NovelToon NovelToon
Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cacctuisie

“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.

“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.

Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.

“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.

Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CTIKCD - Aneh karena Sakit

Matahari yang semakin bersinar masuk ke sela-sela jendela kamar Elgan. Menyaksikan kedua manusia yang tak sengaja terlelap dalam dekapan saling menghangatkan. Tidak ada yang tahu sejak kapan Elgan sudah merubah posisinya menjadi menghadap ke arah Nasya. 

Siang hari yang akan berganti menjadi waktu sore. Namun, hari ini memang cukup cerah. Sore pun sampai tidak terasa bagi keduanya. Keadaan Elgan pun semakin membaik. Dia memang hanya butuh istirahat. Sampai Nasya harus terbangun saat perutnya berbunyi. 

Matanya mengerjap berkali-kali. Rasanya berat yang dirasa ketika melihat tangan Elgan sudah ada di atasnya. Nasya mendongak, Elgan sedang memeluknya. Rasanya begitu hangat dan menangkan. Berbeda dengan Elgan yang biasanya. 

“Kok tiba-tiba dia yang memelukku? Apa anasnya udah turun, ya? Kalau gerak nanti dia kebangun,” lirih Nasya bergumam sendiri. 

Lagi dan lagi, Nasya mendongak. Melirik Elgan dengan ketenangannya ini. “Kalau dipikir ganteng, juga ada manisnya. Kayak gini tapi galak banget,” lanjutnya sambilnya mencebikkan bibirnya. 

Elgan sedikit bergerak. Nasya segera memejamkan matanya seakan tidak ingin diketahui jika dia sudah lebih dulu terbangun. Akan tetapi, Nasya tak merasakan apapun. Dia pikir suaminya masih tertidur. Dia pun memutuskan untuk kembali membuka mata matanya. Siapa sangka Elgan ternyata sudah bangun. 

“Siapa yang tampan? Dan apa yang manis?” tanyanya mengangkat kedua alisnya. 

Nasya menggeleng cepat dan berusaha melepaskan pelukan Elgan. Bukannya bisa dilepaskan dengan mudah, Elgan malah mempererat. Nasya tetap berusaha meski hasilnya tetap sama. 

“Aku mau bangun. Jangan cari kesempatan, ya,” kata Nasya yang belum berhasil. 

“Bukannya kamu yang cari kesempatan sama orang yang lagi sakit?” sahut Elgan dengan entengnya. 

“Ih, siapa yang mau cari kesempatan? Kamu tuh yang panas banget. Keliatan kedinginan makanya aku kasihan,” jawab Nasya.

“Boleh juga alasannya. Berkesempatan kan memandangi ketampanan dan menikmati kemanisan,” balas Elgan yang rupanya mulai senang mengganggu Nasya. 

Memandangi Nasya tanpa mengalihkan ke yang lain, rupanya sudah hampir satu bulan ini bersamanya. Membantu menjalankan rencananya meski hasilnya belum sesuai harapan. Namun, semenjak kehadiran Nasya yang memiliki banyak perbedaan dari wanita yang disayanginya sebelumnya. Elgan mulai menyadari sesuatu. Nasya mempunyai daya tariknya sendiri, tapi Elgan tak bisa menjelaskan. 

“Nguping juga ternyata. Udahlah lepasin, laper nih. Aku ambilin makan kalau memang gak mau turun,” ucap Nasya mengalihkan pembicaraan. 

“Boleh, asal disuapin juga,” jawab Elgan mulai melonggarkan tangannya. 

Nasya yang mempunyai peluang untuk segera melepaskan diri. Segera menjauh dari Elgan. “Habis sakit malah jadi aneh. Cepetan sembuh aja.” Nasya melangkah lebar untuk keluar dari kamar Elgan. 

“Ternyata dia lucu juga. Meski sudah diperlakukan jahat, masih mau peduli padaku,” gumam Elgan memandangi kepergian Nasya. 

***

Kebiasaan buruk Elgan sang pemilik rumah yang ditinggali Nasya. Dia membuka pintu kamar Nasya tanpa mengetuk. Terkejut pintunya mendadak terbuka. Nasya menyibakkan selimutnya. Melihat Elgan berjalan ke arah ranjangnya. Tanpa mengatakan apapun Elgan ikut berbaring. Dia menghadap ke atas tanpa berbicara apapun. 

Nasya duduk dan mulai mendekatkan punggung tangannya ke dahi Elgan. “Udah gak panas lagi? Harusnya udah gak butuh ditemenin, kan?” tanya Nasya menarik selimutnya dan memakaikannya menggulung badannya penuh. 

“Entah kenapa sejak kamu berada di kamar aku tadi ada rasa yang sulit diungkapkan. Baru kali ini aku ditemani,” jawab Elgan baru menatap Nasya. 

“Apa maksudnya? Memangnya sama mantannya MAS kemarin gimana?” balas Nasya menekan kata mas yang sekarang sudah mulai terbiasa dengan panggilan itu. . 

“Iya kan kalau Reina gak pernah tau aku sakit. Biasanya entah sakit sehari maupun berhari-hari, aku hanya sendirian dan berusaha sembuh. Hanya dokter yang biasa keluarga percaya saja yang datang. Itupun hanya memeriksa dan memberikan obatnya,” jelas Elgan yang mengatakan sebenarnya. 

“Terus maunya sekarang apa? Aku ngantuk, nih,” sahut Nasya seraya menguap, membuka mulutnya menandakan dia sangat mengantuk. 

Entah kenapa pertanyaan yang membutuhkan alasan kali ini membingungkan. Langkahnya memasuki kamar Nasya pun tidak bisa ia jelaskan. Hanya mengikuti kata hatinya yang sedang bingung. Kebingungan efek dari demamnya atau memang ada yang tidak beres dengan perasaannya. 

“Biarin aku tidur disini malam ini saja. Aku janji akan menjaga jarak, takutnya aku demam lagi,” jawab Elgan beralasan. 

Nasya berdecak, berbaring membelakangi Elgan. “Jadi, siapa sekarang yang lagi cari kesempatan? Memang dasarnya cowok gini, nih. Gak bisa banget dikasih perhatian sedikit,” gumam Nasya. 

Elgan tersenyum puas, berarti tidak ada penolakan dari istri kontraknya. Elgan mulai menutup matanya, menikmati ketenangan yang saat ini dirasakannya. Dengan sesekali melirik ke arah Nasya. 

***

“Kamu gak sarapan dulu? Biasanya makan meski sedikit. Awas aja nanti sakit lagi,” ucap Nasya yang sedang memperhatikan Elgan tergesa-gesa berangkat. 

“Aku harus cepat. Katanya Reina ke kantor pagi-pagi sekali dan sekarang di pingsan,” jawab Elgan, tersirat kecemasan di wajahnya. 

“Sepagi ini? Kenapa gak di bawa ke rumah sakit?” sahut Nasya merasa janggal. 

Elgan menaikkan bahunya. “Aku tahu dia masih membutuhkanku. Hari ini kamu bebas keluar.” Elgan melalui Nasya begitu saja setelah mengizinkannya keluar. 

“Padahal kalau dia sakit aku yang ngurusin, tapi malah yang dipeduliin masih aja mantannya itu. Untuk apa coba bayar untuk nikah kontrak begini kalau ujung-ujungnya gak bisa dapetin yang dia mau. Dimanfaatin doang kan?” gerutu Nasya yang suasana hatinya memburuk. 

Nasya berdandan rapi. Dia tidak ingin menghiraukan urusan rumah dulu. Berhubung suaminya juga tidak mempedulikannya. Nasya pergi ke pasar yang sering ia lakukan dulu untuk membeli kebutuhan rumah. Untuk berkunjung ke rumah orang tuanya, Nasya membeli berbagai kebutuhan yang orangtuanya akan gunakan. 

Akan tetapi, saat dia menaiki ojek. Belum sampai setengah jalan. Nasya melihat seseorang yang masih melekat dalam ingatannya. Dia meminta ojek tersebut menepi. Nasya berjalan ke arah anak perempuan yang tertunduk lemah mengenakan pakaian sekolahnya. 

“Lala?” sapa Nasya memastikan. 

Lala mengangkat kepalanya perlahan. “Tante Nasya?” Lala langsung memeluk Nasya yang berjongkok di hadapannya. 

“Ada apa, Sayang? Bukannya Lala harusnya di sekolah?” tanya Nasya khawatir. 

Lala menggelengkan kepala berkali-kali. Tangisannya mulai terisak di pelukan Nasya. Tidak ingin bertanya lebih banyak terlebih dahulu. Nasya membalas pelukan Lala untuk menenangkannya. Menyimpan pertanyaan yang sangat ingin dia tahu jawabannya. 

Setelah tangisannya reda, Nasya mengajak Lala jalan pelan menuju warung makan agar Lala bisa istirahat. Nasya memesan makan dulu karena dia belum sarapan dan tak melupakan Lala yang masih menunduk sejak tadi. 

“Lala tidak lapar, Tante,” kata Lala. 

“Lalu, Lala maunya apa?” balas Nasya menatap Lala berharap mendapatkan jawaban. 

“Lala tidak mau ke sekolah. Teman-teman Lala jahat,” jawabnya dengan satu tetesan air mata lolos mengalir begitu saja. 

“Jahat kenapa, Sayang? Sini, cerita sama Tante,” sahut Nasya. 

Lala tak menjawab dan memberikan kertas foto yang sudah lecek dan kusut karena cengkeraman kuat Lala. Nasya membuka foto tersebut, matanya terbelalak sempurna. Orang jahat mana yang memberikan foto yang seharusnya tidak dilihat oleh Lala. 

“Itu beneran papa, kan, Tante? Kata teman-teman di sekolah tadi. Papa sedang selingkuh dan Lala akan punya dua mama. Lala tidak mau, Tante. Mamanya Lala cuma mama Iren saja,” ucap Lala tangannya mulai bergetar. 

Nasya memeluk Lala. “Sayang, ada Tante Nasya disini. Lala gak perlu khawatir dan benar kata Lala, hanya ada mama Iren saja. Lala tidak perlu cemas, ya,” jawab Nasya yang cukup bingung harus memberikan kalimat penenang seperti apa agar Lala tenang. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!