Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang disebut.
Keesokan paginya. Nathan tiba di Wijaya Group seperti biasa. Namun begitu memasuki ruang kerjanya, ia tidak langsung membuka dokumen yang telah menumpuk di atas meja. Ia justru menekan tombol interkom.
"Suruh Kepala Keamanan Mansion datang ke sini."
"Baik, Pak."
Tak sampai dua puluh menit kemudian, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun memasuki ruangan.
"Selamat pagi, Tuan."
Nathan mengangguk singkat. "Duduk."
Pria itu segera mengambil tempat di hadapan meja kerja Nathan. Nathan membuka sebuah map tipis yang semalam telah ia siapkan.
"Kemarin istriku menerima telepon ancaman."
Ekspresi kepala keamanan langsung berubah serius. "Ancaman, Tuan?"
Nathan mengangguk. "Orang itu mengetahui keberadaan Naomi di mansion. Dia juga tahu Naomi sedang mencari seseorang."
Nathan berhenti sejenak.
"Itu bukan informasi yang seharusnya diketahui orang luar."
Nathan tidak segera menanggapi. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, sementara tatapannya tetap tertuju pada kepala keamanan di hadapannya.
"Aku ingin satu jawaban. Apa ada orang asing yang keluar masuk mansion beberapa hari terakhir?"
Kepala keamanan membuka tablet yang dibawanya. "Kami sudah memeriksa laporan penjagaan, Tuan."
"Hasilnya?"
"Semua tamu yang datang tercatat."
Nathan menyipitkan mata. "Lalu?"
Pria itu menggeser layar tabletnya. "Tapi... Kami menemukan satu hal yang cukup aneh."
Nathan langsung mengangkat kepala. Tatapannya yang semula tenang berubah lebih fokus, menunggu penjelasan berikutnya tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun.
"Dua hari yang lalu... ada kendaraan jasa pengiriman yang masuk ke area mansion."
Nathan mengernyit. "Bukankah itu biasa?"
"Benar, Tuan. Namun setelah kami cocokkan dengan data penerimaan barang... tidak ada satu pun penghuni mansion yang merasa menerima paket pada jam tersebut."
"Berapa lama kendaraan itu berada di dalam?"
"Kurang lebih dua belas menit."
"Dua belas menit?"
"Ya, Tuan."
"Padahal menurut prosedur, kendaraan pengiriman seharusnya hanya membutuhkan waktu paling lama tiga menit."
Nathan mengetukkan ujung jarinya di atas meja. "Siapa petugas yang berjaga saat itu?"
Kepala keamanan membuka laporan berikutnya. "Satpam bernama Beni."
"Mana orangnya?"
"Sudah kami panggil sejak pagi."
Nathan langsung berdiri. "Bawa dia ke ruang pemeriksaan."
"Baik, Tuan."
Sementara itu... Di sebuah ruangan kecil di belakang pos keamanan Wijaya Mansion...
Seorang pria tampak duduk dengan gelisah.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya meski pendingin ruangan menyala cukup dingin.
Tangannya terus meremas ujung seragam yang dikenakannya. Pintu perlahan terbuka.
Nathan masuk dengan langkah tenang.
Ia tidak membawa map.
Tidak pula membawa dokumen.
Nathan hanya menarik kursi, lalu duduk tepat di hadapan satpam itu dengan tatapan yang lurus.
"Siang itu..." Nathan membuka suara dengan tenang. "...siapa yang menyuruhmu membiarkan mobil itu masuk lebih lama?"
Wajah Beni langsung memucat. "T-Tuan..."
"Saya tidak mengerti." Nathan tidak terpancing. Ia mengeluarkan sebuah foto hasil tangkapan CCTV. Mobil boks putih itu terlihat berhenti cukup lama di area taman samping mansion.
Nathan meletakkan foto tersebut di atas meja. "Kalau kau masih ingin bekerja di sini... katakan yang sebenarnya."
Beni menelan ludah. Bibirnya mulai bergetar. "A-ampun, Tuan... saya... saya hanya disuruh menerima sebuah amplop...."
Nathan yang semula tenang perlahan mengangkat wajah. "Siapa yang menyuruhmu?"
Ruangan kembali sunyi. Beni menundukkan kepala. Kemudian, dengan suara yang hampir tak terdengar, ia akhirnya menyebut satu nama. Nama yang membuat sorot mata Nathan berubah drastis.