Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan dari Ibu Kota
Badai di pegunungan Batu akhirnya reda seiring matahari yang merayap naik ke puncak langit, menyisakan dedaunan pinus yang meneteskan sisa air hujan dan aroma tanah basah yang pekat. Begitu tim penyelamat resor tiba membawa jaket tebal dan tandu darurat, Anya langsung melangkah keluar dari ceruk batu tanpa menunggu Edgard. Dia menolak semua uluran tangan bantuan dari pria itu, kembali memasang jarak yang mutlak seolah kedekatan intim mereka di tengah badai beberapa menit lalu hanyalah ilusi yang dibawa angin gunung.
Anya memilih memotong masa tinggalnya di Batu. Dia bekerja secara maraton, mengabaikan rasa lelah dan hawa dingin demi menyelesaikan seluruh sketsa ekologi dalam waktu tiga hari, lalu segera memesan tiket kereta api paling awal untuk kembali ke Surabaya. Dia membutuhkan rutinitas studio DKV yang bising untuk mengubur getaran asing yang sempat mengusik pertahanan hatinya saat berada di dalam dekapan Edgard.
Satu minggu setelah kepulangannya dari Malang, kehidupan Anya kembali ke porosnya yang semula. Sore itu, udara Surabaya terasa kering dan membakar. Anya sedang berdiri di depan mesin pencetak digital lantai dasar gedung fakultas, menunggu hasil cetak maket baliho ukuran besar untuk pameran tengah semester miliknya.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di dalam saku celana jinsnya bergetar lama. Anya merogoh ponselnya, mengira itu adalah panggilan dari Ririn mengenai urusan logistik tim. Namun, dahi indahnya mengernyit saat melihat barisan angka asing tanpa nama yang tertera di layar—sebuah nomor dengan kode area Jakarta.
Jantung Anya berdegup sedikit lebih cepat. Setelah bimbang selama beberapa detik, dia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa bersuara.
"Anya...? Anya, ini Mama, Sayang..." sebuah suara wanita paruh baya yang teramat familier terdengar dari seberang saluran. Suara itu bergetar hebat, serak, dan langsung disusul oleh isak tangis yang tertahan.
Dada Anya seketika terasa menyempit. Perisai dingin yang selama setahun lebih ini dia rawat dengan susah payah mendadak bergetar hebat mendengar suara ibunya. Namun, Anya mengepalkan tangan kirinya erat-erat, menahan diri agar suaranya tetap terdengar datar. "Ada apa, Ma? Anya sedang sibuk di kampus."
"Anya... Mama mohon, jangan tutup teleponnya," tangis Mama akhirnya pecah di seberang sana. "Papa, Anya... Papa masuk ruang ICU sejak semalam. Kondisi jantung dan struknya menurun drastis setelah perusahaan mengalami konflik internal dengan beberapa pemegang saham. Dokter bilang... dokter bilang kondisi Papa kritis kali ini."
Deg.
Dunia di sekitar Anya seolah melambat seketika. Kabar tentang kesehatan Papanya yang memburuk sebenarnya sudah pernah dia baca di surel Joana yang dia hapus berbulan-bulan lalu. Namun, mendengar langsung suara tangisan histeris Mamanya yang menyatakan bahwa pria paruh baya yang dulu mengusirnya kini sedang sekarat di ruang ICU memberikan hantaman emosional yang berbeda di ulu hatinya. Rasa bersalah, amarah masa lalu, dan sisa ikatan darah bercampur aduk, menciptakan badai baru di dalam kepalanya.
"Kenapa Mama menelepon Anya?" tanya Anya, suaranya terdengar sangat lirih namun tetap dingin, mencoba menutupi getaran ketakutan di tenggorokannya. "Bukankah Papa sendiri yang bilang kalau kehadiran Anya hanya merusak ketenangan rumah? Bukankah Papa yang membuang Anya ke kota ini agar tidak mengganggu hubungan Kak Joana dan Edgard?"
"Papa menyesal, Anya! Papa selalu memikirkanmu setiap malam sebelum kesehatannya ambruk!" seru Mama di sela tangisnya. "Joana juga tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kami tidak punya siapa-siapa lagi di Jakarta yang bisa menenangkan Papa selain kamu. Tolong pulang sebentar saja, Anya... demi Mama..."
Anya memejamkan mata indahnya erat-earat. Air mata yang dia tahan sejak seminggu lalu di Malang kini perlahan menetes melewati pipi putih cerahnya. Di saat yang sama, selembar kertas maket desain baliho raksasa berlambang Baskoro Logistic baru saja selesai tercetak dari mesin, menampilkan warna merah marun dan hitam yang dominan—warna yang melambangkan bagaimana hidupnya kini telah sepenuhnya terikat oleh nama besar keluarga Edgard, baik di Surabaya maupun di Jakarta.
"Anya tidak bisa pulang, Ma," ucap Anya akhirnya, keputusan kejam yang lahir dari rasa trauma dan harga diri yang telanjur membeku. "Ujian tengah semester Anya dimulai minggu depan, dan Anya memiliki tanggung jawab penuh sebagai ketua tim proyek di sini. Maafkan Anya."
Tanpa menunggu balasan dari Mamanya, Anya langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Dia bersandar pada dinding mesin cetak yang hangat, menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangan. Tangisnya senyap, teredam oleh deru bising mesin digital studio. Anya merasa seperti monster yang kejam karena menolak menjenguk ayahnya yang sekarat, namun bagian dari egonya yang terluka tetap berbisik bahwa kembali ke Jakarta berarti menyerah pada takdir lama yang telah menghancurkannya.
Sementara itu, di koridor rumah sakit swasta mewah kawasan Jakarta Pusat, suasana terasa begitu mencekam. Lampu merah di atas pintu ruang ICU masih menyala terang. Mama duduk di kursi tunggu sambil memeluk Joana yang terus menangis sesenggukan.
Langkah kaki yang tegap dan ritmis memecah keheningan koridor yang sunyi. Edgard Baskoro berjalan mendekati mereka dengan setelan jas hitam formalnya yang tampak sedikit kusut. Pria dengan garis wajah setegas Daniel Henney itu baru saja menempuh penerbangan darurat dari Surabaya begitu mendengar kabar ambruknya kesehatan Bramantyo dari asisten pribadinya.
"Bagaimana kondisi Om Bram, Tante?" tanya Edgard, suaranya bariton, rendah, dan sarat akan kecemasan yang mendalam.
Mama mendongak dengan wajah yang pucat dan mata yang bengkak. "Dokter masih di dalam, Edgard. Konfrontasi dengan Dewan Komisaris kemarin sore benar-benar membuat tekanan darahnya melonjak tajam." Mama menyeka air matanya, lalu menatap Edgard dengan pandangan memohon yang teramat sangat. "Edgard... Tante sudah mencoba menelepon Anya barusan. Tante mengemis agar dia mau pulang... tapi anak itu... dia menolak. Perisai di hatinya sudah terlalu keras karena kesalahan kita di masa lalu."
Edgard menahan napasnya sejenak. Mendengar nama Anya disebut, sebuah denyutan perih kembali menyerang dadanya. Dia teringat bagaimana Anya menepis tangannya di tengah badai gunung Batu, bagaimana wanita itu menatapnya penuh kebencian dan menganggap seluruh penyesalannya sebagai bentuk pemaksaan ego.
Edgard melirik ke arah pintu kaca ruang ICU yang tertutup rapat, lalu beralih menatap Joana dan Mama yang tampak begitu rapuh. Di dalam hatinya yang sedingin es, sebuah ketetapan hati yang baru kini tumbuh semakin kokoh. Dia menyadari, jika Anya menolak untuk pulang karena rasa trauma pada rumah ini, maka tugasnyalah sebagai pria yang memicu kehancuran itu untuk menyembuhkan lukanya terlebih dahulu.
"Tante Mirna, Kak Joana, tenanglah," ucap Edgard dengan nada suara yang teramat tenang namun penuh penekanan yang mutlak, memancarkan aura seorang pemimpin yang siap mengambil alih tanggung jawab. "Fokuslah pada kesehatan Om Bram di sini. Biarkan urusan bisnis dengan Dewan Komisaris saya yang tangani dari kantor pusat. Dan soal Anya..."
Edgard mengepalkan tangan kanannya yang bersih dari perban, menatap lurus ke depan dengan sorot mata elangnya yang tajam. "Saya yang akan kembali ke Surabaya besok pagi. Saya yang akan membawa putri bungsu keluarga ini pulang ke Jakarta dengan tangan saya sendiri, bukan sebagai bentuk pemaksaan, melainkan sebagai bukti bahwa dia adalah satu-satunya hal berharga yang tidak akan pernah saya biarkan hilang lagi dalam hidup saya."
semangat nulisnya 💪