NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut sebelum Darah

Aku tidak tahu bagaimana aku sampai di sana. Sesaat sebelumnya seharusnya aku berada di sebuah kamar sempit di Kirren, tetapi ingatan mengenai ranjang, dinding kayu, dan lentera di meja telah hilang sepenuhnya, seolah tempat itu tidak pernah ada.

Aku berdiri di tengah padang yang luasnya melampaui apa pun yang dapat kulihat. Tanaman serupa gandum tumbuh rapat sampai setinggi lutut, tetapi bulirnya lebih kecil dan batangnya jauh lebih ramping. Mungkin itu jelai liar. Aku tidak yakin. Istana memiliki kebun dan lahan rumput yang dirawat untuk berburu, tetapi aku tidak pernah diminta mempelajari tanaman yang tumbuh tanpa ditanam manusia.

Batang-batang pucat itu menutupi tanah dari kakiku sampai garis cakrawala. Tidak terlihat pohon, bukit, rumah, pagar, ataupun satu batu pun yang dapat dipakai sebagai penanda. Seluruh dunia hanya terdiri atas padang yang terus bergoyang dan langit berwarna merah muda di atasnya.

Awan-awan putih tergantung begitu rendah hingga tampak seperti gumpalan kapas yang dirajut menjadi bentuk-bentuk panjang. Tidak ada matahari, tetapi cahaya menyentuh seluruh padang dengan rata. Tak satu pun bayangan jatuh di bawah kakiku.

Angin berembus dari arah yang tidak dapat kutentukan. Ia menyibakkan kemejaku, menyentuh kulit di leher, kemudian bergerak melintasi padang dalam gelombang panjang. Batang-batang jelai menunduk bersamaan. Bulir-bulir yang telah mengering terlepas dari ujungnya dan terbang mengelilingiku, ringan seperti debu keemasan.

Aku mengangkat satu tangan untuk melindungi mata. Beberapa biji tersangkut pada rambut dan bahuku, sedangkan yang lain berputar sebentar di depan wajah sebelum dibawa angin menuju cakrawala.

Tempat itu indah, tetapi keindahannya membuat perutku terasa tidak nyaman. Tidak ada burung yang melintas. Tidak ada serangga yang berdengung di antara tanaman. Bahkan gerakan jelai tidak menghasilkan suara sebanyak yang seharusnya.

“Halo?”

Suaraku menyebar ke segala arah.

Halo… halo… halo…

Gema itu bergulir melintasi padang, semakin kecil setiap kali mengulangi suaraku. Aku menunggu sampai pengulangan terakhir menghilang, lalu menahan napas, berharap seseorang menjawab dari kejauhan.

Tak ada siapa pun yang memanggil kembali.

Aku berputar perlahan. Pemandangan di belakangku sama persis dengan yang berada di depan. Saat menunduk, aku tidak menemukan jalan ataupun bekas telapak kaki. Batang-batang yang baru saja kuinjak sudah kembali berdiri seolah tubuhku tidak pernah melewatinya.

“Marlow?”

Marlow… Marlow… Marlow…

Namanya terdengar ganjil ketika diucapkan berkali-kali oleh suara yang menyerupai suaraku sendiri. Setiap gema datang dari arah berbeda, tetapi tak satu pun membawa suara langkah atau jawaban kasar yang biasanya mengikutinya.

“Ishar?”

Ishar… Ishar… Ishar…

Aku memicingkan mata dan mencari kilatan rambut pirang di antara tanaman. Bila Ishar berdiri di padang itu, seharusnya aku dapat melihat kepalanya di atas jelai. Bila Marlow berada di sana, tubuhnya akan tampak dari jarak yang lebih jauh lagi.

Namun padang itu kosong.

Aku mulai berjalan ke arah yang kupilih tanpa alasan. Batang-batang jelai bergesekan dengan celanaku dan menggelitik punggung tangan. Tanah di bawahnya terasa lunak, tetapi tidak meninggalkan lumpur atau debu pada sepatu.

Setelah berjalan cukup lama, aku menoleh ke belakang. Tidak ada perubahan pada pemandangan. Awan berbentuk panjang yang sejak tadi berada di sebelah kiriku masih menggantung pada tempat yang sama, dan sebuah bagian langit yang berwarna lebih gelap tetap berada tepat di depan.

Aku mempercepat langkah. Jelai terbelah di sekitar lutut, kemudian menutup kembali setelah kulewati. Aku terus berjalan sampai napasku mulai terdengar, tetapi garis cakrawala tidak mendekat dan posisi awan tidak berubah.

Perasaan tidak nyaman di perut tumbuh menjadi ketakutan yang sulit kuterangkan. Aku tidak tahu apa yang mengejarku, tetapi diam di tempat itu terasa lebih buruk daripada berlari tanpa tujuan.

Aku mulai berlari. Kedua kakiku menghantam tanah lebih cepat. Tanganku menyapu batang-batang yang menghalangi, sementara angin mendorong dari depan dan membuat kemeja melekat pada dada. Aku memilih sebuah awan yang bentuknya menyerupai kapal dan menjadikannya tujuan, tetapi sejauh apa pun aku berlari, awan itu tidak bertambah besar.

Aku merasa seperti bergerak tanpa pernah berpindah.

“Marlow!”

Marlow… Marlow… Marlow…

Gema itu mengejarku dari belakang. Aku menambah kecepatan. Batang-batang jelai mencambuk betis dan tersangkut pada sepatu. Dadaku mulai naik turun. Udara yang masuk terasa dingin, tetapi tidak membawa bau tanah, tanaman, atau keringat.

“Ishar!”

Ishar… Ishar… Ishar…

Namanya terpecah oleh angin. Aku memanggil sekali lagi, lebih keras, sampai tenggorokanku sakit, tetapi yang kembali hanya suaraku sendiri.

Kakiku akhirnya tersangkut pada kumpulan batang yang lebih rapat. Aku hampir terjatuh, berhasil melangkah dua kali, lalu lututku menghantam tanah. Kedua tangan menahan tubuh sebelum wajahku menyentuh jelai.

Aku tetap seperti itu beberapa saat, terengah-engah dengan kepala tertunduk. Keringat menetes dari dagu, tetapi hilang sebelum menyentuh tanah. Angin terus lewat di atas punggungku, membuat seluruh padang membungkuk dan bangkit dalam irama yang sama.

Ketika napasku mulai melambat, sebuah suara datang dari belakang.

“Kal.”

Tubuhku menegang.

Angin masih bergerak, tetapi jelai di sekitarku seperti berhenti bergesekan. Suara itu terlalu lembut untuk menjadi Marlow dan terlalu hangat untuk menjadi gema.

“Kal, anakku.”

Aku mengenal suara itu sebelum berbalik. Ingatan tubuhku mengenalinya lebih dahulu daripada pikiranku, dari cara dadaku mendadak sakit, dari udara yang tertahan di tenggorokan, dan dari jemariku yang mencengkeram tanah meskipun tidak ada apa pun untuk digenggam.

Aku berbalik cepat.

Mom berdiri tidak jauh dariku.

Ia mengenakan gaun pucat yang sederhana, tanpa mahkota, permata, atau mantel kerajaan. Rambutnya disanggul longgar seperti ketika ia tidak memiliki jadwal menerima tamu dan hanya akan menghabiskan sore bersama keluarga. Beberapa helai bergerak di dekat pipinya saat angin lewat.

Wajahnya persis seperti yang kuingat, tetapi ingatanku sendiri terasa terlalu lemah dibandingkan sosok yang berdiri di sana. Aku telah mulai melupakan garis-garis kecil di sekitar matanya, cara bibirnya melengkung ketika berusaha tidak tertawa, dan kemiringan kepalanya setiap kali ia menungguku mengakui kesalahan.

Sekarang seluruhnya kembali.

Mom tersenyum kepadaku.

“Mom.”

Kata itu keluar begitu pelan hingga hampir tenggelam oleh angin. Aku bangkit terlalu cepat, kehilangan keseimbangan sesaat, kemudian berdiri dengan kedua kaki gemetar.

Mataku terasa panas. Air menggenang begitu saja, mengaburkan wajahnya sebelum aku sempat berkedip.

“Mom.”

Ia mengangkat kedua lengannya dan membuka pelukan.

Aku berlari ke arahnya.

Jarak kami tidak lebih dari beberapa puluh langkah. Aku seharusnya sudah dapat mencapainya dalam hitungan detik, tetapi setelah kakiku berlari sekuat tenaga, Mom tetap berada di tempat yang sama.

Aku melihat kedua tangannya terbuka. Gaunnya masih bergerak perlahan diterpa angin. Senyumnya tidak hilang, tetapi aku tidak pernah menjadi lebih dekat.

Aku terus berlari.

“Mom, tunggu.”

Dadaku kembali terbakar, lebih cepat daripada sebelumnya. Kakiku menghantam tanah sampai telapak terasa nyeri, tetapi jarak di antara kami justru melebar sedikit demi sedikit.

Aku tidak memahami apa yang terjadi. Padang itu mungkin menarik tubuhku ke belakang, atau Mom sedang menjauh tanpa melangkah. Aku hanya tahu bahwa setiap kali aku mengulurkan tangan, sosoknya berada lebih jauh daripada sebelumnya.

Kabut muncul dari balik jelai di belakangnya.

Mula-mula hanya garis putih tipis yang bergerak di dekat tanah. Kabut itu kemudian meninggi, menutupi batang-batang jelai, merayap ke pinggang Mom, lalu naik sampai bahunya.

“Mom, jangan pergi.”

Ia masih merentangkan tangan, tetapi wajahnya mulai memudar di balik putih. Aku dapat melihat bibirnya bergerak, seolah mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang sampai kepadaku.

Aku berlari sampai napasku pecah menjadi bunyi kasar. Air mata jatuh di pipi dan masuk ke mulut, terasa asin di lidah.

“Mom!”

Kabut menelan gaunnya. Kedua tangannya masih terlihat sesaat, pucat dan samar di dalam putih, kemudian ikut menghilang.

Aku tidak berhenti berlari meskipun tak ada lagi tujuan yang bisa kulihat. Aku menerjang masuk ke dalam kabut, berharap tubuhku akan menabraknya, tetapi hanya udara dingin yang menyentuh wajah.

“Mom, jangan tinggalkan aku.”

Suaraku terdengar berbeda.

Aku berhenti.

Kedua kakiku menjadi lebih pendek. Kemeja yang tadi pas pada tubuh kini berubah menjadi pakaian kecil dengan lengan longgar. Ketika mengangkat tangan ke depan wajah, aku melihat jari-jari mungil tanpa kapalan, luka, atau bekas latihan pedang.

Tubuhku kembali seperti saat berusia lima tahun.

Jelai yang sebelumnya hanya mencapai lutut kini menyentuh dada. Batang-batangnya menutupi pandangan dan membuat dunia terasa jauh lebih luas. Aku tidak lagi dapat melihat melewati padang tanpa harus berdiri berjinjit.

Kabut di hadapanku semakin tebal.

“Mom?”

Suaraku kecil dan tipis. Bibirku bergetar sebelum air mata mengalir lebih deras, dan tidak ada bagian dari diriku yang berusaha menahannya.

Aku berjalan ke depan sambil menyibakkan tanaman dengan kedua tangan. Batang-batang jelai menggores pipi dan lengan, tetapi aku tidak peduli.

“Mom, jangan tinggalkan aku.”

Aku mulai merengek seperti anak kecil yang tersesat di lorong istana. Dad biasanya tidak menyukai suara seperti itu. Ia akan menyuruhku berhenti, menarik napas, lalu menyampaikan apa yang kuinginkan tanpa menangis.

Namun Dad tidak berada di sana.

Mom juga tidak kembali.

Aku terus berjalan sampai kabut menutup seluruh padang. Langit merah muda menghilang, dan cahaya di sekelilingku menjadi putih pucat tanpa sumber.

“Kal.”

Aku berhenti menangis sesaat.

Suara Dad datang dari suatu tempat di dalam kabut. Dalam, tenang, dan sedikit berat seperti ketika ia membangunkanku sebelum perjalanan pagi.

“Kal, bangun.”

Aku berputar mencari sosoknya. Jelai bergerak di belakang, tetapi tidak ada siapa pun di antara batang-batangnya.

“Dad?”

Aku berjalan ke arah suara itu. Setelah beberapa langkah, suara tersebut terdengar dari sisi lain.

“Kal, bangun.”

“Dad, di mana kau?”

Tak ada jawaban selain hembusan angin. Aku kembali berputar, lalu berlari menembus kabut dengan kaki pendek yang terus tersangkut pada tanaman.

“Dad!”

Aku ingin melihat mantel gelapnya, bahunya yang lebar, atau sekadar bayangan tubuhnya di balik putih. Aku bahkan akan menerima ekspresi kecewa yang biasa ia berikan ketika aku terlambat bangun, selama ia benar-benar berada di sana.

“Kal.”

Nada suara itu berubah.

Kehangatannya menipis. Suaranya menjadi lebih kasar, lebih dekat, dan disertai bunyi keras yang tidak berasal dari padang.

“Kal, bangun.”

Aku berhenti. Tangisku perlahan mereda karena suara itu tidak lagi terdengar seperti Dad.

“Kal, sialan, bangun.”

Kabut bergetar.

Sesuatu menghantam kayu dengan keras.

Aku membuka mata dengan napas tersentak.

Kamar penginapan muncul di sekelilingku sedikit demi sedikit. Langit-langit rendah berada tepat di atas kepala. Dinding kayu gelap oleh malam, sedangkan sumbu lentera di atas meja telah mati dan meninggalkan bau minyak yang tipis.

Aku berbaring miring di ranjang, terjerat selimut sampai ke pinggang. Satu tanganku terulur ke sisi kosong, seolah masih berusaha meraih tubuh Mom sebelum ia menghilang.

Dadaku bergerak cepat. Keringat membasahi tengkuk dan menempelkan kemeja pada kulit punggung. Ketika mengusap wajah, telapak tanganku benar-benar basah oleh air mata.

Aku tidak langsung bangkit. Selama beberapa detik aku hanya memandang kegelapan, mendengarkan napasku sendiri dan mencoba menahan bagian mimpi yang mulai terlepas.

Aku masih dapat melihat gaun Mom. Aku masih mengingat kedua tangannya yang terbuka. Namun wajahnya sudah kehilangan ketajaman, larut kembali ke dalam bagian ingatan yang tidak mampu kutahan selamanya.

Pintu digedor sekali lagi.

“Kal!”

Suara Marlow menembus kamar.

Aku menyingkirkan selimut dan duduk. Kepalaku terasa berat, sementara perut yang tadi dihantam lutut Marlow kembali nyeri saat ototku menegang.

Baru ketika kaki menyentuh lantai dingin, aku teringat mengapa berada di kamar itu sendirian. Aku yang memintanya. Setelah kami menemukan penginapan dan membayar kamar, aku menolak tidur bersama Marlow seperti saat di Evergreen. Aku masih marah karena ia menjual koin Dad dan tidak ingin mendengar napasnya sepanjang malam atau melihat wajahnya ketika bangun.

Marlow tidak membantah. Ia hanya menyerahkan sebuah kunci kepadaku, mengingatkan agar pedang tetap berada dalam jangkauan, lalu masuk ke kamar lain.

Pintu kembali bergetar di bawah pukulan.

“Kal, buka.”

Ada sesuatu pada suaranya yang membuat sisa kantuk hilang. Marlow tidak berteriak tanpa alasan, terlebih di tempat umum ketika kami sedang berusaha tidak menarik perhatian.

Aku berdiri dan hampir tersandung selimut yang masih melilit satu kaki. Setelah menendangnya lepas, aku menyeberangi kamar tanpa mengenakan sepatu.

“Marlow?”

“Buka pintunya.”

Aku mengangkat palang kayu dan menarik daun pintu.

Marlow berdiri di lorong dengan pedang terhunus. Darah melapisi sebagian bilah, hitam pada bagian yang mulai mengering dan merah mengilap dekat ujungnya. Satu tetes jatuh ke lantai di antara sepatu kami. Kemudian tetes kedua menyusul, meninggalkan lingkaran kecil pada papan.

Mataku berpindah dari pedang ke tubuhnya. Kemeja kelabu yang baru dibelinya di Kirren robek pada bahu dan sisi pinggang. Di bawah sobekan itu terdapat beberapa luka memanjang. Salah satunya tampak dangkal, hanya menggores kulit, tetapi luka di dekat rusuk masih mengeluarkan darah yang merembes sampai ikat pinggang.

Wajahnya mengilap oleh keringat. Rambut pirangnya menempel pada dahi dan pelipis, sedangkan napasnya keluar lebih berat daripada biasa. Ia tidak terhuyung atau bersandar pada dinding, tetapi ketegangan pada rahangnya menunjukkan bahwa luka-luka itu tidak seringan yang ingin ia perlihatkan.

Aku memandang lorong di belakangnya. Dua lampu minyak masih menyala, membuat bayangan panjang pada dinding. Salah satu pintu kamar terbuka sedikit. Dari lantai bawah terdengar suara beberapa orang bergerak tergesa-gesa, kemudian sesuatu jatuh dan pecah.

“Kemasi barang-barangmu,” kata Marlow. “Kita pergi.”

Aku kembali menatap darah di pedangnya.

“Apa yang terjadi?”

Marlow tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah tangga dan mendengarkan beberapa detik, seolah berusaha mengukur jarak seseorang dari bunyi langkah.

“Satu legiun tentara Izengard menyisir Kirren.”

Kata-kata itu masuk ke kepalaku satu demi satu, tetapi maknanya baru terasa setelah ia selesai berbicara. Satu legiun bukan kelompok pencari yang dapat dihindari dengan berjalan melalui gang belakang. Jumlahnya cukup untuk menutup jalan kota, dermaga, dan semua pintu keluar menuju daratan.

“Mereka datang untuk kita?”

“Mereka tidak mengirim pasukan sebanyak itu untuk memeriksa pajak pelabuhan.”

Marlow mengusap darah dari sudut bibirnya dengan punggung tangan. Baru saat itu aku melihat sobekan kecil di dekat rahang, mungkin akibat ujung pisau atau cincin zirah.

“Bagaimana mereka tahu kita ada di sini?”

“Seseorang dari The Greymere pasti berbicara setelah kita turun. Mungkin seorang awak melihat kesempatan mendapatkan imbalan, atau kapten memutuskan koin perak belum cukup membuatnya senang.”

Aku teringat kapal tentara di Blue Lake dan suara yang menawarkan hadiah bagi siapa pun yang melihat kami. Aku juga teringat wajah para awak ketika kami keluar dari ruang muatan. Mereka tahu siapa yang dicari, mengetahui ciri-ciri kami, dan melihat kami membawa pedang serta seorang gadis dari Arlenville.

Salah seorang dari mereka hanya perlu berjalan menuju pos tentara setelah merapat.

“Kau terluka,” kataku.

Tatapan Marlow turun sebentar ke bagian rusuknya. Sikapnya hampir membuatku mengira luka itu milik orang lain.

“Aku masih bisa berjalan.”

“Darahmu belum berhenti.”

“Aku akan mengurusnya setelah kita keluar dari kota.”

Ia mengangkat pedang sedikit agar darah tidak menetes mengenai sepatuku. Gerakan itu membuat bahunya menegang, dan untuk sesaat napasnya tertahan. Ia segera menyembunyikan reaksi tersebut, tetapi aku sudah melihatnya.

Aku memegang sisi pintu lebih erat. Amarahku mengenai koin Dad belum sepenuhnya hilang, tetapi rasanya mendadak jauh dan kekanak-kanakan dibandingkan lelaki yang kini berdiri di hadapanku dengan darah mengalir dari tubuh.

“Kau benar-benar tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja.”

Jawabannya terlalu cepat.

Marlow memandang melewatiku ke dalam kamar. Tas, pedang, sepatu, dan pakaian lamaku masih tergeletak di tempat kami menaruhnya sebelum tidur.

“Bawa tas dan senjatamu. Tinggalkan apa pun yang akan memperlambat kita.”

Aku berbalik menuju sudut kamar, tetapi baru mengambil satu langkah ketika ingatan lain muncul.

“Ishar?”

Marlow menoleh ke ujung lorong.

“Dia aman, untuk sekarang.”

Aku berhenti.

“Di mana dia?”

“Bersama pemilik penginapan di belakang dapur.”

Dari lantai bawah terdengar benturan keras. Kayu retak, lalu seorang pria berteriak. Suara beberapa sepatu bot menyusul, berat dan teratur, memasuki ruang utama penginapan.

Marlow menggeser tubuhnya dan berdiri di antara aku dan tangga. Genggamannya pada pedang mengencang, sementara darah dari luka di rusuk kembali merembes setelah gerakan kecil itu.

“Cepat, Kal,” katanya. “Mereka sudah masuk.”

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!