Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033: Vincent di Balik Layar
Adrian tidak suka kebetulan.
Vincent muncul di puskesmas pada malam Calvin Zhou dipukuli. Lalu keluarga Calvin Zhou yang semula sudah menandatangani surat tiba-tiba datang ke Polsek lagi keesokan paginya, menuntut pemeriksaan ulang dan ganti rugi Rp 50.000.000.
Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
"Mereka bilang ada yang memberi saran," kata Adrian di meja makan rumah Lim.
Jason membanting sumpit. "Aku datangi lagi."
Margaret bahkan tidak menoleh. "Kau duduk."
"Mama, lima puluh juta! Dia yang pegang Elisa, dia yang salah, sekarang minta uang?"
"Makanya kau duduk. Kalau kau berdiri, harga naik jadi seratus juta."
Marco yang sedang makan di ujung meja hampir tersedak.
Adrian membuka buku kecil. "Aku mau cek dulu. Kalau benar Vincent di belakangnya, kita perlu bukti."
Margaret mengangguk. "Cari orang yang melihat."
Maka siang itu Adrian kembali ke puskesmas. Ia tidak memakai wajah marah. Ia memakai wajah pegawai bank yang sedang menanyakan dokumen pinjaman: sopan, datar, sabar, dan membuat orang tidak sadar bahwa setiap kata sedang dihitung.
Petugas administrasi tidak banyak bicara. Perawat mengaku tidak memperhatikan. Akhirnya Adrian menemukan petugas kebersihan yang malam itu mengepel lorong dekat ruang Calvin Zhou.
Perempuan itu awalnya takut.
Adrian menaruh Rp 200.000 di dalam lipatan koran, lalu mendorongnya perlahan.
"Saya hanya perlu tahu siapa yang datang. Tidak perlu tanda tangan, tidak perlu nama."
Petugas itu menatap koran, lalu menatap lorong kosong.
"Orang tinggi, kemeja rapi. Dia bicara dengan keluarga pasien. Katanya jangan terima lima juta. Minta lima puluh juta. Kalau keluarga Lim takut masuk perkara, pasti bayar."
"Namanya?"
"Saya dengar mereka panggil Vincent."
Adrian mengangguk, wajahnya tetap tenang.
Di dalam dadanya, sesuatu menjadi dingin.
Vincent tidak datang karena kasihan pada Calvin Zhou. Ia datang karena melihat kesempatan. Setelah keluarga Tan dipaksa membayar Rp 70.000.000 dalam urusan Livia, ia menunggu celah untuk menampar balik keluarga Lim. Elisa hanya kebetulan menjadi pintu.
Hal itu membuat Adrian lebih marah daripada jika Vincent menyerang bisnis mereka. Bisnis bisa dihitung. Uang bisa dicari. Tetapi memakai ketakutan seorang gadis muda sebagai alat balas dendam berarti Vincent tidak lagi melihat batas manusia.
Sore itu, Adrian membawa kabar pulang.
Margaret mendengarkan sampai selesai tanpa memotong.
Daniel duduk di sampingnya dengan wajah berat. "Vincent itu pegawai kantor. Kalau dia main seperti ini, susah."
"Pegawai kantor juga punya rumah," kata Margaret.
Daniel langsung menatapnya. "Maggie."
"Aku tidak menyentuh keluarganya."
"Kau baru bilang rumah."
"Aku bilang dia juga punya sesuatu yang takut hilang."
Malam itu Margaret memanggil Jason.
Jason langsung berdiri tegak, terlalu bersemangat. "Aku pergi sekarang?"
"Bukan memukul."
Wajah Jason jatuh. "Oh."
"Besok sore, kau lewat sekolah anak Vincent. Jangan mendekat. Jangan bicara pada anaknya. Jangan menakuti. Kau hanya berdiri di warung seberang, beli es, lalu pulang."
Jason bingung. "Itu saja?"
"Itu saja."
"Kalau dia tidak lihat?"
"Orang seperti Vincent selalu punya mata di tempat yang ia pikir aman."
Keesokan sorenya, Jason melakukan persis seperti yang diperintahkan. Ia berdiri di warung seberang sekolah dasar swasta, membeli es lilin dua batang, satu untuk dirinya dan satu untuk Marco yang dipaksa ikut sebagai rem.
"Aku seperti orang kurang kerjaan," gumam Jason.
Marco menjilat es lilin. "Kau memang."
"Diam."
Mereka tidak mendekati pagar. Tidak bicara pada murid. Bahkan ketika dua anak kecil berlari melewati mereka, Jason mundur setengah langkah agar tidak menghalangi.
Tetapi satpam sekolah melihat wajahnya. Seorang sopir jemputan melihat. Istri Vincent yang sudah lama pisah rumah dengan Vincent juga melihat dari dalam becak saat menjemput anak-anaknya.
Perempuan itu pucat.
Ia mengenali Jason dari cerita puskesmas: adik laki-laki Lim yang bisa membuat orang masuk puskesmas dalam hitungan napas.
Setengah jam kemudian, telepon rumah Tan berbunyi.
Vincent mengangkat dengan suara tidak sabar.
Di seberang, mantan istrinya menangis marah.
"Urusanmu jangan seret anak-anak! Ada orang Lim berdiri di depan sekolah!"
Vincent membeku.
"Dia bicara dengan anak-anak?"
"Tidak. Tapi dia ada di sana! Kau mau anak-anak kita ikut jadi sasaran?"
"Jangan berlebihan."
"Aku kenal caramu bekerja, Vincent. Kalau kau main kotor, orang lain juga bisa main kotor. Aku tidak peduli urusanmu dengan keluarga Lim. Jangan sentuh sekolah anak-anak."
Telepon ditutup.
Vincent berdiri lama di ruang tamu.
Untuk pertama kalinya sejak kasus Livia, ia merasakan sesuatu yang mirip rasa takut. Bukan karena Jason benar-benar menyentuh anaknya. Justru karena Jason tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri di tempat yang paling Vincent anggap tidak tersentuh.
Pesan itu jelas.
Keluarga Lim tahu cara menemukan pintu balik.
Malamnya, keluarga Calvin Zhou kembali berubah sikap. Mereka mengirim orang ke Polsek, menyatakan menerima kesepakatan awal: biaya pemeriksaan Rp 5.000.000, surat pernyataan tetap berlaku, tidak ada tuntutan Rp 50.000.000.
Adrian membawa kabar itu ke rumah Lim.
Jason tertawa puas. "Lihat? Aku berdiri saja menang."
Margaret menatapnya. "Kau berdiri karena aku suruh. Jangan merasa pintar."
"Sedikit pun tidak boleh?"
"Tidak."
Marco mengangguk di belakang. "Memang tidak."
Jason menunjuknya. "Kau sekarang terlalu sering membela Mama."
"Karena Mama sering benar."
Daniel menghela napas panjang. "Masalah selesai?"
Margaret melipat surat pernyataan salinan Polsek dan menyimpannya di laci.
"Dengan Calvin Zhou, sementara selesai. Dengan Vincent, belum."
Adrian mengangguk. "Dia tidak akan lupa."
"Bagus," kata Margaret. "Aku juga tidak."
Daniel memandang istrinya, lalu memandang anak-anak yang duduk diam di meja. Ia sadar, keluarga mereka baru saja masuk ke jenis perang yang berbeda. Bukan perang dengan parang atau pukulan, tetapi perang yang memakai celah, kabar, sekolah, dan nama baik.
Beberapa hari kemudian, ketika urusan Elisa mulai tenang, Margaret pergi ke pasar membeli sayur. Ia sedang memilih cabai ketika melihat seorang perempuan berdiri di depan lapak tempe, menghitung uang receh di telapak tangan.
Perut perempuan itu besar.
Wajahnya pucat, pipinya tirus, rambutnya diikat asal. Baju hamilnya bersih tetapi sudah pudar.
Margaret mengenal punggung itu.
Livia.
Seolah merasakan tatapan, Livia menoleh.
Mata mereka bertemu.
Untuk satu detik, seluruh kebencian lama, uang Rp 70.000.000, foto Nokia, dan surat cerai seperti berdiri di antara mereka.
Livia membeku.
Lalu ia memutar tubuh dan berjalan cepat, hampir berlari, meninggalkan tempe yang belum dibayar.
Margaret tidak mengejar.
Ia hanya menatap perut Livia yang menghilang di antara orang pasar, lalu menurunkan cabai kembali ke tampah.
Kadang nasib tidak perlu dipukul.
Ia sudah tahu cara memukul sendiri.