Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Drake pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Tubuhnya yang tinggi tegap kini terlihat goyah, seperti pohon besar yang diterpa angin kencang. Alkohol yang mengalir deras dalam darahnya membuat pandangannya kabur, tapi tekadnya tetap membara.
Setelah pertengkaran sengit dengan neneknya di mansion keluarga, ia tidak ingin pulang dengan pikiran kosong. Beberapa botol whiskey mahal di bar elit telah menjadi pelariannya malam ini, pelarian dari amarah, tekanan, dan bayangan pernikahan paksa yang mengancam.
Mobil sportnya berhenti mendadak di depan rumah mewahnya yang kini menjadi tempat tinggal juga untuk Nathalie. Dengan langkah sempoyongan, Drake menaiki tangga marmer satu per satu, tangannya sesekali menyentuh dinding untuk menjaga keseimbangan. Setiap anak tangga terasa berat, tapi pikirannya hanya tertuju pada Nathalie. Wanita yang telah menjadi cahaya di tengah kegelapan dunia elitnya yang penuh intrik.
Ceklek...
Pintu kamar utama terbuka pelan. Ruangan itu gelap gulita, hanya diterangi sedikit cahaya bulan yang menyusup melalui celah tirai sutra tebal. Udara di dalam kamar terasa sejuk dan tenang, kontras dengan gejolak yang membara di dada Drake.
Samar-samar, di atas ranjang king-size yang empuk, ia melihat siluet Nathalie yang sedang terlelap. Wanita itu meringkuk seperti anak kucing, selimut tipis menutupi tubuh rampingnya, rambutnya yang hitam legam tergerai di bantal. Wajahnya yang polos dan damai dalam tidur membuat hati Drake terasa sakit sekaligus hangat.
Dengan hati-hati, meski tangannya sedikit gemetar karena mabuk, Drake menutup pintu kamarnya. Suara kunci yang berputar terdengar nyaring di tengah keheningan malam. Ia tidak ingin ada gangguan. Malam ini, ia hanya ingin merasakan kehadiran Nathalie, satu-satunya orang yang bisa menenangkan badai di dalam dirinya.
Langkahnya pelan mendekati ranjang. Kasur sedikit melesak saat bobot tubuhnya yang berat naik ke atasnya. Perlahan, ia menindih tubuh Nathalie, kedua lengannya bertumpu di sisi kepala wanita itu. Aroma tubuh Nathalie yang lembut, campuran sabun mandi floral dan sedikit keringat alami, membuat instingnya semakin liar.
Tanpa menunggu, Drake menunduk dan mencium bibir Nathalie dengan rakus, penuh hasrat yang tertahan. Ciumannya dalam, mendesak, seolah ingin menelan seluruh keberadaan wanita itu untuk melupakan segala penderitaan hari ini.
Nathalie terbangun dengan kaget. Matanya yang indah terbuka lebar, tubuhnya menegang sesaat merasakan beban berat di atasnya.
Napasnya tertahan ketika bibir Drake menyapu bibirnya dengan intensitas yang membakar. Tangan Drake menyusup ke balik selimut, menyentuh pinggangnya dengan posesif, menarik tubuh mereka semakin rapat.
"Drake... kau mabuk," ucap Nathalie terengah-engah setelah Drake akhirnya melepaskan tautan bibir mereka.
Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, dada naik turun dengan cepat, mencoba mengisi kembali oksigen yang dirampas ciuman panas itu. Pipinya memerah, campuran antara terkejut, khawatir, dan sedikit gugup melihat tatapan Drake yang berkabut karena alkohol.
Drake tidak langsung menjawab. Matanya yang biasanya tajam dan penuh wibawa kini tampak redup, tapi penuh hasrat dan keputusasaan. Ia menunduk lagi, kali ini menciumi leher Nathalie dengan lembut namun mendesak, bibirnya meninggalkan jejak panas di kulit halus wanita itu.
"Nathalie..." gumamnya dengan suara serak, berat oleh alkohol dan emosi. "Aku butuh kamu malam ini. Jangan menolakku."
Nathalie meletakkan tangannya di dada Drake, mencoba mendorong pelan meski tubuhnya sendiri mulai merespons sentuhan itu. "Kamu baru pulang? Apa yang terjadi denganmu? Kamu bau alkohol"
Suaranya lembut, penuh kekhawatiran, tapi ada getar halus yang menunjukkan ia tidak sepenuhnya keberatan dengan kedekatan mereka. Jari-jarinya tanpa sadar mencengkeram kemeja Drake yang kusut, merasakan otot-otot tegang di baliknya.
Drake mengangkat wajahnya sedikit, menatap langsung ke mata Nathalie di bawah cahaya bulan yang samar. Rahangnya mengeras, tapi ekspresinya melembut saat melihat wajah wanita yang dicintainya.
"Nenek, dia memaksa aku menikah dengan wanita lain. Dia mengancamku, memata-matai kita. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin kamu. Hanya kamu yang bisa membuat aku merasa hidup di tengah neraka ini."
Ia mengecup kening Nathalie yang masih ada perban yang menutupi luka di keningnya, lalu turun ke pipi, dan kembali ke bibirnya. Ciuman kali ini lebih lambat, lebih dalam, seolah Drake sedang menuangkan seluruh rasa cintanya yang terpendam. Tangan kirinya menyusuri punggung Nathalie, menarik selimut turun perlahan, memperlihatkan bahu halus wanita itu. Udara di kamar yang tadinya sejuk kini terasa panas, penuh ketegangan yang menggantung.
Nathalie menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan desahan kecil yang hampir lolos.
"Drake, kamu tidak sadar sepenuhnya. Besok kamu mungkin menyesal..." bisiknya, meski tubuhnya sudah melengkung sedikit menyambut sentuhan pria itu.
Jantungnya berdegup kencang, campuran antara kasih sayang, khawatir, dan hasrat yang mulai bangkit.
Drake menggeleng pelan, dahinya bersentuhan dengan dahi Nathalie. "Aku tidak akan pernah menyesal memilihmu. Malam ini, biarkan aku melupakan semuanya di pelukanmu." Suaranya rendah, penuh janji dan kerapuhan yang jarang ia tunjukkan.
Tubuhnya menekan lebih dalam, menciptakan gesekan hangat yang membuat keduanya semakin sulit bernapas.
Malam semakin larut, dan di kamar yang gelap itu, hanya terdengar desahan pelan, napas yang memburu, dan bisikan nama satu sama lain. Drake, meski mabuk tetap mencintai Nathalie dengan seluruh jiwa raganya, sebuah pelarian yang manis sekaligus berbahaya di tengah badai yang mengancam hubungan mereka.
Sementara Nathalie, meski ragu, tak kuasa menolak pria yang telah merebut hatinya sepenuhnya.