Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ada yang janggal
Pikiran Rindu terus berkelana sepanjang perjalanan di dalam taksi.
Deru mesin kendaraan dan hiruk-pikuk jalan raya seolah hanya menjadi suara latar yang samar. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela.
Gedung-gedung tinggi, kendaraan yang berlalu lalang, lampu lalu lintas yang berganti warna, hingga orang-orang yang sibuk berjalan di trotoar melintas begitu saja tanpa benar-benar ia lihat.
Yang memenuhi kepalanya hanyalah satu pertanyaan yang terus berputar, berulang-ulang, tanpa memberinya jawaban.
Apakah aku hanya terlalu khawatir?
Ia menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya panjang. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. Ujung kukunya tanpa sadar menekan kulit telapak tangan sendiri.
Mungkin semua ini hanya kebetulan. Mungkin ia memang terlalu lelah sehingga pikirannya mulai dipenuhi prasangka yang tidak berdasar.
Namun, semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin pula dia menjadi cemas.
Arsen.
Nia.
Dua nama itu terus berdampingan di dalam benaknya.
Apakah kecurigaanku ini memang ada alasannya?
Atau aku hanya sedang membesar-besarkan keadaan?
Apakah Arsen sedang mencurangi diriku?
Pertanyaan itu muncul begitu saja, membuat dadanya sesak.
Ia langsung menggeleng keras, Tidak. Tidak mungkin. Arsen bukan pria seperti itu.
Selama tiga tahun mereka menikah, Arsen selalu memperlakukannya dengan baik.
Lelaki itu tak pernah meninggikan suara, tak pernah membuatnya merasa kekurangan kasih sayang.
Bahkan di tengah kesibukannya, Arsen selalu berusaha meluangkan waktu untuk sekadar menanyakan kabarnya melalui pesan singkat.
Walaupun memang, beberapa hari ini, hal itu sudah tidak Arsen lakukan, tapi. Itu pasti karena dia sibuk. Pikir Rindu.
Begitu banyak kenangan indah yang telah mereka lalui bersama.
Tapi... Wangi parfum itu, benar-benar sama. Atau mungkin itu hanya kebetulan saja?
Rindu bahkan tidak menyadari kapan lamunannya berakhir. Sepanjang perjalanan, ia hanya duduk diam dengan tatapan kosong mengarah ke luar jendela.
Pemandangan kota terus berganti, kendaraan berlalu-lalang, suara klakson sesekali terdengar, tetapi semua itu seolah hanya menjadi latar yang samar. Kepalanya masih dipenuhi aroma parfum yang sejak tadi mengusik pikirannya.
Semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin jelas aroma itu terbayang di benaknya.
Ia mengembuskan napas panjang. Berkali-kali ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semua itu hanyalah kebetulan. Tidak ada bukti yang menunjukkan Arsen dan Nia memiliki hubungan khusus. Hanya sebuah kesamaan parfum.
Namun, entah mengapa, firasatnya terus menolak untuk tenang.
"Mbak... Mbak."
Suara seseorang memecah lamunannya. Rindu tersentak pelan. Ia berkedip beberapa kali, seolah baru tersadar dari mimpi yang panjang.
"Mbak, sudah sampai."
Rindu menoleh ke depan. Sopir taksi sedang menatapnya melalui kaca spion dengan senyum tipis.
"Oh... iya."
Suaranya terdengar pelan dan sedikit gugup.
Ia buru-buru membuka tasnya, mengambil dompet, lalu menyerahkan ongkos perjalanan kepada pengemudi.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Mbak."
Rindu membuka pintu taksi dan turun perlahan. Begitu kedua kakinya menginjak halaman depan rumah, ia mendongak menatap bangunan yang telah menjadi tempat tinggalnya selama itu.
Rumah itu tampak sama seperti biasanya.
Halaman depan bersih. Beberapa pot bunga berjajar rapi di sisi teras. Suasananya tenang, bahkan terlalu tenang.
Ia menutup pintu pagar perlahan, lalu melangkah masuk.
Setiap langkah terasa berat. Bukan karena lelah berjalan, melainkan karena isi kepalanya masih dipenuhi pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Sesampainya di teras, ia melepas sandal, kemudian membuka pintu rumah.
Rindu melewati ruang tamu, Dari ruang keluarga terdengar suara televisi yang menyala pelan.
Rindu menoleh ke arah ruangan itu. Di sana, Broto dan Ratna tengah duduk santai di sofa.
Sebuah teko teh dan beberapa cangkir tersusun di atas meja. Keduanya tampak sedang menikmati waktu sore sambil mengobrol ringan.
Begitu melihat Rindu masuk, Ratna langsung mengangkat wajah.
Sorot matanya segera tertuju kepada menantunya itu.
"Jam segini baru pulang!"
Nada suaranya terdengar tajam, seperti biasa.
Rindu menghentikan langkahnya. Ia sempat melirik jam dinding yang tergantung di ruang tamu.
Baru dua jam.
Ia hanya keluar sekitar dua jam, bahkan belum mendekati waktu malam. Namun, bagi Ratna, seolah-olah Rindu baru saja menghilang seharian.
"Keluar ke mana saja?" lanjut Ratna tanpa memberi kesempatan Rindu menjawab pertanyaan sebelumnya.
Rindu menarik napas pelan.
"Tadi ketemu teman sebentar, Bu."
"Sebentar?" Ratna mengernyit.
"Dua jam itu namanya sebentar?"
Nada sindirannya membuat suasana yang semula tenang berubah menjadi canggung.
Broto yang duduk di samping istrinya hanya menyeruput teh tanpa segera ikut berbicara.
Rindu berusaha tersenyum tipis.
"Iya, Ma. Soalnya sekalian ngobrol."
"Hm."
Ratna mendengus pelan.
"Kalau sudah punya suami, jangan terlalu sering keluyuran. Rumah juga harus diperhatikan."
Ucapan itu menusuk hati Rindu. Padahal selama ini ia hampir tidak pernah pergi tanpa alasan yang jelas.
Bahkan, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengurus rumah.
Hari ini adalah salah satu dari sedikit kesempatan ia keluar untuk menemui sahabatnya.
Itu pun hanya dua jam. Namun, di mata Ratna, seolah-olah ia telah melakukan kesalahan besar.
Rindu memilih diam. Ia tahu, membantah hanya akan membuat pembicaraan semakin panjang.
Karena itulah, selama ini Rindu lebih sering menahan diri.
Bukan karena tidak mampu membalas. Melainkan karena ia ingin menjaga keharmonisan keluarga.
Broto akhirnya meletakkan cangkir tehnya.
"Sudahlah," ucapnya dengan suara tenang.
"Sekali-kali bertemu dengan temannya kan nggak apa-apa, kamu juga kalau ketemu teman arisan bisa sampai lupa waktu."
Ratna melirik suaminya sekilas.
"Papa selalu membelanya."
"Bukan membela. Jangan sedikit-sedikit dimarahi. Kasihan anak itu."
Rindu menatap mertuanya dengan rasa terima kasih yang tidak sempat ia ucapkan.
Setidaknya masih ada seseorang yang mencoba memahami keadaannya.
Meski begitu, Ratna tetap menggeleng pelan.
"Aku cuma mengingatkan. Perempuan yang sudah menikah itu harus tahu tanggung jawabnya."
"Iya, Ma," jawab Rindu singkat.
Ia tidak ingin memperpanjang percakapan.
Saat ini, kepalanya sudah cukup penuh dengan berbagai kegelisahan tentang Arsen dan Nia. Ia tidak memiliki tenaga lagi untuk menghadapi perdebatan dengan ibu mertuanya.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu, Ma... Pa."
Tanpa menunggu jawaban, Rindu melangkah meninggalkan ruang tamu.
Langkahnya pelan menyusuri lorong menuju kamarnya. Namun, baru beberapa langkah, ia masih bisa mendengar suara Ratna yang berbisik pelan kepada Broto.
"Anak sekarang memang beda. Baru keluar sebentar saja, pulangnya sudah sore."
Rindu memejamkan mata sesaat.
Ia tidak menoleh. Ia memilih terus berjalan hingga akhirnya tiba di depan pintu kamarnya.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Rindu menyandarkan tubuh pada daun pintu. Ia mengembuskan napas panjang, seolah baru saja berhasil melewati satu ujian kecil.
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung sesaat.
Karena begitu pandangannya jatuh ke arah lemari pakaian tempat kemeja Arsen tadi pagi berada, ingatannya kembali tertuju pada aroma parfum yang masih menghantuinya.
Masalah dengan Ratna bisa ia hadapi dengan kesabaran.
Tetapi kegelisahan tentang Arsen dan Nia...
Itu adalah sesuatu yang jauh lebih sulit untuk ia abaikan.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰