Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Maaf
"Aku belum pernah minta maaf."
Wilson mengatakannya tanpa menunduk, tetapi juga tanpa menatap Seline terlalu lama. Seolah kalimat itu punya berat yang memalukan bila dibiarkan terlihat jelas.
Seline tidak langsung menjawab.
Di kantong roknya, ponsel terasa seperti bara kecil. Ia masih harus menghubungi galeri. Ia masih harus menutup jalan sebelum Kevin membuka pintu menuju Tao. Namun Wilson berdiri di depannya, membawa hutang lama yang dulu hampir membuatnya hancur di rumah ini.
"Untuk surat itu?" tanya Seline akhirnya.
"Untuk surat itu," jawab Wilson.
Koridor belakang lebih sepi daripada ruang makan, tetapi suara keluarga masih terdengar dari jauh. Tawa Tante Liu. Panggilan Bi Zheng kepada pelayan. Denting piring yang dipindahkan. Semua bunyi itu membuat percakapan mereka terasa seperti sesuatu yang harus diselesaikan cepat sebelum orang lain menemukannya.
Wilson memasukkan satu tangan ke saku celana. "Waktu itu, aku tahu suratnya sudah terbuka sebelum sampai ke tanganku."
Seline mengangkat wajah.
"Aku tidak tahu isinya sudah diganti," lanjutnya. "Aku juga tidak tahu siapa yang mengganti. Tapi aku tahu surat itu bukan surat biasa. Aku tetap memberikannya padamu."
"Karena Tante Chen meminta?"
Rahang Wilson mengeras. "Karena aku tidak ingin terlibat."
Jawaban itu jujur, dan justru karena jujur, Seline merasakan sisa dingin lama merayap di punggung. Bukan kebencian. Bukan juga kejutan. Ia sudah lama tahu sebagian orang di rumah besar ini tidak perlu membencinya untuk menyakitinya. Mereka hanya perlu menyingkir sedikit, lalu membiarkan orang lain mendorongnya jatuh.
"Ko Wilson tidak ingin terlibat," kata Seline pelan, "tapi saya yang hampir jatuh."
Wilson menerima kalimat itu tanpa membela diri.
"Aku tahu."
Seline menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Wilson, pria itu tampak bukan hanya dingin, tetapi lelah pada dirinya sendiri.
"Kenapa baru sekarang?" tanyanya.
Wilson melihat ke arah ruang makan. "Karena setelah hari ini, akan ada lebih banyak hal yang memakai namaku."
Pertunangan.
Vivian.
Tante Chen.
Seline memahami tanpa perlu dijelaskan. Wilson bukan sedang meminta simpati. Ia sedang memberi peringatan bahwa namanya, posisinya, dan calon pertunangannya akan menjadi bagian dari perang kecil yang terus bergerak di rumah ini.
"Saya tidak bisa langsung percaya pada Ko Wilson," kata Seline.
"Aku tidak minta dipercaya."
"Lalu?"
"Aku hanya tidak mau kamu mengira semua hal yang nanti memakai namaku berasal dariku."
Kalimat itu membuat Seline diam.
Di ujung koridor, angin membawa wangi kue keranjang dari dapur. Seline memegang ponsel di kantongnya lebih erat. Hari ini terlalu banyak benda kecil menjadi tanda bahaya. Tanda tangan Tao. Cincin pertunangan yang belum dipilih. Nama Wilson yang bisa dipakai orang lain.
"Terima kasih sudah memberi tahu," katanya akhirnya. "Tapi kalau suatu hari nama Ko Wilson dipakai untuk menyakiti saya lagi, saya tetap akan melawan."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Wilson bergerak sedikit. Bukan senyum hangat. Lebih mirip pengakuan tipis.
"Itu lebih baik."
Seline hampir pergi ketika Wilson berkata lagi, "Dan satu hal lagi."
Ia berhenti.
"Hati-hati dengan Vivian."
Seline hampir tertawa, tetapi hanya napas pendek yang keluar. "Saya sudah sangat hati-hati dengannya."
"Belum cukup." Mata Wilson mengarah ke ruang makan. "Hari ini dia menerima pertunangan di depan semua orang, tapi orang yang dia lihat bukan aku."
Seline tidak menjawab.
Wilson melanjutkan lebih rendah, "Kalau dia merasa kehilangan sesuatu, dia akan mencari orang yang paling mudah disalahkan."
"Saya?"
"Kamu."
Kata itu jatuh begitu saja.
Seline menunduk sebentar. Ia tidak ingin terdengar pahit, tetapi kalimat itu tetap keluar. "Saya tidak pernah mengambil apa pun darinya."
"Di rumah ini, orang tidak selalu membenci karena kamu mengambil sesuatu." Wilson menatapnya. "Kadang mereka membenci karena sesuatu yang mereka inginkan justru melihat ke arahmu."
Seline merasakan panas naik ke wajah.
Kevin.
Ia tidak perlu menyebut nama itu. Wilson juga tidak menyebutnya. Justru karena tidak disebut, nama itu terasa lebih jelas di antara mereka.
"Ko Wilson sebaiknya mengurus pertunangan sendiri," kata Seline, suaranya lebih kaku. "Saya juga punya urusan."
Wilson mengangguk. "Itu yang ingin kukatakan."
"Apa?"
"Jangan biarkan urusanmu terlihat seperti rahasia."
Seline menegang.
Wilson menatap kantong roknya, tempat ponsel tersembunyi. Ia tidak tahu soal Tao. Tidak mungkin tahu. Tetapi mata Wilson terlalu tajam untuk tidak menangkap kegelisahannya.
"Di rumah ini," katanya, "rahasia kecil selalu dijual sebagai dosa besar."
Seline belum sempat menjawab ketika suara sepatu terdengar dari arah ruang makan.
Vivian muncul di tikungan koridor.
Ia berhenti begitu melihat mereka berdua. Senyumnya pelan-pelan naik, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.
"Oh," katanya lembut. "Aku mengganggu?"
Seline langsung mundur setengah langkah. "Tidak. Kami hanya bicara sebentar."
"Tentu." Vivian menatap Wilson. "Baru saja keluarga membicarakan pertunangan kita, Ko Wilson sudah punya urusan pribadi dengan Seline."
Wilson tidak berubah ekspresi. "Vivian."
"Aku salah?" Vivian melangkah lebih dekat. "Atau di rumah ini semua laki-laki memang harus bicara dulu dengan Seline sebelum bicara dengan calon tunangannya sendiri?"
Kalimat itu tidak keras, tetapi cukup tajam untuk membuat Seline merasa pipinya ditampar.
"Cukup," kata Wilson.
Vivian menoleh cepat. "Kamu membelanya?"
"Aku menghentikanmu mempermalukan diri sendiri."
Wajah Vivian memucat.
Seline tahu ia harus pergi sebelum adegan ini menjadi lebih besar. Ia menunduk singkat. "Saya permisi."
Vivian tertawa kecil. "Selalu begitu, ya? Datang diam-diam, membuat orang lain kacau, lalu pergi seolah kamu tidak tahu apa-apa."
Seline berhenti satu detik. Dadanya sesak, tetapi ia memaksa kakinya bergerak. Ia tidak akan memberi Vivian panggung di koridor sempit ini.
Darren menunggunya di dekat pintu belakang dengan wajah cemas. Sepertinya ia melihat sebagian kejadian, tetapi cukup pintar untuk tidak bertanya di tempat terbuka.
"Kak?"
"Kamar," kata Seline.
Mereka berjalan cepat ke arah sayap belakang. Baru setelah pintu kamar tertutup, Seline mengeluarkan ponsel. Tangannya sedikit gemetar saat membuka email lama Tao.
Darren berdiri di dekat meja. "Ko Kevin benar-benar mau ketemu Tao?"
"Aku dengar sendiri."
"Kakak mau jawab apa?"
"Tao tidak menerima pertemuan langsung. Semua komunikasi lewat galeri. Itu sudah cukup."
Ia mulai mengetik. Setiap kata terasa seperti tali yang harus diikat kuat.
Tao tidak tersedia untuk pertemuan tatap muka. Mohon semua permintaan kolektor disampaikan melalui email.
Belum sempat ia menekan kirim, layar ponselnya bergetar.
Sebuah email baru masuk dari admin galeri.
Balasan yang belum terkirim masih terbuka di bawah notifikasi itu, seperti payung yang terlambat dibuka setelah hujan telanjur jatuh. Seline menatap layar, dan untuk pertama kalinya hari itu ia benar-benar merasa Kevin bergerak lebih cepat daripada dirinya.
Darren mendekat tanpa suara. "Kak?"
Seline tidak menjawab.
Subjeknya hanya satu baris.
Kolektor lama meminta jadwal pertemuan langsung dengan Tao.