Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkapkan Cinta
Eva sudah bisa pulang sore hari setelah tubuhnya mulai stabil. Dokternya hanya memberinya obat dan vitamin saja. Sambil memberikan peringatan pada Eva.
"Harus bisa menjaga emosinya, jangan sampai serangan panik seperti ini sering kambuh. Itu bahaya"
Eva hanya mengangguk saja, memang sudah lama sekali dia tidak pernah mengalami panik seperti ini lagi. Tapi hari ini ketika dia mengetahui jika ternyata dia bekerja di tempat yang sama dengan Byan, maka benar-benar membuatnya panik yang tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Mas Byan, ada yang ingin aku bicarakan"
Byan yang sejak tadi terus menemaninya sampai akhirnya Eva bisa pulang. Sekarang Eva merasa harus segera mengakhiri semuanya. Dia tahu yang sebenarnya dia takutkan, adalah kehilangan masa-masa bersama Byan. Dan semuanya akan berubah menjadi kekecewaan dan kebencian. Namun, semuanya harus berani mengambil resiko, sejak awal Eva yang tidak tahu jika hatinya akan terjebak dengan Byan. Jadi dia memilih untuk tetap melanjutkan sandiwara ini, hingga akhirnya sekarang sudah bukan waktunya lagi dia melanjutkan semuanya.
"Apa?"
Eva menatap Byan sebelum dia masuk ke dalam taksi, karena Byan yang baru pulang dari Luar Kota, jadi dia tidak membawa mobilnya.
"Bisa cari tempat yang hanya kita berdua saja? Aku ingin berbicara serius dengan Mas, tapi jangan di rumahku, aku ingin tempat yang hanya kita berdua saja"
Byan terdiam sejenak, lalu dia mengangguk pelan. "Pergi ke Aparrtemenku saja"
Eva mengangguk menyetujuinya, ketika mobil mulai melaju, keduanya hanya diam. Keheningan tiba-tiba terasa nyata diantara mereka berdua. Byan yang terus berpikir apa yang sebenarnya ingin Eva bicarakan padanya. Sampai terlihat begitu serius. Dan Eva juga sedang mencoba merangkai kata yang pas untuk mengatakan kejujuran pada Byan nanti.
Aku tahu semua ini akan ada waktunya terbongkar juga, tapi sebelum semuanya terbongkar oleh orang lain, sebaiknya aku saja yang bicara jujur pada Mas Byan.
Ketika sampai di Apartemen milik Byan, perasaan Eva semakin tak karuan. Dadanya sudah berdegup kencang, bahkan seperti tidak bisa di atur lagi. Bukan lagi tentang panik, tapi sudah cemas dengan reaksi Byan nantinya.
Ting... Eva menoleh saat suara ponsel Byan terdengar cukup nyaring saat suasana begitu hening. Byan membuka pintu Apartemennya dan mereka masuk. Dia membuka ponsel dan sebuah pesan dari Bara masuk.
Jika sudah selesai dengan urusanmu, temui aku di rumah. Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu.
Isi dari pesan itu Byan abaikan, berpikir jika Bara hanya akan membahas tentang pekerjaan saja. Sekarang dia hanya perlu fokus pada Eva, entah apa yang ingin dibicarakan gadis itu sampai harus mencari tempat yang hanya ada mereka berdua.
Duduk di sofa ruang tengah, Eva melihat-lihat ke sekitarnya, ada beberapa foto Byan dan keluarganya. Di sudut ruangan juga ada beberapa piala dan mendali juga beberapa piagam penghargaan. Byan memang sudah banyak mendapatkan penghargaan sejak sekolah, berkat kepintarannya.
"Mau minum apa?"
Eva menoleh pada Byan yang masih berdiri di samping sofa yang dia duduki. Eva menggeleng pelan. "Tidak perlu Mas, duduk saja. Aku tidak punya banyak waktu"
Byan mengerutkan keningnya, sikap gadis ini benar-benar membuatnya bingung. Byan duduk di sampingnya, masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Eva bicarakan padanya.
"Kenapa sampai tidak ada banyak waktu? Memangnya kamu mau kemana? Bukankah Dokter bilang harus banyak istirahat, jangan sampai malah pergi bersama temanmu. Dan satu lagi ... kenapa bisa terkena serangan panik? Memangnya apa yang sudah membuatmu panik?"
Eva menatap Byan dengan lekat, bola mata cokelat tua itu, menatapnya lekat, membuat Eva merasa tenggelam dengan tatapannya. Sulit untuk bisa mengatakan perpisahan sekarang. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terlalu jauh dan Eva tidak ingin dirinya malah semakin terjebak dengan sandiwara ini.
"Mas Bi, kalau misalkan aku telah membohongimu, apa kau akan marah dan membenciku?" tanya Eva, dalam hatinya sudah mulai ketar ketir dengan jawaban Byan nanti.
"Tergantung apa dulu yang membuatmu berbohong. Aku tidak tahu apa aku bisa mengendalikan perasaanku untuk tidak membencimu, karena aku benci seorang pembohong. Tapi, aku mencitaimu. Jadi..."
"Mas" Eva memotong ucapan Byan saat mendengar kata 'mencintaimu' keluar dari mulut pria itu. "Apa maksudnya itu?"
Byan menoleh, dia memegang kedua bahu Eva dengan menatapnya lekat. Sudah mempersiapkan diri sejak dari Bandara jika dia akan mengungkapkan perasaannya hari ini. Namun karena Eva yang tiba-tiba berada di rumah sakit, membuatnya hampir lupa dengan tujuannya ini.
"Ini pertama kalinya aku merasakan hal yang sangat berbeda saat aku bersamamu. Bukan hanya keceriaanmu yang membuatku tenang, tapi ... aku nyaman bersamamu, dan aku selalu merasa bahagia saat bersamamu. Hingga aku sadar, jika sebenarnya aku telah jatuh cinta padamu, Laila. Aku mencintaimu"
Eva tertegun, matanya berkaca-kaca hingga cairan bening meluncur begitu saja di pipinya. Bukan hanya karena dia terharu mendengar Byan mengungkapkan cinta padanya dengan penuh ketulusan dari balik tatapan matanya. Tapi, di saat Eva sudah siap untuk jujur atas sandiwara ini, tapi kenapa Byan malah mengungkapkan cinta padanya. Eva dibuat semakin dilema, mulai tidak tahu arah tujuannya sekarang. Apa harus tetap bersandiwara sampai semuanya terbongkar dengan sendirinya, atau memilih berhenti sejak saat ini?
"Laila, aku ingin kau menjadi kekasihku. Meski aku tahu jika pertemuan kita memang karena perjodohan orang tua. Tapi, ketika kau bisa membuatku jatuh cinta padamu, maka sekarang hanya tentang kita berdua, bukan tentang perjodohan orang tua kita lagi"
Tangan Eva gemetar, pikirannya kosong seketika. Apa yang sudah dia rangkai untuk dibicarakan dengan Byan, semuanya lenyap entah kemana. Ungkapkan perasaan Byan padanya saat ini, benar-benar membuatnya blank.
Byan terkekeh lucu saat melihat Eva yang terdiam dengan wajah yang terkejut. Ekspresinya yang membuatnya gemas. Cup... Byan mengecup bibirnya sekilas, membuat Eva semakin terkejut.
"Mas..."
"Tidak ada jawaban lain selain kata 'Ya' untuk menjadi kekasihku. Kita mulai semuanya dari sini, meski perjodohan akan tetap berlanjut, tapi aku mau kita tetap saling memahami dulu satu sama lain sebelum sampai pada pernikahan"
"Pernikahan?"
Semakin dibuat shock saja dengan ucapan Byan, memang Eva tahu jika perjodohan ini akan berakhir pada pernikahan. Semua perjodohan juga begitu tujuannya. Tapi, masalahnya dia hanya menggantikan Laila. Apa mungkin mereka bisa sampai ke pernikahan? Rasanya tidak mungkin.
"Tentu saja, aku akan menikahimu dan tentunya hanya kamu yang akan aku nikahi. Mulai sekarang kau adalah milikku!"
Sebuah kalimat yang menyatakan kepemilikan seutuhnya. Seperti Eva tidak bisa bersama siapapun lagi selain Byan.
"Kamu lucu banget sih, masih kaget karena aku mengungkapkan perasaanku duluan, iya?" Byan mencubit gemas hidung Eva karena wanita itu terus diam dengan wajah terkejut. "Sudahlah, jangan terkejut begitu. Pokoknya apapun yang terjadi, kau akan tetap menikah denganku"
Byan menarik Eva ke dalam pelukannya, mengecup keningnya lembut. Sementara Eva hanya diam membeku dalam pelukan pria itu, jantungnya berdebar kencang, pikirannya masih kosong. Eva masih berusaha mencerna setiap hal yang terjadi barusan, dan yang telah di ucapkan Byan padanya.
"Aku juga mencintaimu"
Akhirnya menyerah dengan perasaannya sendiri, karena nyatanya Eva tidak pernah bisa membohongi hatinya sendiri.
Bersambung