Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030
Tamparan
Lalu Rayhan menunduk dan mencium Yola.
Selama satu detik pertama, dunia berhenti.
Yola tidak bergerak.
Bukan karena menerima.
Tubuhnya seperti terlambat memahami apa yang sedang terjadi. Bibir Rayhan menekan bibirnya, hangat, tegas, membawa aroma kopi hitam dan udara malam yang basah. Satu tangan Rayhan masih menggantung di sisi wajahnya, tidak menyentuh, tetapi jarak yang tersisa sudah tidak berarti apa-apa.
Pikirannya kosong.
Lalu semuanya kembali sekaligus.
Kolam. Malam. Kata kakak ipar. Kevin. Ruang ganti yang terkunci. Semua orang yang bertanya apakah Rayhan membatalkan pertunangan karena dirinya.
Dan Rayhan yang mendengar kata jangan, tetapi tetap maju.
Yola mendorong dadanya.
Rayhan mundur setengah langkah, seolah dorongan itu baru mengembalikan napasnya ke tubuhnya sendiri.
Yola mengangkat tangan.
Tamparan itu pecah di antara mereka.
Tidak terlalu keras untuk membuat Rayhan terhuyung. Tetapi cukup keras untuk membuat wajahnya berpaling, cukup keras untuk membuat malam yang tadi diam terasa ikut tersentak.
Telapak tangan Yola panas.
Rayhan tetap menoleh ke samping selama beberapa detik. Di pipinya, bekas merah mulai muncul perlahan. Ia tidak menyentuhnya.
Yola menarik napas, tetapi udara seperti penuh duri.
"Jangan pernah lakukan itu lagi."
Suaranya rendah.
Justru karena rendah, kalimat itu terdengar lebih tajam daripada teriakan.
Rayhan menoleh kembali.
Matanya tidak marah. Itulah yang hampir membuat Yola semakin marah. Ia tidak ingin melihat penyesalan di sana. Penyesalan membuat luka terlihat seperti sesuatu yang bisa dinegosiasikan.
"Yola..."
"Jangan panggil saya begitu."
Rayhan berhenti.
Yola menyentuh bibirnya dengan punggung tangan, lalu langsung menurunkannya seolah sentuhan itu membakar.
"Saya sudah bilang jangan."
"Aku dengar."
Jawaban itu membuat dadanya sakit.
"Kalau dengar, kenapa?"
Rayhan tidak segera menjawab.
Air kolam bergerak pelan di belakangnya. Di kejauhan, suara kendaraan dari jalan besar terdengar tipis, terlalu normal untuk malam yang baru saja berubah bentuk.
"Karena aku tidak bisa berhenti," kata Rayhan akhirnya.
Yola menatapnya seperti baru ditampar balik.
"Itu bukan jawaban."
"Aku tahu."
"Itu alasan orang yang tidak mau bertanggung jawab."
Rahang Rayhan mengeras.
Yola hampir tidak pernah bicara seperti itu kepadanya. Biasanya ia memilih kata yang sopan, aman, rapi. Malam ini semua kata rapi sudah habis di hotel, di depan Celine, di depan orang-orang yang memanggilnya janda seperti melempar batu.
"Anda marah karena saya takut pada Anda?" lanjut Yola. "Lalu Anda membuktikan bahwa saya memang punya alasan untuk takut."
Wajah Rayhan berubah.
Kali ini kalimat itu mengenai tempat yang tepat.
"Aku tidak akan menyakitimu."
Yola tertawa sekali, pendek, hampir tanpa suara. "Anda baru saja mengambil sesuatu yang tidak saya berikan."
Rayhan seperti kehilangan kata.
Yola menggenggam telapak tangannya yang masih panas. "Marco memakai pintu terkunci. Anda memakai alasan perlindungan. Bentuknya berbeda, tapi malam ini saya sama-sama tidak diberi ruang untuk berkata tidak."
"Jangan bandingkan aku dengan dia."
Untuk pertama kalinya suara Rayhan naik sedikit.
Yola tidak mundur.
"Kalau tidak mau dibandingkan, jangan lakukan hal yang membuat saya harus mencari perbedaannya."
Hening.
Rayhan menatapnya lama. Dalam gelap taman, ia terlihat lebih muda daripada saat berdiri di depan Hendra Tan. Bukan lebih lembut. Lebih kacau. Seperti pria yang bisa menghancurkan tangan orang lain tanpa gemetar, tetapi tidak tahu harus meletakkan tangannya sendiri saat perempuan di depannya terluka karena dirinya.
"Aku salah."
Dua kata itu keluar berat.
Tidak panjang. Tidak indah. Tidak cukup.
Tetapi untuk Rayhan, mungkin itu sudah seperti mencabut sesuatu dari dadanya.
Yola tidak menerimanya.
Belum.
"Kesalahan Anda tidak hilang hanya karena Anda tahu itu salah."
Rayhan menunduk sedikit.
"Apa yang harus kulakukan?"
Yola memandangnya.
Pertanyaan itu seharusnya mudah. Minta maaf. Mundur. Jangan mendekat. Jangan membuat semua orang bertanya. Jangan membuat nama Kevin terasa seperti tembok yang harus ia jaga sendirian.
Namun mulutnya hanya sanggup mengeluarkan satu kalimat.
"Biarkan saya pergi."
Rayhan tidak bergerak.
Untuk satu detik, Yola takut ia akan menolak.
Lalu Rayhan mundur.
Satu langkah.
Cukup untuk membuka jalan di antara bangku taman dan tepi kolam.
Yola berjalan melewatinya.
Ia tidak berlari. Ia tidak ingin terlihat seperti sedang kabur, meski seluruh tubuhnya ingin berlari sampai ke kamar dan mengunci pintu. Saat ia melewati bangku, jas hitam Rayhan tergeletak di sana. Ia berhenti hanya setengah detik.
Rayhan juga melihat jas itu.
"Pakai. Kamu bisa kedinginan."
Kalimat itu pelan, hampir seperti kebiasaan yang keluar sebelum ia sempat menahan diri.
Yola menoleh.
"Jangan urus saya sekarang."
Rayhan diam.
Yola meninggalkan jas itu di bangku.
Di belakangnya, ia tidak mendengar langkah Rayhan mengikuti. Itu seharusnya membuatnya lega. Namun setiap langkah menuju pintu belakang mansion justru membuat bibirnya semakin terasa panas, seperti ada bekas yang tidak bisa ia hapus hanya dengan punggung tangan.
Rayhan tetap berdiri di tempatnya.
Bekas tamparan di pipinya mulai berdenyut. Rasa sakitnya tidak besar. Ia pernah menerima pukulan yang jauh lebih keras, luka yang jauh lebih dalam. Tetapi tidak ada yang pernah membuatnya diam seperti telapak tangan Yola.
Ia melihat punggung Yola menghilang di balik pintu mansion.
Baru setelah pintu itu tertutup, Rayhan menunduk melihat tangannya sendiri.
Tangan yang tadi mematahkan pergelangan Marco.
Tangan yang ingin menyentuh wajah Yola tetapi berhenti terlambat.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak tahu apakah ia sedang melindungi seseorang atau hanya membuatnya semakin ingin pergi.
Langkah pelan terdengar dari sisi taman.
Ardi berhenti cukup jauh, tidak melewati batas yang tidak diucapkan.
"Pak," katanya hati-hati. "Draft pernyataan Liem Group sudah siap. Pak Jason juga menunggu konfirmasi. Hendra Tan meninggalkan hotel lima belas menit lalu."
Rayhan mengambil jas di bangku, tetapi tidak langsung memakainya.
"Kirim ke Jason. Minta dia hapus semua kalimat yang menyebut Yola secara langsung."
"Siap, Pak."
"Tidak ada foto. Tidak ada rekaman. Kalau ada yang menyebarkan video dari hotel, tuntut."
"Baik."
Ardi menunggu satu detik, lalu bertanya lebih pelan, "Nona Yola perlu dijaga lebih ketat?"
Rayhan menatap pintu mansion yang sudah tertutup.
Jawaban lama hampir keluar. Ya. Tambah penjagaan. Jangan biarkan ia keluar tanpa laporan. Jangan biarkan siapa pun mendekat.
Lalu tamparan itu berdenyut lagi di pipinya.
"Jaga dari jauh," katanya. "Jangan membuatnya merasa dikejar."
Ardi tampak sedikit terkejut, tetapi segera menunduk. "Siap, Pak."
Di dekat tangga menuju lantai dua, Sari terbangun dari kursi. Wajahnya masih mengantuk, tetapi langsung berubah saat melihat Yola.
"Nona?"
Yola berhenti. Ia ingin berkata tidak apa-apa, tetapi kebohongan itu sudah terlalu sering dipakai malam ini.
"Aku mau sendiri dulu, Sari."
Sari berdiri, cemas. "Nona sakit?"
"Tidak."
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Sari melihat tangan Yola yang menggenggam sisi dress, lalu melihat wajahnya. Ia mungkin tidak tahu apa yang terjadi di taman. Tetapi ia cukup mengenal Yola untuk tidak memaksa ketika suara Yola hampir patah.
"Saya tunggu di luar kamar," katanya pelan.
Yola mengangguk.
Ia masuk ke kamar dan menutup pintu.
Di kamar mandi, Yola menyalakan keran.
Air mengalir terlalu keras di wastafel, memecah sunyi kamar. Ia membasahi ujung handuk kecil, lalu mengangkatnya ke bibir.
Tangannya berhenti sebelum menyentuh.
Ia marah karena masih bisa mengingat hangatnya. Marah karena tubuhnya lebih jujur daripada harga dirinya, karena rasa takut dan rasa bergetar tidak selalu bisa dipisahkan sejelas benar dan salah. Ia tidak ingin menyimpan apa pun dari ciuman itu, tetapi menghapusnya pun terasa seperti mengakui bahwa sesuatu memang tertinggal.
Akhirnya ia menekan handuk basah ke bibirnya.
Dingin.
Tidak cukup.
Ia menggosok sekali, lalu berhenti karena gerakan itu membuat matanya panas. Bukan ciumannya yang ingin ia hapus. Ia ingin menghapus detik ketika Rayhan mendengar kata jangan dan tetap memilih dirinya sendiri.
Yola mematikan keran.
Di luar pintu, Sari tidak mengetuk. Kesetiaan Sari malam itu justru terasa dari caranya tidak memaksa masuk.
Begitu sendirian, lututnya akhirnya menyerah. Ia duduk di tepi tempat tidur, tangan kanan masih terasa panas, lebih panas daripada salep di pergelangan, lebih panas daripada bibir yang baru saja dicuri Rayhan.
Di cermin, wajahnya terlihat sama seperti sebelum turun ke taman.
Tetapi Yola tahu ada sesuatu yang sudah berubah.
Namanya mungkin masih menjadi bahan gosip di luar sana. Celine mungkin masih menangis marah. Hendra Tan mungkin sudah menyiapkan perang. Semua itu terasa jauh dibanding satu kenyataan kecil yang tidak mau pergi.
Bibirnya masih panas.
Namun telapak tangannya lebih panas, karena ia baru saja menampar Rayhan.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅