kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
...****************...
Malam mulai menyelimuti Singapura.
Lampu-lampu gedung pencakar langit memantul indah di permukaan Marina Bay.
Di ballroom Hotel Meridian, sebuah jamuan bisnis kembali digelar untuk merayakan kemajuan kerja sama antara Hills Corporation, Andreas Corporation, dan para investor internasional.
Para tamu memenuhi ruangan dengan setelan jas dan gaun mewah.
Alunan musik klasik mengiringi percakapan para pebisnis.
Evelyn berdiri bersama Naomi sambil berbincang dengan beberapa investor.
Tak jauh dari sana, Arseno sedang berdiskusi dengan Daniel Lim mengenai jadwal penandatanganan kontrak akhir.
"Kinerja kalian benar-benar melampaui ekspektasi," puji Daniel.
Arseno mengangguk sopan.
"Terima kasih."
Di sudut ruangan...
Seorang pria berjas abu-abu memperhatikan keduanya.
Namanya Victor Lau, direktur perusahaan pesaing yang sejak awal mengincar proyek tersebut.
Ia menatap layar ponselnya.
Di sana sudah tersusun sebuah rencana.
"Bersiap."
Perintah singkat itu dikirim kepada seseorang.
Tak lama kemudian, seorang fotografer yang menyamar sebagai staf acara mulai bergerak.
Sementara itu...
Evelyn berjalan menuju meja hidangan.
"Masih lapar?" tanya Arseno yang baru menghampirinya.
Evelyn tersenyum kecil.
"Aku selalu lapar."
"Itu sudah kuduga."
"Aku hanya ingin mencoba dessert."
"Kau sudah mencoba tiga."
"Masih ada dua yang belum."
Arseno menggeleng sambil tertawa pelan.
"Tidak ada yang bisa mengalahkanmu soal makanan."
"Tentu."
Saat mereka berbincang santai, fotografer tadi diam-diam mengambil gambar dari sudut tertentu.
Dari posisi kameranya...
Terlihat seolah-olah Arseno sedang menggenggam tangan Evelyn.
Padahal kenyataannya, Arseno hanya mengambil serbet yang berada tepat di samping tangan Evelyn.
Klik.
Klik.
Klik.
Beberapa foto lain diambil ketika Evelyn tertawa.
Dari sudut tertentu, foto-foto itu tampak sangat intim.
Acara berakhir sekitar pukul sebelas malam.
Karena kelelahan setelah beberapa hari penuh rapat dan kunjungan proyek, Arseno dan Evelyn memutuskan kembali ke hotel lebih awal.
Mereka naik lift yang sama karena kamar mereka berada di lantai eksekutif.
"Besok jadwal kita cukup padat," ujar Arseno.
Evelyn mengangguk.
"Aku ingin tidur delapan jam penuh."
"Itu keajaiban."
"Jangan mengejek."
Lift berhenti.
Mereka keluar sambil masih membahas jadwal presentasi esok hari.
Di ujung lorong, kamera CCTV hotel merekam keduanya berjalan berdampingan menuju koridor kamar.
Mereka kemudian saling mengucapkan selamat malam.
"Selamat istirahat."
"Kau juga."
Arseno masuk ke kamarnya.
Evelyn masuk ke kamar di seberangnya.
Pintu tertutup.
Sederhana.
Biasa saja.
Namun...
Seseorang yang telah menyusup ke ruang keamanan hotel berhasil memperoleh potongan rekaman CCTV.
Rekaman itu kemudian dipotong sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah Arseno dan Evelyn memasuki kamar yang sama.
Keesokan paginya...
Victor Lau duduk di ruang kerjanya.
Seorang anak buah meletakkan sebuah tablet di hadapannya.
"Semua materi sudah siap."
Victor membuka folder berisi foto-foto hasil manipulasi sudut kamera.
Ada foto yang membuat keduanya tampak bergandengan.
Ada pula potongan rekaman CCTV yang telah diedit.
Ia tersenyum puas.
"Bagus."
"Apakah langsung kita sebarkan ke media?"
Victor menggeleng.
"Belum."
"Kenapa?"
"Kalau langsung disebarkan, mereka hanya akan membantah."
"Lalu?"
"Kita tunggu sampai kontrak ditandatangani."
"Setelah itu?"
Victor menyandarkan tubuhnya.
"Baru kita ancam."
Ia tersenyum tipis.
"Reputasi dua CEO muda itu adalah aset terbesar mereka."
"Kalau nama baik mereka hancur..."
"...para investor akan mulai ragu."
Anak buahnya mengangguk paham.
"Strategi yang cerdas, Tuan."
Victor menutup tablet.
"Bisnis bukan hanya soal uang."
"Tetapi juga soal kepercayaan."
Sementara itu...
Di ruang sarapan hotel, Evelyn dan Arseno sama sekali tidak mengetahui bahwa nama mereka sedang menjadi target.
Evelyn mengambil secangkir kopi.
"Aku berharap hari ini tidak ada rapat yang molor."
Arseno tersenyum tipis.
"Itu tergantung kau."
"Apa hubungannya denganku?"
"Kau selalu memperpanjang diskusi."
"Itu namanya teliti."
"Itu namanya perfeksionis."
Naomi dan Kosta saling berpandangan sambil tersenyum kecil.
Bagi mereka...
Pagi itu hanyalah awal hari kerja yang baru.
Mereka belum menyadari bahwa seseorang telah menyiapkan jebakan yang dapat mengguncang reputasi Evelyn dan Arseno, sekaligus mengancam kerja sama besar yang telah mereka bangun dengan susah payah.
...****************...