Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi Nekad Kean
Hari ini adalah hari dimana para anggota BEM beserta panitia acara kampus 2 minggu yang lalu akan mengadakan pesta kecil di salah satu pantai dekat kota Jogja. Sekedar merayakan kesuksesan acara mereka dengan makan bersama di rumah makan pinggiran pantai. Ada 2 bis yang berangkat karena beberapa dari mereka memang mengajak orang yang dianggap dekat, salah satunya Januar yang mengajak Jeviza beserta antek-antek gadis itu yang ikut serta.
Jeviza menatap punggung Kean yang sedang menerima panggilan telepon di depan sana. Punggung tegap itu yang untuk seminggu ini bisa ia lihat dengan bebas. Tanpa sadar sudut bibir Jeviza tertarik ke atas, sebelum akhirnya lenyap setelah Kean menoleh padanya. Bukan karena tidak suka dengan tatapan yang Kean layangkan untuknya, tetapi Jeviza malu kalau Kean sampai memergokinya sedang tersenyum sembari mencuri pandang padanya.
Jeviza pura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal tidak ada yang ia lakukan selain membuka layar kunci, lalu menggulir layar sembarangan.
"Je," panggil Kean dengan nada suara yang terdengar berat.
Entah kenapa perasaan Jeviza mulai tidak tenang, tidak senyaman tadi meski keduanya sudah sepakat untuk bersikap biasa saja, mengingat Jeviza ikut atas ajakan Janu, bukan Kean.
"Ayo, berangkat," ujar Kean setelahnya.
Bukan itu yang ingin Kean katakan, tetapi jadwal kepergian mereka dan Kean untuk meninjau pembangunan di Semarang bersamaan, namun Kean tidak mengatakannya, tidak ingin membuat Jeviza kecewa. Kean berniat mengurus semua setelah kepulangan mereka nanti.
"Bentar, kak." Jeviza menutup pintu terlebih dahulu. Namun tidak lama Puspa datang dengan mata setengah terbuka. Kentara sekali kalau masih mengantuk.
"Hati-hati, jangan ngebut, Ke."
Jeviza dan Kean mengangguk, lalu pamit dan masuk ke dalam mobil Arlo yang kini dipinjam lagi oleh Kean.
Langit masih gelap, udara di sekitar masih sangat sejuk dan bersih, belum banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Tetapi di dalam kabin, suasana begitu tenang, hangat, dan mampu membuat Jeviza kembali ingin menutup matanya lagi. Terlalu tenang dan nyaman sampai Jeviza rasanya tidak tahan untuk terus membuka matanya.
Kean menoleh, senyumnya tersungging melihat bagaimana Jeviza mencoba tetap bertahan membuka matanya.
"Nggak papa kalau mau tidur, masih jauh," ujar Kean membuat Jeviza menoleh. Lalu menggeleng.
Merasa Jeviza terlalu memaksakan diri agar tetap terjaga, membuat Kean menggelengkan kepalanya. "Mau mampir apart dulu buat tidur bentar?"
Mata Jeviza seketika langsung terbuka lebar. Rasa kantuknya hilang. Ia mengekan tubuhnya, lalu menatap Kean dengan dengusan.
"Gue nggak ngantuk kok, cuma-"
"Bosan?" sela Kean menoleh Jeviza sekilas.
Kean terkekeh pelan, lalu menambah laju kendaraannya, sebelum akhirnya berhenti di samping jalan.
"Sarapan dulu, yuk, di sini ada yang jualan bubur ayam dari jam 4."
Jeviza mengangguk, ia melirik jam di layar ponselnya yang masih menunjukan angka setengah 6 kurang, masih ada waktu sampai mereka selesai sarapan dan sampai di titik kumpul, pelataran kampus.
Setelah memesan bubur ayam dua porsi, Kean duduk di karpet yang disediakan oleh penjual tersebut. Jeviza ikut duduk di sebelah Kean, sesekali melihat ke sekitar.
"Sering makan di sini?" tanya Jeviza membuat Kean menggeleng.
"Enggak, kak Pus selalu tepat waktu buat sarapan, tapi kalau mampir bengkel dulu, gue pasti bawain buat anak-anak."
Jeviza mengangguk, hampir setiap hari memang Kean tidak pernah absen sarapan bersama dengan Puspa dan Arlo, berbeda dengan dirinya yang terkadang kesiangan, berakhir dibawakan bekal oleh Puspa.
Pesanan mereka datang, keduanya menikmati hangatnya bubur ayam yang takaran bumbunya sangat pas.
"Enak?" tanya Kean diangguki Jeviza.
Tidak ada lagi obrolan setelah itu, sampai keduanya selesai.
"Je, ini." Kean menyerahkan lembaran berwarna merah pada Jeviza. "Kembaliannya buat bapaknya aja," lanjut Kean diangguki Jeviza.
Hal sederhana yang membuat hati Jeviza menghangat tahu kebaikan Kean selain membantu anak-anak di bengkel yang ingin melanjutkan sekolah.
Sampai di dalam mobil. Kean tidak langsung menyalakan mesin mobil, ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menoleh pada Jeviza, menatap penuh Jeviza yang mendadak gugup karena jarak mereka dan juga situasi sekarang.
"Ini atm isinya nggak seberapa, tapi lo nggak akan bingung kalau mau jalan sama temen atau sesekali traktir mereka." Kean menyerahkan kartu atm pada Jeviza.
Jeviza terdiam, mengamati kartu yang belum ia terima, masih menggantung di tangan Kean.
"Ck, gue nggak bilang ini nafkah buat lo, tapi bisa buat jajan lo, Je."
Jeviza mengejapkan mata beberapa kali. Menatap kartu atm di depannya. "Ka, sebenarnya gue masih ada duit kok, jadi lo nggak perlu kasih gue ini, gue punya atm sendiri. Ini bukannya gue nolak ya? Tapi rasanya aneh aja."
Kean terkekeh, ia sendiri merasa aneh, memberikan uang atau kartu atm pada Jeviza, masih seperti tidak nyata, tetapi kenyataannya memang mereka kini suami istri.
"Gue suami lo, Je. Sekarang lo tanggung jawab gue, emang nggak seberapa, tapi bisa buat bayar kuliah lo juga, nanti setiap minggu gue tambah, Je."
Jeviza menelan ludahnya susah, sejujurnya ia sendiri tidak kekurangan apapun, orang tuanya selalu mencukupi kebutuhannya. Tapi menolak juga tidak mungkin Jeviza lakukan, ia cukup paham apa maksud Kean.
"Oke, gue terima, makasih kak."
Kean mengangguk dengan seulas senyum, lalu mengacak pelan puncak kepala Jeviza.
"Nanti gue tanya Bian buat dikasir bengkel, temen lo masih butuh kerjaan kan?"
Jeviza mengangguk, beberapa hari lalu ia memang bercerita atau meminta bantuan Kean untuk mencarikan pekerjaan untuk Tevi. Sangat disayangkan sekali, kafe Gio baru saja menambah 2 pegawai, hanya bengkel Kean yang memang posisi kasir kadang dipegang Bian, terkadang juga Zudit, tidak menentu atau bisa dibilang masih kosong.
"Makasih kak," cicit Jeviza merasa lega.
Ia lalu melirik atm yang diberikan tadi, hatinya menghangat, Kean mau memberinya nafkah padahal Jeviza belum andil apa-apa sebagai seorang istri, sampai sekarang Kean masih melakukan apa-apa sendiri, dari mulai mengambil baju atau menyiapkan baju yang akan ia kenakan ke kampus.
Mobil berhenti di parkiran, sudah ada beberapa motor dan mobil milik yang lain. Bahkan teman-teman Jeviza sudah lebih dulu sampai di sana.
"Je," lirih Kean sebelum Jeviza sempat turun.
Jeviza menoleh, belum sempat bertanya tiba-tiba bibir Kean sudah mendarat di bibirnya, dalam dan penuh dengan rasa, mampu menghantarkan gelenyar aneh yang melanda Jeviza saat ini, sebelum akhirnya ciuman itu terlepas. Jeviza tertegun, dengan degup jantung yang sudah terpompa dengan sangat cepat, aksi Kean terbilang nekad sekali mengingat di luar sana sudah banyak anak-anak, kalau ada yang melihat, tamat sudah riwayat Jeviza.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan dari luar jendela membuat Jeviza tersentak, ia menoleh dan mendapati Tevi sedang mencondongkan tubuhnya, di belakangnya ada Naura dan Sisil yang mengikuti.
"Gu-gue, turun ya, kak?"
Kean hanya mengangguk, membiarkan Jeviza turun dari mobil, tidak ada yang curiga karena memang semuanya terkecuali beberapa orang terdekat mengira mereka saudara jauh yang kebetulan tinggal bersama.
Kean memperhatikan Jeviza yang masih berdiri di sebelah mobilnya, sebelum akhirnya mengetuk kaca jendela mobil, membuat Kean menurunkannya dan wajah mereka kembali berhadapan tanpa penghalang.
"Pagi kak," sapa Sisil dan Naura di belakang Jeviza.
Kean melirik sekilas, lalu mengangguk. Sebelum akhirnya kembali menatap Jeviza. "Je, lipstik lo, sedikit-belepotan."
Jeviza tercekat, meraba bagian bibirnya dengan pipi yang sudah memerah.
Keanjing
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭