Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Hujan dan Darah
Hujan di Surabaya turun makin rapat ketika Anisa meninggalkan gerbang Kediaman Gondokusumo.
Koper di tangan kanannya terseret pincang karena salah satu rodanya tersangkut celah paving. Koper di tangan kiri lebih ringan, tetapi pegangannya melukai telapak yang masih basah. Ia tidak punya payung. Tidak punya mobil. Tidak punya alamat yang bisa ia tuju dengan yakin.
Di belakangnya, gerbang besi besar tertutup perlahan.
Bunyi klik dari sistem otomatis itu terdengar terlalu final.
Anisa berhenti di tepi jalan, menoleh sekali. Rumah besar itu berdiri angkuh di balik pagar tinggi, lampu-lampunya menyala hangat seperti tidak baru saja mengusir seseorang. Selama tiga tahun, ia bangun sebelum matahari untuk memastikan rumah itu punya sarapan hangat. Ia mengingat obat Galang saat pria itu sakit maag. Ia menyiapkan jasnya sebelum rapat penting. Ia menunggu di ruang makan sampai nasi dingin, lalu memanaskannya lagi kalau Galang pulang larut.
Sekarang, bahkan pos satpam pun tidak menawarkan tempat berteduh.
"Bu, hujan deras," suara seorang penjaga terdengar dari balik kaca pos. Nadanya canggung, bukan iba. "Mungkin bisa pesan taksi online."
Anisa menatap ponsel di genggamannya. Layarnya retak tipis di sudut, baterai tersisa tujuh persen. Akun transportasi online masih memakai kartu pembayaran Galang. Ia menatap ikon aplikasi itu beberapa detik, lalu mematikan layar.
Ia tidak mau membawa apa pun yang terhubung dengan pria itu.
"Terima kasih," jawabnya pendek.
Penjaga itu membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun, matanya bergerak ke kamera CCTV di atas gerbang, lalu ia diam.
Anisa mengerti. Di rumah itu, bahkan kebaikan kecil pun harus meminta izin.
Ia menarik kedua koper dan mulai berjalan.
Air hujan menempel di rambutnya, turun ke leher, menyusup ke balik kerah blus tipis yang tadi pagi ia pilih dengan hati-hati. Tadi pagi ia masih berpikir mungkin Galang akan makan malam di rumah. Ia bahkan sempat meminta dapur menyiapkan sup kesukaannya.
Lucu.
Hari ini ia menyiapkan makanan untuk suami yang sudah menyiapkan perceraian.
Di persimpangan depan kompleks, jalan mulai ramai. Motor melaju cepat, ban menyibak genangan. Sebuah mobil hitam melewati lubang dan air kotor menyiprat ke ujung rok Anisa. Ia menunduk. Noda cokelat menyebar di kain krem itu, tetapi ia tidak punya tenaga untuk marah.
Ia hanya terus berjalan.
Rasa lapar datang pelan. Sejak pagi ia belum makan. Dalam ruang kerja Galang, perutnya terlalu tegang untuk mengingat makanan. Sekarang, setelah tubuhnya diguyur hujan, lututnya mulai lemas.
Di depan minimarket kecil, Anisa berhenti. Lampunya terang. Orang-orang masuk keluar membawa kantong plastik, tertawa, mengeluh soal hujan, menelepon keluarga agar dijemput. Hal-hal biasa yang tiba-tiba terasa mewah.
Ia merogoh tas kecilnya.
Dompetnya ada, tetapi isinya hanya beberapa lembar uang tunai. Kartu yang selama ini ia pakai adalah kartu rumah tangga Gondokusumo. Galang bisa memblokirnya kapan saja. Mungkin sudah.
Anisa membeli sebotol air mineral paling murah. Kasir muda menatap koper dan rambut basahnya dengan rasa ingin tahu yang disembunyikan.
"Mau sekalian plastik besar, Bu? Biar barangnya tidak basah."
Anisa hampir menggeleng, lalu melihat map kecil berisi beberapa dokumen pribadi di tasnya. "Satu saja."
Saat menerima kembalian, jarinya kembali terasa perih. Luka kecil dari kertas surat cerai terbuka karena air hujan. Darah tipis bercampur air di ujung jarinya.
Ia menekan luka itu dengan tisu dari minimarket.
Luka kecil.
Kata Galang.
Anisa tersenyum tanpa suara. Kalau Galang melihat tubuhnya hancur sekalipun, mungkin pria itu tetap akan menyebutnya kecil selama Sherly tidak terganggu.
Ponselnya bergetar.
Tidak ada nama Galang di layar. Tidak ada pesan apa pun. Hanya notifikasi baterai lemah.
Anisa menelan kecewa yang seharusnya tidak lagi ia miliki. Untuk apa ia menunggu pesan dari pria yang bahkan sudah mengemas barangnya sebelum bicara?
Ia mematikan ponsel agar baterainya bertahan, lalu keluar dari minimarket.
Langit makin gelap. Hujan turun miring diterpa angin. Jalan raya di depan kompleks berkilau oleh lampu kendaraan. Trotoar tidak rata, beberapa bagian tertutup genangan. Anisa menyeret koper lebih dekat ke tubuhnya, mencoba melindungi tas dari hujan.
Di seberang jalan, sebuah van abu-abu terparkir dengan mesin menyala.
Di dalam van itu, seorang pria memegang setir sambil menatap Anisa dari kaca depan. Ponselnya tergeletak di paha, layar masih menampilkan pesan singkat.
Target keluar. Sendiri. Jangan gagal.
Pria itu mengusap wajah. "Nona kaya memang gila," gumamnya. "Masalah cinta saja sampai begini."
Ia menyalakan wiper. Karet wiper menyapu kaca, memperjelas sosok Anisa yang berjalan pelan di bawah hujan. Tidak ada pengawal. Tidak ada saksi yang benar-benar memperhatikan. Hujan selalu membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri.
Ponsel pria itu bergetar lagi.
Nomor tanpa nama.
Ia menjawab dengan earphone kecil. "Saya lihat dia."
Suara Sherly masuk, lembut tetapi dingin. "Jangan terlalu dekat dengan gerbang. Cari titik yang sepi."
"Di jalan depan sudah ramai."
"Makanya tunggu."
Pria itu menatap spion. "Kalau ada CCTV?"
"Aku tidak membayarmu untuk bertanya."
Diam sebentar.
"Baik," jawab pria itu akhirnya.
Panggilan terputus. Tangannya mengencang di setir.
Di luar, Anisa berbelok ke jalan yang lebih kecil, berharap menemukan halte atau tempat berteduh. Ia tidak mengenal kawasan itu dengan baik. Selama menjadi istri Galang, ia jarang pergi sendiri. Kalau keluar, selalu ada sopir keluarga. Kalau ingin mengunjungi pasar atau toko bunga, pelayan akan bertanya dulu untuk apa.
Hidupnya selama tiga tahun ternyata tidak hanya miskin kasih sayang. Ia juga miskin kebebasan.
Sebuah suara klakson membuatnya tersentak.
Motor lewat terlalu dekat. Anisa mundur, tumitnya menginjak genangan, tubuhnya oleng. Koper kecil jatuh ke samping. Beberapa pakaian keluar karena resletingnya tidak tertutup sempurna.
Ia berjongkok di bawah hujan, memungut pakaian satu per satu.
Blus sederhana. Cardigan lama. Satu kotak kecil berisi obat sakit kepala. Foto pernikahan salinan yang entah kenapa masih diselipkan pelayan di antara barangnya.
Anisa memegang foto itu.
Darah di salinan lain tadi mungkin sudah mengering. Foto di tangannya masih bersih, tetapi wajah di dalamnya terasa mati. Ia hampir merobeknya. Hampir.
Lalu ia berhenti.
Entah kenapa, ia memasukkan foto itu kembali ke koper. Bukan karena ia ingin menyimpannya sebagai kenangan. Mungkin karena suatu hari ia perlu mengingat bahwa ada masa ketika ia pernah serendah ini.
Saat ia berdiri, kepalanya berputar.
Jalan di depannya kabur. Lampu kendaraan memanjang seperti garis-garis kuning. Ia memegang tiang rambu di dekatnya, menarik napas pelan.
"Kenapa..." bisiknya.
Pertanyaan itu bukan hanya untuk Galang. Bukan hanya untuk Sherly yang ia belum tahu wajah aslinya malam ini. Pertanyaan itu untuk langit, untuk tubuhnya yang lelah, untuk hidup yang memberinya nama tanpa akar dan rumah tanpa pintu pulang.
Kenapa aku?
Apa salahku?
Dari ujung jalan, van abu-abu mulai bergerak.
Pelan pada awalnya. Lalu makin cepat.
Anisa mendengar suara mesin menembus hujan. Ia menoleh, tetapi cahaya lampu depan langsung menusuk matanya. Terlalu dekat. Terlalu cepat.
Tangannya masih memegang pegangan koper.
Tubuhnya membeku satu detik, hanya satu detik, tetapi satu detik itu cukup untuk membuat dunia berubah.
Klakson panjang membelah jalan.
Benturan itu datang seperti ledakan.
Anisa merasa tubuhnya terangkat dari tanah. Koper terlepas. Botol air mental ke selokan. Payung seseorang di kejauhan jatuh. Hujan, lampu, aspal, semuanya berputar tanpa bentuk.
Lalu ia menghantam jalan.
Sakit datang terlambat, kemudian menyapu semuanya.
Ia tidak bisa berteriak. Udara seperti hilang dari paru-parunya. Pipinya menempel pada aspal basah. Ada rasa besi di mulut. Di dekat wajahnya, air hujan berubah warna, membawa merah tipis mengalir ke garis putih jalan.
Van itu tidak berhenti lama. Pintu samping sempat terbuka sedikit, sepasang mata memastikan tubuhnya tidak bergerak. Lalu kendaraan itu melaju pergi, menelan diri ke balik hujan dan deretan lampu.
Beberapa orang mulai berteriak.
"Astaga! Ada yang ketabrak!"
"Panggil ambulans!"
"Plat nomornya kelihatan?"
Suara-suara itu terdengar jauh, seperti berasal dari dasar air. Anisa mencoba menggerakkan jari. Tidak bisa. Kelopak matanya berat, tetapi ia memaksa tetap terbuka.
Di jalan utama yang berjarak beberapa meter, sebuah mobil hitam mewah melambat karena kemacetan kecil akibat kecelakaan.
Di kursi belakang, Galang menatap layar ponselnya. Sherly baru saja mengirim pesan.
Kamu sudah makan? Jangan lupa istirahat. Aku khawatir.
Galang membaca pesan itu, lalu mengetik balasan singkat. Sopir di depan melirik kerumunan di pinggir jalan.
"Pak, sepertinya ada kecelakaan."
Galang mengangkat wajah sekilas. Dari balik kaca mobil yang basah, ia melihat orang-orang berkumpul, lampu motor berhenti, seseorang berjongkok di jalan. Namun, hujan menutup semuanya. Ia tidak bisa melihat wajah perempuan yang tergeletak di sana.
"Jalan saja kalau bisa lewat," katanya.
"Baik, Pak."
Mobil itu bergerak pelan melewati lokasi kecelakaan.
Saat ban mobil Galang melewati genangan di dekat tubuhnya, percikan air dingin mengenai tangan Anisa yang terentang di aspal. Cincin pernikahan di jarinya memantulkan cahaya lampu mobil sebentar, lalu redup lagi tertutup darah dan hujan.
Anisa tidak tahu mobil siapa yang baru saja lewat.
Mungkin lebih baik begitu.
Matanya menatap samar ke arah lampu belakang yang menjauh. Dalam kabur kesadaran, ia hanya melihat warna merah, merah yang sama dengan darah di foto pernikahan tadi.
Kenapa...
Aku sudah pergi...
Kenapa masih tidak boleh hidup?
Suara sirene belum terdengar. Hujan jatuh di wajahnya, membasuh air mata yang bahkan tidak ia sadari keluar.
Napasnya tersendat. Dunia mengecil menjadi suara air, bau aspal basah, dan sakit yang perlahan berubah menjadi dingin.
Pikiran terakhir Anisa sebelum gelap menelannya hanya satu.
Apa benar tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mencariku?