Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Delapan Drone di Langit Bali
Dan kali ini, tanpa izin Rayhan.
Pagi berikutnya, Keira benar-benar berangkat ke Bali.
Ia duduk di kursi dekat jendela bersama Tari, mengenakan kacamata hitam, leher tanpa kalung, dan pergelangan tangan yang masih menyimpan garis merah samar. Pesawat lepas landas dari Jakarta saat matahari belum tinggi. Di bawah awan, kota yang penuh nama Rayhan perlahan mengecil.
Tari beberapa kali meliriknya.
"Ci, kalau mau batal seminar juga bisa. Panitia pasti mengerti setelah kejadian penculikan."
"Aku tidak sakit."
"Ci demam dua hari lalu."
"Sekarang tidak."
"Ci juga baru perang besar."
Keira menurunkan kacamata sedikit. "Tari."
"Baik. Aku diam." Dua detik kemudian Tari menambahkan, "Tapi aku tetap khawatir."
Keira tidak memarahinya. Ia hanya menatap keluar jendela. Laut mulai terlihat di kejauhan, biru luas, seperti jarak yang akhirnya punya warna.
Begitu mendarat di Bali, ponsel Keira langsung dipenuhi notifikasi yang tidak sampai padanya. Rayhan menggunakan nomor baru. Nomor Steven. Nomor William. Email kantor Hartono Group. Bahkan satu pesan masuk dari nomor asing dengan kalimat sangat Rayhan: Aku di bawah kalau kamu mau marah langsung.
Keira memblokir semuanya satu per satu.
Di Jakarta, Steven menyaksikan Rayhan memegang tiga ponsel di meja ruang kerja seperti orang mengelola pusat komando yang gagal total.
"Ray, berhenti pakai HP gue."
"Dia belum blokir nomor sopirmu?"
"Lo dengar diri lo sendiri tidak?"
Rayhan mengangkat mata. "Aku butuh bicara."
"Lo butuh minta maaf, bukan mengepung."
Rayhan diam.
William duduk di sofa, memegang kopi yang sudah dingin. "Steven benar."
"Aku sudah menyelamatkan dia."
"Dan setelah itu lo masuk lewat jendela, pasang pelacak tanpa izin, lalu menahan tangannya." William menatap Rayhan tanpa senyum. "Satu tindakan baik tidak mencuci tiga tindakan buruk."
Wajah Rayhan mengeras, tetapi kali ini ia tidak membantah. Bayangan pergelangan tangan Keira yang memerah terus kembali. Kata jangan yang keluar dari bibir Keira terus terdengar seperti pintu yang ia hancurkan sendiri.
"Aku takut," katanya akhirnya.
Steven yang biasanya cepat bercanda ikut diam.
William meletakkan cangkir. "Gue tahu."
"Tidak. Kalian tidak tahu. Waktu sinyalnya bergerak di tol, aku..." Rayhan berhenti. Napasnya berat. "Aku seperti balik jadi anak kecil yang menunggu kabar Papa tidak akan pulang."
Nama Hendrick membuat ruangan berubah.
William berbicara lebih pelan. "Papa lo gugur dalam tugas negara. Setelah itu, Mama lo jatuh dalam kondisi mental berat. Dia takut kehilangan lo sampai memasang CCTV di kamar, pelacak di tas, GPS di sepatu. Lo tumbuh dengan ide bahwa cinta berarti tahu posisi orang setiap detik."
"Jangan bawa Mama."
"Justru harus. Karena sekarang lo mengulang pola yang sama ke Keira."
Rayhan berdiri. "Aku bukan Mama."
"Belum tentu. Tapi Keira tidak wajib menunggu sampai lo sadar."
Kalimat itu menancap.
Malam pertama di Bali, Keira mengikuti seminar parfum di resort mewah dekat Jimbaran. Ia berbicara tentang aroma laut, resin tropis, dan memori yang melekat pada kulit manusia. Di depan peserta industri, ia tampak tenang dan profesional. Tidak ada yang tahu bahwa di balik blazer linen putihnya, tubuhnya masih mudah lelah.
Tari berdiri di belakang ruangan, menjaga semua akses seperti penjaga pintu pribadi.
Setelah seminar, panitia mengajak makan malam. Keira menolak dengan sopan. Ia memilih berjalan ke pantai Jimbaran, melepas sepatu, dan membiarkan pasir dingin masuk di sela jari. Angin laut menampar wajahnya. Untuk pertama kali dalam beberapa hari, ia bernapas tanpa merasa ada mata yang menempel di leher.
Lalu langit berubah.
Satu titik cahaya naik dari arah selatan. Lalu titik kedua. Ketiga. Dalam beberapa menit, ratusan drone membentuk tulisan besar di atas garis pantai.
JANGAN MARAH LAGI.
Orang-orang di restoran tepi pantai bersorak. Ponsel langsung terangkat. Keira berhenti berjalan.
Tulisan itu pecah, lalu muncul lagi di arah yang berbeda, lebih jauh.
BALAS PESANKU.
Tari yang menyusul dari belakang ternganga. "Ci..."
Drone ketiga muncul dari sisi lain pantai.
AKU SALAH.
Keira menatap langit tanpa ekspresi. Di depan umum, ini bisa terlihat romantis. Bagi Keira, ini juga sangat Rayhan: besar, mahal, tidak bisa diabaikan. Bedanya, kali ini pesan itu tidak menyuruhnya pulang. Tidak menyebut posisi. Tidak mengancam.
Di lokasi keempat, tulisan muncul lebih kecil.
AKU TIDAK AKAN MEMASANG PELACAK LAGI.
Tari menutup mulut. Beberapa turis tidak paham konteksnya, tetapi tetap merekam karena indah. Video mulai naik ke media sosial bahkan sebelum pertunjukan selesai.
Lokasi kelima membentuk bulan sabit dan burung kecil dari cahaya.
MAAF, KEI.
Lokasi keenam hanya satu kalimat.
KALAU MAU MARAH, MARAH PADAKU LANGSUNG.
Keira akhirnya mengeluarkan ponsel. Ia membuka daftar blokir, mencari nama Rayhan, lalu menatapnya lama.
Lokasi ketujuh menyala.
AKU MENUNGGU IZINMU UNTUK DATANG.
Jari Keira berhenti.
Tari menatapnya hati-hati. "Ci?"
Keira membuka blokir nomor Rayhan.
Pesan masuk kurang dari tiga detik kemudian.
Boleh aku datang?
Keira membalas singkat.
Besok. Lobby resort. Jangan masuk kamar.
Balasan Rayhan muncul cepat.
Baik.
Langit kedelapan menyala paling terakhir. Tidak ada tulisan panjang. Hanya bentuk safir biru yang perlahan pecah menjadi cahaya kecil, lalu hilang.
Keira mematikan ponsel. Dadanya masih marah, tetapi marah itu tidak lagi sendirian. Ada sesuatu yang lebih sulit dinamai berjalan di sampingnya.
Setelah cahaya terakhir padam, langit Bali kembali gelap. Justru gelap itu membuat pesan tadi tertinggal lebih lama, seperti bekas panas di kulit.
Di meja-meja seafood Jimbaran, orang asing menebak-nebak siapa Kei. Beberapa perempuan tertawa iri. Seorang anak kecil menunjuk langit dan bertanya apakah itu lamaran. Tari ingin menjawab tidak, lalu menahan diri karena wajah Keira terlalu tenang.
Video pertama sudah viral dalam hitungan menit.
Pria misterius minta maaf di delapan titik Bali.
Siapa Kei?
Romantis atau berlebihan?
Keira membaca satu komentar terakhir, lalu menyimpan ponsel. Publik hanya melihat cahaya. Mereka tidak tahu harga dari satu kalimat "aku salah" yang terlalu lama ditahan Rayhan.
Namun Rayhan Hartono tidak pernah benar-benar pandai menunggu pagi.
Tentu saja, ia tetap Rayhan sepenuhnya.
Menjelang tengah malam, Keira terbangun karena suara ketukan sangat pelan di pintu balkon kamar resort. Ia duduk cepat, mengambil ponsel, lalu melihat bayangan Rayhan di balik kaca.
Ia tidak masuk.
Ia berdiri di luar, basah oleh angin laut dan keringat perjalanan, kedua tangan terlihat jelas di sisi tubuhnya.
Keira membuka pintu balkon hanya selebar setengah badan. "Aku bilang besok."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kamu di sini?"
"Karena aku takut besok kamu berubah pikiran." Ia langsung menambahkan, lebih cepat, "Tapi aku tidak masuk tanpa izin."
Keira menatapnya. Di bawah cahaya kamar, Rayhan terlihat lelah. Bukan lelah karena kurang tidur saja, melainkan lelah karena akhirnya melihat dirinya sendiri dari sisi Keira.
"Aku salah," katanya.
"Itu kalimat pertama yang benar malam ini."
"Aku tidak akan memasang pelacak lagi. Tidak di perhiasan, tas, mobil, sepatu, apa pun. Kalau aku takut, aku harus bilang. Bukan menandaimu."
Keira tidak menjawab.
"William bilang aku mengulang cara Mama mencintaiku setelah Papa meninggal." Suara Rayhan serak. "Aku benci mendengarnya karena dia benar."
Angin meniup rambut Keira ke pipi. Ia menyingkirkannya pelan. "Aku bukan tempat kamu memperbaiki masa kecilmu dengan cara mengurung orang."
"Aku tahu."
"Kamu baru mulai tahu."
"Iya."
Jawaban itu sederhana. Tidak membela diri. Karena itu Keira tidak langsung menutup pintu.
Rayhan mengeluarkan secarik kertas kecil dari saku. Kertas itu basah di ujungnya, tulisan di atasnya miring seperti ditulis orang yang panik bertanya pada staf lokal.
"Aku tanya orang resort bagaimana bilang aku suka kamu dalam bahasa Bali. Aku takut salah ucap."
Keira hampir tidak percaya ia membahas bahasa di tengah perang dingin. "Jadi?"
Rayhan membaca dengan wajah serius. Pengucapannya canggung, beberapa suku kata terdengar patah. Keira tidak tahu apakah kalimat itu benar atau tidak, tetapi usaha konyol itu membuat sudut bibirnya bergerak sebelum ia sempat menahan.
Rayhan melihatnya dan langsung berhenti membaca.
"Jangan berhenti," kata Keira.
"Aku takut kamu tertawa."
"Memang lucu."
"Kalau begitu aku pakai bahasa yang tidak akan salah." Rayhan menatapnya. "Aku cinta kamu, Kei."
Keira diam.
Kalimat itu seharusnya terdengar terlalu cepat. Terlalu besar. Terlalu Rayhan. Namun setelah delapan lokasi drone, satu janji tanpa pelacak, dan pria yang berdiri di balkon tanpa masuk, kalimat itu tidak jatuh seperti rantai.
Ia jatuh seperti tangan yang menunggu apakah akan diterima.
Keira membuka pintu sedikit lebih lebar.
"Kamu boleh duduk di sofa. Tidak lebih."
Rayhan mengangguk cepat. "Baik."
"Dan besok pagi kamu minta maaf lagi saat aku sudah tidak mengantuk."
"Berapa kali pun."
Rayhan masuk, melepas sepatu di dekat balkon tanpa diminta. Ia duduk di sofa dengan punggung terlalu lurus, seperti tamu yang takut diusir karena salah napas.
Keira kembali ke tempat tidur, menarik selimut. Ia tidak mengundang Rayhan mendekat. Rayhan tidak mendekat.
Namun sebelum tidur lagi, Keira mendengar suaranya dari sofa.
"Kei."
"Apa?"
"Terima kasih sudah membuka pintu."
Keira memejamkan mata.
Di luar, laut Bali bergerak gelap. Untuk malam itu, jarak di antara mereka tidak hilang. Tetapi setidaknya, Rayhan akhirnya berhenti memanjatnya.