Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018: Bekas Gigitan
Keira kembali ke Sayap Giok ketika matahari sudah naik.
Ia berjalan pelan, bukan karena ingin terlihat anggun, melainkan karena seluruh tubuhnya protes setiap kali ia bergerak terlalu cepat. Lehernya terasa panas di bawah kasa. Bahunya memar. Telapak tangan masih diperban. Lututnya seperti baru berdebat dengan lantai batu dan kalah telak.
Pak Ji memberinya sehelai scarf sutra berwarna krem sebelum keluar dari ruang bawah tanah.
"Untuk sementara," katanya.
Keira menerimanya tanpa bertanya.
Jakarta panas sepanjang tahun. Memakai scarf di pagi lembap seperti ini jelas bukan pilihan cerdas. Tetapi membiarkan kasa di leher terlihat oleh seluruh compound jauh lebih tidak cerdas.
Jadi Keira melilitkan scarf itu di lehernya.
Begitu ia masuk kamar, Ningsih langsung menangis.
"Mbak!"
Ningsih berlari mendekat, lalu berhenti mendadak seperti takut menyentuh tempat yang salah. Matanya memeriksa wajah Keira, baju yang kusut, tangan yang diperban, dan akhirnya berhenti pada scarf di lehernya.
"Mbak dari mana semalaman? Saya cari ke taman, ke dapur, ke ruang teh. Pak Ji bilang Mbak sedang bersama Pak Darren, tapi kenapa wajah Mbak seperti ini?"
"Aku masih hidup," kata Keira lemah.
"Itu bukan jawaban!"
Keira hampir tersenyum. Ningsih yang biasanya memanggilnya dengan hati-hati kini terdengar seperti kakak kandung yang sudah ingin memarahinya sambil memeluknya.
"Ning, ambilkan air dulu."
Ningsih mengambil air, lalu membantu Keira mengganti baju. Saat scarf dilepas, kasa di leher ikut terlihat.
Ningsih mematung.
"Mbak..."
Keira tahu ia tidak bisa menyembunyikan semuanya. Kasa itu sudah sedikit merah di bagian tengah. Dokter Xiao sudah membersihkan dan membalutnya, tetapi luka gigitan bukan sesuatu yang bisa dibuat terlihat seperti lecet biasa.
Ketika Ningsih membuka kasa untuk menggantinya, suara yang keluar dari mulutnya nyaris menjadi jeritan.
Keira langsung menutup mulut Ningsih.
"Ning, jangan bilang siapa-siapa. Tolong."
Mata Ningsih membesar. Air matanya langsung jatuh ke tangan Keira.
Di sisi leher Keira ada dua bekas gigi yang jelas, dikelilingi memar ungu kemerahan. Tidak dalam sampai mengerikan, tetapi cukup untuk membuat siapa pun mengerti bahwa itu bukan luka jatuh, bukan luka kuda, dan bukan luka yang pantas terjadi di rumah seorang tuan besar.
Ningsih mengangguk cepat di balik tangan Keira.
Keira melepaskannya.
"Siapa..." Suara Ningsih patah. "Siapa yang melakukan ini?"
Keira menatapnya.
Ningsih menutup mulut sendiri sebelum pertanyaan itu selesai berubah menjadi jawaban.
Keira tidak perlu mengatakan nama Darren.
Justru karena ia tidak mengatakan, Ningsih tampak lebih takut.
"Ning."
"Saya tidak akan bilang." Ningsih mengangguk sambil menangis. "Tapi Mbak harus minum obat. Harus makan. Harus tidur. Kalau tidak, saya... saya akan lapor Pak Ji."
"Kamu barusan janji tidak bilang siapa-siapa."
"Pak Ji sudah tahu. Itu bukan melanggar janji."
Keira tidak bisa membantah logika itu.
Menjelang siang, Pak Ji datang sendiri membawa obat luar, obat anti radang, dan instruksi yang terlalu rinci untuk disebut sekadar perhatian.
"Dari Dokter Xiao," katanya.
Keira melihat botol-botol kecil di nampan. "Semuanya?"
"Sebagian."
"Sebagian lagi?"
Pak Ji batuk kecil. "Pak Darren bertanya apakah lukanya masih sakit."
Keira membeku.
Ningsih yang sedang menuang air juga membeku.
Pak Ji tampak sangat fokus pada nampan, seolah botol obat itu tiba-tiba menjadi dokumen negara.
"Beliau juga meminta agar obat diganti setiap empat jam. Makanan Mbak harus hangat. Tidak boleh pedas. Tidak boleh minum es. Dan..." Pak Ji berhenti.
"Dan?"
"Beliau meminta saya bertanya apakah Mbak tidur dengan cukup."
Keira menatap Pak Ji.
Pak Ji menatap lantai.
Darren Hendrawan, pria yang semalam mengusirnya dari compound karena panik melihat luka, sekarang menyampaikan pertanyaan seperti murid SD menitip pesan lewat ketua kelas.
Keira ingin tertawa.
Ia juga ingin menangis.
"Bilang pada Pak Darren," katanya pelan, "kalau dia ingin tahu, dia boleh bertanya sendiri."
Pak Ji mengangkat mata sebentar.
Ada senyum yang hampir tidak terlihat di sudut bibirnya.
"Baik, Nona."
Sore itu, seorang perempuan datang ke Sayap Giok.
Usianya sekitar tiga puluh awal. Rambutnya dipotong rapi sebahu, blus putihnya sederhana, dan langkahnya begitu tenang hingga Keira langsung tahu perempuan ini bukan pelayan biasa.
Ia membungkuk sopan, tidak berlebihan.
"Mbak Keira, nama saya Ratna. Mulai hari ini, saya akan membantu kebutuhan Mbak."
Keira duduk di sofa dengan scarf baru melilit leher. "Membantu kebutuhan atau mengawasi agar aku tidak masuk ruang bawah tanah lagi?"
Ratna tidak berkedip. "Dua-duanya, kalau diperlukan."
Keira menyukai jawabannya.
Setidaknya perempuan ini tidak berpura-pura.
"Pak Darren yang menyuruh?"
"Ya."
"Dua puluh empat jam?"
"Ya."
Keira menghela napas. "Aku merasa seperti paket mahal yang baru hampir rusak saat pengiriman."
Ratna menjawab datar, "Kalau Mbak paket, asuransinya pasti tidak terbatas."
Ningsih yang masih cemas sejak pagi tanpa sadar tertawa kecil.
Keira menatap Ratna lebih lama. Ada profesionalisme di wajah perempuan itu, tetapi bukan dingin yang menyakitkan. Ia memperlakukan Keira dengan hormat, bukan karena Keira hebat, melainkan karena Darren menempatkannya di posisi yang harus dihormati.
Itu sendiri sudah cukup berbahaya.
Di compound, kabar bergerak lebih cepat daripada lift Hendrawan Tower.
Menjelang malam, Keira sudah mendengar tiga versi cerita tentang dirinya sendiri.
Versi pertama, ia sakit parah sehingga harus memakai scarf agar tidak masuk angin.
Versi kedua, ia dan Darren bertengkar sampai ia menangis semalaman.
Versi ketiga, yang paling membuat telinga Keira panas, menyebut Darren "menandai" dirinya.
Ningsih mendengar versi keempat dari dapur.
Ia masuk ke kamar dengan wajah marah. "Mbak, ada orang Felicia bilang..."
Keira mengangkat mata dari mangkuk sup.
"Bilang apa?"
Ningsih jelas menyesal sudah memulai. "Tidak penting."
"Ning."
Ningsih menggigit bibir. "Katanya, sudah digigit masih tidak lari. Perempuan seperti itu... murah."
Sendok di tangan Keira berhenti.
Ruangan menjadi dingin.
Felicia tahu kata digigit.
Tidak banyak orang yang tahu.
Pak Ji. Dokter Xiao. Darren. Ningsih. Ratna mungkin baru tahu sebagian. Jika kabar itu sampai ke telinga Felicia, berarti ada mata lain di compound, atau Felicia sudah lama memegang potongan rahasia yang belum Keira pahami.
Keira meletakkan sendok.
Marahnya naik, tetapi tidak meledak.
Diana bisa dihancurkan karena meninggalkan bukti. Felicia berbeda. Wanita itu tahu cara berdiri cukup jauh dari api agar tangannya tidak terbakar.
"Tidak usah balas," kata Keira.
Ningsih tampak tidak setuju. "Tapi Mbak..."
"Orang seperti Ci Feli tidak melempar batu kalau tidak ingin melihat kita menunduk mengambilnya." Keira menyentuh scarf di lehernya. "Biarkan dulu."
Pada saat yang sama, di bagian lain compound, Vivienne Jiang menerima laporan dari Sari.
"Pak Darren menambah orang untuk menjaga Keira," kata Sari pelan. "Ratna sudah masuk Sayap Giok. Pak Ji sendiri mengantar obat. Sikap Pak Darren... berbeda."
Vivienne duduk di depan meja rias, tangannya berhenti di atas anting mutiara.
"Berbeda bagaimana?"
Sari menunduk. "Lebih hati-hati."
Untuk perempuan seperti Vivienne, kata hati-hati jauh lebih berbahaya daripada mesra.
Mesra bisa dipermalukan.
Hati-hati berarti seseorang sudah masuk ke bagian yang tidak bisa disentuh orang lain.
Vivienne tersenyum tipis di cermin.
"Begitu."
Malamnya, Keira dipanggil ke Ruang Kerja compound.
Darren duduk di balik meja, wajahnya masih pucat, tetapi ia sudah mengenakan kemeja gelap dan kembali tampak seperti seseorang yang bisa menandatangani nasib orang lain. Hanya ketika Keira masuk, matanya langsung turun ke scarf di lehernya.
Ia tidak bertanya.
Keira juga tidak membuka scarf.
Pak Ji berdiri di samping meja dengan ekspresi resmi.
"Pak," katanya, "Vincent sudah menghubungi seorang ahli dari luar negeri. Namanya Leyla. Dia ahli toksikologi dan pernah menangani kasus serupa di Asia Tengah."
Darren diam beberapa detik.
Keira merasakan jantungnya mengetuk lebih cepat.
Ahli.
Kasus serupa.
Mungkin ada jalan keluar.
Akhirnya Darren berkata, "Suruh dia datang ke Jakarta."
Pak Ji membungkuk. "Baik, Pak."
Keira menatap Darren.
Untuk pertama kalinya sejak melihat mata merah itu, ia merasa ada cahaya kecil di ujung lorong bawah tanah.
Namanya Leyla.