Nana herbal yang bagus buat kesuburan ya.” Pinta pak Malik.
“Iya Tuan!”